NovelToon NovelToon
Dendam Kesumat : Kasyaf

Dendam Kesumat : Kasyaf

Status: tamat
Genre:Poligami / Spiritual / Matabatin / Showbiz / Horor / Tamat
Popularitas:105.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Dharris S

Dendam kesumat yang terselubung, mengintai sebuah keluarga. Tak ada yang sadar kalau mereka tengah diincar ajalnya. Sampai saat sang anak sulung pulang dari merantau.

Takdir membuatnya mewarisi kekuatan gaib dari leluhurnya. Namun takdir itu juga memaksanya untuk menjadi tameng hidup bagi keluarganya. Santet dan sihir keji silih berganti menimpanya.

Siapa sebenarnya yang menyimpan dendam kesumat itu? Dan akankah si anak sulung ini bertahan?

stay tune!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Dharris S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ribut-ribut di depan rumah

Di tengah hutan, seorang kakek-kakek sedang berjalan memikul kayu bakar. Sesampainya di rumah, dia melihat ada seorang tamu sedang menunggunya. Dia tergelak melihat raut muka cemas tamunya itu.

   “Belum juga seminggu nduk, kamu udah sampe sini lagi. Pengen yang cepet?” tanya kakek-kakek itu.

   “Mbah, ada perubahan nggak terduga. Perlindungannya pindah ke anaknya, mbah. Kemarin aja makannya cuman masuk sesuap. Tumpah semua diobrak-abrik anaknya” jawab tamunya.

   “Ha ha ha. Masuk dulu, yuk!” ajak kakek-kakek itu.

Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang penuh dengan perlengkapan perdukunan. Mereka duduk bersila dengan sebuah meja yang membatasi mereka. Si kakek itu membakar kemenyan sambil berkomat-kamit membaca mantra.

   “Oh” kata kakek tadi. Dia manggut-manggut dan menghela nafas berat.

   “Iya, itu mbah. Anak sulungnya yang bikin kacau” kata wanita itu.

   “Ha ha ha. Iya” kakek itu tergelak.

   “Terus, kamu maunya gimana?”

   “Aku pengen nyantet dia aja, mbah. Tapi aku nggak mau jadi tersangka”

   “Ya berarti kamu harus cari kambing hitamnya”

   “Itu dia, mbah. Siapa yang bisa aku jadiin kambing hitam?”

   “Ya mikir sendiri, lah. Orang kamu yang butuh, kok. Aku sih gampang. Sekarang juga bisa, aku kirimin santetnya”

   “Jangan, jangan! Kemarin aja aku nggak berani terang-terangan, apalagi ini, khodamnya udah mulai ngerasuk ke anaknya. Bisa langsung ketahuan, mbah”

   “Ya udah. Kamu cari aja dulu, kambing hitamnya! Kalo udah dapet, kamu gigit kemenyan ini! Aku akan langsung kirimkan santetnya” kata kakek itu.

   “Baik, mbah. Terimakasih”

***

Icha berjalan cepat bukan hanya karena jalanan yang menurun, tapi karena juga dia masih merasa takut. Dia hanya tersenyum saat berpapasan dengan tetangganya.

   “Haa”

Icha memekik tanpa suara. Dia terkejut saat melihat ke kiri, dia menjumpai nenek-nenek seram yang semalam melemparinya dengan potongan lengan manusia. Nenek itu menatapnya bengis dengan matanya yang hanya tinggal sebelah. Icha balik badan dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

   “Kenapa ganggu Icha, mbah?”

Dalam ketakutannya, Icha spontan bertanya. Tapi pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban.

   “Apa salah Icha, mbah? Icha kan nggak ganggu” lanjut Icha. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.

    Plek

   “HWAAAA”

Icha terkejut, pundaknya ada yang menepuk.

   “Icha. Ini aku, Hasan”

   “Haaa”

Icha melepaskan tanganya dari wajahnya. Dan saat dia membuka mata, sesosok lelaki tampan tersenyum di depannya. Dia sempat terpana dan tertegun beberapa saat. Butuh waktu untuk dia mengenali siapa yang ada di hadapannya itu.

   “Huuufft”

Icha menghela nafas lega. Ternyata yang menyentuhnya bukan nenek-nenek itu.

    Loh, dia kemana?

Icha menoleh ke kanan dan ke kiri.

    Syukur deh, kalo dia udah pergi.

   “Hei, Cha. Kamu kenapa, nyari apa?” tanya lelaki itu.

   “Hem? Oh, ee, itu, itu, ”

   “Kebanyakan nonton film horor, kayaknya. Makanya ketakutan gitu. Orang nggak ada apa-apa, juga”

   “Eee, itu, ee, anu, itu, “

   “Hempf”

Hasan merasa lucu mendengar jawaban Icha yang hanya anu dan itu. Icha sendiri merasa malu, di depan lelaki tampan itu, dia malah tergagap.

   “Ya udah, ya udah. Kamu mau kemana?” tanya Hasan.

   “Eee, mau pulang. Tadi, tadi, abis dari rumah Mita” jawab Icha sambil mengacungkan kresek berisi gula di tangannya.

   “Oh. Abis beli gula? Aku juga mau ke sana nih, beli rokok. Sayang ya, kamu udahan” sahut Hasan.

Icha terkesiap mendengar kata-kata lelaki tampan di depannya itu. Seolah-olah lelaki itu ingin pergi bersamanya. Angannya langsung berkelana jauh ke angkasa.

   “Hei” tegur Hasan.

   “Oh. Anu, anu, iya, itu, “

   “Hempf. Ha ha ha ha” Hasan tertawa mendengar jawaban anu dan itu lagi.

   “Mau ditemenin pulang?” tanya Hasan.

   “Iya”

   “Eeeh, nggak usah. Makasih, maksudnya” lanjut Icha meralat ucapannya.

   “Hempf. Iya. Ya udah, ati-ati, ya!” kata Hasan.

   “Iya, mas. Assalamu’alaikum”

   “Wa’alaikum salam”

Icha berjalan lagi. Perasaan takutnya sejenak tertutup oleh perasaan senang. Setelah sekian lama, dia bisa bertemu lelaki tampan itu lagi. Dan sekarang, menurutnya lelaki itu semakin keren saja.

   “Assalamu’alaikum” sapa Icha sesampainya di rumah.

   “Wa’alaikum salam” jawab ibu dan adiknya.

   “Lama amat mbak, timbang ke rumah mbak Mita doang?” tanya Tika.

   “Dua tahun pandemi, mager” sahut bu Maryati, sambil membuat teh hangat.

   “Hempf” Tika tergelak mendengar ucapan ibunya.

   “Bukannya mager, bu. Tiga kali Icha lihat penampakan” jawab Icha.

   “Ha?” bu Maryati terkejut mendengar ucapan Icha. Timbul rasa khawatir dalam hatinya.

   “Yang bener aja, mbak! Mana ada makhluk halus jam segini nongol?”

   “Tahu. Gabut kali, kena PHK” jawab Icha.

   “Itu sih, embak. Ha ha ha” sahut Tika.

Icha hanya tergelak mendengar tawa adiknya. Dia membantu ibunya menyiapkan teh hangat untuk semuanya.

   “Bantu ibu bawa tehnya, yuk!” ajak bu maryati.

Mereka berduapun langsung sigap membawa dua nampan sisanya. Yang besar dibawa Icha, masih sama berisi wedang teh. Yang satu lagi dibawa Tika, berisi gorengan.

Di depan ternyata sudah berkumpul pak Sigit dan para karyawannya. Pagi ini ada tiga pick up yang siap diberangkatkan ke pasar kota.

   “Wah. Makin banyak aja pak, yang siap jual” komentar Icha, saat menyajikan minuman yang dia bawa. Dia berusaha untuk tampak sudah kembali ceria.

   “Wah, tadi udah jalan satu pick up, mbak” sahut salah seorang karyawan pak Sigit.

   “Seriusan? Tiap hari empat pick up?” tanya Icha bingung. Perhitungan dia, kemampuan panen kandang bapaknya, baru mampu menghasilkan satu pick up setiap harinya.

   “Wah, si embak belum tahu, gan” seloroh karyawan itu.

   “Emang kenapa, kang?’ tanya Icha.

   “Bapak kan punya lahan baru, mbak. Khusus buat pembibitan. Yang di sini sih, udah siap penen semua”

   “Lahan baru? Di mana, pak? Kok Icha nggak dikasih tahu?” tanya Icha pada bapaknya.

   “Di seberang sana, ngguntur. Yang dulu suka buat maen bola”

   “Oh, situ. Keren” komentar Icha.

   “Kalo mbak Icha dirumah terus nih gan, alamat butuh pick up baru nih” komentar karyawannya tadi.

   “Pengennya juga gitu, Jup. Butuh lima juga aku turunin” sahut pak Sigit.

Icha tersipu mendengar jawaban bapaknya. Dia tahu, itu adalah ungkapan harapan bapaknya, agar dia mau tinggal di rumah, dan membantu mengurusi usaha keluarga itu.

   “Monggo semuanya, mumpung masih anget” kata bu Maryati, mempersilakan”

   “Terimakasih, bu Mar” jawab mereka.

Icha pamit untuk mandi. Karena dia ingin ikut bapak dan ibunya ke pasar. Dan Tika, yang sudah mandi, juga ijin ke dalam untuk bersiap ke sekolah.

Saat sedang mandi, Icha mendengar ada gerombolan sepeda motor melintas di samping rumahnya. Dia mempercepat mandinya karena penasaran. Saat mandinya sudah selesai, Icha mendengar suara gaduh di depan rumahnya. Seperti orang yang marah-marah. Segera saja Icha berganti pakaian, lalu pergi ke depan.

   “Haaa”

Icha terkejut saat baru saja muncul di ambang pintu. Bukan preman-preman yang sedang mengerubungi bapak dan ibunya, melainkan sesosok makhluk yang berada di belakang salah seorang dari mereka. Makhluk itu menyeramkan. Gigi-giginya bertumpuk tidak hanya satu baris. Dan dari mulutnya, terjulur tentakel seperti tentakel gurita.

   “Nduk. Kamu kenapa?” tanya bu Maryati, sembari mendekati Icha.

Makhluk hitam legam berbulu lebat, dengan wajah penuh luka cakaran itu menatap tajam ke arah Icha.

   “NGGAK USAH DRAMA, DEH!” teriak seorang perempuan. Icha mengalihkan pandangannya pada yang berteriak tadi.

   “KALO KAMU PENGEN NYELAMETIN IBUMU, BILANGIN DIA! JANGAN PERNAH LAGI NGEREBUT PELANGGANKU!” lanjut wanita itu.

   “Bu” tegur Icha pelan.

   “Tenang, nduk! Ini cuman salah paham”

   “SALAH PAHAM APANYA, HA?” teriak wanita itu lagi.

   “Mau apa lagi? Kan tadi udah dijawab” sahut pak Sigit.

   “HEH. BENERAN MAU MATI, LU?” teriak salah satu preman yang menemani wanita itu.

   “Udah, dong! Anakku ketakutan, nih. Kan aku udah minta maaf. Aku nggak niat ngejual ke dia. Dia sendiri yang dateng ke sini. Jam tiga malem lho, bayangin! Niatku cuman nolong”

   “HEH BOCAH, DENGER NGGAK, TUH? MASIH NGEYEL AJA, IBUMU. BILANGIN DIA! KALO MASIH NGEYEL JUGA, SIAPIN KANTONG MAYAT BUAT DIA!” teriak wanita itu.

Mendengar kata kantong mayat, sontak emosi Icha meninggi. Dia tidak terima ada orang yang mengancam keselamatan ibunya. Dia menatap tajam wanita itu. Ketakutannya hilang. Dan dia tidak tahu, darimana asalnya, tapi dia merasa mendapat keberanian ekstra, yang berkali-kali lipat lebih tinggi.

   “APA LU LIAT-LIAT?” teriak wanita itu pada Icha.

Icha merasa tubuhnya seperti dikendalikan orang lain. Seperti seorang jagoan, Icha membuat siluet pistol dengan jari telunjuk dan jempolnya. Lalu dia mengarahkan jarinya ke makhluk hitam di halaman rumahnya itu.

    DUAAARRR

   “AAAAAA”

Dengan sekali membuat gerakan menarik pelatuk, tiba-tiba saja terdengar ledakan keras di halaman. Semuanya terkejut karenanya. Dan para preman itu berlari menghindar. Icha mendekati wanita itu sampai sangat dekat. Dia tatap wanita itu dengan tatapan mengintimidasi. Keluar juga senyum bengis menghiasi wajahnya.

   “Jagoanmu udah mati. Siapa yang mau kamu andelin? Mereka?” kata Icha

   “Ja, ja, ja, jangan!” kata wanita itu tergagap.

Terlihat raut ketakutan saat Icha lebih mendekatkan wajahnya. Hampir bersentuhan. Bu Maryati mendekati pak Sigit. Dia senang, tapi juga khawatir.

   “Kenapa?” tanya Icha. Wanita itu tidak menjawab.

Icha mengacungkan lagi telunjuknya. Dia arahkan ke sebuah motor yang diparkir agak jauh.

    DUUAAAARRR

   “HWAAAAA”

Wanita itu menjerit terkejut dan takut bukan kepalang. Seperti sebelumnya, kini motor salah satu dari mereka menjadi korbannya. Meledak dan terbakar hebat. Sontak yang lain kocar-kacir menyelamatkan motornya.

   “Pergi, dan jangan pernah ganggu ibuku!” perintah Icha pelan tapi tegas.

   “I, iya, iya. Aku pergi, aku pergi” jawab wanita itu.

Ichapun mundur selangkah, memberikan ruang untuk wanita itu pergi. Para preman itu langsung tancap gas begitu Icha menatap mereka bergantian. Tersisa satu, yang bertugas membawa wanita itu.

   “ICHAAA”

Bu Maryati memekik kaget, saat Icha tiba-tiba limbung. Pak Sigit reflek menangkap tubuh putri sulungnya, dan membawanya ke sofa tamu.

   “Nduk. Kamu nggak papa, kan?” tanya bu Maryati.

   “Ambilin minum, Tik!” perintah pak Sigit.

Tikapun langsung pergi ke belakang mengambil air minum. Sedangkan Icha tersenyum walau tubuhnya merasa lemas.

   “Minum dulu, gih!” pinta pak Sigit, saat Tika kembali ke depan. Ichapun menerima air minum itu.

   “Kamu nggak papa, nduk?” tanya bu Maryati lagi.

   “Nggak papa, bu” jawab Icha sambil tersenyum.

   “Kamu kok bisa kaya gitu, nduk? Siapa yang ngajarin? Kamu belajar kanuragan?” tanya bu Maryati penasaran.

   “Bu. Biarkan Icha istirahat dulu!” tegur pak Sigit.

Bu Maryati menuruti perintah suaminya. Dia membaluri leher Icha dengan minyak kayu putih. Sedangkan pak Sigit sendiri keluar menemui warga yang berdatangan karena keributan tadi.

1
Mulyati Wahyuni
ga smua org bs BHS Jawa EN inggris jdi biasa kan gunakan terjemahan di bwh nya agar pembaca novel LBH paham lgi
Dharris Tio: siap kakak. makasih masukannya
total 1 replies
Haidar Nurfadhillah
/Drool/
Dharris Tio: makasih kak. tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Zayn at Thoriq
dah baca Ampe selesai... ZERUUU SEKALI.


ada kelanjutan nya gak????
Dharris Tio: makasih kak, udah baca karyaku. maaf nih, baru r5espon. aku lagi bikin lanjutannya kak. ditunggu ya!
total 1 replies
Kustri
widiiiih... tirtonadi, kota kelahiranqu
💪💪💪
Dharris Tio: deket dong. stay solo apa merantau kak
total 3 replies
Dony Ahmad Dony
ceritan sangat seru
Neni Afriani
bagus bgt
Ira_87
Menegangkan 😱😱😱😱
Dharris Tio: lanjutkan kak
total 1 replies
Chichie Spn
keren thor... bener2 menguras esmoni😂
Dharris Tio: makasih kak, udah ngikutin sampe akhir. mampir juga dong di karyaku yang lain
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
nahhhh kan tamat... katanya jgn kwatir masih bnyk lagi.. lha ini tiba2 dah tamat aja kk thor.. 😭😭😭😭😭😭
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : woalah gono tah its ok lah klo begitu
total 2 replies
Ayu KaWa
cerita yg sgt bagus.. 👌
Dharris Tio: terimakasih kak.

mampir juga dong, di judul yang lain.
total 1 replies
Afri
syukur lah berakhir bahagia .. walau ada amanah yg akan Icha jalani .. semoga ada kelanjutannya ya Thor
makasih atas cerita HEBAT mu
see u next time
😍😍😍👍👍👍👍
Dharris Tio: terimakasih kakak udah setia sampai akhir. aku lagi ngerjain terusannya kak. doain ya kak, semoga cepet kelar dan bisa post lagi
total 1 replies
Afri
itu s bulek Rini .. udah mati tetap ngeselin yaa , GK bisa legowo ..
makanya nyawanya d tahan SM demit sembahannya ..
jahat
Dharris Tio: iya. emang gitu dia. ngeselin
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
gasken coy.. hayuk cha.. para raider g nyiapin amplop soanya mendadak gtu sih.. wkwkwkwkkk
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : klo g di terobos kapan sampainya
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduhhhhhhh gitu jg kali
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : lha iyakah
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
hayok.. kira2 bakal gmb knjuanya yah....
Erlina Arlena
tamat thor??
Dharris Tio: belum kak
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waghh ending nya ok nieh... kira2 ada flashback g buat rini knp bs gosong dan hasan bisa gila... hayok kk thor bisa g ada partnya gtu...
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : wuoke2.. sip wis
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
tak kiraiin segitu saktinya itu sekutu rini ehhh ternyata lebih hebat nyai.. hanya saja nyai biasa2 aja g di sombongkan kehebatanya.. sekarang gimana si rini.. apakah masih akan berlanjut utk membinasakan maryati atau hasan sndri... ahhh gmn yah
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : wis jan nek gono iku wis payah... jan2
total 2 replies
Dharris Tio
aduh. malem tahun baru malah ditodong
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wah makin seru ini bacanya tegang ampe giman peraasan gtu.. ngeriw sedap deh yakin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!