Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Semenjak kejadian di mana Aresha lupa menemui Arsen di belakang sekolah, Arsen terlihat mulai menjauh. Aresha tidak tau apa yang terjadi pada Arsen, tapi yang jelas Arsen terlihat sedang menghindari nya.
Seperti saat ini, Aresha lagi memperhatikan Arsen dari kejauhan. Arsen terlihat duduk sendirian di pinggiran lapangan dengan memainkan bola basket di tanganya.
Dengan sedikit keberanian, Aresha beranjak menghampiri Araen, ikut duduk di samping nya dan menatap Arsen dari samping.
"Ngapain lo di sini?" tanya Arsen dingin, tanpa menoleh atau menatap Aresha di samping nya.
Aresha mengembuskan napasnya, Arsen kembali seperti waktu pertama kali mereka bertemu. Lebih dingin dan datar, dengan tatapan mata setajam elang.
"Lo kenapa sih, ada masalah?"
"Ada masalah atau nggak itu bukan urusan lo," jawab Arsen sedikit menekankan ucapanya. Arsen berdiri duduknya, berniat berjalan meninggalkan Aresha sendirian.
"Lo marah karena gue lupa nggak temuin lo?"
Perkataan Aresha berhasil menghentikan langkah Arsen. Aresha beranjak dari duduknya berdiri tepat di hadapan Arsen.
"Lo beneran marah sama gue?" ucap Aresha mengulang pertanyaan nya.
Arsen menatap Aresha tanpa ekspresi, hanya ada seulas senyum yang Aresha yakini adalah senyum sinis.
"Gue bukan pacar apalagi teman lo, jadi untuk apa gue marah?" setelah mengatakan itu, Arsen kembali melangkahkan kakinya melewati Aresha begitu saja.
Aresha berdecak sebal, hati dan otaknya benar benar tak sejalan, hingga membuat Aresha merasa di permainkan oleh dirinya sendiri dengan terus memikirkan perubahan sikap Arsen padanya.
"Kamu ngapain berdiri di sini Aresha?" Aresha yang baru saja akan pergi, terhenti dengan suara di belakang nya. Aresha berbalik dan menemukan guru BK tengah menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Dari mana kamu Aresha?" ucap Bu Murti mengulang pertanyaan saat Aresha hanya diam.
"Dari toilet Bu," jawab Aresha tanpa pikir panjang.
"Sejak kapan toilet ada pinggir lapangan?"
Aresha terdiam berpikir, benar apa yang di ucapkan Bu Murti, sejak kapan ada toilet di pinggiran lapangan.
"Yaudah sekarang kamu ikut Ibu, kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan." perkataan Bu Murti membuat Aresha melotot seketika.
"Lakukan apa Bu? Saya enggak ngelakuin apapun sehingga saya harus tanggung jawab," jawab Aresha.
"Keluar di jam pelajaran tanpa ada urusan tertentu itu sudah melanggar aturan sekolah Aresha, jadi kamu harus di hukum karena sudah melanggar peraturan sekolah." ucap Bu Murti dengan tegas, suara yang khas sebagai guru BK.
Aresha membuang pandangan ke arah lain, tak lagi berani menjawab karena dirinya memang salah. Keluar dari kelas di saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
"Kamu mau ikut Ibu ke ruang BK atau tidak? Jika tidak mau Ibu terpaksa harus kembali memanggil kedua orang tua kamu."
Aresha menatap Bu Murti tak percaya, bagaimana bisa Aresha mendapat masalah hanya karena keluar kelas.
"Oke! Saya ikut." jawab Aresha akhirnya.
"Ikuti Ibu sekarang."
Dengan perasaan dongkol, Aresha berjalan mengikuti Bu Murti dari belakang. Hingga saat sampai di depan ruang BK, terpaksa Aresha masuk dan bersiap akan menerima hukuman atas kesalahan nya.
📝
Di saat para siswa sedang bergembira karena waktu pulang tiba, berbeda dengan Aresha yang harus mendekam di gudang karena hukuman yang Bu Murti berikan.
Untuk pertama kalinya Aresha melakukan kesalahan dan menerima hukuman nya, menjalankan hukuman dengan baik tanpa harus kabur atau bersembunyi seperti biasanya.
Drttt drtt drtt.
Handphone dalam saku Aresha bergetar, Aresha merogo sakunya mengambil handphon dan melihat siapa yang menelfon nya.
Seketika senyum Aresha mengembang saat tahu yang menelepon adalah Arjuna. Tanpa waktu lama lagi, Aresha langsung mengangkat nya.
"Halo, Aresha kamu di mana? Kamu udah pulang ya? Tapi kenapa mobil kamu masih di parkiran?" suara Arjuna terdengar lebih dulu.
"Belum kok, aku masih di sekolah. Bentar lagi aku keluar, kamu tunggu di parkiran ya,"
"Oke aku tunggu."
Aresha menutup sambungan telepon nya dengan rasa bahagia membuncah. Aresha sedikit bersyukur dengan putusnya mereka kemarin, Arjuna mulai berubah menjadi pria yang Aresha idamkan, perhatian dan selalu ada untuk Aresha. Bahkan Arjuna rela menjaga jarak dengan Renata demi menepati janji nya dengan Aresha.
"Hai!" sapa Aresha menghampiri Arjuna yang sudah menunggu di depan kap mobilnya.
"Tumben sendiri, di mana sahabat kamu itu?"
"Udah pulang dari tadi,"
"Udah pulang dari tadi dan kamu baru pulang sekarang? Kamu ngapain aja di dalam?"
"Bersihin gudang karena kena hukum sama Bu Murti." jawab Aresha sedikit kesal bila mengingat guru yang telah menghukum nya.
"Kok bisa di hukum?" Aresha terdiam seketika, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tidak mungkin juga jika Aresha menjawab keluar kelas tanpa alasan demi mencari Arsen. Pasti Aresha sudah gila kalau menjawab seperti itu.
"Aku pergi ke kantin sebelum jam istirahat." jawab Aresha tersenyum bodoh. Arjuna mengelengkan kepala nya, merasa gemas dengan tingkah nakal namun lucu kekasihnya ini.
Aresha menoleh ke samping saat mendengar bunyi suara motor. Itu suara motor Arsen yang baru saja keluar area sekolah.
"Kok dia baru pulang?" batin Aresha menatap kepergian Arsen.
"Kamu lapar nggak? Kalau iya kita mampir makan dulu sebelum aku anterin kamu pulang." ucap Arjuna menyadarkan Aresha.
"Langsung pulang saja, aku gak lapar kok," Aresha segerah masuk ke dalam mobilnya, diikuti Arjuna yang duduk di kursi kemudi untuk mengantarkan Aresha pulang. Arjuna membiarkan mobilnya tertinggal di sekolah dan akan pesan taxi setelah mengantarkan Aresha pulang.
Sesampainya di rumah, Aresha langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti seragam sekolah nya terlebih dahulu.
Aresha menatap langit langit kamar, pikiranya melayang jauh memikirkan seseorang yang kini sepenuhnya menganggu pikiranya. Arsen, pria yang terlihat menghindari Aresha belakangan ini.
"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mengirim pesan pada Arsen?"
Aresha mengacak kesal rambut nya, merasa bingung dengan apa yang ada pada dirinya saat ini. Setelah berperang cukup lama dengan dirinya sendiri, Aresha memberanikan diri mengirim Arsen pesan lebih dulu.
Aresha: Arsen, lo baik baik saja kan?
Aresha mematikan layar handphone nya, memejamkan matanya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Setelah lama berpikir dan mencoba memahami, Aresha tetap tak menemukan apapun, Aresha merasa tengah berada di dunia yang membingungkan, yang memaksanya untuk terus berpikir.
Aresha kembali membuka matanya, membuka handphone nya untuk memastikan apakah Arsen sudah membalas pesan nya atau belum. Namun lagi lagi Aresha harus memejamkan, Arsen tidak membalas pesan nya, jangankan membalas, membacanya aja tidak.
"Aresha, di panggil Bunda di bawah." suara abang nya terdengar, mau tak mau harus membuat Aresha membuka matanya.
Aresha beranjak untuk membuka pintu, dan saat itu juga Aresha mendapat tatapan tajam dari abangnya.
"Ngapain Bunda cariin Aresha?" tanya Aresha.
"Ganti baju dulu sebelum nemuin Bunda." Emil kembali berucap dingin sebelum berlalu pergi dari hadapan Aresha.
Aresha menatap abang nya sedikit kesal, lalu kembali masuk ke dalam kamar untuk menganti seragam sekolah menjadi pakaian santai nya.
Setelah selesai, Aresha langsung turun dan mencari cari keberadaan bunda nya. Namun Aresha tak menemukan nya, hingga Bi Sina datang dan memberitahu Aresha dimana bunda nya berada.
Aresha berjalan menuju kolam renang, tempat dimana saat ini bund nya duduk bersantai.
"Bunda nyariin Aresha?" tanya Aresha langsung duduk di samping Nara.
"Bunda lagi chatting sama siapa?Aresha bilangin Papa loh biar marah." goda Aresha karena bundanya yang tak mengalihkan pandangan nya dari handphone walau Aresha sudah berada di samping nya.
"Bilangin saja orang Bunda lagi chattingan sama Papa," jawab Nara tersenyum manis.
"Yaudah terus Bunda ngapain nyari Aresha?"
"Ikut Bunda yuk ke rumah teman Bunda. Bunda udah janji mau main ke rumahnya soalnya."
"Harus gitu ya ngajak Aresha, kan males Bun siang siang gini," keluh Aresha sambil mengibas ibaskan tanganya ke muka, padahal cuacanya sedang tidak panas.
"Bunda sebenarnya nggak mau ngajak kamu karena Bunda tau kamu pasti nggak mau, tapi mau gimana lagi Sayang, Papa nyuruh Bunda pergi sama kamu karena Papa nggak bisa nemenin Bunda." sahut Nara dengan wajah yang di buat buat memelas.
Aresha menghela napas nya kasar, kalau sudah menyangkut keinginan papanya, Aresha tidak bisa berkutik lagi, Aresha terlalu takut untuk melawan keinginannya papanya.
"Jadi gimana Sayang?"
Aresha menatap Nara sedikit kesal.
"Yaudah iya, Aresha ikut." jawab Aresha terpaksa.
"Nah, gitu dong baru anak kesayangan Bunda."
"Kalau sama Aresha bilang nya Aresha anak kesayangan, kalau sama Areno juga anak kesayangan, sama Bang Emil juga anak kesayangan. Jadi sebenarnya siapa anak kesayangan Bunda?"
Nara tertawa mendengar gerutuan anak perempuan nya, karena gemas, Nara langsung menarik Aresha kedalam pelukan nya.
"Semua anak anak Bunda kesayangan Bunda, karena kalian bertiga adalah bagian dari hidup Bunda."
📝
Aresha berganti pakaian sedikit lebih rapi, bukan dres pesta melainkan swetter berwarna abu-abu di padukan dengan rok sebatas lutut. Cukup sopan jika hanya untuk bermain di rumah teman bundanya.
Nara dan Aresha berangkat dengan di antar supir, begitu sudah memasuki jalan yang cukup sepi, Aresha mulai merasa heran.
"Rumahnya di daerah mana Bun? Kok jalanya sepi banget sih," tanya Aresha melihat sekeliling jalan yang di penuhi dengan pepohonan.
"Udah kamu diem saja, rumah temen Bunda itu spesial karena gak ada tetangganya."
"Bunda serius?" tanya Aresha sedikit tak percaya.
"Maaf Nyonya, kita sudah sampai," ucap Pak Dirman menghentikan mobilnya di depan rumah mewah. Ralat, ini bukan rumah melainkan mansion.
Aresha menerjabkan matanya takjub, mansion ini sungguh lebih mewah dan megah dari mansion milik papanya.
Nara turun dari mobil yang sudah di bukakan langsung oleh penjaga yang berjaga di depan pintu utama, seorang wanita seusia Nara datang dengan gaya glamour menyambut kedatangan Nara.
"Yuanara, kamu sudah datang, masuk yuk." wanita Nyonya di rumah ini tersenyum bahagia melihat kedatangan Nara, mereka berciuman untuk cipika cipiki ala teman yang sudah lama berpisah.
"Ini putri mu ya? Wahh, cantik sekali." puji nya melihat Aresha yang berada di belakang Nara.
Aresha tersenyum malu dan menyalami tangan teman bunda nya.
"Kamu masih sama Erina, cantik dan heboh," sahut Nara sambil tertawa kecil. Wanita yang di panggil Erina itu nampak tersenyum bangga.
"Sudah yuk kita ngobrol nya di dalam saja, gak enak disini." ucap Erina menggandeng Nara untuk masuk kedalam.
Aresha mengikuti langkah kedua wanita di depan nya hingga sampailah mereka di sebuah ruangan yang Aresha tau adalah ruang tamu.
Seorang pelayan datang tanpa harus di panggil dan membawakan minuman serta cemilan di atas meja ini.
"Di minum Sayang," Aresha tersenyum canggung dan mulai meminum nya.p
Aresha merasa sedikit aneh dengan mansion ini yang terlihat sepi seakan tidak berpenghuni, terlihat hanya ada Erina, pelayan dan juga penjaga di luar, lantas kemana keluarganya yang lain? Pikir Aresha.
"Maaf Tante, saya izin ke toilet ya," ucap Aresha tiba tiba. Aresha yang watak nya memang tak bisa diam langsung merasa bosan saat duduk bersama Nara dan Erina.
"Iya silahkan, kamar mandi nya ada di sebelah dapur ya,"
Aresha mengangguk dan berjalan mencari dapur yang cukup jauh dari ruang tamu. Begitu menemukanya, Aresha langsung masuk kedalam toilet.
5 menit sudah Aresha di dalam toilet dan Aresha sama sekali tidak berbuat adapun. Hanya duduk dan memainkan handphone nya.
Namun begitu keluar dari toilet, Aresha tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya melihat seorang pria yang sangat dikenali nya sudah berdiri di depan pintu toilet.
"Ngapain lo di sini?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Aresha, bukanya menjawab, pria itu justru tersenyum menyeringai menatap Aresha, hingga membuat Aresha bergidik ngeri melihatnya.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu