Jeno Alvaro, adalah seorang Dokter Obgyn yang jatuh cinta pada wanita yang sudah menikah, Marisa. Marisa yang tengah hamil besar harus kehilangan suami dan keluarga besarnya saat peristiwa Tsunami.
Marisa melahirkan tanpa suami di sampingnya. Jeno yang membantu persalinannya pun mendekati Marisa perlahan, kemudian menikahinya.
Setelah beberapa bulan, Marisa meninggal karena kanker yang bersarang di otaknya. Jeno merasa sangat kehilangan, namun ia harus kuat dan dengan penuh kasih dia membesarkan sendiri putri sambungnya, yang bernama Luna.
Waktu demi waktu terlewati, semakin dewasa, pesona kecantikan Putrinya melebihi kecantikan mendiang istrinya dahulu. Gejolak cinta semakin Jeno rasakan.
Apakah Jeno akan menyatakan cintanya pada putri sambungnya tersebut? Apakah Luna juga memiliki perasaan terhadap Papa sambungnya? Akankah mereka menikah? Atau melupakan perasaan masing-masing dan menikah dengan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
On The Way
Waktu berjalan sangat cepat. Setelah menyelesaikan sekolah SMA Luna lulus sebagai lulusan terbaik. Sayangnya saat kelulusan Jeno tidak dapat hadir karena cuaca di Indonesia sedang badai hujan. Mereka pun hanya bervideocall.
Waktu di Indonesia saat itu pukul delapan pagi. Sementara di Korea pukul 10 pagi.
"Hallo Pa...," sapa Luna dari seberang Video Call.
Deg..
Cantik banget Luna, ini beneran Luna? batin Jeno
Luna semakin dewasa, penampilannya, dan saat itu ia memakai riasan tipis ala-ala Korea.
"Maaf ya sayang, Papa gak bisa kesana sekarang. Kalau tau begini Papa berangkatnya kemarin-kemarin," ujar Jeno
"Gak apa-apa Pa, lain waktu aja. Lagian Setelah ini aku urus berkas-berkas beberapa hari lagi lalu pulang. Jadi lebih baik gak usah kesini aja. Ada Ji Min nih yang nemenin," ujar Luna sengaja membuat Papanya panas.
"Ji Min? Siapa?"
"Pacar aku lah, bentar ya aku panggil orangnya," ucap Luna
"Hemm sekarang bahasa Luna udah jarang nyebut namanya lagi. Lebih banyak menggunakan kata aku," pikir Jeno dalam hati seraya menunggu Luna memanggil Ji Min,"
Luna berbahasa Korea dengan temannya yang ia sebut pacar, ia menyuruh pria itu menyapa Papanya. Kemudian sang Pria menyapa Jeno dengan melambaikan tangan.
"Hallo Om," ucap Ji Min dengan bahasa Indonesia tentu saja Luna yang mengajarinya.
"Saya Ji Min, vasar Luna...," ucap Ji Min lagi
"Pacar not vasar," sahut Luna yang duduk disebelahnya
Apa!!! Tidaaaaak! Dibanding sama Ji Min mending Luna sama aku, astaga dia gak bisa cari cowok yang lebih macho gitu batin Jeno mulai mengeluarkan tanduknya
"Iya, bisa saya bicara dengan Luna lagi?" tanya Jeno
Kemudian Ji Min memberikan ponselnya pada Luna.
"Gimana Pa , pacar ku ganteng kan, pasti di restui kan?" tanya Luna
"Udah berapa lama kamu pacaran ma dia? Papa udah bilang kan jangan pacar-pacaran,"
"Kenapa sih gak boleh? Temen-temen aku udah pada punya pacar, masa aku enggak?" ucap Luna yang ingin rasanya ia tertawa namun di tahannya.
"Kamu....ahh Papa susah ngomong kalau di telepon. Secepatnya Papa akan temui kamu," ucap Jeno kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Luna kemudian mengirim foto dirinya dan Ji Min yang sedang jalan-jalan berdua, di foto tersebut Ji Min merangkul Luna dan tak hanya itu ia juga mengirim fotonya tidur berdua dalam satu ranjang dengan Ji Min. Padahal itu adalah foto editan yang hanya menggunakan wajahnya saja. Lalu Luna menambahkannya dengan keterangan.
"Hubungan aku dan Ji Min sudah sampai sini," ketik Luna kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Luna berhasil membuat sang Papa marah, lebih tepatnya cemburu.
"Papa On The Way ke Korea!" balas Jeno lewat pesan di ponselnya.
"Eh papa beneran kesini," gumam Luna kemudian dia baru teringat, "Bukannya lagi hujan badai ya? Semoga yang dimaksud Papa kesininya besok,"
Sepanjang upacara wisuda kelulusan, Luna benar-benar gelisah. Dia takut jika Papanya nekat ke Korea. Akhirnya setelah acara, ia langsung pulang dan terus menghubungi Papanya. Tapi ponselnya tidak aktif.
"Pa, balas ya," Luna mengirim pesannya lagi.
Hingga waktu menjelang malam, Luna masih belum bisa menghubungi sang Papa. Balasan pesan juga tidak ada. Akhirnya Luna bergegas Mandi.
Selesai Mandi, hal yang dituju Luna adalah mengambil ponselnya. Lagi-lagi Luna tidak ada panggilan lain, apalagi balasan pesan dari Papanya. Yang ada hanyalah notifikasi pesan grup sekolahnya dan notifikasi media sosial.
Sambil menunggu balasan pesan sang Papa, Luna menyalakan televisi sembari makan Mie instan yang beberapa menit lalu ia buat. Luna mencari siaran yang bagus tapi saat ada berita yang menyatakan ada salah satu pesawat dengan tujuan Seoul, terjatuh di terpa angin badai. Ia stop mencari channel lain dan terus menonton berita itu.
Hatinya bergemuruh hebat, takut jika pesawat yang terjatuh itu adalah pesawat yang ditumpangi Papanya. Tanpa berpikir lama Luna meletakkan mie instan dalam kemasan gelas cup besar ke atas meja dan langsung bergegas keluar. Ia akan pergi ke bandara Seol untuk mencari tahu tentang informasi pesawat jatuh.
Sesampainya di Bandar Udara Internasional Incheon, Luna berlari kecil menghampiri bagian informasi. Rupanya benar ada pesawat yang jatuh namun belum diketahui siapa saja korbannya.
Mendengar hal itu Luna semakin panik, lututnya lemas. Dan dia terperosot jatuh ke lantai.
"Papa.... Ini gara-gara Luna, Semoga Papa selamat," batin Luna dengan perasaan khawatir, panik dan sedih jadi satu.
tak adakah cara yg lebih menghemat?
budayakan Lean donk
namun disini kita diajak untuk lebih jeli dalam menelaah pergulatan bathin yg muncul dalam tiap tokohnya
keren ide ceritanya. semoga makin semangat dalam berkarya
jangan posesif" gitu napa sih jen
janda gatel