Berawal dari sebuah pertemuan secara kebetulan dalam sebuah insiden, ternyata mereka telah dijodohkan oleh kakeknya sejak mereka masih belia. Dan sebuah insiden semalamlah yang menjadi awal pertemuan mereka.
Saling mengenal tetapi tidak sadar jika mereka yang telah dijodohkan. Dari sebuah keterpaksaan perjodohan hingga muncul benih cinta yang tak mereka sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna LA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Selama perjalanan dari Wijaya Group menuju kantor lagi Devan dan Rudi tidak berbicara apa pun tentang Ara. Karena di dalam mobil tidak hanya ada mereka berdua jadi tak leluasa untuk berbicara masalah Ara. Mereka masih terus membahas masalah pekerjaan. Sesampainya di kantor, mereka langsung masuk ke ruangan divisi masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Rud, ke ruanganku segera!” ucap Devan dalam sambungan telepon dan langsung menutupnya kembali.
"Tok tok tok!!”
“Ya masuk saja Rud!” teriak Devan dari dalam ruangannya.
“Ada apa tuan, ada yang bisa saya bantu?”
“Tolong bantu rapikan file itu Rud, rasanya otakku sedang bercabang dan sedang tidak fokus untuk meneruskannya.” keluh Devan.
“Eemmmm jika boleh saya tahu tuan sedang memikirkan apa?” tanya Rudi.
“Aku bingung masalah hati Rud.”
“Wes angel wes angel!” batin Rudi.
“Ada masalah apa tuan?” tanya Rudi yang belum mengetahui apa pun.
“Satu sisi aku sudah dijodohkan oleh kakek dengan cucu dari kawannya, dan aku belum mengetahui siapa gadis yang dijodohkan untukku, sisi lainnya aku telah menemukan gadis yang membuat hatiku yang beku ini sedikit mencair untuk sekian lamanya.”
“Lalu tuan akan melakukan apa?” tanya Rudi lagi.
“Aku bingung harus bagaimana Rud, apakah aku harus meminta kakek untuk membatalkan perjodohan itu dan aku berusaha mengejar gadis itu?”
“Maaf tuan sepertinya ini masalah berat sekali dan saya juga tak mampu untuk membantunya, tuan juga tahu sendiri saya belum pernah memiliki pasangan, mungkin tuan Devan harus bertanya dengan hati tuan sendiri yang mana yang harus tuan pilih.”
“Ya juga kamu tetap dengan kejombloanmu Rud. Bagaimana jika aku jalani ke duanya ya Rud?”
“Asal tuan sanggup, coba saja dulu tuan daripada nanti tuan menyesal!”
“Sebenarnya kamu ini membantuku atau menjerumuskanku Rud?” tanya Devan yang di jawab kekehan dari Rudi.
“Maaf tuan, lebih baik utamakan kemauan tuan besar dulu tuan, siapa tahu memang gadis yang dijodohkan tuan besar adalah jodoh dunia akhiratnya tuan.” Rudi mengingatkan Devan.
“Sudah-sudah Rud, jika sudah beres kamu menata itu, segera keluar sana, sepertinya aku salah meminta pendapat darimu.” Ucap Devan sambil memijit pelan pelipisnya.
“Baik tuan, saya permisi.” pamit Rudi.
“Bagaimana sihh tuan ini tanya dijawab salah juga, tanya masalah hati kenapa harus ke aku, tuan juga tahu aku saja tak pernah memikirkan hal seperti itu.” batin Rudi sambil meninggalkan ruangan Devan.
Setelah Rudi meninggalkan ruangannya, Devan teringat dengan Ara yang kemudian dia mengambil ponselnya dan mencoba untuk mengirim pesan pada Ara.
Ara 🌼
Hai Ra!! Ini Devan.
(Sangat lama sekali Ara belum membalas)
“Kemana ya Ara ini lama sekali dia belum membalasnya, sampai satu berkas ini selesai aku cek.” kata Devan sambil memandangi terus ponselnya.
Kak Devan
Hai juga kak, Ara save ya nomor kakak.
“Akhirnya dibalas olehnya.” ucap Devan lirih.
Ara 🌼
Ya memang harus disave kan, sibuk ya Ra?
Kak Devan
Lumayan tadi kak, tapi sekarang sudah santai karena hampir waktunya pulang juga. Kakak tidak sibuk kah?
Ara 🌼
Sama nih aku juga sedang bersiap untuk pulang. Ara pulang sendiri atau bersama tante Mayra.
Kak Devan
Tentu bersama mama lah kak, ada apa kak?
Ara 🌼
Tidak ada apa-apa aku hanya bertanya saja. Baiklah hati-hati di jalan ya, kapan-kapan sambung lagi kita mengobrolnya
Kak Devan
Baik kak, kakak juga hati-hati ya☺
“Aaahhh bahagianya dapat tanda senyum darinya.” Ucap Devan berbahagia hanya dengan emoticon dari Ara.
Devan menyimpan ponselnya kemudian bersiap juga untuk pulang. Saat Devan melewati ruangan Rudi, Devan mengatakan jika Rudi harus segera pulang dan jangan kerja lembur untuk hari ini.
“Tuan serius?” tanya Rudi tak percaya sebab masih ada beberapa yang harus diselesaikan.
“Ya tentu saja yuukk pulang, aku duluan ya, kamu pulang bawa mobilku dan besok pagi jemput aku di rumah!” perintah Devan.
“Lalu sekarang tuan pulang menggunakan apa?”
“Aku akan pakai motor yang ada di basement kantor, dimana kuncinya.”
“Ooh begitu, ini tuan.” Rudi menyerahkan kunci motor Devan.
“Besok pagi jangan lupa jemput aku, sekalian sarapan dulu di rumah, kakek merindukanmu, aku balik dulu.”
“Baik tuan, hati-hati di jalan!” ucap Rudi yang hanya dijawab Devan dengan acungan jempolnya.
“Memang benar kata orang di luar sana, jatuh cinta itu membuat orang berubah, dari gunung es menjadi lelehan keju yang ada pada pizza yang baru di panggang.”
“Aahh nanti mampir beli pizza saja untuk teman kerjakan semua ini.” Monolog Rudi sambil membereskan file-file yang akan dibawa pulang untuk dikerjakan.
Rudi sangat hafal betul dengan sifat Devan, jika saat ini dia meminta untuk segera pulang, belum tentu besok dia tidak marah-marah karena file yang dibutuhkan belum siap. Jadi sebelum Devan berubah pikirannya lebih baik Rudi berjaga-jaga untuk segera menyelesaikan semuanya.
Rudi Nugraha adalah anak yatim piatu yang sejak sekolah menengah diberi kesempatan oleh kakek Sanders untuk meneruskan pendidikannya hingga dia bisa berkuliah dan dibesarkan kakek bersama dengan Devan. Dan sebenarnya sejak dulu kakek tak pernah membedakan Rudi dan Devan dalam mengenyam pendidikan tetapi Rudi yang tidak pernah mau untuk bersekolah yang sama dengan Devan, Rudi memilih bersekolah di sekolah biasa karena tidak terbiasa dengan fasilitas luar biasa di sekolah Devan. Rudi juga diminta kakek untuk memanggilnya kakek dan Devan dengan sebutan namanya bukan dengan panggilan tuan besar dan tuan. Tetapi karena kakek dan Devan menghargai keputusan Rudi jadilah mereka membiarkan Rudi memanggil dengan panggilan yang dia mau.
Dulu pada suatu hari setelah Rudi di izinkan untuk bekerja di perusahaan. Rudi meminta izin kepada kakek untuk keluar dari rumah Sanders, dia beralasan ingin hidup mandiri.
“Tuan bolehkah saya tinggal terpisah dengan tuan agar saya belajar mandiri menata hidup saya?”
“Ada yang kamu rasa tidak nyaman di rumah ini kah Rud, bicaralah dengan kakek!”
“Tidak tuan, bukan begitu saya hanya ingin belajar mandiri tuan.”
“Meski disini juga kamu bisa belajar mandiri Rud, jadi untuk apa kamu harus keluar dari rumah ini?”
“Tuan saya mohon, saya akan sering kesini untuk menemani tuan sampai tuan Devan kembali dari kuliahnya.”
“Haiiihhh, Rudi Rudi kamu ini membuat kakek tak bisa berbuat apa-apa jika melihatmu seperti itu, baiklah boleh keluar dari sini tetapi tetap kakek yang carikan tempat tinggal untukmu dan kamu tidak boleh menolak, bagaimana?”
“Baik tuan, saya mau.”
“Baik, besok biar dibantu orang kakek untuk menyiapkan tempat tinggal barumu.”
Sejak saat itulah Rudi tinggal di apartemen yang tidak jauh dari perusahaan juga dari rumah keluarga Sanders.
jangan sampai emosi mu menghancurkan hati Ara ingat baru bertunsngsn loh bisa bubar apa kg yg udah nikah aja aja yg cerai
jangan sampai ego merusak segala2 y Devan🤭
Semoga berhasil dan lancar acaranya