Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manis
"Jen buruan!!!" pekik Daffin.
"Bentar." jawab Nara tak kalah keras.
"Ck. Ngapain aja sih, dandan gitu doang lama banget?" gerutu Daffin kesal.
"Bi, Nara sama Daffin keluar dulu ya!" ucap Nara sambil berlari menuruni tangga "Nanti kalo papa tanya bilang aja kita jalan-jalan."
"Baik, Non."
~
"Yuk!" Nara menarik tangan Daffin yang masih berdiri di teras rumah.
Wajahnya yang tadi ditekuk pun berubah, saat melihat penampilan Nara. Bibirnya ikut tersenyum walaupun tipis.
"Terpesona ya?" Nara cengir, ia mencolek hidung mancung suaminya.
Daffin segera merubah kembali ekspresi wajahnya menjadi datar "Geer."
"Hm, dasar gak mau ngaku?" Nara mengikuti Daffin masuk ke mobil.
"Jen!"
"Hm."
"Kita ke toko baju dulu ya."
"Ngapain?" Nara menautkan kedua alisnya.
"Gue lihat celana sama rok elo gak ada yang bener." Nara mendelik mendengar ucapan Daffin, "semuanya kekurangan bahan."
"Ish.. Ini tuh bukan kurang bahan tapi kan emang modelnya kek gini. Boy."
"Tapi gue gak suka lihat elo pakai baju kayak gitu." Daffin mendesah berat, "apalagi di lihat laki-laki lain."
"Why?"
"Semua yang ada pada diri elo itu milik gue." Melirik Nara yang tengah menatapnya "Cuma gue yang boleh lihat."
"Ck. Mulai deh posesifnya kumat." Nara memutar bola matanya malas.
~
Daffin memarkirkan mobilnya di depan sebuah Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Nara mengikuti Daffin kemanapun langkah laki-laki itu berjalan.
"Boy. kita ke toko buku dulu ya!" Nara menarik tangan Daffin.
"Emang elo mau beli apa?"
"Mau beli perabotan rumah. Ya mau beli buku lah."
Pletak
"Gue tau, Jen." Daffin menyentil kening Nara "Malas akh."
"Bentar lagi ujian kenaikan kelas loh, elo mau gak naik kelas. Hah?"
"Iya, iya bu Waketos yang jenius." Daffin akhirnya pasrah mengikuti Nara.
Nara mengambil beberapa buku yang sekiranya dia butuhkan mereka berdua dan memasukannya ke dalam keranjang yang di bawa Daffin yang dengan malas terpaksa mengekori Nara.
Nara berjinjit ia ingin mengambil buku di rak yang paling tinggi, tapi karena badannya mungil ia sangat kesusahan mengambil buku tersebut.
"Eh.." Nara terkejut karena tiba-tiba tubuhnya melayang, ia menengok ke belakang ternyata Daffin memeluk dan mengangkat tubuhnya.
"Thank you!" Nara tersenyum "My Husband." bisiknya kemudian meninggalkan Daffin.
Daffin menggeleng dengan kedua sudut bibirnya yang sudah melengkung sempurna.
Setelah puas membeli beberapa buku. Nara dan Daffin pun kini tengah duduk di sebuah kafe yang masih terdapat di Mall tersebut.
Seperti tujuan awal mereka ke Mall tersebut hanya untuk jalan-jalan, sekedar mengusir kebosanan sebelum kembali lagi ke rutinitas sekolah mereka besok.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Nara melihat lihat beberapa buku yang ia beli sedangkan Daffin tengah sibuk dengan ponsel milik Nara. Belakangan ini membongkar isi ponsel gadis itu menjadi hobinya. Nara hanya bisa membiarkan dari pada urusannya ribet.
"Nara!" Nara menoleh saat merasa ada yang memanggil dirinya "Eh bener Nara 'kan?"
"Ri-Rio." Nara tersenyum tapi terlihat kaku.
Daffin menatap tidak suka pada keduanya.
"Apa kabar Ra?" Cowok yang bernama Rio mengulurkan tangannya pada Nara.
"Baik." jawab Nara singkat, dengan ragu Nara menyambut tangan Rio.
"Gak usah lama-lama." Daffin melepaskan tangan Nara dan Rio.
"Siapa, Ra?" tanya Rio.
"Gue cowoknya Jen, maksud gue Nara."
Rio menatap Nara seperti meminta kepastian. Nara menganggukkan kepalanya.
"Kalian lagi kencan?" tanya Rio lagi.
"Hem." jawab Daffin malas.
"Oh. Sory gue ganggu ya?"
"Nah itu elo nyadar, kalo elo tuh ganggu." Daffin tersenyum sinis.
"Fin." Nara memegang tangan Daffin, ia mulai waspada takut Daffin membuat keributan, mengingat cowoknya itu mempunyai sifat tempramen akut.
"Gak kok, biasa aja Yo." Nara menatap Rio, "elo sama siapa ke sini?"
"Sama temen-temen, mereka lagi ke toilet." Nara mengangguk faham, "oke Ra, gue duluan ya. Mau nyari meja ke buru anak-anak datang nanti rusuh."
"Oke."
Selepas Rio pergi, pesanan Nara dan Daffin pun datang. Nara memesan ice cream coklat stawbery dengan tidak sabar segera melahapnya.
"Makan tuh pelan-pelan. Kayak bocah." Daffin mendekatkan wajahnya pada Nara "Manis." ucapnya setelah ia me*umat ice cream di bibir gadisnya.
Mata Nara membulat sempurna dengan wajah yang sudah merona bak tomat merah. Nara benar-benar tidak menyangka Daffin akan melakukan itu apalagi di tempat umum.
Sebelah ujung bibir Daffin tertarik ke atas, ia merasa gemas ketika melihat bibir merah Nara. Setelah kemarin ia merasakannya, bibir itu membuatnya kecanduan.
Sementara di meja yang tidak jauh dari mereka sepasang mata tengah memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.