Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Melihat suaminya pulang selalu larut malam bukan lagi hal biasa untuk Zara. Zara selalu meyakinkan hatinya. Selagi dia tidak melihat semua itu secara langsung, maka Zara akan menganggap jika suaminya pergi benar-benar untuk bekerja. Hal itu lah yang selalu Zara ucapkan pada dirinya sendiri agar dia tidak begitu terluka karena masalah yang menimpa rumah tangganya.
Zara melirik jam yang sudah menunjukan pukul satu malam. Hampir setiap malam Zara selalu menunggu Juna yang pulang terlambat. Tak pernah sekalipun Zara membahas hal itu sebab dia tak pernah ingin pertanyaannya akan membuat hubungannya dengan Juna semakin berjarak. Mengikis jarak diantara mereka sudah susah payah Zara lakukan, karena itu Zara tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuat jarak diantara mereka semakin bertambah.
Zara pikir dengan Juna yang selalu pulang ke rumah itu sudah cukup, setidaknya Juna ingat tempatnya kembali karena memang sudah seharusnya Zara lah tempat Juna untuk kembali.
Zara memejamkan matanya. Sekuat apapun dia berusaha menepis semua pikirannya dimana dia selalu membayangkan suaminya tengah bersama wanita lain, tetapi tetap saja semua bayangan itu terlintas di benaknya membuat Zara tak dapat tidur sebelum Juna kembali padanya.
"Sampai kapan ini akan seperti ini, Mas? Ini sudah hampir empat bulan dan semua masih berjalan di tempat seperti ini," ucap Zara menatap foto pernikahannya dalam ukuran bingkai yang kecil, yang dipajang di atas nakas tempat tidur.
Dalam kesedihan yang selalu menyelimutinya, mata cantik itu terpejam setelah lelah menangis. Tak berapa lama setelah Zara terlelap. Juna pulang. Juna naik ke atas tempat tidur dengan sangat berhati-hati. Juna menatap wajah cantik yang selalu terlihat sembab karenanya itu.
"Maafkan aku, Za. Aku tau ini semua salah. Namun aku sangat mencintai dia," ucap Juna pelan, tetapi terdengar jelas oleh Zara yang terbangun saat merasakan seseorang naik ke atas ranjangnya.
Zara memutar tubuhnya menjadi membelakangi Juna dan saat itu juga air matanya kembali keluar. Zara berusaha menahan suara tangisnya. Sakit, sungguh Zara merasakan sakit yang teramat sakit saat mendengar suaminya masih saja mengatakan mencintai wanita lain.
'Aku harus bagaimana, Tuhan? Aku sangat mencintainya. Berjuang ataupun menyerah sama-sama akan menyakitiku. Menyerah di saat pernikahan ini baru berjalan empat bulan, jelas akan membuat keluargaku malu. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin merasa sakit, tapi aku juga belum sanggup kehilangannya,' batin Zara.
Setiap terbangun dari tidurnya, Zara selalu berada dalam pelukan Juna. Bukan Zara yang memeluknya, melainkan Juna yang tidur selalu memeluknya. Zara tersenyum menatap tangan Juna yang berada di perutnya. Dengan sangat perlahan Zara memutar tubuhnya menghadap Juna.
Tangannya terangkat mengusap lembut wajah tampan suaminya itu. 'Aku harus bagaimana, Tuhan? Aku sangat mencintainya, tapi dia justru mencintai wanita lain. Perasaan ini semakin bertambah sekalipun dia tidak mencintaiku. Aku mohon bantu aku, Tuhan…' ucap Zara dalam hati.
Setelah puas menatap wajah suaminya. Zara perlahan melepaskan tangan Juna dari tubuhnya, tetapi pria yang masih memejamkan matanya itu justru semakin mempererat pelukannya dan menempelkan wajahnya di dada Zara.
"Sayang, aku masih ingin tidur memelukmu," ucap Juna dengan mata terpejam.
Zara yang mendengar itu semua kembali merasa perih dan sesak. Bahkan dalam keadaan tidurpun Juna selalu mengingat wanita itu, pikirnya.
"Za, nanti saja bangunnya. Aku masih ingin tidur memelukmu," ulang Juna saat Zara kembali berusaha melepaskan tangan Juna dari tubuhnya.
'Bukankah dia menyebut namaku? Aku yang terlalu berharap atau memang dia menyebut namaku?' batin Zara tak bisa menutupi rasa bahagianya.
"Mas," lirihnya.
"Ya, sayang," balas Juna semakin membuat jantung Zara berdetak kencang memikirkan panggilan itu untuk dirinya atau Juna masih belum sepenuhnya sadar siapa yang dipeluknya.
"Aku masih mengantuk Za, tetap disini temani aku. Biarkan tidurku nyenyak," ucap Juna lagi.
Zara yang nendengar itu tak lagi berusaha pergi. Tangannya bergerak mengusap lembut kepala Juna. "Tidurlah, aku disini," ucapnya dengan begitu lembut dan mata berkaca-kaca karena bahagia.
"Terima kasih, sayang," balas Juna semakin memeluknya.
Perasaan Zara menjadi campur aduk. Antara sedih dan bahagia dirasakannya saat ini mendengar Juna memanggilnya dengan sebutan sayang.
Meski Zara merasa gugup saat Juna memeluknya terlebih lagi kepala pria itu berada di dadanya, tetapi Zara berusaha untuk tenang, membiarkan pria itu kembali tidur dengan nyenyak sebelum akhirnya nanti dia akan turun dari tempat tidur.
'Maaf, Za. Aku sama sekali tidak memanfaatkan keadaan. Aku benar-benar nyaman bersamamu, tapi aku mencintai dia. Maaf…' ucap Juna dalam hati.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....