NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Retakan Pertama pada Mahkota Permaisuri

Kabut tipis yang menyelimuti kediaman utama keluarga Garrick perlahan memudar seiring matahari yang naik tinggi. Alana melangkah kembali ke paviliun belakang faksi keempat dengan ritme yang stabil. Setelah berhasil mengunci kesepakatan rahasia dengan Julian, dia segera kembali ke rutinitasnya seolah tidak terjadi apa-apa. Duduk di depan cermin usang kamarnya, Alana mengoleskan salep herbal buatan Elena ke pipi kirinya. Memar keunguan di sana kini mulai memudar menjadi semburat kuning samar.

Alana menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan sepasang mata yang jernih dan tajam. Dua umpan besar telah ditanam di dua titik paling strategis. Sekarang, giliran waktu yang akan melakukan tugasnya untuk memicu efek domino.

Sementara itu, beberapa ratus meter dari ketenangan paviliun belakang, suasana di Mansion Utama faksi pertama justru terasa sepekat atmosfer sebelum badai besar melanda.

Di dalam ruang kerja pribadinya yang megah, Nyonya Eleanor Rossi Garrick berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Wanita paruh baya yang selalu tampil anggun dengan gaun beludru merah marun dan tatanan rambut sasak yang sempurna itu kini tampak menggenggam sebuah cangkir teh porselen dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih.

Prannng!

Cangkir kristal mahal itu dilemparkan ke lantai marmer, hancur berkeping-keping bersama dengan teh earl grey hangat di dalamnya. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan langsung menundukkan kepala dalam-dalam, tubuh mereka gemetar menahan napas karena ketakutan.

"Bagaimana bisa hal amatir seperti ini terjadi?!" suara Eleanor melengking tajam, dipenuhi amarah yang membakar.

Di depan meja kerjanya, berdiri pengacara utama faksi pertama beserta kepala logistik militer mereka. Keduanya tampak berkeringat dingin, tidak berani menatap mata sang Istri Sah yang terkenal kejam.

"Maafkan kami, Nyonya Besar," ucap sang pengacara dengan suara bergetar. "Kami baru saja menerima kabar dari otoritas hukum di Eropa Selatan. Dokumen legalitas dan berkas administrasi untuk pernikahan politik Nona Alana dengan pihak sindikat di sana mendadak ditolak mentah-mentah. Mereka menyatakan ada kecacatan dokumen dan kesalahan segel notaral yang fatal. Butuh waktu setidaknya tiga minggu hingga satu bulan untuk merestrukturisasi ulang berkas-berkas tersebut dari awal."

"Sialan!" kutuk sebuah suara bariton yang kasar dari arah sofa kulit.

Cedric Garrick, sang putra mahkota faksi pertama yang bertubuh kekar dengan tato ular yang melilit dari leher hingga lengan kanannya, berdiri dengan gusar. Pria yang terkenal temperamental dan brutal itu menendang meja kopi di depannya hingga bergeser beberapa sentimeter.

"Bukan hanya urusan dokumen sialan itu saja, Ibu!" bentak Cedric, wajahnya memerah karena emosi yang meluap. "Kepala divisi persenjataan kita baru saja melapor. Xavier... keparat dari faksi ketiga itu tiba-tiba membekukan pengajuan anggaran pembelian senjata gelombang kedua kita untuk bulan ini! Dia beralasan sedang ada 'audit internal tahunan' pada sistem keuangan kasino Monaco. Bajingan narsistik itu sengaja memperlambat pasokan logistik militerku!"

Eleanor menarik napas panjang, berusaha menekan amarahnya yang mendidih ke dasar kesadarannya. Sebagai wanita yang telah mendampingi Victor Garrick selama puluhan tahun di dunia bawah, otaknya yang licik segera mencium bau konspirasi yang menyengat.

Dua hambatan besar terjadi secara simultan di hari yang sama. Masalah keuangan dari faksi Xavier, dan masalah administrasi dokumen yang biasanya ditangani secara bayangan oleh faksi kedua—faksi Julian.

"Ini bukan sebuah kebetulan," desis Eleanor, matanya menyipit berbahaya bagaikan seekor ular beludak yang siap mematuk. "Valerie dan Bianca... kedua selir sialan itu pasti sedang bersekutu di belakang punggungku untuk menjatuhkan posisi faksi pertama selagi Victor tidak ada di mansion!"

"Aku akan membawa pasukanku dan menghancurkan kasino Xavier sekarang juga jika dia berani bermain-main dengan anggaranku!" ancam Cedric, tangannya bergerak meraba pistol yang terselip di pinggang belakangnya.

"Bodoh! Jaga impulsifmu itu, Cedric!" bentak Eleanor keras, membuat putranya terdiam seketika. "Jika kamu menyerang faksi ketiga secara terang-terangan tanpa izin ayahmu, Victor akan mengeksekusimu sendiri karena merusak aset keuangannya! Kita harus bermain cantik."

Eleanor berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu runang kerjanya, otaknya berpikir keras mencari jalan keluar instan. Dia harus memastikan kendali atas pernikahan politik ini tidak lepas dari genggaman tangannya. Alana adalah satu-satunya kunci untuk mendapatkan aliansi militer dari Eropa Selatan demi mengamankan takhta Cedric.

Karena Alana bergerak dengan sangat rapi sebagai double agent di balik layar, Eleanor sama sekali tidak pernah mencurigai adik tiri yang tidak berdaya itu. Di mata Eleanor, Alana tetaplah si "gadis pembawa sial" yang cengeng dan lemah, yang sedang mengurung diri ketakutan di paviliun belakang.

"Jika dokumen legalitas itu cacat, maka kita tidak perlu menunggu jalur formal," ucap Eleanor dengan senyuman dingin yang teramat kejam di wajahnya. "Kita akan membawa sindikat Eropa Selatan itu ke sini, atau kita yang akan menyeret Alana ke sana secara paksa tanpa dokumen apa pun. Begitu pernikahan itu terjadi di bawah tangan, faksi kedua dan ketiga tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi."

Eleanor berbalik menatap kepala pengawal pribadinya yang berdiri di dekat pintu. "Bawa sepuluh pengawal terbaikmu. Pergi ke paviliun belakang sekarang juga. Seret Alana ke Mansion Utama. Aku sendiri yang akan mengurungnya di ruang bawah tanah dan memastikan dia tidak bisa melarikan diri sampai hari keberangkatan tiba!"

"Baik, Nyonya Besar," jawab sang kepala pengawal patuh, memberikan hormat formal sebelum melangkah keluar dengan cepat bersama anak buahnya.

Kembali ke paviliun faksi keempat, ketenangan sore hari itu mendadak hancur berantakan.

Suara deru langkah kaki yang berat dan teratur dari boots militer terdengar mendekat, memecah keheningan halaman belakang. Detik berikutnya, pintu depan paviliun yang rapuh itu ditendang dengan kasar hingga jebol dari engselnya, menciptakan suara dentuman keras yang menggema di seluruh ruangan.

Brakkk!

Sepuluh pria berjas hitam dengan senjata otomatis yang terselip di balik jas mereka langsung merangsek masuk, mengepung ruang tengah yang sempit tersebut. Aura membunuh dan intimidasi militer yang pekat seketika memenuhi udara paviliun yang kumuh.

Elena yang baru saja keluar dari dapur langsung menjerit histeris. Tubuhnya lemas hingga terjatuh ke atas lantai marmer yang dingin, air matanya mengalir deras karena ketakutan yang teramat sangat saat melihat moncong senjata para pengawal faksi pertama.

"Nona Alana," ucap sang kepala pengawal dengan nada suara yang dingin dan tanpa ekspresi, menatap Alana yang masih duduk dengan sangat tenang di kursi kayu usang sambil memegang cangkir tehnya. "Nyonya Besar Eleanor memerintahkan Anda untuk ikut bersama kami ke Mansion Utama sekarang juga. Dan perintah ini tidak menerima penolakan."

Alana perlahan meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kayu dengan ketukan yang sangat pelan. Dia tidak gemetar. Sepasang matanya yang sedingin es menatap barisan pengawal bersenjata itu dengan tatapan menilai yang kosong, seolah kehadiran mereka tidak lebih dari sekadar lalat yang mengganggu sore harinya.

'Jadi, efek dominonya bekerja lebih cepat dari perkiraanku,' batin Alana dingin, sebuah senyuman tak terlihat tersirat di dalam hatinya. 'Baguslah. Mari kita lihat seberapa besar kekacauan yang bisa kubuat di dalam sarang macan itu.'

Alana berdiri dengan anggun, merapikan gaun abu-abu kusamnya, lalu menatap kepala pengawal tersebut dengan keangkuhan yang mutlak. "Jaga tangan kalian agar tidak menyentuh gaun saya. Saya bisa berjalan sendiri."

Konfrontasi kedua yang jauh lebih berbahaya di sarang faksi utama telah resmi dimulai, dan Alana berjalan masuk ke dalamnya dengan kepala tegak, siap menggerakkan bidak catur berikutnya untuk menghancurkan mahkota sang Permaisuri.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!