NovelToon NovelToon
Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Militer / Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:409.8k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Warning!!!

Bijaklah dalam membaca banyak tindak kekerasan. Terima kasih sudah berkenan baca.

Fakta tentang siapa dirinya baru Zena ketahui setelah ia melakukan penyerangan terhadap markas Mata Elang. Seorang master sepuh di perkumpulan tersebut mengatakan bahwa dia adalah seorang master legenda yang hilang. Tepatnya, keturunan sang legenda, sepasang Elang Putih.

Namun, Zena yang menyukai kebebasan, lebih memilih menyembunyikan identitasnya sebagai seorang master dan menjadi gadis lugu nan polos yang sekilas mudah sekali ditindas. Seiring waktu berjalan, identitasnya terkuak sedikit demi sedikit membuatnya menjadi incaran sang pemimpin markas dan adiknya. Akan tetapi, Zena memilih pergi keluar untuk menjalankan misi-misi memberantas para mafia yang kembali berulah.

Tanpa berpikir bahwa kepergiannya itu justru akan ia sesali untuk seumur hidup.

FB: Aisy Hilyah
Ig: aisyhilyah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkepung

"Cepat! Cepat! Gunakan kedua kaki kalian untuk berlari pergi dari tempat terkutuk ini!" Suara Zena memerintah. Sementara dirinya tetap menahan William menggunakan samurai juga adiknya yang tak berkutik.

Zena tak menerima ucapan terimakasih dari mereka. Tak ada waktu, telinganya menangkap bunyi derap langkah yang banyak menuju ke lantai tersebut. Sekitar lima belas orang gadis remaja keluar dari ruangan tersebut dan beberapa ada anak di bawah umur.

Zena menggeram. Ia menendang kuat lekuk kaki William sehingga membuatnya jatuh berlutut. Samurai di tangannya terhunus tepat di bagian tengkuk. Sedikit saja Zena mengayunkan tangan, sudah dapat dipastikan kepala William akan terpisah dari tubuhnya.

"Berlutut!" titah Zena pada Laila yang mematung gemetar melihat Kakaknya yang bisa saja terpenggal. Ia beringsut, berlutut dekat pintu ruangan dengan kepala tertunduk tak jauh dari senjata yang ia letakkan tadi. Sigap kaki Zena meraih benda tersebut dan menggenggamnya, ia tersenyum miring ketika wajah pucat Laila terangkat dengan mata membelalak.

"Kepung mereka!" Suara teriakan bercampur dengan suara jerit para gadis yang baru saja keluar sudah dapat Zena prediksi.

Mereka kembali berlari ke ruangan di mana Zena berada karena tak ada lagi tempat untuk mereka berlari. Zena memberi isyarat untuk tetap berkumpul di satu titik. Itu memudahkan mereka untuk saling melindungi satu sama lain ketika mendapat serangan.

"Bos!"

William mengangkat wajah. Seringai licik muncul di bibirnya melihat semua orang berkumpul di sana.

"Kepung dia!" Serentak puluhan orang itu berlari mengelilingi Zena yang menyandera William.

"Hanya ini yang mau miliki? Kukira kau punya lebih banyak lagi dari ini," cibir Zena. Gadis itu tak terlihat takut sama sekali, ia tetap tenang setelah melihat puluhan orang mengepungnya.

"Kau sudah terkepung. Menyerahlah! Tak akan mungkin kau mampu menghadapi semua orangku ... sendirian," ucap William percaya diri.

Zena terkekeh. Hal itu sontak membuat William melirik dengan ekor matanya, terheran karena tak sedikitpun Zena terlihat takut.

"Kau terlalu percaya diri. Kau pikir aku takut? Tunggu kejutan dariku!" Keberanian Zena memang patut diacungi jempol untuk ukuran seorang wanita. Tak ada getar ketakutan dari setiap kata yang ia ucapkan.

Suara kaca yang pecah mengejutkan mereka semua. Puluhan orang yang mengepung Zena dengan berbagai senjata di tangan, menoleh ke arah datangnya suara keras tadi.

"Roarrr!" Suara auman Tigris menggema menggetarkan kedua kaki mereka. William terbelalak, terlalu panik. Ia mendorong tubuh Zena dengan gerakan cepat hingga samurai di lehernya menjauh. William berlari menyatu dengan kelompoknya, diikuti Laila yang juga mengambil langkah seribu. Bersembunyi di antara kelompok itu.

Meski terkejut, Zena tetap tenang. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh gerakan cepat William.

"Habisi dia! Jangan biarkan dia lolos dari lantai ini!" titahnya walaupun napas tersengal.

Laila gegas melilitkan sebuah syal di leher William menghentikan kucuran darah dari bekas sayatan samurai Zena.

"Roarrrr!" Suara Tigris datang dari mana-mana. Dari segala arah, mereka pikir harimau itu datang bersama kelompoknya untuk mencari mangsa.

"Kalian terkepung!" seru Zena dengan seringai di bibir.

"Serang dia! Cepat!" teriak William sambil menahan nyeri di leher.

Mereka bergerak secara bersamaan, menyerang menggunakan sebilah golok di tangan. Gadis bercadar itu sudah menunggu mereka sedari tadi, tak sabar ingin segara mengayunkan samurai di tangan. Sudah lama sekali sejak ia menyerang markas Chendrik samurai itu tertidur lelap.

Tigris melompat menghadang sebagian orang yang hendak menyerang para gadis yang dibebaskan Zena. Taringnya yang tajam mencuat saat ia menyeringai. Lidahnya terjulur menjilati sekitar bibir seolah sedang berhadapan dengan mangsa empuk di depannya.

Cheo melompat turun, ekor matanya melirik para gadis itu dengan dingin.

"Masuk ke ruangan itu dan tutup pintunya. Bersembunyi saja sebelum kami membukakan pintu!" Ia memerintah. Meski masih sangat muda, tapi para gadis itu menuruti perintahnya. Mereka merayap masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

Menutup telinga dari suara dentingan pedang yang beradu. Suara jerit kesakitan pun tak terelakan, erangan menyakitkan mengikuti, turut memenuhi seluruh ruangan tersebut.

Cheo dan Tigris bahu membahu melawan sebagian kelompok tersebut. Di sisi lain Zena sudah menghabisi hampir separuh dari orang-orang yang menyerangnya. Pandangannya fokus pada William dan Laila yang bergelagat mencurigakan. Ia beralih pada pintu keluar, menutup jalan bagi keduanya untuk melarikan diri.

"Sial! Bagaimana ini, Kak? Dia menutup jalan kita," umpat Laila sambil berpegangan erat pada lengan William.

"Di mana senjatamu?" Laki-laki itu menggeram kesal.

"Dia mengambilnya."

"Bodoh! Kenapa kau membiarkan dia mengambilnya?" Ia mengerang frustasi, "aku meninggalkan benda itu di kamarku. Argh!" William terus mengumpat kesal. Benar-benar geram dengan situasi tak terduga yang sedang dia hadapi itu.

Melihat Zena yang bergerak lincah menghabisi semua bawahannya, juga Cheo dan Tigris yang sama kuatnya. Permainan nunchaku bocah itu sama mahir seperti sang legenda, Bruce Lee.

"Lalu, kita harus bagaimana, Kak? Lapor pada markas besar?" usul Laila teringat mencari bantuan.

Tangannya cepat mengeluarkan ponsel dari saku, mengubungi markas besar mereka di belahan dunia yang lain. Namun, belum sempat tersambung, letusan timah panas menghantam benda tersebut sekaligus menggores tangan gadis itu.

"Argh!" Laila menjerit, berdesis menahan kebas di tangan. Nyeri dan terus berdenyut. Ia melirik gawainya yang berserakan di lantai, hancur dan berlubang. Di sana Zena mengangkat senjata ke arah mereka.

Tak dinyana, tak butuh waktu lama untuk Zena menghabisi semua orang yang menyerangnya. Mereka semua tumbang dengan kondisi mengenaskan. Banyak anggota tubuh mereka yang terlepas, bahkan sebagian perut mereka terkoyak dalam.

William meneguk ludah basi, tubuhnya gemetar ketakutan ditambah Zena memegang senjata di tangan mudah baginya untuk menarik pelatuk itu.

"Katakan! Di mana kalian menyekap prajurit Mata Elang?" tuntut Zena masih dengan suara dingin tanpa ekspresi. Ia seperti mayat hidup yang tak memiliki rasa. Di sisi lain, Tigris dan Cheo baru saja menghabisi lawan mereka.

Kondisi mereka bahkan lebih mengenaskan, bagian-bagian tubuh tertentu koyak dan hilang ditelan hewan besar itu. Laila bergidik ngeri, mengeratkan rangkulan di lengan William meminta perlindungan.

"Cepat!" Teriakan Zena menghentak keduanya. Samurai di tangan kiri gadis itu dilumuri darah segar, dan di tangan kanan menggenggam senjata, menodongkan benda panas itu pada mereka.

William dan Laila mulai beranjak, saling berpegangan. Darah di leher laki-laki itu kembali merembes karena ketegangan yang melanda dirinya.

"Jaga para perempuan itu, Cheo. Bawa mereka dan kumpulkan menjadi satu!" titah Zena tanpa melirik Cheo yang mematung di depan pintu ruangan tersebut.

Bocah itu segera membuka pintu ruangan, melihat para gadis yang menutup telinga dan mata mereka meringkuk dengan tubuh menggigil.

"Keluarlah! Teman-teman kalian yang lain sedang menunggu!" titah Cheo menatap dingin para gadis yang meringkuk di pojokan. Mereka mengangkat pandangan seraya melepas tangan dari telinga. Satu per satu mulai beranjak meninggalkan ruangan mengikuti Cheo keluar.

"Argh!" Serempak mereka menjerit saat melihat Tigris menunggu di depan ruangan. Keringat bercampur dengan air mata, kedua kaki mereka gemetar ketakutan.

"Tenang saja! Dia temanku. Ikuti aku, jangan sampai tertinggal!" Cheo memimpin di depan, sedangkan Tigris menjaga di belakang mereka. Tanpa tahu sekelompok orang lainnya sedang mengawasi mereka dari balik sebuah tembok.

1
Fisee
cuuuuhhhhhhh mokondo cap tikus buntung 🤮🤮🤮🤮🦠🦠🦠🦠🦠
NONA JANDA
🥰
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
NONA JANDA
suka bgt sma zena dan cheo tapi
jujur thor si cendrik saya ilfi deh... kaya ngk pantas aja, buat zena karna sifat pertama nya ngk tulus, karna zena anak pendiri elang putih dan lebih kuat dari nya makanya dia naksir,, coba dia ngk tau asal usul zena ngk sifat egois, serakah, mana dia kaya terlalu nafsu sama zena yg benar2 polos, dan mana lebih kuat zena dan anak nya, ya menimal yg setara lah kekuatan nya jdii kalo boleh buat mati aja dia nanti nya ganti pemeran thorr🤣🤣
Aisy Hilyah: hahahayyy di sini zena emang mendominasi. tumbuh tanpa orang tua sejak kecil di tempat terpencil
total 1 replies
Yaayaaa🌸
baca ini kek lg nnton film petualangan ibu dan anak serta harimau mereka😍
Yaayaaa🌸
aku suka kekejaman gadis polos ini aakkhhhh🥳🥳🥳🥳
Yaayaaa🌸
hahaha kau bener cheoo🤣🤣
Yaayaaa🌸
dih cembukur🤣🤣🤭
Aisy Hilyah: iya dia tuh
total 1 replies
Amril N Utiah
polosnya
Wahyu Purwati
ada lanjutannya gak thor?
Aisy Hilyah: mmmmm nanti lah belum dipikirkan
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kok ga dipenggal aja tuh kepalanya Hirata..
Dwi Setyaningrum
bagaimana Nasih arabela ya🤔
Dwi Setyaningrum
apa kabar dg laki2 yg katanya black shadow itu sdh mati juga ga nih🤔apa aku kelewat bacanya
Dwi Setyaningrum
Zena keren sperti ayra sama2 strong women😁
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
jesS Noisyanthie
seru bgt
jesS Noisyanthie
mending baca episode ini,seru
daripada episode sebelum y dgn kekalahan chendrik
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
jesS Noisyanthie
chendrik sibuk memperkuat cintanya sama Zena, hingga lupa memperkuat diri😣
Aisy Hilyah: bener banget
total 1 replies
jesS Noisyanthie
tegang bgt
jesS Noisyanthie
perbanyak cerita ky gini Thor,seru bgt berasa nonton bioskop
Aisy Hilyah: terimakasih sarannya
total 1 replies
jesS Noisyanthie
cheo aku padamu 😍
Aisy Hilyah: aku jugaaaaa
total 1 replies
jesS Noisyanthie
astaga chendrik 🤣🤣🤣🤣🤣
Aisy Hilyah: Alhamdulillah apapun itu saya terima dengan senang hati.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!