Saat bunda kandung dari gadis yang kamu cintai ternyata adalah calon istri papamu yang artinya juga adalah calon mama sambungmu.
Apa yang akhirnya akan kamu lakukan?
Mempertahankan hubunganmu dengan gadis yang kamu cintai dan meminta papamu yang mundur, atau mengalah demi kebahagiaan papamu?
Reza Hutomo akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH NADYA
"Kok malah kesini, Mas? Katanya mau mengantar Nadya pulang?" Protes Nadya saat Reza malah membawanya ke belakang stadion dan berhenti di salah satu pedagang kaki lima yang menjual bakso pentol
"Jajan sebentar," jawab Reza santai sebelum pria itu memesan bakso pentol lima ribuan dua plastik.
"Pedes, nggak?" Tanya Reza pada Nadya yang masih betah nangkring di atas motornya.
"Pedes banget," jawab Nadya seraya celingukan ke kiri dan kanan.
"Cari apa?" Tanya Reza bingung karena melihat Nadya yang celingukan.
"Nggak ada!" Nadya sedikit meringis.
"Nih!" Reza memberikan bungkusan bakso pentol pada Nadya.
"Auw! Panas!" Keluh Nadya saat memegang plastik bening berisi butiran bakso pentol yang disiram saus kacang dan sambal tersebut.
"Enaknya duduk dimana?" Tanya Reza selanjutnya meminta pendapat Nadya.
"Langsung pulang aja, Mas! Nanti bunda ngomel kalau Nadya pulang telat," jawab Nadya cepat.
"Ngobrol bentar, kenapa?" Reza masih pantang menyerah seperti biasa.
Pria itu sudah mulai memakan bakso pentolnya sambil sesekali meniupnya karena panas.
"Mau ngobrol apa, sih, Mas?" Tanya Nadya seraya garuk-garuk kepala.
Eh, lupa!
Nadya kan masih pakai helm.
"Yaudah kamu habiskan dulu itu pentol kamu, nanti baru pulang," titah Reza sebelum kembali menggigit bakso pentolnya.
"Mas Res memang hobi jajan begini, ya?" Tanya Nadya yang mendadak menjadi kepo.
"Hampir tiap hari aku jajan. Belum ada yang masakin di rumah. Kamunya masih sekolah gitu," jawab Reza seraya terkekeh.
"Ck! Apa, sih!" Nadya berdecak dan wajahnya seketika memerah.
"Kamu bisa masak, nggak?" Tanya Reza menyelidik.
"Kenapa tanya begitu? Udah kayak menginterogasi calon istri saja!" Decak Nadya yang wajahnya masih merah.
"Loh! Kan kamu calon istri aku!" Reza mentowel hidung Nadya.
"Nadya masih sekolah, Mas!" Tukas Nadya mencari alasan.
Padahal jantung Nadya udah dag dig dug tak jelas ini karena Reza yang tiba-tiba sudah meng-klaim Nadya sebagai calon istrinya.
Duh!
Siapa yang nolak coba jadi istri mas Reza ganteng.
"Yaudah, aku bakal nungguin kamu lulus SMK dulu, baru deh kita ijab sah!" Jawab Reza seraya tersenyum manis pada Nadya.
Ucapan Reza terdengar bersungguh-sungguh.
"Nadya masih mau kuliah dan membahagiakan bunda," Nadya memberikan alasan lain.
"Kan bisa kuliah setelah menikah! Aku nggak bakal halangin, kok! Kita juga bisa pacaran dulu sehabis nikah," tutur Reza memaparkan semua rencananya pada Nadya.
Nadya hanya diam dan mrmainkan plastik pentolnya yang isinya tinggal setengah.
"Apa itu alasan Mas Res mau ketemu sama bunda?" Tebak Nadya yang akhirnya buka suara.
"Iya!" Jawab Reza cepat.
Nadya baru saja akan buka suara lagi, saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Bunda menelepon.
"Halo, Bunda!" Sambut Nadya sedikit meringis.
"Nad, kamu keluyuran kemana? Sama siapa? Lita sudah sampai di rumah, kenapa kamu belum?"
"Ini Nadya masih di angkot, Bund! Tadi Nadya piket dulu bersihin kelas, jadi nggak pulang bareng Lita karena Lita juga lagi buru-buru," jawab Nadya berdusta pada sang bunda.
"Angkotnya sudah sampai mana?"
"Sampai perempatan samping Grand Mall, Bund! Bentar lagi nyampai, kok!" Dusta Nadya sekali lagi.
"Yasudah! Jangan keluyuran kemana-mana!"
"Iya, Bund! Nanti turun dari angkot, Nadya langsung pulang," jawab Nadya patuh.
Sambungan telepon terputus.
"Bunda udah ngomel, Mas!" Lapor Nadya pada Reza.
"Yaudah, ayo pulang!" Jawab Reza yang sudah menghabiskan bakso pentolnya. Pria itu segera membuang plastiknya ke tempat sampah yang banyak tersebar di area stadion, sebelum naik ke atas motornya.
"Pegangan, Calon istri!" Reza meraih tangan Nadya dan melingkarkannya di pinggang.
"Masih makan pentol, Mas!" Nadya berusaha mengelak namun gagal.
Akhirnya satu tangan Nadya memegang pentol, satu lagi melingkar di pinggang Reza, bersamaan dengan motor Vixion merah itu yang mulai melaju meninggalkan kawasan belakang stadion Manahan.
****
Reza menurunkan Nadya di depan rumah berpagar kayu tinggi lagi seperti sebelumnya.
"Bener, nih. Aku nggak bokeh mampir ketemu Bunda kamu?" Reza masih berusaha sekali lagi.
"Nggak boleh!" Jawab Nadya tegas.
"Pelit!" Reza mencubit gemas pipi Nadya yang langsung membuat gadis remaja itu merengut.
"Masuk sana!" Titah Reza seraya mengendikkan dagunya ke arah pagar kayu dari rumah hantu yang diaku Nadya sebagai rumahnya.
Mati kau, Nadya!
"Mmmm, iya! Nanti Nadya masuk. Mas Res nggak buru-buru?" Nadya terlihat salah tingkah.
"Kan aku nungguin kamu masuk dulu. Nanti baru aku pergi. Nggak buru-buru juga, kok!" Jawab Reza santai yang kini malah melepas helmnya dan meletakkannya di atas tangki bensin motornya.
Nadya menatap sejenak pada wajah Reza yang kata Lita mirip dengan wajah Nadya.
Apanya yang mirip coba?
Perasaan beda!
"Kok bengong?" Teguran Reza menyentak lamunan Nadya.
"Masuk, gih! Nanti Bunda ngomel, lho!" Reza sedikit terkekeh dan Nadya semakin salah tingkah.
"Nadya mau ke rumah Lita dulu mengambil buku tugas. Tadi terbawa sama Lita," ucap Nadya akhirnya sedikit tergagap dan tangannya menunjuk ke arah gang di samping rumah hantu.
"Jauh?" Tanya Reza menyelidik.
"Cuma seratus meter, kok!" Jawab Nadya cepat.
"Oh, yaudah! Aku langsung pergi saja," Reza sudah kembali memakai helmnya dan menyalakan mesin motor.
"Bye, Mas Res! Makasih udah nganterin pulang," Nadya melambaikan tangan ke arah Reza yang wajahnya sudah tertutup helm fullface.
"Bye!" Reza balas melambaikan tangan pada Nadya, sebelum akhirnya pria itu melajukan motornya dan meninggalkan Nadya yang akhirnya bisa bernafas lega.
"Selamat kamu, Nad!" Gumam Nadya pada dirinya sendiri.
Nadya segera mengayunkan langkahnya dan masuk ke dalam gang di samping rumah hantu.
Selang lima menit setelah Nadya berjalan masuk ke dalam gang, sebuah motor vixion merah berhenti di mulut gang dan mengawasi Nadya yang sudah setengah berlari menuju ke sebuah rumah petakan di ujung gang.
"Ck! Kenapa kamu suka sekali bohong, Nad?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
jiwa bar² mu hilang sudah beda sama Reza ya 😅😅
mungkin karena sifat kalian sama
sebab sy dulu gak dilamar, mas bojo datang ujuk ujuk ngajak nikah...?????
kamarnya cuma via telepon yongalahhhhhhh.....
heheeeee tp Alhamdulillah udah 8th lewat membina rumah tangga... mudah mudahan hingga akhir nafasku 🖤
aku juga pernah begitu dulu salah nomer....
lebih tepatnya sengaja ngacak nomer... terus nyambung ke nomer lelaki ya huhhuuuuyyyyy...🤭🤭🤭🤭
kalo novel yg semalam saling berhubungan, rajut merajut, kadang Ampe lupa...
yg ini anak sapa😁😁😁😁
"kadang malah bisa muter balik, flashback ke novel yg udah finis"
ahhh ..segitu gak ada kerjaan nya diriku???