Kisah anak kembar yang memiliki kesamaan wajah yang sangat kuat. sangking miripnya banyak orang yang tak bisa membedakan keduanya. Dan sejak kecil mereka punya hobi menarik "bertukar-tukaran peran"
Yuk ikutin asam manis perjalanan mereka....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. K E C E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembar 19
...Kadang kita memang tidak bisa memilih akan jatuh Cinta dengan siapa, tapi ingat kita bisa loh menentukan dengan siapa kita akan bahagia. ...
...Hidup itu pilihan! ...
...Dan, setiap pilihannya itu menentukan atau lebih tepatnya memastikan ...
...Hati-hati bermain hati. Karena kalau tidak hati-hati main hati. ...
...Hati-hati PATAH HATI! ...
...…………………………………………...
Mahardika segera memberikan keramahannya pada Ibu Rebecca (Dina). Sementara Becca kembali masuk ke dalam rumah.
"Kamu pacar Becca?" tanya Ibu Dina.
"Belum tante." jawab Dika dengan sopan.
"Saya dengar kamu kembar ya. Pasti sama-sama ganteng."
Dika tidak habis pikir dengan Ibu ini. Apa dia punya sindrom pria tampan. Heboh sekali, tidak terbayang jika dia dan Wira ada di sini. Akan goyang dombret kali ini tante 😅
Tidak lama berbicara absurd dengan ibunya Becca, Rebecca keluar lagi. Kali ini dengan dandanan yang lebih cantik. Ibunya pun paham.
"Kalian mau keluar?" tanya Bu Dina pada putrinya.
Rebecca menjawab dengan gaya manja.
"Iya ma. Wira ke sini kan mau ngajak aku jalan, bukan apelin mama."
Ibunya tertawa.
Dika pamit dengan sopan. Dan, melangkah bersama Becca ke mobil.
Langit malam itu tampak redup. Bintang-bintang tak menampakan sinarnya. Kota ini di selimut mendung.
°
°
Ketika Dika sedang asik bercengkrama di mobil dengan Rebecca. Lain hal nya dengan Ercilia yang tengah sibuk melayani para pelanggan tokonya. Ercilia terus mengikuti atau mencari ukuran baju yang di inginkan pelanggan. Butiran keringat jagung tampak jelas di dahinya. Tubuhnya seakan ringan, kemudian....
Bruk. . .
Sang pembeli tampak terkejut. Kawan-kawan kerja Ercilia pun lebih terkejut lagi.
Di luar. Langit meneriakkan suara Guntur.
Bintang Bintang semakin tengelam.
...…………………………… ...
Di dalan mobil, Dika tengah menikmati musik yang mengalun. Juga menikmati suara Rebecca yang merdu.
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi. Bahkan bisa jalan berdua denganmu."
"Kamu tahu, saat melihatmu di rumah sakit waktu itu, kemudian kita berkenalan. Aku selalu ragu-ragu untuk menghubungimu."
"Hingga tadi siang?" sahut Dika dengan manis.
"Ya. Hingga tadi siang." ujar Rebecca jujur.
"Tadi siang itu aku lagi suntuk banget, nilai ujian ku buruk. Menghilangkan rasa suntukku, aku main game di ponselku dan ingat namamu. Aku nekat meneleponmu. Ternyata kamu benar-benar melupakan aku."
Dika tertawa
"Syukurlah nilaimu anjlok jadi kita bisa bertemu sekarang."
Kali ini Rebecca yang tertawa.
"Tapi kamu tidak akan melupakan aku lagi kan?" tanya Becca dengan manjanya.
Dika tersenyum.
"Kalau itu tergantung caramu membuatku selalu bisa mengingatmu."
Rebecca tersenyum manis mendengar kata-kata Dika.
Mendung yang sejak tadi menggantung kini benar-benar turun dalam hujan yang mengguyur bumi. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya jam segitu Dika sudah siap-siap ke tempat Ercilia bekerja sambil menunggu selesai dari bekerja. Namun, pesona Rebecca malam ini, membuat Dika benar-benar terlupa. Sosok Rebecca telah menyedot semua hal yang ada dalam pikiran Dika.
Dika membelokkan mobilnya ke pujasera food yang ada di kota itu. Banyak jenis makanan yang enak-enak di sana, tempatnya pun juga cukup nyaman. Mobil terus melaju. Memutari pelataran parkir di sana.
"Kamu tidak apa-apa kan kita makan di sini?" tanya Dika saat menghentikan mobil di tempat parkir dekat pujasera.
"Tentu." jawab Rebecca.
Hujan masih turun dengan derasnya. Mereka turun dari mobil. Kemudian berlari-lari menuju salah satu stand makanan. Karena terburu-buru, Dika tidak sempat mengambil ponsel yang dia taruh di atas dasbor mobil. Mereka memasuki tempat makan dengan tubuh sedikit basah.
"Kencan pertama yang tidak mengesankan." ujar Dika sambil tersenyum saat menarik kursi untuk Becca.
Rebecca duduk. Menatap Dika dengan tatapan manis.
"Bagiku ini pasti akan menjadi kencan pertama yang sangat berkesan."
Mereka saling bertatapan dan tersenyum.
Pelayan pun datang dan memberikan beberapa jenis menu. Tidak lama kemudian pesanan keduanya di antarkan. Dika terus menikmati masakan yang di hidangkan untungnya. Sementara, Rebecca menikmati kebersamaannya dengan Dika.
Hujan masih turun. Dan semakin deras mengguyur. Setelah menikmati makan malam. Dika dan Rebecca ngobrol santai dengan perasaan dan suasana yang semakin akrab. Di atas kursi di dalam tempat makan itu, Dika membayangkan Wira yang saat ini juga pasti menikmati kencan-kencan indahnya.
Apa salahnya jika aku di sini juga berkencan?
Jika ini kencan yang pertama. Dika tahu pasti akan ada kencan kedua, ketiga, dan... Siapa yang tahu? 😎
Hanya berjarak beberapa meter dari tempat Dika dan Rebecca menikmati kebersamaan mereka. Ditempat lain Ercilia sudah sadar dan kebingungan. Menunggu pacarnya yang tidak kunjung datang. Biasanya, Wira sudah datang tiga puluh menit dari jam pulang Ercilia. Tapi sekarang? Sudah jam sembilan lewat tapi Wira tidak datang juga.
"Pacar kamu belum jemput?" tanya salah satu teman Ercilia.
"Belum. Mungkin dia juga sedang bertedu." jawab Ercilia. Karena hujan turun begitu derasnya.
"Ikut aku saja gimana?" tawar temannya lagi.
"Tidak usah. Takut selisih di jalan." tolak nya sopan.
"Oke. Kalau begitu aku duluan ya. Kamu hati-hati."
"Iya. Kamu juga hati-hati."
Ercilia sudah mengirim pesan, bahkan mencoba menelepon ponsel Wira. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Sampai kemudian seluruh karyawan satu persatu sudah pulang. Ercilia masih Setia berdiri di depan toko, sendirian. Menunggu Wira yang tidak kunjung datang menjemput. Hujan pun masih Setia membasahi bumi.
Sekali lagi. Ercilia mencoba menghubungi Wira. Dia mendengar nada sambung, Tapi Wira tidak menerimanya.
Apa yang terjadi dengan Wira? Batinnya.
Ercilia khawatir!
Sekarang sudah hampir jam sepuluh, kendaraan umum sudah tidak ada. Ercilia semakin merapatkan tubuhnya pada dinding untuk menghindari tempias hujan sambil berharap Wira akan datang. Tapi yang menghampirinya hanya suara guntur dan kilat yang menerangi aspal jalan yang ada di hadapannya.
Kemana kamu Wir. Semoga kamu baik-baik saja! Harapnya.
Ercilia mencoba menghubungi ponsel Wira berharap kali ini Wira menerimanya. Didekatkannya ponsel ke telinga agar suara hujan tidak mengganggu pendengaran. Lagi, lagi, dan lagi hanya terdengar nada sambung. Dia menghitung nada sambung itu satu demi satu. Dan harapannya kian menipis seiring jumlah hitungannya. Wira tidak kunjung menerima teleponnya dan tidak kunjung datang.
Di dalam salah satu mobil yang terparkir di pujasera. Sebuah ponsel di atas dasbor terus-terusan berdering. Namun, suaranya teredam oleh pintu mobil yang tertutup rapat. Derasnya hujan pun terhalang olehnya. Geleger halilintar yang datang semakin membuat dering ponsel itu tidak terdengar oleh siapa pun.
Sedangkan sang pemilik ponsel. Dika dan Rebecca tengah asik saling berpandangan mesra. Dipisahkan oleh meja di tengah mereka tangan kedua saling menggengam, Keduanya sama sekali tidak perduli. Yang ada hanya kehangatan meski hujan mendinginkan bumi.
°°°°°°°°°
Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️
Terimakasih semua ☕😎