Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis cantik yang tinggal bersama seorang janda yang tidak di karuniai sang buah hati, namanya ibu Ruminah. Sedangkan gadis cantik yang dimaksudkan yaitu namanya Lunika, gadis berparas cantik dan juga sederhana. Kesehariannya hanya membantu sang ibu menjadi buruh cuci.
Perjalanan tentang hidupnya, cukuplah rumit dengan statusnya sebagai anak jalanan. Lunika diasuh sejak usianya 10 tahun.
Karena berawal dari sebuah kebutuhan yang mendesak, Lunika harus menerima pernikahan yang tidak diinginkannya itu. Mau tidak mau, Lunika harus menikah dengan seorang laki laki yang tidak disukainya.
Namun, apa daya Lunika yang tidak memiliki pilihan lain. Meski Lunika memiliki seorang kekasih yang berada, namun hubungannya terhalang karena status ibu asuhnya dan statusnya yang tidak jelas sebagai anak jalanan.
Demi kesembuhan ibu asuhnya karena sesuatu penyakitnya, Lunika harus menikah dengan keterpaksaan. Lelaki itu yang tidak lain bagian keluarga Wilyam, Zicko Wilyam namanya. Zicko putra semata wayang tuan Zayen Wilyam dan Afnaya Danuarta.
Penasaran dengan kisahnya? ayo, ikutin terus kelanjutannya. Ingat, hanya di platform Noveltoon ya....
Selamat membaca ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari jalan keluar
Setelah berobat, Zicko dan ibunya segera pulang ke rumah. Sedangkan didalam ruang rawat, ada sosok perempuan yang berusaha untuk kuat dan juga tegar dalam melewati perjalanan hidupnya yang penuh duri.
Romi yang takut akan kedatangan Arnal, segera ia menemui Lunika untuk meminta maaf. Berharap tidak akan ada kesalahpahaman, pikir Romi takut takut cemas.
Sesampainya didalam ruang rawat ibu Rumah, Romi menatap sedih dengan kondisi teman baiknya.
"Lun, ibu pamit pulang. Jaga diri kamu baik baik, jika ada sesuatu yang kamu butuhkan tinggal suruh Romi saja. Ibu tidak melarang kamu untuk meminta tolong pada Romi." Ucap Ibunya Romi dan memeluk Lunika, setelah itu dilepaskan lagi pelukannya.
Kemudian, ibunya Romi mendekati ibu Rumah yang tengah berbaring lemas siatas ranjang pasien.
"Ibu Rumi, saya pamit pulang. Semoga lekas sembuh dan bisa mengobrol bersama para tetangga." Ucap ibunya Romi berpamitan, sedangkan ibu Ruminah mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.
"Terima kasih ya, ibu Arum. Maafkan saya yang sudah merepotkan Romi dan ibu Arum." Jawab ibu Ruminah tidak enak hati.
"Sebagai warga sudah diwajibkan untuk saling tolong menolong, jadi tidak perlu khawatir." Ucap ibunya Romi untuk meyakinkan dan untuk tidak berpikiran ke hal yang buruk.
Ibu Ruminah berusaha untuk tersenyum, dan tentunya tidak menunjukkan ekspresi sedihnya.
Setelah berpamitan, ibu Arum segera pulang dengan naik angkot yang sudah dipesankan Romi putranya.
Kini, tinggal lah Lunika dan Romi yang sedang menemani ibu Ruminah yang tengah berbaring lemas dan juga lesu diatas ranjang pasien.
"Bu! ibu kenapa?" seketika Lunika berteriak memanggil ibunya dengan panik dan juga cemas, lalu segera mendekati ibunya yang terlihat sulit untuk bernafas.
Lunika maupun Romi pun panik bukan main, dengan cepat langsung menekan tombol untuk memanggil Dokter.
"Ibu, bangun Bu ... jangan tinggalkan Lunika. Ibu pasti kuat, percayalah dengan Lunika. Ibu! bangun, Bu." Ucap Lunika berulang ulang dengan tangisnya yang histeris.
Tidak menunggu lama, sang Dokter pun sudah berada didalam ruang rawat. Kemudian segera melakukan tindakan dan penangan untuk memeriksa kondisi ibu Ruminah.
Sedangkan Lunika dan Romi diminta untuk menunggunya di luar, mau tidak mau hanya bisa pasrah dan nurut dengan apa yang diperintahkan oleh sang Dokter.
Lunika duduk bersandarkan tembok dan menundukkan kepalanya sambil menangis sesenggukan. Romi yang tidak tega melihatnya, segera ia mendekatinya dan mencoba untuk menenangkannya.
"Lun, bersabarlah. Doakan ibu kamu, semoga Dokter dapat menanganinya. Percayalah, ibu kamu pasti kuat untuk melewatinya. Kamu tidak sendirian, ada aku yang siap untuk membantumu dan menemanimu."'Ucap Romi berusaha menenangkan perasaan Lunika yang tengah berkecamuk dan bersedih.
Disaat itu juga, Lunika mengangkat wajahnya dan menoleh kearah samping. Dilihatnya Romi yang selalu ada untuknya, dan selalu menolong dan membantunya disaat keadaannya yang sangat membutuhkan pertolongan.
"Terima kasih ya, Rom. Maafkan aku yang selalu merepotkan kamu dan maaf, jika aku belum bisa membalas kebaikan kamu serta keluarga kamu. Ibumu, ayah kamu, dan kamu adalah bagian keluargaku setelah ibu asuhku." Jawab Lunika merasa tidak enak hati dan merasa selalu merepotkan temannya serta kedua orang tua Romi.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan sudah mendapatkan penanganan, sang Dokter pun keluar.
Dengan antusias, Lunika menatap wajah sang Dokter penuh harap akan adanya keajaiban pada ibunya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Lunika dengan tatapan sedihnya yang masih ada sisa air matanya pada kedua pipinya.
"Keadaan ibunya sangat mengkhawatirkan, saya sarankan untuk segera dilakukan operasi." Jawab sang Dokter, Lunika hanya mematung dan berdiam diri ketika sang Dokter memintanya untuk dilakukan operasi.
Seketika, Lunika teringat jumlah biaya yang harus dikeluarkan. Lunika menjatuhkan dirinya ke lantai dan menundukkan kepalanya, Lunika merasa berat untuk menjalaninya.
Lunika masih terus berpikir untuk mencari jalan keluar, ia berharap untuk bisa menyelamatkan ibunya dari penyakitnya.
"Rom, aku mohon jaga ibuku. Aku mau mencari uang, apapun itu caranya. Kamu jangan khawatirkan aku, percayalah denganku. Aku titipkan ibuku padamu, karena kamulah orang yang dapat aku percaya dan dapat dimintai pertolongan." Ucap Lunika sambil mengatupkan kedua tangannya penuh memohon.
"Lun, kamu mencari uang sebanyak itu dimana? aku rasa sangat sulit untuk mendapatkan pinjaman. Lun, jangan kamu lakukan hal yang buruk dan dapat merugikan diri kamu sendiri." Jawab Romi mengingatkan.
"Kamu tenang saja, aku masih waras dan normal. Sekarang juga, aku titipkan ibuku padamu. Jika ibuku sadarkan diri, katakan padanya jika aku sedang ada urusan pekerjaan." Ucap Lunika penuh harap.
"Baiklah, tapi ... aku takut jika kamu akan melakukan hal yang nekad. Bagaimana kalau aku menghubungi mamaku sebentar? setelah mamaku datang, kita berangkat bersama untuk mencari uang dan sekaligus jalan keluarnya." Jawab Romi yang takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya pada diri Lunika.
"Tidak usah, Rom. Ibu kamu juga butuh istirahat, kamu jangan khawatir. Kalau begitu, aku pamit pergi. Doakan aku, semoga aku segera mendapatkan jalan keluarnya dan mendapatkan biaya untuk penanganan ibuku." Ucap Lunika berusaha untuk meyakinkan, Romi pun mengangguk.
"Hati hati, jangan sampai kamu itu lupa mana yang baik dan mana yang buruk." Ucap Romi terus mengingatkannya.
Setelah berpamitan untuk pergi, Lunika berusaha kuat dan tegar saat menghadapi sebuah masalah dan ujian yang tengah ia terima.
Dengan langkah kakinya dan bermodalkan beberapa uang pecahan untuk berjaga jaga ketika dirinya membutuhkannya.
Lunika terus menyusuri jalanan yang terdapat banyak toko toko yang berdiri kokoh dipinggir jalanan. Lunika hanya bisa berandai andai akan ada sebuah keajaiban untuk dirinya dan ibunya.
"Aku harus mencari pekerjaan kemana? tidak ada satu toko pun yang menuliskan lowongan pekerjaan. Apa perlu, aku menanyakan saja langsung. Sepertinya tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu." Gerutunya sambil berjalan dan melihat lihat toko toko yang berbaris dipinggir jalan.
Setelah cukup panjang langkah kakinya ketika menyusuri jalanan, Lunika merasakan tenggorokannya terasa kering. Akhirnya, Lunika memberhentikan langkah kakinya dan menuju sebuah warung minuman yang cukup sederhana dipinggir jalan.
"Mbak nya mau pesan minuman?" tanya seorang pedagang.
"Iya, Bang. Saya pesen minumannya satu saja ya, Bang." Jawab Lunika, kemudian segera duduk sambil menunggu minumannya.
Setelah membelinya, Lunika bergegas pergi dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki sambil menyusuri jalanan. Berharap, ia akan menemukan jalan keluarnya akan permasalahan yang sedang ia hadapi.
Waktu begitu cepat untuk dilalui Lunika dalam seharian, dirinya pun sama sekali belum mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena merasa prustasi, Lunika mencari tempat duduk untuknya beristirahat.
Tiba tiba kedua matanya melihat tempat yang bertuliskan Diskotik, seketika ia membelalakan kedua bola matanya.