📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Belas
“Apaan nih?” Ardi mengambil undangan itu dan membaca isinya. Tertulis di dalam sana jika acara akan dilangsungkan di Jogja seminggu lagi. Dengan senyum tertahan Ardi melempar kembali undangan itu ke meja.
“Kamu harus datang Di.” Ucap Freya.
“Aku nggak bisa Fre!”
"Mau sampe kapan sih Di? kamu selalu ngehindar tiap reuni? Udah dua tahun berturut-turut loh kamu nggak hadir. Temen-temen pada nanyain tau!"
Kertas berwarna cokelat yang baru saja di lempar Ardi tadi adalah undangan reuni rutin tahunan SMK mereka di Jogja. Sejak kelulusan mereka tujuh tahun lalu, pihak sekolah selalu mengadakan reuni rutin tiap akhir tahun pelajaran. Bukan hanya sekedar reuni haha hihi yang biasa dilakukan orang-orang, acara reuni tersebut juga bertujuan untuk mengeratkan tali silahturahmi dan ajang berbagi pengalaman.
Saat mereka masih bersama, Ardi, Miya dan Freya selalu hadir di acara reuni. Tiga orang yang dulu terkenal best friend forever membuktikan bahwa mereka tetap bersama meski sudah lulus. Banyak dari teman-teman sekolah yang salut dengan hubungan yang terjalin diantara ketiganya. Kabar Ardi yang menyukai Freya sejak kelas sepuluh membuat teman-teman mereka kaget saat melihat Freya yang kini berubah status menjadi kakak ipar Ardi.
Saat itu lagi-lagi Ardi menjadi bahan ledekan teman-temannya.
"Cie yang jagain jodoh kakak sampe tiga tahun."
"Ku menangis.... Membayangkan cemceman berubah jadi kakak ipar..."
Anehnya saat itu semua ledekan seolah lewat begitu saja karena sudah ada Miya, pemilik hatinya yang baru hingga dia bisa membalas ledekan teman-temannya.
"Nggak dapat Freya, dapat temennya kan nggak apa-apa. Makin klop aja kita bukan cuma sahabat tapi bisa jadi keluarga." Balasnya.
Reuni tahun pertama dan kedua ia masih bisa tertawa, bahkan momen reuni selalu ditunggu-tunggu oleh mereka. Tapi memasuki reuni tahun ke empat sudah tak ada lagi tawa di wajah Ardi. Tahun terberat saat Miya meninggalkannya. Saat itu teman-temannya memberi dukungan bahkan calon-calon pacar untuk Ardi meski tak satu pun dilirik dan membuatnya masing datang sendiri di tahun-tahun reuni berikutnya.
"Dari pada hadir cuma jadi bahan ledekan aja. Males tau Fre." Jawab Ardi setelah mengingat momen reuninya.
"Pasti ntar si Bambang, ketua kelas kita bakal bilang 'masih jomblo aja adek ipar lu Fre? Yang lain udah pada bawa buntut.' terus juga si Anwar, duda yang udah bolak balik nikah pasti bakal ngebully bilang gue nggak bisa move on." Imbuh Ardi.
"Lah emang iya kan kamu sampe sekarang gagal move on?"
"Bukan gagal Fre. Cuma belum aja!" Bantah Ardi.
"Udah empat tahun masih aja belum, belum, belum terus. Sebenernya lu niat move on nggak sih Di?"
"Mama nggak boleh pake 'gue elu' ntar Retha bilangin ke papa loh. Ntar kalo Shaka ngikuti gimana?" Celoteh Retha.
Saking emosinya Freya sampe lupa kalo saat ini ia sedang bersama kedua anaknya. Dia mengelus puncak kepala Retha, "mama keceplosan. Abis daddy kamu ngeselin. Jangan bilang ke papa yah, sst." Ucap Freya sambil meletakan jari telunjuknya di depan bibir.
"Tuh dengerin Fre. Lu ngomong nggak pake saringan di depan anak-anak." Ledek Ardi.
"Daddy... Daddy juga nggak boleh pake 'gue elu' ntar aku laporin sama papa juga nih."
"Hihi... Sama daddy juga keceplosan. Jangan lapor-lapor lah nggak asik." Balas Ardi.
"Retha, Shaka ayo kita pulang! Papa udah nunggu di parkiran." Ujar Freya yang baru saja selesai menerima telpon dari Arka.
"Pokoknya aku nggak mau tau yah, Di. Kamu harus ikut ke acara reuni titik no debat!" Imbuhnya Freya sebelum meninggalkan ruangan.
Di tempat berbeda Miya sedang duduk sendiri di kamarnya. Saat ini dirinya benar-benar bingung harus bagaimana. Tante Wilona dan suaminya sudah berulang kali menanyakan terkait pernikahannya dengan Wildan. Ia kini bahkan memilih untuk menghindari tantenya dari pada terus menerus ditanya soal nikah, yang ia sendiri masih tak tau jawabannya.
Wajar saja jika Tante Wilona sudah mulai gencar menanyakan tentang pernikahan mereka. Mengingat usia Mas Wildan yang akan memasuki angka tiga puluh tahun ini. Lagi pula tak ada yang ditunggu, kuliah udah lulus. Masalah kerja? Bukankah akan sedikit terlalu egois jika lagi-lagi Miya ingin menunda pernikahan dengan alasan ingin mengejar karir? Bahkan tanpa bekerja pun calon suaminya sudah sangat mampu memenuhi semua kebutuhan bahkan keinginannya. Tapi entahlah kalo ditanya soal nikah Miya belum siap. Lebih tepatnya hati yang tak siap.
Menyesal meninggalkan Ardi? Tentu saja iya. Sejak awal ia tak pernah ingin terpisah dengan lelaki yang begitu ia cintai. Meninggalkan Ardi dengan tak mempercayai kemampuan lelaki itu untuk membahagiakannya hanyalah alasan yang dibuat-buat semata. Tapi untuk bertahan di samping Ardi pun ia tak mampu, terlalu berat jika harus tak mengabulkan wasiat ibunya. Karena ia tahu pasti, semua dilakukan almarhum untuk kebahagiannya. mungkin jika kisah hidupnya dibukukan maka judul yang cocok adalah terjebak wasiat ibu.
Berkaca dari Freya yang akhirnya bisa bahagia karena menuruti perjodohan yang direncanakan mamanya membuat ia tak ragu-ragu menunaikan wasiat sang ibu. Toh Mas Wildan adalah sosok calon suami idaman dengan kategori sempurna.
Rumah tangga itu tak hanya melulu soal cinta, Miya paham betul akan hal itu. Tapi bagaimana jika ia memiliki kehidupan sempurna dengan suami penyayang dan harta berlimpah? Suami yang mencintainya tapi tidak ia cinta? Akankah ia bahagia seperti Freya?
Kasus dirinya berbeda dengan Freya. Sahabatnya menikah dengan Arka yang merupakan kakak dari teman sekelas yang menyukainya dan mereka bisa saling mencintai dengan cepat. Arka yang dewasa selalu mengalah dan sabar menghadapi Freya yang kekanakan. Sedang dia dan Wildan sudah empat tahun tapi belum juga ada rasa. Hanya sebatas nyaman sebagai kakak adik.
"Mas Wildan juga dewasa dan penyabar tapi kenapa aku nggak bisa cinta? Mas Wildan juga nggak punya pacar, nggak kayak Kak Arka yang masih pacaran pas udah punya bini. Oh God tell me why?" Ucap Miya lirih.
"Ardi... Ardi... Ardi... Kenapa kamu nggak bisa ilang dari hati aku." Gumamnya lagi.
Ditengah-tengah kegalauan yang sedang menerpa, pintu kamarnya di ketuk. Tak lama sosok yang sedang ia pikirkan muncul dari balik pintu.
"Mas boleh masuk?" Tanyanya.
"Masuk aja Mas." Jawab Miya.
"Lagi apa dek?" Tanya Wildan basa basi setelah duduk di samping Miya.
"Lagi diem aja Mas. Kenapa emang?"
"Mas cuma mau ngasih tau kalo ibu sama ayah udah nentuin tanggal pernikahan kita. Besok kita siap-siap buat foto pra wedding. Di bawah udah ada orang dari WO yang lagi ngasih rekomendasi tempat-tempat bagus buat ngambil gambar. Ke bawah yuk biar kita bisa pilih bareng-bareng."
.
.
.
Siapkan amplop buat kondangan ke Miya sama Mas Wildan gaes!
semuanya👍👍👍👍👍