Cinta benar-benar membuat orang menjadi buta dan bodoh. Aku selalu berharap akan ada ke ajaiban pada kisah hidup ku dan cinta ku. Hingga hari itu tiba semua berada dibatas sabar ku.
"Tian kamu begitu keji !"
"Kenapa kamu menyesal menikah dengan ku, Naira ?"
"Aku tidal menyesal menikah dengan mu, begitupun perasaan ku kepada mu. Aku tidak ingin menyesali apa yang telah berlalu karena tidak ada gunanya. Sudah cukup aku bersabar, sudah cukup aku kehilangan anak ku, aku tidak akan kehilangan apapun lagi. Dimasa depan aku tidak akan sebodoh ini lagi untuk mengabdikan diriku kepada seorang BAJINGAN".
Hukum alam terjadi, akan ada pelangi setelah hujan. Kehidupan ku benar-benar lebih berwarna setelah segalah cobaan yang menerpa karena aku memiliki mereka yang menjadi penyemangat ku.
7 Tahun kemudian, Naira datang dengan identitas baru. Kehidupanya bagai pelangi penuh dengan warna bahagia. Dan untuk mereka yang menghianatinya, menerima buah dari perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidia Destantia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Kebetulan satpam tidak ada dan pintu tidak terkunci, Naira langsung masuk menuju pintu rumah.
Dia memencet bel, “ting tong, ting tong”.
Pintu dibuka oleh Bik Mirna, “Eh non, Ibu belum pulang kerja”.
Naira tersenyum, “Saya hanya mau ambil biola dikamar saya Bik”.
“Silahkan non, janga lama-lamanya sebentar lagi nyonya sampai rumah”.
Semua orang dirumah tahu kalau nyonya rumah melarang Naira datang kerumah, tapi bibik tidak enak hati melarang Naira toh dia sudah lebih dari 10 tahun dibesarkan dirumah ini.
Naira masuk kekamarnya, kamar bernuansa putih biru dididing atas kepala tempat tidurnya terpajang fotonya berukuran 25R, di meja belajarnya terdapat foto kakek, nenek, Mama Sonya dan dirinya saat masih kecil. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari kamar ini, dia kira ibunya akan membuang semua barang-barangnya. Naira tidak ingin membuang waktu lama-lama, dia membuka lemari kaca disebelah tempat tidur mengambil Biola.
Disisi biola terukir nama “Abigial,. Frenzo”, itu nama ayah kandungnya yang tidak pernah ia lihat bahkan fotonya. Biola ini kenangan yang ditinggalkan untuk Ibunya, Naira menemukan Biola ini dilemari lama ibunya di rumah neneknya.
Naira sudah berada didepan rumah memegang tas biola, dan detik itu juga kedua orang tuanya dan adiknya turun dari mobil yang sama. Mamanya menatap dengan sinis, adiknya juga menatapnya tidak suka, papanya menatap dengan keterkejutan.
‘Pandangan apa ini, sangat lucu apakah aku iblis atau hantu’, batin Naira.
“Ngapain kamu kesini ?”, tanya Mama Sonya.
“Saya hanya mengambil Biola Ma, sekarang akan pergi”, jawab Naira dengan lembut.
“Pergi sana”, usir mamanya. Sedangkan kedua orang lainnya hanya diam tanpa mengatakan apa-apa.
“Permisi Ma, Pa, Atala”. Naira berjalan menjauh dari ketiga orang itu namun dadanyanya serasa sesak, kenapa dia diperlakukan begini oleh keluarganya sendiri. Namun Naira menolak untuk menangis, dia memilih menelan asam dari pada harus menangis.
Naira masuk kemobilnya, “Jalan pak”.
“Baik Bu”.
Diperjalanan dia terus berpikir bagaimana untuk mendekati keluarganya dan membuktikan kalau dirinya tidak bersalah atas kematian Ralin. Tapi, Dia harus mulai dari mana ? terlintaslah pikiran ‘Pasti ini salah satu teman-teman ku malam itu. Tapi bukakah semuanya mabuk hingga pagi’.
Naira menggelengkan kepalanya, "Lupakan, tidak akan ada jalan keluar”, gumamnya.
“Lupa apa ya Bu ?”
“Tidak ada pak”.
Dikediam Teuku
Seorang pemuda berusia 20-an sedang bergelut dengan laptopnya, dia mengenakan kaca matanya keseriusannya tidak menghilangkan ketampannya dia, Teuku Khalik Akbar.
“Akbar, Sayang makan malam dulu”, Wanita paru Baya menghampirinya, dia Widya Hamza.
“Ya sebentar bu”.
“Sayang ayo, kakek sama ayah udah menungu dimeja. Nanti teruskan lagi”.
Akbar melepaskan kaca matanya, “Baiklah”. Dia berdiri sambil menggandeng tangan Ibunya.
Dimeja makan sudah ada 3 orang yang menunggu, ayah, kakek, dan adik perempuannya.
“Ini nih, yang bikin makan malam telat mulu”, ketus Tiara adiknya yang masih duduk di bangku SMP.
“Telat dikit dek, ngga akan kurus mendadak kamu”.
“Kakak !”, Tiara tersinggung tubuhnya memang berisi dan pipinya tembem, ibunya bilang ngga usah diet karena masih kecil.
“Udah-udah, Kakak ngga usah godain adek terus”, kata ayahnya, Teuku Anzar Lariksa.
Kakeknya duduk dikursi utama, ayah dan ibunya disebelah kanan kakek, sedangkan sebelah kiri kakek dia dan adiknya.
“kamu mengajukan beasiswa ke Jerman ?”, tnya kakek Hamza.
“iya kek, pendaftaran saya sudah dikirim, walaupun ngga dapat beasiswa saya masih akan pergi kesana”.
“Ya baguslah, Tapi rumah ini akan sangat sepi. Prabowo dan anak-anaknya diluar negeri dan sepertinya tidak ada cucuku yang tertarik untuk bergelut didunia hukum”.
“Kakek melupakan aku, Tiara mau jadi hakim seperti Kakek”, kata cucunya yang paling bungsu, Cut Mutiara Anaya.
“Ya gadis kecil kakek, harus belajar dengan giat mulai dari sekarang”.
“Iya kakek”, Tiara menjawab dengan semangat.
Widya dan Anzar hanya tersenyum melihat kelakuan anak bungsunya. Mereka sangat senang memiliki anak-anak yang baik dan berbakti. Akbar penuh kelembutan, penyayang, dan pintar, Sedangkan anak bungsunya Tiara sangat manja namun dia baik dengan orang-orang disekitarnya dan sangat penurut.
............................................................................
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan kata dan penyusunan kalimat. Like, komentar dan saran para pembaca sangat dibutuhkan untuk perbaikan selanjutnya.
kasian banget Naira, sudahlah sekian lama "dipake" tian padahal tian-nya celup2 ke perempuan lain, skrg msh pula ditambahin per*kosaan ini😠😠😠😠😠
Susah banget soalnya nemu novel yang bagus gitu buat di baca.
Terakhir aku baca yang judulnya "(Siapa) Aku Tanpamu)", bagus banget ceritanya tapi yang baca dikit, kasian otornya