tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi aja lah_-
Setibanya di lingkungan pesantren. Zim membuka pintu cepat sambil mengganti pakaian seragamnya didalam kamar. Lalu berjalan menuju kulah, berniat untuk mengambil air wudhu, karena kebetulan, waktunya sangat bersamaan sekali dengan terdengarnya suara gemuruh lantunan adzan ashar tepat saat dikumandangkan.
Assalamualaikum!!
Brukhh!!!!
Pintu terbuka lebar saat Rinto mendorongnya secara paksa dan tergesa-gesa. Dirinya langsung masuk kedalam cepat seraya meletakkan tasnya di atas permukaan teras, yang disusul oleh kedua temannya sandi dan Bono.
"Wa'alaikumsalam.
Gue pikir lho masuk kelas? terus kenapa sekarang malah balik lagi ke pondok?" tanya Zim heran yang diiringi keningnya yang berkerut.
"Bukan temen namanya, kalo dapet hukumannya lho doang."
"Maksud?"
"Ketua kelas nulis nama Lo didaftar nama catatan, dan parahnya, dia nulis dibawah nama lho KABUR!" terang Rinto masih berusaha bicara meski helaan nafasnya belum kembali secara normal. "Kita bertiga nyusul, saat Lo sedang kabur tadi, selagi gurunya belum datang masuk ke kelas!"
"Oh! ko gue jadi terharu ya?" Zim membalas acuh tak acuh.
"Jeh, serius lah!" tegas sandi.
"Lalu, apa hubungannya. Toh, bukannya kita emang udah biasa melanggar aturan?"
"iya juga sih, tapi ada hal paling penting pengen gue omongin."
"Apa?"
"Lo suka sama si Nasywa?"
"Y"
"Kiamat!! bro si Zim dah gak sadar diri lagi." Rinto menengahi antara pembicaraan kedua temannya, Lalu mendorong tubuh temannya Zim seraya ia pun berkata dengan wajah yang sengaja ia dekatkan, sehingga tercium bau aroma yang tidak sedap setelah perkataannya selesai.
"Oh jadi sederhananya, si Nasywa tuh putri dari ayah seorang kiyai, sekaligus pimpinan pondok pesantren Al Alawiyyah modern, begitu?" kata Zim mengulangi perkataan temannya, lalu melanjutkan perkataannya lagi. "Terus, apa masalahnya buat gue?"
"Astaghfirullahal adzim, nih anak beber-bener!
inget bro Lo siapa?, Lo Genk sultan, masa pacaran?" balas Rinto tegas, lalu mulai menggerakkan salah satu telapak tangannya untuk menganggukkan kepala temannya secara paksa, mungkin tak jauh berbeda seperti halnya perlakuan seorang manusia terhadap anjing peliharaan.
"Padahal, baru aja gue nemu orang yang menurut gue beda sama yang lain, tapi orang itu harus gue lepas lagi.
Hm kenapa sih hidup gue ini membosankan banget, jarang sekali datang hal kecil yang menghibur, namun setelahnya, gue juga yang harus ngelepasinya duluan?" Zim mengeluh pada temannya Rinto, sesaat tangannya pun ikut mengepal dengan erat.
"Sabar, gue juga jomblo bro.
Inget kita itu sahabat!, senang bersama susah bersama, mati pun kita bersama!" Rinto berseru sambil menelungkupkan pandangannya kebawah.
"Dasar jones lho, malah curhat." Zim mencerca sambil menepuk pundak sahabatnya Rinto. Mungkin perkataannya itu memang ada benarnya, lantaran seorang sahabat berbeda dengan seorang kekasih, mereka tidak akan meninggalkan disaat keadaan susah maupun senang.
Zim sudah lama tinggal disini dengan ketiga sahabatnya sambil melakukan beberapa hal-hal konyol yang melanggar begitu banyak aturan secara kompak bersama-sama. Absurd, jika ia masih tetap harus memilih Nasywa ketimbang sahabatnya yang selalu ada.
.
.
.
.
.
Sore hari, Zim membasuh tubuhnya dengan air sungai yang terlihat sangat jernih serta menyejukkan, lantaran airnya yang berasal langsung mengalir dari pegunungan. Lalu ia pun duduk diatas sebuah batu pualam yang berukuran sedang, untuk menghilangkan hadast kecilnya terlebih dahulu sebelum menunaikan shalat ashar.
Selama berwudhu pikirannya jauh ia layangkan, lantaran terbayang-bayang wajah seorang perempuan yang paling ia sukainya itu, tiba-tiba saja tergambar dengan sangat jelas dalam ingatannya. Ia tahu betul jika mengingatnya adalah sebuah kesalahan, terlebih jika ketiga temannya mengetahui jelas tentang apa yang sedang dialaminya saat ini, mungkin mereka akan sangat membenci hal itu, haha. Dasar sialan. Batinnya, sukar tak bisa membohongi perasaannya sendiri untuk terus menyukai perempuan itu. Tak peduli sesusah apapun untuk bisa mendekatinya, karena melanggar aturan adalah keahliannya yang nomor satu.
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣