Cerita ini berawal dari seorang gadis cantik bernama Tari yang sedang melakukan KKN disebuah desa terpencil dipinggir laut. Ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang terjebak di desa itu karena mengalami amnesia.
Mereka pun akhirnya menjalin sebuah hubungan karena merasa saling menyukai, bahkan hubungan mereka sudah melampaui batas sampai Tari bisa hamil anak dari pemuda itu.
Tapi saat pemuda itu ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, ia ditemukan oleh keluarganya yang ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis di kota J.
Dan lebih mengejutkan lagi ternyata ia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, ia terpaksa meminta kakaknya yang sekaligus pewaris utama perusahaan keluarganya untuk menikahi Tari yang saat ini mengandung anaknya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya??? ikuti terus yah novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni Chaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyambut Pagi
"Tidurlah diranjang, aku bisa tidur disofa," ucap Zafran tanpa melihat kearah Tari.
"Jangan mas, biar aku saja yang tidur disofa," balas Tari.
"Kamu sedang hamil, tidak akan nyaman tidur disofa." Zafran mengambil bantal dan selimut dari tempat tidur kemudian membawanya kesofa. Ia lalu membaringkan tubuhnya disana.
Tari merasa tidak enak pada Zafran sebagai pemilik kamar tapi malah ia yang tidur disofa. Ia menghela nafas kasar lalu berjalan mendekati Zafran.
"Apa mas yakin akan tidur disini?" tanya Tari.
"Iya tidak masalah. Tidurlah, sudah mulai larut," balas Zafran.
Tari pun berbalik dan berjalan ketempat tidur mengikuti perkataan Zafran. Perlahan ia merebahkan tubuhnya pada ranjang king size milik Zafran. Ia bisa merasakan aroma parfum Zafran yang melekat disana.
Tidak berapa lama Tari sudah terlelap didalam selimut yang membungkus dirinya. Ia kelihatannya sangat lelah. Sementara Zafran masih belum bisa memejamkan matanya, ia tidak terbiasa ada oranglain yang tidur dikamarnya. Ia kemudian bangun dari sofa dan berjalan pelan kearah Tari. Dipandanginya wajah sendu Tari yang seolah tidak ada beban saat sedang tidur.
"Apa benar aku baru saja menikahi wanita didepanku ini yang sedang mengandung anak dari adikku sendiri?" batin Zafran. Ia menolak untuk mempercayai apa yang sudah ia lalukan tapi itu kenyataan, ia dalam keadaan sadar sepenuhnya telah melafadzkan akad nikah pada Tari.
Zafran menarik nafas berat dalam satu kali helaan, ia meremas kasar wajahnya lalu kembali ke sofa tempat ia akan tidur malam ini.
Ia kembali teringat saat ia sudah melarang Zayn untuk ke pantai hari itu karena cuaca yang sedang tidak bagus tapi Zayn tidak mendengarnya dan tetap saja pergi.
Malam semakin larut, hanya keheningan yang tercipta didalam kamar berukuran besar tersebut ditemani helaan nafas Zafran yang masih terdengar berat. Sesekali mata Zafran kembali tertuju kearah Tari yang sudah berada dialam mimpi sementara dirinya belum bisa beranjak dari alam nyata. Menjelang dini hari barulah ia bisa memejamkan matanya.
Tari terbangun saat alarm pada ponsel yang disimpannya diatas nakas berbunyi. Ia buru-buru kekamar mandi seperti yang biasa ia lakukan dirumahnya tapi ia kemudian berhenti saat melihat sesesok tubuh sedang meringkuk diatas sofa. Ia baru sadar sekarang ia sedang tidak berada dikamarnya tapi dikamar laki-laki yang sedang tertidur disofa tersebut dan laki-laki itu adalah suaminya.
Melihat Zafran yang masih tidur nyenyak, Tari merasa tidak enak membangunkannya. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Barulah setelah shalat dan berpakaian, Tari mulai menyibak kain gorden yang masih tertutup. Terkena siluet matahari yang masuk perlahan dari arah jendela kamar, Zafran perlahan membuka matanya.
"Selamat pagi, mas." Tari yang sudah terlihat cantik dan segar mendekat kearah Zafran dan menyapanya.
"Pagi," jawab Zafran tanpa ekspresi. Ia lalu bangkit dari sofa menuju ke kamar mandi.
"Hanya itu jawabannya?" Batin Tari dengan mulut membulat. Ia merasa kesal dengan sikap Zafran yang menanggapinya terlalu cuek.
Berselang beberapa menit, Zafran keluar dari ruang ganti sudah terlihat rapi dengan setelan jas warna hitam yang sangat pas dibadannya. Pergelangan tangannya dipermanis dengan jam tangan bermerek yang dikenakannya. Dan rambutnya yang selalu basah oleh gel membuat ia akan semakin digilai oleh para wanita diluar sana karena ketampanannya yang berada diatas rata-rata.
Tari pun tidak bisa membohongi dirinya yang kagum akan ketampanan Zafran, tapi ia tidak ingin terlalu menampakkan kekagumannya itu didepan Zafran.
"Untuk sementara kalau kamu ingin kemana-mana akan diantar oleh pak Udin sebelum aku menemukan orang yang tepat yang bisa menemanimu," ucap Zafran sambil memperbaiki letak dasinya.
"Tapi aku sudah biasa pergi sendiri kog mas," jawab Tari.
"Itu sebelum kamu menikah, sekarang kamu sudah jadi tanggung jawabku." Tari lagi-lagi merasakan ada perasaan hangat yang menjalar dalam hatinya mendengar ucapan Zafran.
"Aku akan menyuruh Arya untuk menghubungi dosenmu agar kamu bisa tidak sesering mungkin konsul kekampus saat mengajukan skripsi. Perjalanan ke kota S memang hanya butuh waktu satu jam lebih, tapi aku tidak ingin kamu kelelahan." tambah Zafran.
"Tapi mas..."
"Tari, aku paling tidak suka dibantah." Nada suara Zafran terdengar agak tinggi membuat Tari sedikit terkejut dan menundukkan kepalanya. Zafran buru-buru menyadari sikapnya dan seolah tahu apa yang sedang difikirkan Tari, ia melanjutkan ucapannya.
"Kalau kamu ingin bertemu temanmu, suruh saja mereka yang datang kemari. Disini ada banyak kamar yang bisa mereka pakai kalau ingin menginap." Tari melebarkan senyumnya mendengar Zafran yang membolehkan sahabatnya Nara dan Chery mengunjunginya.
"Makasih mas," ucapnya.
"Aku kekantor sekarang," ucap Zafran kemudian melangkah keluar.
"Tunggu mas." Panggilan Tari menghentikan langkah Zafran.
"Ada apa?" Tari tidak menjawab, ia langsung mengambil tangan kanan Zafran dan menciumnya. Zafran terlihat salah tingkah dibuatnya tapi jangan sebut ia Zafran kalau ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Wajahnya yang selalu terlihat tanpa ekspresi itu tidak ada orang yang bisa membedakan saat ia sedang bahagia atau sedang bersedih.
"Kamu tidak sarapan dulu mas?" tanya Tari.
"Aku sudah biasa sarapan dikantor," jawab Zafran.
"Apa kamu tidak ingin hanya sekedar menemaniku saja? Aku masih belum terbiasa dirumah ini," harap Tari. Zafran melihat jam dipergelangan tangannya kemudian berkata,
"Mama tidak akan memakanmu, stok makanan didapur masih berlebihan, besok aku akan bersiap lebih cepat agar bisa menemanimu sarapan sebelum ke kantor."
"Baiklah." Tari tertawa kecil menanggapi ucapan Zafran. Ternyata bisa juga seorang Zafran si manusia salju berkelakar.
"Aku pergi," pamitnya pada Tari.
"Hati-hati mas," Zafran hanya mengangguk kecil kemudian melangkah keluar dari kamar.
Sepeninggal Zafran ke kantor, Tari duduk melamun di tempat tidur, ia sedang berfikir tentang bagaimana perjalanan rumah tangganya kedepan yang ia bangun tanpa cinta. Akankah cinta itu hadir seiring berjalannya waktu atau malah menjauh saat konflik datang satu persatu. Tari menarik nafas berat lalu membuangnya kasar sampai ia dikagetkan oleh bunyi telfon dikamar itu. Dengan enggan ia mengangkatnya.
"Halo sayang, kenapa belum turun? Mama sudah menunggu dimeja makan. Tadi sebelum Zafran keluar ia meminta mama untuk menemanimu sarapan." Terdengar suara lembut mama Elisa dari balik telfon.
"Oooo iya Ma, ini Tari sebentar lagi turun," jawab Tari sedikit merasa tidak enak. Zafran memang susah ditebak.
"Oke sayang, mama tunggu yah."
Tari kemudian melihat kembali penampilannya dicermin, setelah yakin baju yang dipakainya cukup layak untuk menutupi perutnya yang sama sekali belum membentuk itu, ia lalu keluar kamar memasuki lift untuk turun kelantai satu.
"Ayo sayang, kita sarapan," sambut mama Elisa setelah Tari sampai didekat meja makan.
"Makasih Ma," jawabnya mengulas senyum.
"Zafran itu memang jarang sekali sarapan dirumah semenjak papa sakit-sakitan. Ia akan berangkat pagi-pagi sekali untuk mengurus perusahaan. Mudah-mudahan sekarang setelah ada kamu, ia bisa lebih betah makan dirumah," kata mama Elisa dengan lembut sambil terus menyunggingkan senyum diwajahnya.
"Iya ma," jawab Tari dengan senyum yang tak kalah indah dari ibu mertuanya.
❤️ Happy reading kesayangan mommy, maaf jika banyak kekurangan yah😘🙏
💚 Kita sebelumnya hanya dua orang asing yang tidak saling mengenal, lalu dipertemukan dalam keadaan sulit kemudian dipersatukan oleh lafadz ijab qabul dalam ikatan sakral. Akankah nanti kita bisa berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama?...#Zafran💚