Mariana dijodohkan dengan Raka, pemuda pilihan orang tua nya . Tanpa sepengetahuan Mariana , Raka ternyata punya hubungan dengan Meli yang merupakan sahabat Mariana . Karena ketidakterbukaan Meli , akhirnya membuat kesalahpahaman . Persahabatan mereka pun Retak .
Suatu hari Mariana tersesat di hutan saat mengikuti kegiatan mapala . Namun dia tidak sendiri. Ada Revan bersamanya . Revan yang diam-diam menyukai Mariana dari dulu , akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya . Dan ternyata Mariana juga mempunyai perasaan yang sama .
Cinta mereka terhalang restu orang tua dari Mariana . Akankah mereka bersatu ? bagaimana perjuangan Revan untuk mengambil hati kedua orang tua Mariana ? akankah persahabatan antara Mariana dan Meli kembali terjalin ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiraz Dincer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"hei...Sayang , nama kamu siapa ? kamu kok lucu banget sih?" sapanya gemas mencubit pelan pipi tembem bocah 9 tahun itu .
"Nama aku Alfin kak , kakak cantik namanya siapa?" jawabnya tersenyum lucu.
"Nama kakak Mariana , Alfin panggil saja kakak,kak ana"
"Kak ana cantik banget sih , kakak pasti bukan pacarnya kak Revan , soalnya kak Revan kan orangnya jelek . Di banding sama Alfin , kak Revan masih kalah ganteng nya"
Tawa ana langsung pecah mendengar ocehan lugu dari mulut bocah polos yang menggemaskan itu.
"Gantengan kakak juga kali , kamu itu sudah jelek keriting lagi" ledek Revan .
"Gantengan Alfin lagi Van , anaknya manis , imut lagi" puji Ana . Dirinya langsung jatuh hati dengan pangeran kecil tampan di hadapannya . Maklum dia begitu merindukan sosok seorang adik dalam kehidupannya .
"Berarti kak Ana suka dong sama Alfin , teman Alfin kan pernah cerita kalau ada cewek yang muji kita , berarti dia suka sama kita " oceh Alfin polos.
"Kamu itu masih kecil ya , belum pantas suka-sukaan , Alfin itu harusnya belajar dengan benar bukan mikirin cewek , masih kecil juga " nasihat Revan sambil mengacak gemas rambut adiknya .
"Kak Ana sukanya sama Alfin apa kak Revan ?"
"Kasih tahu ngga ya?" ujar Ana sok mikir keras.
"Kakak lebih suka Alfin lah , kan kak Revan nya jelek" ucapnya Ana menggoda kekasihnya .
"Sesama orang jelek di larang saling menghina ya" cibir Revan manyun .
"Kak Revan cemburu ya , kak ana lebih suka Alfin dari pada kak Revan , weeeh " ledek Alfin .
"Alfin.." gumamnya hendak menangkap tubuh mungil adiknya .
"Kak Ana , tolongin Alfin " bocah itu berlindung di belakang pinggang Ana .
"Van.." Ana membelalakkan mata pura-pura memarahi Revan .
"Ada apa sih ribut-ribut" seru wanita paruh baya datang membawa rantang berisi makan siang untuk putranya .
"Ini , ni bu , Alfin nakal lagi " adunya layaknya anak kecil .
"Kak Revan tu bu yang duluan" adu Alfin juga .
Ana hanya geleng kepala saja melihatnya .
"Ada gadis cantik kok ngga di kenalin sama ibu"
"Ini yang namanya Ana bu , gadis yang Revan ceritakan sama ibu" Revan memperkenalkan gadis pujaannya dengan antusias .
"Saya Ana bu" Ana memperkenalkan dirinya dengan sopan seraya menjabat dan mencium tangan wanita paruh baya itu .
Udah cantik..sopan lagi...puji bu ira dalam hati.
"Ibu bawain sop buntut kesukaan Revan ,kamu ikut makan juga ya.."
Sambutan ibunya Revan begitu hangat dan terbuka , beda jauh dengan kedua orang tuanya dan dia berdoa semoga mama papanya bisa welcome seperti ibu Revan .
Ana juga mudah membaur dengan orang tua kekasih juga Alfin , adik Revan , satu nilai tambah yang membuat bu ira tidak menghalangi niat baik putranya . Itu benar-benar membuat keduanya bisa sedikit bernafas lega .
"Semoga kedua orang tua aku bisa seperti ibu kamu ya Van " ujarnya berharap setelah di tinggal ibu ira dan Alfin .
"Ya semoga Ana , yang penting kita tidak pernah berhenti berdoa dan trus berusaha meluluhkan hati orang tua kamu" Revan meremas jari lentik itu dengan lembut .
"Sudah sore Van , aku harus pulang ,aku takut nanti mama curiga sama aku" pamitnya berat hati .
"Aku temani kamu sampai depan"
Pasangan kekasih itu bergandengan tangan menuju mobil Ana yang terparkir.
"Van , aku masih kangen sama kamu" Ana memeluk tubuh kekar itu seolah tak rela waktu merenggut pertemuan mereka yang singkat.
"Sayang , kamu pulang sekarang ya , kasihan Lina nanti terkena getahnya juga , dia sudah begitu baik membantu kita"
Ana mengangguk paham dan dia cukup bahagia bisa bertemu walau diam-diam seperti ini.
"Jaga diri kamu baik-baik" pesan Revan sesudah mengecup kening kekasihnya yang di balas kecupan hangat di pipinya . Pasangan kekasih itu kembali terpisah menyimpan tanya , misteri apa esok hari yang akan menerpa kisah cinta mereka.
~~
Mariana beruntung kedua orang tuanya sama sekali tidak mencurigainya yang diam-diam sering bertemu Revan di bengkelnya atau di pantai favorit mereka .
Sebahagia apapun dia bisa bertemu dengan pujaannya , tetap saja ada kesedihan yang menyelip di hatinya . Restu orang tua yang belum juga di dapatkan membuat Ana dan Revan belum bisa tenang menjalin kasih mereka apa lagi harus backstreet seperti ini .
Ana seakan berada di dua sisi jurang yang sama, dia tidak ingin menentang kemauan orang tuanya tapi dia juga tak mau kehilangan Revan .
Ana tidak hanya merasa beruntung tapi dia juga merasa lega sebab mama dan papanya sudah mengizinkan dia kembali ke kampus . Bayangan indah bisa bertemu dengan Revan tanpa halangan memicu semangatnya kembali melanjutkan kuliahnya .
Ternyata semua tidak seperti yang di bayangkan . Mama dan papa Ana tidak membebaskan putrinya begitu saja . Ada Raka yang selalu mengawasi kemana langkahnya pergi . Mulai dari teras rumah , gerbang kampus , kelas , kantin bahkan kamar mandi sekali pun , Raka selalu mengikuti. Begitu juga semua aktivitas di handphone pribadi Ana, Raka harus mengetahui nya .
Makin lama Ana makin gerah dengan tingkah Raka yang layaknya hantu yang selalu gentayangan di mana pun dia berada . Raka tidak pernah membiarkan Revan atau Ana berdekatan .
Bukan Ana saja yang kegerahan , Revan juga . Terkadang cemburu menggerogoti hatinya melihat kekasihnya jalan dan duduk berdampingan dengan laki-laki lain . Rasanya dia sudah cukup bersabar mengerti keadaan Ana sekarang yang berada di bawah tekanan orang tuanya .
Hari ini di kampus sedang berlangsung pertandingan final basket antar fakultas . Raka cs yang tercatat sebagai mahasiswa jurusan ekonomi yang lolos ke final ikut ambil andil dlm pertandingan tahunan itu . Revan tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membawa kekasihnya keluar dari kampus .
Memang sedikit sulit karena Raka terkenal memiliki banyak teman yang menurut apa saja permintaannya , termasuk mengawasi gerak-geriknya . Pertandingan yang memanas membuat mata-mata Raka lengah dan lupa pada tugasnya . Aksi-aksi di dalam lapangan lebih menarik dari pada mengawasi Revan dan Ana .
"Sayang , kita mau kemana?" tanya Ana buru-buru mengikuti langkah Revan .
"Kita ketempat biasa " jawab Revan seadaanya sembari menaiki moge merahnya .
Tanpa di perintah , Ana langsung ikut naik.
Moge merah itu melaju meninggalkan kampus menuju arah utara . Tangan Ana juga sudah sigap memeluk pinggang kekasihnya dari belakang . Keduanya saling melempar senyum sarat makna . Revan pun memacu moge nya dengan semangat menuju ke tempat tujuan mereka .
(灬º‿º灬)♡(◍•ᴗ•◍)❤
Salam dari
"KEKUATAN ASISTEN DIREKTUR"
Jangan lupa feedback nya dan bantu
LIKE, VOTE, RATE dan KOMEN.
Terima kasih🤗
Salam dari
"KEKUATAN ASISTEN DIREKTUR"
Jangan lupa feedback nya dan bantu
LIKE, VOTE, RATE dan KOMEN.
Terima kasih🤗