Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Panen Raya dan Bisikan dari Pusat
Panasnya ampun-ampunan. Matahari persis di atas ubun-ubun, memanggang lapangan luas Balai Desa yang hari ini disulap jadi arena Panen Raya. Suara bas dangdut koplo dari speaker raksasa sahut-sahutan dengan teriakan emak-emak yang lagi nawar harga. Bau jagung bakar yang kecampur debu tanah kering bikin hidung gatal, tapi buat Fajar, ini murni aroma kemenangan.
Di tengah lautan manusia itu, tenda VVIP milik PT Arunika Jaya berdiri paling mentereng. Spanduk barunya—yang desainnya sudah Fajar rombak habis-habisan biar elegan—berkibar menantang angin: "Arunika Jaya: Solusi Maju Pertanian Anda."
Fajar berdiri di garda depan stan. Lupakan jas biru langit kedodoran yang bikin dia kelihatan kayak sales asuransi nyasar. Hari ini, pria itu tampil prima dengan kemeja polo hitam berlogo perusahaan, lengannya digulung sampai siku, dipadu celana jeans dan sneakers. Keringat sudah membanjiri pelipis dan punggungnya, tapi senyum semringah di wajah Fajar tak luntur sedetik pun.
"Ayo, Bapak-bapak! Ditarik langsung traktor mininya! Kalau deal hari ini, bukan cuma tanah sawah yang gampang dibajak, hati mertua juga pasti ikut luluh lihat panen berlipat ganda!" seru Fajar lewat pelantang suara, memamerkan deretan giginya.
Beberapa petani tertawa terbahak-bahak mendengar rayuan receh itu dan mulai mengerubungi stan.
Strategi hyper-local marketing yang diracik Fajar benar-benar sukses gila-gilaan. Sejak jam delapan pagi, penyiar Radio Suara Rimba—yang sudah disogok Fajar lewat dana sponsor—terus ngoceh promosiin stan Arunika Jaya. Efeknya? Warga dari tiga distrik tetangga tumplek blek di tenda mereka.
Taktik bundling Fajar terbukti mematikan. Beli traktor mini atau mesin pompa, bonusnya bibit unggul berkarung-karung dan pupuk. Warga ngerasa dapet durian runtuh, padahal di otak Fajar, kalkulator margin keuntungannya sudah berbunyi nyaring menyentuh target bulanan.
Di sudut tenda, si rambut gondrong dan si topi terbalik udah mau pingsan nulis nota pembelian. Yang paling memuaskan mata Fajar adalah melihat Pak Joni—Kepala Logistik yang biasanya songong minta ampun—kini mandi keringat, ngos-ngosan mengangkat kardus mesin dari bak pikap. Tiap kali berpapasan, pria gempal itu cuma bisa menunduk segan. Rasain lu, Pak, batin Fajar bersorak.
"Bos! Gila, Bos!" Si gondrong berlari kecil menghampiri Fajar dengan napas ngos-ngosan, menyodorkan setumpuk nota yang tebalnya ngalahin buku telepon. "Stok pompa air tipe B sisa tiga unit! Traktor mini sold out tak bersisa!"
Fajar menepuk bahu bawahannya itu keras-keras. "Kerja bagus, Tim! Minta Pak Joni keluarin semua sisa stok display di gudang. Jangan biarin satu pun pelanggan pulang tangan kosong hari ini!"
"Siap laksanakan, Bos!"
Melihat lautan warga sudah mulai bisa dikendalikan oleh timnya, Fajar akhirnya mundur ke area belakang tenda yang tertutup terpal. Kakinya rasanya mau copot. Ia membanting tubuhnya ke atas kursi plastik, menyambar botol air mineral dingin dari cool box, dan menenggaknya rakus sampai tandas. Dinginnya air membasuh tenggorokannya yang serak.
Drrrt... Drrrtt...
Baru juga pantatnya nempel lima detik, ponsel di saku celananya bergetar panjang. Fajar merogoh sakunya sambil berdecak, tapi matanya seketika membulat begitu melihat nama yang berkedip di layar: Ibu Direktur (Galak tapi Ngangenin).
Bibir Fajar otomatis melengkung ke atas. Jantungnya berdebar seirama dengan dangdut di luar sana. Ia mengusap layar dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
"Halo, dengan Kepala Cabang Pemasaran Kaltim yang paling berprestasi di sini," sapa Fajar dengan nada formal yang sengaja dilebih-lebihkan, niatnya menggoda.
Terdengar helaan napas panjang dan berat dari seberang sana. "Fajar, berhenti manggil aku kayak gitu kalau kita lagi di luar rapat resmi."
Deg.
Senyum Fajar perlahan luntur. Biasanya Kirana akan membalas dengan ketus atau mengomel gengsi. Tapi kali ini, suaranya sama sekali tidak punya ketajaman. Malah, suara wanita tangguh itu terdengar... luar biasa lelah. Begitu rapuh sampai membuat dada Fajar ikut ngilu.
Fajar langsung menegakkan punggungnya. Mode bercandanya menguap tak berbekas. "Kamu kenapa, Na? Suaramu kok lemas banget? Belum makan siang, ya? Atau Sinta telat bikinin kopi?"
Di ruang direksi raksasa di Jakarta, Kirana menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mahal. Mata elangnya terpejam rapat sambil memijat keras pelipisnya yang berdenyut menyakitkan. Tumpukan dokumen approval bernilai miliaran rupiah berserakan di mejanya, tak sedikit pun menarik minatnya.
"Aku udah makan. Sinta juga udah buatin kopi... tapi rasanya percuma, Jar," lirih Kirana, suaranya bergetar pelan. "Kepalaku rasanya mau pecah."
Tangan Fajar yang memegang ponsel mencengkeram lebih erat. "Ada masalah besar di pusat? Anggaranku kemarin ada yang salah?" tanyanya cepat, otaknya mulai menyusun skenario terburuk.
"Bukan. Bukan soal kamu. Cabangmu justru jadi satu-satunya laporan yang bikin napasku sedikit lega hari ini," jawab Kirana. Wanita itu terdiam sejenak. Dinding es yang selalu ia bangun tinggi-tinggi untuk menutupi kelemahannya perlahan mencair hanya karena mendengar suara panik pria itu.
"Ini soal Bapak... dan proyek rahasia perusahaan," lanjut Kirana akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan putus asa. "Bapak lagi nekan semua divisi gila-gilaan. Beliau mau peluncuran teknologi chip generasi terbaru Arunika Jaya dipercepat. Kamu tahu, kan? Chip yang bakal ngubah peta industri itu?"
Fajar mengangguk kaku, meski sadar Kirana tak bisa melihatnya. "Iya, aku pernah dengar selentingan proyek itu dari Bayu. Proyek kelas kakap."
"Iya. Dan masalahnya, perusahaan saingan kita entah gimana caranya bisa ngendus perkembangan teknologi itu. Persaingan di pusat sekarang benar-benar kotor, Fajar. Rapat pemegang saham memanas setiap hari. Dan Bapak..." Napas Kirana tercekat. "Beliau berubah. Beliau jadi sangat obsesif. Beliau nuntut aku kerja dua puluh empat jam berturut-turut untuk ngamanin pasar. Gak ada toleransi, gak ada celah buat bernapas."
Fajar mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya menatap tajam ke arah kanvas terpal tenda. Ia membiarkan Kirana menumpahkan semuanya.
"Terkadang..." Suara Kirana kini terdengar sangat serak, mati-matian menahan tangis yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. "Terkadang aku merasa, di mata Bapak, aku ini bukan seorang anak. Aku merasa cuma diciptakan buat jadi alat... mesin penerus perusahaan yang sempurna. Mesin pencetak uang yang diharamkan buat bikin kesalahan. Apalagi dengan semua tekanan dan kejanggalan sikapnya akhir-akhir ini... rasanya aku kayak gak bener-bener kenal siapa orang yang aku panggil Bapak itu."
Di balik tenda VVIP yang pengap, Fajar merasa dadanya ditusuk ribuan jarum. Membayangkan Kirana—wanita sedingin es yang selalu berdiri tegak penuh wibawa—kini nyaris hancur sendirian di sana, membuat darah Fajar mendidih.
Fajar memang tidak tahu-menahu soal konspirasi pencurian identitas atau kebohongan raksasa soal orang tua kandung Kirana. Tapi instingnya sebagai seorang pria meraung kuat; wanita yang dicintainya ini sedang berdiri di ujung tebing, memikul beban ekspektasi palsu yang siap meremukkan tulang-tulangnya.
"Kirana, dengerin aku." Suara Fajar terdengar berat, tegas, tapi luar biasa lembut, mengalun mengusir sepi di telinga Kirana. "Kamu itu manusia, bukan mesin. Dan kamu bukan sekadar alat perusahaan. Kamu itu Kirana. Perempuan keras kepala yang gengsinya nembus langit, yang gampang banget salting mukanya merah kalau aku godain, dan yang nekat mertaruhin jabatannya demi ngasih kesempatan buat cowok konyol kayak aku."
Di Jakarta, setitik air mata akhirnya lolos dari sudut mata Kirana, diiringi sebuah kekehan kecil bercampur isakan yang tak bisa ia tahan lagi.
"Kalau pusat rasanya terlalu dingin dan mencekik buat kamu..." Fajar menatap lurus ke arah langit Kalimantan yang mulai diwarnai semburat jingga, "...kamu selalu punya tempat buat pulang di sini, Na. Aku mungkin sekarang cuma Kepala Cabang pinggiran yang ngurusin pupuk sama traktor, tapi aku janji sama kamu. Aku bakal babat habis targetku di sini secepat mungkin. Aku bakal balik ke pusat bawa prestasi yang gak bisa dibantah sama siapa pun."
Fajar menarik napas panjang. "Supaya aku punya kekuatan buat berdiri di samping kamu. Supaya kamu gak perlu ngadepin bapakmu atau musuh perusahaan mana pun... sendirian."
Hening seketika membekukan sambungan telepon itu. Jantung Fajar berdebar gila-gilaan, setengah takut ia sudah terlalu jauh melewati batas profesionalitas.
Namun, jawaban Kirana mengempaskan semua keraguan Fajar.
"Terima kasih, Fajar," bisik Kirana. Suara wanita itu kini terdengar jauh lebih stabil, seolah baru saja menemukan jangkar Di tengah badai. "Aku pegang janjimu. Selesaikan tugasmu dengan baik... dan cepat pulang. Aku tunggu kamu di Jakarta."
Fajar menghembuskan napas lega, senyum tulus mengembang di bibirnya. "Siap laksanakan, Bu Direktur. Tunggu aku."
Setelah sambungan terputus, Fajar tak langsung beranjak. Ia menatap layar ponselnya lama. Suara dangdut koplo dan riuhnya Panen Raya di depannya perlahan memudar dari pendengarannya.
Otaknya berputar cepat. Ada badai raksasa yang sedang terbentuk di Jakarta. Badai yang melibatkan proyek chip, musuh misterius, dan bayang-bayang kelam ayah Kirana. Fajar tahu, ia harus kembali bukan sebagai karyawan rendahan, tapi sebagai serigala yang punya taring. Ia harus mengumpulkan pengaruh dan membuktikan kekuatannya.
Fajar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Karena ketika badai itu akhirnya pecah dan menghantam Kirana, ia bersumpah, dirinya akan menjadi dinding pertama yang menahan hantaman itu.