Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Jejak yang Tertinggal — Buku Lama yang Menyimpan Rahasia
Kertas yang berisi rumus-rumus itu tergenggam erat di tanganku, seakan benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menghubungkanku dengan Arga. Namun sekadar memiliki rumus tak cukup — aku harus memahaminya, memastikan tak ada jebakan, dan mencari tahu siapa yang pernah melakukannya sebelum aku.
Pagi itu, aku bergegas ke perpustakaan kota — tempat terbesar dan terlengkap di kotaku, tempat di mana buku-buku lama tersimpan rapi di rak-rak berdebu. Aku menghabiskan berjam-jam menyisir rak sejarah kuno, mitos, dan cerita rakyat — mencari jejak apa pun tentang perjalanan antar dunia, tentang orang yang pernah melintasi batas di antara dua kenyataan.
Hingga sore mulai berganti senja, harapanku perlahan menipis. Hampir semua buku yang kubaca hanya berisi dongeng tanpa dasar, tanpa nama, tanpa tanggal. Rasanya mulai menyerah — hingga tanganku menyentuh satu buku kecil bersampul kulit cokelat, terselip di pojok paling bawah rak paling belakang. Tanpa judul, tanpa nama penulis, hanya ada satu simbol di tengah sampulnya: bintang berujung lima.
Jantungku berdegup kencang. Itu simbol yang sama persis dengan yang ada di buku hitam keluarga Pratama!
Aku membukanya perlahan. Halaman-halamannya sudah menguning, tinta berwarna cokelat tua, dan tulisannya tangan yang rapi namun penuh tekanan. Bab pertama langsung membuatku terpaku — menceritakan tentang seseorang yang hidup ratusan tahun lalu, yang berasal dari dunia lain, yang datang ke dunia ini dan jatuh cinta pada seorang leluhur keluarga Pratama.
"Dia bukan orang dari sini. Langitnya berbeda, bintangnya berbeda. Tapi hatinya — hatinya sama dengan kita."
Aku terus membaca, tangan gemetar menahan halaman agar tidak robek. Ternyata... kisah ini bukan pertama kalinya terjadi. Dua ratus tahun yang lalu, wanita yang sama — jiwa dari dunia lain — pernah datang, pernah jatuh cinta, dan pernah kembali. Dan ia meninggalkan petunjuk, tertulis di halaman terakhir:
"Gerbang terbuka saat bulan purnama bersinar di kedua dunia sekaligus. Tapi ingat — apa pun yang kau bawa ke seberang, dan apa pun yang kau bawa kembali, akan berubah. Dunia tak membiarkan dua hal sama persis berdiri di tempat yang berbeda. Kau akan kembali — tapi tak semuanya akan sama seperti dulu."
Dan di bawahnya, tertulis satu kalimat yang membuat darahku membeku:
"Harga untuk kembali adalah separuh ingatanmu. Separuh dari semua yang pernah kau alami, kau lupakan. Agar keseimbangan tetap terjaga — tak ada yang boleh memiliki terlalu banyak dari dua dunia sekaligus."
Separuh ingatanku? Aku harus melupakan separuh waktu yang kulewati bersama Arga? Separuh tawa, separuh pelukan, separuh janji yang pernah kami ucapkan? Rasanya seperti ditusuk di dada — lebih menyakitkan daripada perpisahan itu sendiri.
Tapi aku tak punya pilihan. Jika aku tak kembali, aku kehilangan segalanya. Jika aku kembali, aku tetap bersamanya — walau harus melupakan sebagian dari apa yang kami miliki. Dan bagiku, separuh cinta bersama Arga jauh lebih berharga daripada seluruh hidupku tanpanya di sini.
Aku menutup buku itu pelan, menyimpannya ke dalam tas, lalu berjalan keluar perpustakaan dengan tekad yang semakin kuat. Langit di luar sudah gelap, dan bulan purnama mulai muncul di ufuk timur — bulan yang sama yang bersinar di dua dunia sekaligus.
Saat berjalan pulang, aku tak menyadari ada seseorang yang mengikutiku — sosok yang berdiri di balik bayangan gedung perpustakaan, menatapku lekat-lekat, matanya bersinar dingin.
"Jadi kau menemukannya..." bisik suara itu pelan, penuh arti. "Sama seperti dia dulu. Dan kau akan membuat kesalahan yang sama persis."
Sesampainya di rumah, aku kembali membuka buku lama itu, mencatat setiap petunjuk, setiap syarat, setiap peringatan. Aku tahu bahayanya — aku tahu aku bisa berubah, aku tahu aku bisa lupa, aku tahu sesuatu bisa mengikutiku kembali. Tapi saat aku melihat bayanganku di cermin, aku teringat wajah Arga saat aku pergi — tatapan matanya yang penuh cinta dan kepasrahan. Dan aku tahu: apa pun yang terjadi, aku harus pergi.
Malam itu, aku menulis surat untuk diriku sendiri — untuk saat aku kembali nanti, jika aku lupa. Aku menuliskan semuanya — hari pertama kami bertemu, saat ia memberikan separuh cahayanya, saat kami berjanji di bawah bulan purnama. Agar jika nanti aku lupa, surat ini akan mengingatkanku — bahwa ada seseorang yang menungguku, dan bahwa cinta kami lebih kuat dari segalanya.
"Jika kau membaca ini dan tak mengerti artinya — percayalah. Ada seseorang di dunia lain yang mencintaimu lebih dari nyawanya sendiri. Dan kau kembali untuknya. Jangan pernah menyerah."
...