Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Denyut Nadi di Bawah Titik Beku
Udara di dalam perut Kapal Andalas tidak sekadar dingin; udara itu menggigit, merobek, dan membekukan aliran darah.
Arka meringkuk di celah sempit antara dua kontainer baja. Uap napasnya yang putus-putus membeku di udara, menempel menjadi kristal-kristal es kecil di bulu mata dan alisnya. Pakaiannya yang basah kuyup oleh air limbah korosif kini telah mengeras seperti papan, menjebak tubuhnya dalam peti mati es ciptaannya sendiri.
Setiap kali dia menarik napas, udara bersuhu minus lima derajat Celcius itu menusuk paru-parunya seperti ribuan pecahan kaca.
Hipotermia tahap dua, sisa-sisa otaknya mencoba memperingatkan. Denyut jantung melambat. Kematian jaringan dalam...
Zzzzt! Kilatan Neural Feedback yang lemah menyengat pangkal lehernya. Otaknya bahkan terlalu membeku untuk menghantarkan rasa sakit secara maksimal. Arka memejamkan mata. Otot-ototnya sudah berhenti menggigil—sebuah tanda biologis yang sangat fatal. Tubuhnya mulai menyerah untuk memproduksi panas. Kegelapan yang menenangkan mulai menggodanya untuk tidur.
"Bram..." bisik Arka, bibirnya yang berwarna biru keunguan nyaris tak bergerak. "Terlalu dingin... Hasan tidak akan tahan..."
Arka menoleh ke samping. Melalui pandangannya yang mengabur, delusinya menciptakan siluet Bram yang sedang duduk memeluk lutut di sebelahnya.
"Kau harus cari pemanas, Bos," suara halusinasi Bram terdengar menggema, seolah datang dari dasar air. "Jangan tidur. Kalau kau mati, siapa yang akan membawa kami keluar?"
Kalimat itu memicu percikan adrenalin terakhir di kelenjar adrenal Arka. Ia tidak boleh mati. Belum. Sitorus menunggunya di ujung perjalanan ini.
Arka memaksa kelopak matanya terbuka. Ia membuang insting peretasnya dan membiarkan insting bertahan hidup hewannya mengambil alih. Ia tidak mencari data; ia mencari suara. Di tengah dengungan stabil baling-baling kapal, telinganya menangkap suara desis mekanik yang berirama dari ujung lorong kargo.
Kompresor pendingin ruang. Di mana ada mesin pendingin raksasa, pasti ada saluran udara pembuangan (exhaust) yang membuang udara panas dari kondensor.
Arka tidak bisa berdiri. Kakinya yang melepuh akibat cairan kimia kini mati rasa sepenuhnya. Ia menekan telapak tangannya yang penuh luka parut ke atas kisi-kisi lantai baja yang membeku.
KRAAAK.
Sensasi perih yang memuakkan menyengat sarafnya. Kulit telapak tangannya yang basah menempel dan robek tertinggal di baja beku itu saat ia memaksa tubuhnya merayap maju. Ia mengabaikan darah kental yang menetes lambat. Ia menyeret tubuhnya bagai cacing tanah yang sekarat melintasi lorong selebar setengah meter, bergerak menuju asal suara desisan tersebut.
Lima meter terasa seperti lima kilometer.
Di sudut ruangan, tersembunyi di balik pipa-pipa berbalut bunga es, terdapat sebuah kipas exhaust berjeruji tebal. Udara yang dihembuskan dari sana berbau karat, minyak pelumas, dan debu terbakar. Namun bagi Arka, hembusan bersuhu tiga puluh derajat celcius itu adalah embusan napas Tuhan.
Arka menyeret tubuhnya hingga meringkuk tepat di bawah jeruji pembuangan itu. Ia memeluk lututnya, membiarkan angin kotor dan panas dari kompresor menerpa punggung dan wajahnya. Perlahan, es di kemejanya mulai mencair, digantikan oleh rasa perih luar biasa saat darah mulai kembali mengalir ke jaringan kulitnya yang mati (chilblain).
Arka menggigit kerah bajunya, menahan rintihan panjang saat saraf-sarafnya menjerit kesakitan menyambut kehangatan. Ia selamat dari kematian beku, meski harus menebusnya dengan kulit yang terkelupas.
"Kita hangat sekarang, Bram," bisik Arka sambil tersenyum pedih, matanya terpejam meresapi udara kotor pembawa kehidupan itu. "Kita akan sampai."
Berjam-jam berlalu dalam ritme mesin kompresor yang monoton, hingga tiba-tiba, getaran lambung kapal berubah drastis.
NGUOOOOONG! Suara klakson kapal yang berat dan panjang membelah udara, menggetarkan dinding-dinding kontainer baja di sekeliling Arka. Mesin utama mati. Gravitasi terasa bergeser saat kapal raksasa itu membentur dinding pelabuhan dengan suara benturan yang tumpul.
Kapal telah bersandar.
Arka membuka matanya yang merah. Di ujung ruangan kargo, lampu indikator merah berkedip menyilaukan. Suara hidrolik palka berderik keras, melepaskan segel kedap udaranya.
CSSSSSH!
Pintu raksasa itu perlahan terbuka ke atas, membiarkan cahaya lampu pelabuhan berwarna oranye kotor menerobos masuk, mengusir kegelapan. Udara luar yang lembap dan berbau polusi tambang langsung menyerbu masuk.
Sektor 3.
Langkah kaki sepatu bot bergema menaiki ramp besi palka. Bukan satu, melainkan selusin langkah kaki yang serempak dan disiplin. Di antara mereka, terdengar bunyi ketukan tongkat metalik yang berirama pelan namun menuntut. Ketukan dari seorang pria yang tidak pernah menerima margin kesalahan dari variabel mana pun.
Sitorus telah datang untuk memeriksa kargonya. Dan Arka, dengan tubuh setengah hancur, terjebak tepat di perut monster tersebut.
***
**[AUTHOR NOTE]**Hanya dengan insting bertahan hidup paling purba, Arka berhasil lolos dari kematian akibat hipotermia, mengorbankan kulit tangannya yang robek menempel di baja beku. Tapi kemenangan kecil itu tidak ada artinya, karena palka telah terbuka! Dewi Andalas akhirnya merapat di Sektor 3, dan Sitorus—sang bos logistik yang kejam—telah naik ke kapal. Dengan kondisi fisik yang hancur, bagaimana Arka bisa menghindari deteksi Sitorus dan pasukannya di dalam ruang tertutup ini?
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼