Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 24
Namun, belum sempat Ziyan berdiri atau merayakan keberhasilannya...
Ssssshh! BUMM!
Menara Sepuluh Waktu seolah memiliki kesadarannya sendiri. Karena Ziyan telah berhasil menembus ranah baru dan masa tugas latihannya telah genap tiga hari, ruangan menara mendadak bergetar hebat. Sebuah pusaran angin ruang-waktu yang sangat kuat muncul tepat di bawah tubuh Ziyan, mendepak dan melemparkan tubuh gadis itu keluar begitu saja dari dalam pintu besi!
"WOAAAHHH!"
Ziyan terlempar keluar dari menara seperti peluru, berguling-guling beberapa kali di atas rumput hutan bambu sebelum akhirnya berhenti dalam posisi telentang yang sangat tidak anggun.
"Aduh, aduh... Kenapa tidak bisa mengeluarkanku dengan cara yang lebih lembut sih?!" gerutu Ziyan sambil memegangi pinggangnya yang terasa pegal.
"Kau sudah menembus tingkat Pencerahan, tapi gayamu jatuh masih seperti sekarung gandum," suara dingin Tianchen terdengar dari atas kepala Ziyan.
Ziyan mendongak. Tianchen sedang berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan menilai. Ziyan buru-buru bangkit berdiri, merapikan pakaian latihannya yang lusuh, lalu menegakkan dadanya dengan bangga.
"Guru! Aku berhasil! Lihat! Aku sekarang sudah berada di tingkat Pencerahan Awal!" seru Ziyan girang sambil memamerkan aura qi biru yang berputar di telapak tangannya.
Namun, Bukannya memuji, Tianchen justru menyipitkan matanya tajam. Ia mengulurkan tangan dan menepuk bahu Ziyan dengan pelan, membuat aura qi biru Ziyan seketika padam.
"Penerobosanmu terlalu cepat dan kasar," kata Tianchen datar. "Energi di dalam dantianmu meluap secara mendadak akibat efek tekanan ruang-waktu menara. Fondasi kultivasimu saat ini sangat tidak stabil. Jika kau tidak mengendapkannya sekarang, jalan darahmu bisa retak dan kultivasimu akan merosot kembali."
Tianchen merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah botol batu giok kecil. Dari dalamnya, ia mengambil sebuah pil berwarna putih keperakan yang memancarkan aroma sejuk luar biasa.
"Telan pil ini," perintah Tianchen seraya melemparkan pil tersebut ke arah Ziyan. "Ini adalah Pil Penstabil Jiwa. Setelah menelannya, langsung pergi ke Ruang Kultivasi Khusus. Bermeditasilah di sana untuk menstabilkan fondasimu. Di sana juga ada Yuanling yang sedang mempelajari jurus barunya."
Ziyan menangkap pil itu dengan sigap. Membaui aromanya yang segar saja sudah membuat otaknya terasa tenang. Rasa bersyukur mengalir di dadanya.
"Terima kasih, Guru! Aku pergi sekarang!" seru Ziyan. Tanpa membuang waktu, ia menelan pil tersebut dan berlari kencang menuju Ruang Kultivasi Khusus, tidak ingin membuat gurunya kecewa setelah semua latihan keras yang ia jalani.
Setelah Ziyan pergi, hutan bambu kembali menjadi sunyi. Tianchen berdiri seorang diri di pelataran, menikmati hembusan angin sore yang mulai dingin.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Swooshhh!
Udara di atas pelataran mendadak berdesir tajam. Angin berputar membentuk pusaran kecil, dan dari langit, meluncur turun sebuah gulungan kertas tebal berdawat emas. Gulungan itu dibungkus oleh benang merah bersimbolkan lambang Aliansi Benua Zhuisan.
Gulungan surat itu mengapung melayang tepat tiga jengkal di hadapan dada Tianchen.
Tianchen menatap surat itu dengan tenang. Ia mengangkat tangan kanannya, memetik tali benang merah tersebut hingga terputus. Gulungan kertas emas itu terbuka secara otomatis di udara, memancarkan tulisan-tulisan kaligrafi bercahaya yang mengapung di udara.
Tianchen membaca isi surat tersebut baris demi baris:
"Kepada Seluruh Ketua Sekte dan Pemimpin Wilayah di Daratan Zhuisan,
Dengan ini Aliansi Benua Mengundang Sekte Anda untuk Mengirimkan Perwakilan Murid Terbaik dalam 'Turnamen Seratus Tahunan Daratan Zhuisan'. Turnamen akan Dilaksanakan di Puncak Gunung Surgawi pada Bulan Mendatang.
Pemenang Utama akan Memperoleh Senjata Sakti Tingkat Dewa serta Hak Istimewa Memasuki Kolam Pembaptisan Surgawi.
PERSYARATAN WAJIB:
Setiap Sekte Diharuskan dan Wajib Mengirimkan Minimal 5 Orang Murid Perwakilan, dengan Syarat Tingkat Kultivasi Seluruh Murid Perwakilan Harus Berada di Atas Tingkat Fondasi.
Sekte yang Tidak Memenuhi Kuota Minimal atau Absen Tanpa Alasan Resmi akan Dihapus dari Peta Registrasi Sekte Benua."
Tulisan cahaya itu perlahan memudar dan gulungan kertas tersebut terbakar menjadi abu keemasan yang hilang ditiup angin.
Tianchen berdiri bergeming di tempatnya. Alisnya yang tebal bertaut rapi, memperlihatkan raut wajah yang amat serius dan penuh pertimbangan.
"Turnamen Seratus Tahunan..." gumam Tianchen pelan.
Matanya menatap tajam ke arah kejauhan. Hadiah Senjata Sakti Tingkat Dewa atau ancaman penghapusan nama sekte bukanlah hal yang merisaukannya. Namun, persyaratan kuota peserta itulah yang menjadi masalah yang sangat memusingkan!
"Minimal lima orang murid perwakilan... dan seluruhnya harus di atas tingkat Fondasi?" Tianchen menghela nafas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan agak prihatin.
Sekte Pedang Langit miliknya saat ini berada dalam kondisi yang sangat unik. Jika dihitung secara keseluruhan, murid resmi di sekte ini... hanya ada satu orang, yaitu Su Ziyan!
Meskipun Ziyan kini telah menembus tingkat Pencerahan, jumlahnya tetap saja kurang empat orang murid lagi untuk memenuhi syarat pendaftaran resmi!
Yuanling adalah istrinya dan baru saja mulai mempelajari jurus dasar, belum resmi terdaftar sebagai murid tempur. Sementara pemuda terluka dari Keluarga Liu yang berada di kamar pengobatan bahkan belum sadarkan diri secara penuh dari ikatan Tulang Naga Surgawinya!
"Bagaimana bisa aku mengirim lima murid..." bisik Tianchen pada dirinya sendiri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang penuh teka-teki. "Apakah aku harus mencari empat murid lagi dalam waktu singkat, atau aku harus memaksa hukum turnamen itu tunduk pada aturan sekteku sendiri?"
Angin sore berhembus makin kencang, menggoyangkan jubah putih Tianchen yang berdiri tegak di tengah pelataran. Bayangan konspirasi besar, pertumpahan darah Sekte Lembah Sunyi, dan ancaman Turnamen Benua kini makin merapat, mengepung Sekte Pedang Langit dari segala penjuru.
tp apa yg terjadi di sana.. apakahh gurumu datang.. atau ada tantangan lain bt mu
Ehh aku kira Tian mauu anuhh teryata lain pulaa..🤣🤣🤣
tunjukkan ke mampuan mu bt berlatihh
Semoga kau berhasil ziyann .. tingkatkan kemampuan muu..
Nahh lohhh ziyann di tambah lagi tuhhh hukumann muu🤣🤣
nahh tuhhh jgn cemburu ziyann.. km tetep istimewa bt guru mu🤣