Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.
Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.
Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedamaian
Alvin sudah duduk santai di ruang makan sambil scroll ponsel di tangan. Kelihatannya Alvin asyik sekali dengan benda tipis di genggaman tangan. Matanya sepenuhnya tertuju pada benda itu sampai tak sadar calon istri sudah di depan mata.
Luna tidak mengganggu keasyikan Alvin berselancar di dunia maya. Luna tak tahu apa yang demikian menarik perhatian Alvin sampai hilang fokus ke sekeliling.
Luna menarik kursi perlahan tahu diri dia hanyalah benalu bagi Alvin. Tanpa dirinya Alvin tentu tak serepot gini. Sekarang Alvin punya tanggung jawab terhadap orang yang tak ada hubungan dengannya. Ada rasa sungkan merasuki hati Luna namun dia tak berdaya. Luna memang butuh perlindungan seseorang.
Luna duduk manis menunggu Alvin selesai scroll ponsel. Luna tidak bergeming mencoba cari perhatian Alvin. Sebagai benalu dia tak berhak mengusik ketenangan tuan rumah.
Pembantu yang menemani Luna gregetan lihat interaksi kedua majikannya. Mereka tidak saling menyapa layak orang asing. Apa pula katanya suami istri. Pembantu itu sengaja batuk kecil memancing perhatian Alvin. Trik pembantu itu berhasil memindahkan pandangan mata Alvin ke sekeliling.
Alvin kontan tersenyum merasa canggung asyik sendiri tanpa sadar ada orang di dekatnya.
"Eh sudah datang ya! Maaf keasyikan cari perlengkapan anak-anak." Alvin memperlihatkan layar ponsel ke Luna. Ternyata Alvin sedang lihat pakaian khusus untuk anak bayi di toko online.
Luna tidak menyangka kalau Alvin benar-benar terobsesi dengan anak-anaknya. Luna pikir Alvin hanya sekedar perhatian dalam ucapan saja. Dia mementingkan kepentingan pribadi untuk membalas Anjas. Ternyata dugaan Luna meleset. Alvin benar-benar anggap dua anak Luna sebagai anaknya. Luna terharu sampai matanya berkaca-kaca.
"Eit...kok sedih? Ayok gembira dong! Kata orang tua ibu hamil tak boleh menangis. Ntar anaknya cengeng. Aku tidak mau anak-anakku cengeng. Mereka harus kuat menghadapi hidup ini." Alvin meninggalkan kursi menghampiri Luna. Alvin benar-benar menawarkan kehangatan yang tak pernah Luna rasakan selama ini.
Keharuan Luna semakin menjadi-jadi diperlakukan bak istri tulen. Luna tak bisa membendung air matanya walau Alvin melarangnya menangis. Baru hari ini ada lelaki memberi perhatian terhadap kondisi kehamilannya. Selama ini Anjas hanya tanya kabar tanpa tindakan. Anjas mana pernah bahas perlengkapan bayi jelang kelahiran. Perhatian itu justru datang dari orang yang baru dia kenal. Bahkan Luna tak kenal sama sekali.
Alvin menyentuh pundak Luna dengan sopan. Sentuhan penuh persahabatan tanpa ada nafsu nakal. Orang model Alvin mana tertarik pada kemolekan cewek, matanya lebih berbinar lihat kumis tipis pria ganteng.
"Ayok bumil.... Kita bergembira untuk anak-anak kita. Sebenarnya aku mau mengajakmu keliling mall untuk mencari perlengkapan anak-anak kita. Tetapi kita terbentur oleh mata-mata Anjas. Jadi kita belanja online saja. Ok? Sekarang kita makan dulu! Aku tak ijinkan anak-anakku kelaparan." Alvin menepuk bahu Luna beberapa kali dengan lembut. Alvin bersikap seakan-akan anak dalam perut Luna memang darah dagingnya. Dia tak peduli anak itu tak ada hubungan darah dengannya.
"Terima kasih pak..."
"Sudah kubilang tak ada kata pak lagi. Aku belum tua lho! Aku keberatan dipanggil bapak. Panggil mas Al ya!" Alvin mengguncang telunjuk mengingatkan Luna tak boleh menciptakannya jarak antara mereka. Panggilan pak terlalu formal untuk pasangan suami istri. Luna harus mulai belajar menerima kehadiran Alvin di dalam hidupnya.
"Maaf mas... Aku belum terbiasa."
Alvin memutar badan kembali duduk di tempatnya semula. Sikap luwesnya bikin Luna kurang sreg. Seorang pria tak boleh terlalu gemulai. Pria mesti gagah bak burung Garuda gagah perkasa. Alvin lebih mirip burung murai bergerak lincah sambil berkicau merdu. Sedikit pun tidak ada aura pria sejati.
"Makan yang banyak... " Alvin mulai menyendok nasi ke piring lalu serahkan ke Luna. Nasinya menggunung seolah perut Luna seperti karet mampu menampung sepiring penuh nasi.
"Kelewat banyak mas..." tolak Luna yakin perutnya takkan mampu tampung nasi pemberian Alvin. Lebih baik dikurangi daripada mubazir. Luna besar di panti asuhan tahu bagaimana menghemat. Bisa makan tiga kali sehari sudah syukur. Itupun dijatah karena penghuni panti butuh makanan. Yang makan bukan satu dua orang melainkan berpuluh-pulu h orang. Seluruh anak-anak di dalam panti asuhan harus tahu diri membagi jatah sama rata.
"Makan sebisanya."
"Ngak bisa mas...nanti malah muntah." Luna mencari alasan lain untuk menghemat makanan. Alvin pasti takkan memaksa lagi bila Luna memberi alasan tepat.
"Oh iya... Kurangi saja. Makan sayurnya yang banyak ya!"
Kali ini Luna tidak membantah lagi cukup mengangguk menghargai perasaan Alvin. Alvin tersenyum senang seolah-olah dia memang suami siaga. Menyayangi keluarganya.
Selesai makan keduanya pindah ke ruang keluarga yang lebih luas. Luna tak tahu untuk apa rumah seluas gini sementara penghuninya cuma Alvin seorang diri. Luna tak berani bertanya ke mana mama Alvin dan saudara lain. Alvin akan bercerita bila dia mau bercerita. Luna tak berhak mengorek kepribadian Alvin.
Seorang pembantu mengantar dua cangkir teh panas sebagai teman di saat mereka tukar cerita. Setelah itu pembantu menghilang ntah ke mana. Pembantu itu tahu diri tak berani mengusik kebersamaan majikan mereka.
Alvin menyandarkan diri di sandaran sofa menatap Luna dalam-dalam. Tak ada gaya pecicilan yang bikin Luna ilfil. Sikap maskulin seorang lelaki kini menyatu dalam diri Alvin.
Luna sedang berpikir apakah Alvin itu makhluk ampibi hidup di dua alam. Dia berubah kapan dia suka. Sebentar seperti bencong di perempatan, sebentar layak lelaki sejati. Luna berpikir yang mana Alvin asli.
"Kau kerasan di sini?" tiba-tiba Alvin bertanya dengan nada rendah. Nada khas lelaki sejati.
"Belum terlalu kerasan... Tapi aku akan usaha betah. Sejujurnya aku belum tahu harus melangkah ke mana bila mas tidak tawarkan tempat berlindung. Kami berencana mengungsi ke tempat nenek Wina sampai lahiran. Tapi keburu ditahan oleh mas."
"Anjas akan mudah melacak keberadaanmu. Tempat ini adalah tempat paling aman untukmu. Anjas tak pernah terpikir kalau aku yang menampung kamu. Jadi untuk sementara kamu aman. Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita ke KUA. Kita akan segera dapat buku nikah. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk melindungi kamu. Kita tak bisa ijab Kabul kare kamu dalam masa iddah. Kau paham bukan?"
"Aku bersyukur mas sudah mau bantu. Apa pernikahan kita tak membebani mas? Kita punya buku nikah, kalau bercerai kelak mas akan tertimpa masalah soal harta gono gini. Aku berjanji takkan menuntut apapun dari mas. Sudah diberi tumpangan sudah bersyukur."
"Untuk apa memikirkan hal sekecil itu? Kita jalani saja kenikmatan yang di beri oleh Allah. Asalkan kau percaya padaku itu sudah aman."
"Aku percaya mas... Malah aku berterima kasih."
"Apa kau tak bosan ucap terimakasih? Aku yang dengar malah capek. Apa benar kau seorang dokter Onkologi?"
"Emang gelar dokter bisa dibeli? Aku habis waktu delapan tahun untuk capai gelar dokter spesialis. Kurasa itu bukan waktu singkat."
Alvin manggut-manggut salut dengar Luna cuma butuh waktu delapan tahun raih cita-cita sebagai dokter spesialis membanggakan. Orang lain mungkin butuh waktu puluhan tahun baru bisa mencapai gelar itu.
"Kau pasti murid berprestasi di sekolah sehingga menggapai impianmu menjadi dokter."
Luna tertawa kecil membayangkan kerja keras dia selama menempuh pendidikan. Dia jatuh bangun mengejar beasiswa dari berbagai instansi. Mulai dari beasiswa pemerintah sampai beasiswa dari universitas untuk menempuh pendidikan dokter spesialis. Di tambah jurusan obat-obatan yang dia kejar untuk melengkapi keahlian di bidang kesehatan.
"Aku tinggal di tempat di mana orang serba kekurangan. Apalagi saat sakit yang butuh banyak biaya. Dari situ aku bertekad menjadi seorang dokter. Aku ambil bagian Onkologi karena ada anak panti kena kanker otak. Waktu itu aku belum menjadi dokter spesialis sehingga kami kehilangan salah saudara kami. Aku bulatkan tekad menjadi penolong mereka yang menderita kanker. Aku berhasil menekan penyebaran sel kanker setelah melakukan riset berulang kali. Beberapa pasien sembuh total termasuk Clara. Aku tak sangka orang yang kubantu ternyata adalah musuh terselubung." Luna akhiri cerita seraya menarik nafas. Luna tak bisa sembunyikan kekesalan terhadap Clara karena hendak menipu anaknya.
Alvin menyimak tanpa menyela. Otak Alvin bekerja cepat menangkap makna omongan Luna. Luna sedang membuat pengakuan kalau dia ahli di bidang kanker. Bukan cuma mampu mengobati bahkan berhasil menciptakan obat yang mampu menekan penyebaran kanker. Secara tak langsung Luna mengaku dia telah berhasil menemukan obat paten untuk membasmi sel kanker.
"Kau sedang mengaku kau pemilik formula obat yang diincar Anjas?"
"Kenapa mas berpikir gitu?"
"Kudengar Anjas akan rilis obat terbaru untuk basmi sel kanker. Aku menduga itu dari kamu. Ini sebatas dugaan. Kebenarannya hanya kamu yang tahu." Alvin berkata sambil tersenyum. Dia tak mau bebani Luna menuntut satu jawaban pasti. Alvin menghormatinya setiap langkah ditempuh Luna asalkan tidak membahayakan diri sendiri.
"Aku boleh tak jawab bukan?" Luna berusaha mengelak. Untuk sementara waktu Luna tidak mau mengakui apapun. Luna belum mengenal Alvin sepenuhnya. Luna butuh waktu untuk memahami karakter Alvin. Apalagi Alvin itu sangat istimewa dengan kelakuan sulit ditebak. Luna tak mau terjebak untuk kedua kali. Biarlah semua berjalan perlahan saja.
"Tentu saja...kau berhak merahasiakan apa saja asalkan tidak mengganggu kebahagiaan kamu. Ibu hamil itu tugasnya menikmati hari-hari santai sampai lahiran. Tugasmu sekarang adalah menjaga kesehatanmu dan anak-anak. Lain tak usah pikir. Lepaskan semua pikiran mengenai pekerjaanmu. Kalaupun kau tak kerja aku sanggup kasih makan kalian. Aku suamimu lho!" Alvin menepuk dada pamer dia suami bertanggung jawab. Tingkah laku Alvin membangkitkan tawa Luna. Rasanya lega jumpa Alvin walau memiliki jiwa labil.
Perasaan damai datang tanpa diundang. Luna belum pernah merasakan serilex ini sejak menjadi istri Anjas. Dulu dia dipenuhi kekuatiran dibarengi pertanyaan. Sesibuk apa Anjas sampai jarang menjenguk istri di kota lain. Padahal jarak tempuh hanya memakan waktu dua jam. Tapi serasa terpisah oleh samudera maha luas. Kini semua sudah Luna lepaskan. Dia sudah merdeka dari semua pertanyaan.