"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBD 34
Mentari pagi menyelinap lewat dinding-dinding kaca toko bunga. Aroma mawar, lily, dan melati memenuhi ruangan yang masih lengang. Di balik meja kasir, Riri bersenandung pelan sambil menata buket-buket bunga yang baru datang. Senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya. Hari itu terasa begitu tenang.
Layla pun sudah kembali pulih setelah peristiwa besar menimpanya bertubi-tubi sebulan yang lalu.
Meski trauma itu masih membekas, kondisi fisik Layla kini jauh lebih bugar dibandingkan sebulan yang lalu.
"Ting..."
Lonceng di atas pintu berbunyi pelan.
"Selamat datang. Mau cari bunga apa hari ini?"
Riri membalikkan badan. Ucapannya terhenti di tenggorokan.
Matanya membulat.
"Layla!"
Tanpa pikir panjang ia berlari memeluk sahabatnya erat-erat.
Layla ikut tersenyum karena tingkah Riri.
"Ihhh kangen banget deh...," ucap Riri semangat.
"Aku enggak tuh."
Layla berpura-pura, namun senyumnya tak bisa ia sembunyikan.
"Selalu gitu. Kamu yakin mau kerja di sini lagi? Terus Zhao Lee ngijinin gitu?"
Layla berpikir sejenak.
"Untuk soal itu aku berdebat panjang sama dia semalam."
Malam itu....
Layla sedang duduk di teras depan kamarnya. Bulan dan bintang menjadi temannya malam itu. Ia terlihat merasa iri kepada mereka. Angin malam yang sejuk menyelimuti atmosfer di sekelilingnya. Ia menggenggam erat cincin yang telah ia temukan kembali saat mengemasi barangnya sebelum keluar dari rumah utama Zhao Lee.
Layla mengusap perlahan permukaan cincin itu dengan ibu jarinya. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya satu nama lolos begitu saja.
"Hendi..."
"Ini sudah larut, Layla," ucap Zhao Lee.
Layla terkejut, ia tak menyadari bahwa Zhao Lee sudah ada di belakangnya.
"Anda masih di sini?" tanya Layla.
"Apa ada yang salah?" tanya Zhao Lee.
Layla membuang muka.
"Pulanglah Tuan, Nyonya Sechpia akan merasa curiga jika anda terus menghilang seperti ini," ucap Zhao Lee.
"Kau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, Layla," ucap Zhao Lee.
Layla terdiam sejenak sebelum melanjutkannya...
"Ijinkan aku kembali bekerja di toko," ucap Layla dingin.
Pria itu menolak tegas.
"Tidak."
Wanita cantik itu menyindir suami kontraknya.
"Anda sangat suka mengurung saya di sangkar emas ini ya?"
Pria itu mengeryitkan dahinya.
"Aku bukan mengurung mu, aku melindungi mu, Layla," ucap Zhao Lee tegas.
Layla tersenyum hambar.
"Melindungi dari apa? Saya merasa sesak karena harus waspada kepada anda setiap saat. Berikan saya waktu untuk bernafas setidaknya beberapa jam," ucap Layla.
"Di luar terlalu berbahaya, Layla," ucap Zhao Lee tegas.
"Justru bahaya bagi saya itu anda, Tuan Zhao Lee yang terhormat,"
Layla menekankan kalimat terakhir untuk mengungkapkan kekesalannya sambil melirik tajam ke arah Zhao Lee.
Zhao Lee mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tak mengelak bahwa yang di katakan Layla itu benar. Namun ia terlalu naif untuk mengakui kejahatannya di depan Layla.
"Mengapa kau tak pernah menghargai ku, Layla?" ucap Zhao Lee kesal.
"Bagaimana dengan anda?" ucap Layla sinis dengan sorot mata yang tajam.
"Kau berani menentang ku, Layla? Inikah balasannya setelah aku menyelamatkan mu berkali-kali?" ucap Zhao Lee tenang dan mengintimidasi.
"Bukankah saya selalu berada di jurang kepedihan selama bersama anda? Tidak kah anda menyadarinya?" ucap Layla menyindir pedas.
Zhao Lee terdiam tanpa kata...
"Jangan salahkan saya jika anda tidak akan menemukan saya lagi di manaa pun saya berada," ucap Layla tenang.
Zhao Lee terhentak, ia teringat saat Layla nekat hendak menjual jantungnya ke orang lain. Zhao Lee menunduk, kali ini ia mengalah.
"Baiklah, tapi ada satu syarat biarkan Erika menjadi pengawal mu, mewakili aku untuk menjaga mu" ucap Zhao Lee tegas.
Layla menatap sinis suaminya.
"Aku juga punya syarat. Dia hanya boleh berfungsi sebagai pengawal bukan sebagai pengawas," ucap Layla tegas.
Pertengkaran panas itu pun berakhir, Layla masuk kamar meninggalkan Zhao Lee sendiri di teras itu. Tangannya masih setia menggenggam erat cincin emas yang sederhana namun berharga.
Zhao Lee menghela nafas panjang, terkadang sifat keras kepala Layla membuatnya kewalahan.
Kembali ke toko...
"Siapa wanita yang berwajah dingin di belakang mu, Layla?" tanya Riri.
"Oh ini Erika. Dia tidak akan pernah mengijinkan ku keluar rumah tanpa membawa Erika," ucap Layla.
Layla menghela nafas panjang, ia belum terbiasa di perlakukan seperti ini. "Berlebihan...," dengus Layla memprotes Zhao Lee.
Riri tertawa menggoda Layla...
"Cieeeee yang di posesifin. Ahayyyy..." ucap Riri sambil colek-colek Layla.
"Apa sih norak," ucap Layla kesal.
Riri tertawa terbahak-bahak.
"Wah, lumayan. Dapet pegawai gratis. Erika, mau bantu nyapu toko nggak?"
Erika menjawab datar.
"Tidak."
Riri langsung melongo.
Layla tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Riri melihat keluar jendela, ada seorang pria berjas menatap dirinya.
Raut wajah Riri berubah serius. Namun Riri terlalu pintar mengatur emosinya.
"Layla kayaknya cowok ku dateng deh, aku samperin dulu ya. Maklum baru jadian," ucap Riri ceria.
Riri keluar toko menemui pria itu.
"Ada apa?" tanya Riri dengan tatapan tajam.
"Tuan Zhao Lee sedang menunggu anda, nona Riri" ucap pria itu.
Riri mengepalkan jarinya...
"Orang menyebalkan itu lagi," ucap Riri dalam hati.
"Ok, aku pamit Layla dulu. Aku enggak mau buat dia khawatir," ucap Riri serius.
"Silahkan," jawab pria itu singkat.
Riri mengambil nafas dalam-dalam sebelum masuk toko, ia menyiapkan emosi yang ceria untuk menghadapi Layla. Kemudian masuk toko....
"Layla..., aku kencan dulu ya. Pacarku ngajak sarapan bareng nih," ucap Riri ceria.
"Iya deh sana. Jangan lama-lama ya," ucap Layla. Erika menatap dingin Layla.
"Kenapa diam aja bantuin," ucap Layla kepada Erika.
"Baik," jawab Erika singkat.
Riri berhenti sejenak sebelum memasuki ruang kantor Zhao Lee. Kemudian membuka pintu dengan langkah yang mantap.
Riri berdiri tegap di depan Zhao Lee dengan wajah serius.
"Tidak ada ancaman yang berarti di sekitar Layla atau seorang pria yang mendekati Layla. Bukankah kau sudah memperketat penjagaan mu, dengan mengirim Erika?" ucap Zhao Lee.
"Aku sudah tau. Aku bukan menginginkan laporan dari mu. Aku membutuhkanmu " ucap Zhao Lee dingin.
Riri mengeryit..
"Sebagai apa?" Riri bertanya dingin.
"Sebagai Psikolog untuk Layla," ucap Zhao Lee.
"Aku menolak, cari saja yang lain," ucap Riri ketus.
"Kau tau kan aku tak mudah percaya pada orang lain," ucap Zhao Lee tenang.
Riri menghela nafas panjang..
"Kau tahu siapa yang membuat kondisi Layla semakin buruk?" tanya Riri pedas.
"Aku tahu," jawab Zhao Lee singkat.
"Lalu kenapa kau tetap melakukannya?" tanya Riri kesal.
""Karena hanya ada dua pilihan waktu itu."
Zhao Lee menatap Riri tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
"Membuatnya membenciku... atau kehilangan dia selamanya."
Zhao Lee kembali mengintimidasi Riri.
"Aku mengundang mu kemari bukan untuk menghakimi ku Riri. Lakukan saja tugas mu. Aku akan jamin keselamatan adik mu, Riri," ucap Zhao Lee dengan suara datar, tetapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa lebih dingin.
Zhao Lee menyerahkan map yang berisi tentang hasil pemeriksaan psikolog Layla, riwayat mimpi buruk,
catatan serangan panik dan hasil konsultasi dokter.
Riri menutup map itu perlahan. Untuk pertama kalinya ia mengerti satu hal. Musuh terbesar Layla bukan hanya masa lalunya... tetapi juga pria yang duduk tenang di hadapannya.
"Sekarang kau boleh pergi Riri, ada vidio call penting dari orang jauh," ucap Zhao Lee sambil tersenyum.
Riri meninggalkan ruangan itu dengan wajah sendu, ia tak bisa membayangkan kesulitan yang selama ini Layla pendam seorang diri.
Zhao Lee mengangkat video call itu dengan sumringah.
"Salam Alif..., apa kabar mu?" ucap Zhao Lee basa-basi.
"Saya baik pak Lee. Bagaimana dengan bapak?" Alif bertegur sapa.
"Seperti yang kau lihat Alif," ucap Zhao Lee.
"Apa yang membuat mu menghubungi ku? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Zhao Lee.
Alif menggelengkan kepala...
"Bukan. Aku ingin memberi tau anda bahwa saya memenangkan lomba olimpiade matematika di Australia dan membawa pulang medali emas," ucap Alif tersipu malu.
"Wah kau hebat Alif, pertahankan itu. Suatu hari saya yakin kamu akan menjadi orang hebat di kemudian hari," ucap Zhao Lee.
"Sa-saya ingin menjadi seperti anda, pak Lee," ucap Alif malu-malu.
Zhao Lee tertawa puas, pengaruhnya berhasil terhadap Alif.
"Baiklah aku tunggu kabar terbaik prestasi mu selanjutnya" ucap Zhao Lee tersenyum.
"Apa ibu mu sudah tau?" tanya Zhao Lee.
Alif menggelengkan kepala..
Senyum tipis terukir di wajah Zhao Lee. Diam-diam ia merasa usahanya selama ini tidak sia-sia.
"Aku akan memastikan Alif dan Lisa memiliki masa depan yang bahkan tak pernah bisa mereka bayangkan." ucap Zhao Lee dalam hati.
"Ibu mu pasti sangat senang mendengar kabar ini. Kau hebat Alif. Aku berpesan jagalah ibumu saat kau besar nanti, Alif" ucap Zhao Lee tersenyum.
Alif mengangguk mantap...
Video call berakhir...
Zhao Lee meletakkan ponselnya perlahan, lalu melangkah mendekati jendela. Tatapannya menerobos hamparan langit yang mulai diselimuti cahaya siang. Sudut bibirnya terangkat tipis. Semua langkah yang ia susun perlahan mulai bergerak menuju tujuan yang sama.
Masa depan Layla dan kedua anaknya.
****************
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️