NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pertemuan Dua Dunia di Atas Tikar Angkringan

Asap kelabu membubung tipis dari sela-sela jeruji panggangan, membawa aroma pekat kecap manis yang terbakar dan gurihnya lemak ayam yang meleleh menyentuh barisan arang kelapa. Di bawah bentangan terpal plastik biru-oranye yang bergoyang pelan setiap kali angin malam bertiup dari arah jalan raya, Angkringan Tenda Arema milik Surya tengah berada di puncak kesibukannya.

Suara tawa renyah sekelompok mahasiswa yang duduk bersila di atas tikar lesehan berkelindan dengan denting sendok yang beradu dengan gelas-gelas kaca setebal jempol, menciptakan sebuah harmoni malam yang bersahaja namun hidup.

Di balik gerobak kayu yang mulai memudar warna peliturnya, Elang berdiri dengan tubuh kaku. Tangannya yang biasa memegang kemudi kulit supercar kini mencengkeram selembar kipas bambu anyaman yang bilahnya sudah mulai terlepas. Setiap beberapa detik, ia harus mengesat pelipisnya menggunakan punggung lengan baju kaos oblong pudar milik Surya, mencoba menghalau tetesan keringat yang bercampur dengan percikan abu arang yang tipis. Kulit wajahnya yang biasa bersih berkat perawatan kelas atas, kini ternoda oleh beberapa coretan jelaga hitam di dekat tulang rahangnya.

Rasa perih di matanya akibat kepulan asap tak lagi ia hiraukan. Di dalam dadanya, ada sebuah perang batin yang jauh lebih menyiksa daripada rasa panas yang memancar dari tungku besi di depannya. Namun, setiap kali egonya berteriak meminta untuk melempar jepitan besi ini dan lari ke kegelapan malam, matanya akan menangkap sosok Surya yang sedang sibuk mengocok larutan es teh manis dengan senyuman ramah yang tak pernah luntur kepada para pelanggan.

Kesadaran bahwa Surya adalah satu-satunya manusia yang sudi menariknya dari dinginnya palung kematian dan memberinya tempat berteduh, memaksa Elang untuk tetap bertahan, menelan bulat-bulat sisa harga diri garis keturunannya yang telah runtuh menjadi debu.

Klek.

Suara gesekan tiang penyangga terpal di bagian depan tenda menandakan kedatangan pelanggan baru. Elang secara naluriah mengayunkan kipas bambunya lebih rendah, bersiap untuk mengambil beberapa tusuk sate usus lagi dari dalam wadah plastik.

"Cit, seriusan lo mau makan di sini? Rame banget, tahu. Tapi baunya emang enak sih, wangi jahe bakarnya berasa sampai luar," sebuah suara cempreng perempuan yang teramat familier memotong kebisingan di dalam tenda angkringan.

Elang mendongak secara mekanis. Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di dalam paru-parunya seolah tersedot habis oleh kekuatan tak kasat mata. Persendian tangannya mendadak membeku, membuat kipas bambu di genggaman kanannya berhenti bergerak di udara. Jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme gila yang menimbulkan rasa sesak yang mencekik tenggorokannya.

Di ambang masuk tenda terpal, Citra melangkah masuk dengan ketenangan yang mematikan, diikuti oleh Kirana yang sedang sibuk merapikan tas ransel kainnya. Citra mengenakan jaket denim pudar longgar dan celana kain hitam, rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, mengekspos lehernya yang jenjang serta wajahnya yang jelita tanpa riasan sedikit pun.

Elang merasakan dunianya kembali berputar terbalik dengan kecepatan makro. Dari seluruh manusia yang menempuh pendidikan di Universitas Dirgantara, dari ribuan mahasiswa yang berkeliaran di kota metropolitan ini, mengapa harus gadis ini? Mengapa harus musuh bebuyutannya, perempuan yang selama berbulan-bulan selalu ia rendahkan status sosialnya di depan umum, yang harus menyaksikan dirinya berada dalam kondisi paling mengenaskan, paling terhina, dan paling telanjang sebagai seorang pelayan angkringan pinggir jalan?

Gengsi purba Elang berontak hebat. Ia membalikkan badannya dengan panik, berniat menyusup ke balik tumpukan kardus logistik di sudut belakang gerobak demi menyembunyikan wajahnya yang kotor oleh jelaga. Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, sebuah sikut bertubuh kekar menyenggol rusuk kirinya dengan sangat keras dan sengaja.

"Ayo, Lang! Ojo malah mau ngumpet kayak kucing kecemplung got," bisik Surya setengah menyumpah, sepasang matanya berkedip penuh arti sembari menyodorkan selembar kertas nota kecil dan sebatang pulpen murahan ke dada Elang. "Itu ada pelanggan baru duduk di pojokan tikar. Sana catat pesanannya. Ingat, pembeli itu adalah raja, gak peduli dia itu teman sekelasmu atau bukan. Cepetan!"

Di seberang ruangan tenda yang sempit, Kirana yang baru saja melepas flatshoes-nya untuk duduk di atas tikar lesehan, mendadak menghentikan gerakannya. Matanya melotot lurus laksana melihat hantu yang bangkit dari kubur, mulutnya terbuka lebar tanpa suara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menyenggol bahu Citra dengan panik.

"Cit... Cit! Lo lihat gak siapa yang berdiri di balik gerobak itu?!" bisik Kirana dengan nada suara yang bergetar karena syok yang luar biasa. "Itu... itu bukannya si Elang, kan?! "

Berbeda dengan Kirana yang hampir mengalami serangan panik karena kejutan sosial tersebut, Citra justru mengalihkan pandangannya dengan teramat perlahan. Sepasang mata bulatnya yang tajam menatap lurus ke arah Elang yang sedang berdiri gemetar di dekat tungku arang.

Di dalam ruang bawah sadarnya, jiwa Nyai Kencana sama sekali tidak memancarkan emosi kepuasan atau keinginan untuk mencemooh kehancuran sang musuh. Ia melihat raga Elang yang berbalut celemek hijau tua dengan coretan jelaga di wajahnya bukan sebagai pemandangan yang memalukan, melainkan sebagai sebuah proses metamorfosis takdir yang sakral. Jiwa purbanya mengenali bahwa pemuda di hadapannya ini sedang dipaksa oleh semesta untuk berjalan di atas retakan tanah penderitaan, sebuah ritual wajib untuk mematangkan batin seorang pria agar bisa dibentuk ulang menjadi kesatria sejati yang sesungguhnya. Tatapan Citra tetap datar, dingin, namun menyimpan kedalaman empati psikologis yang misterius.

Dengan langkah kaki yang terasa seberat bongkahan timah dan kepala yang dipaksa tertunduk menatap ujung jemari kakinya sendiri, Elang melangkah mendekati meja lesehan tempat kedua gadis itu duduk. Setiap inci pergerakannya terasa laksana berjalan di atas hamparan paku panas yang menembus kulitnya.

Ia berhenti di tepi meja kayu pendek, tangan kanannya yang memegang pulpen bergetar hebat hingga ujung pulpen itu mengetuk-ngetuk permukaan kertas nota dengan bunyi klik yang monoton.

"M-mau... mau pesan apa?" tanya Elang, suaranya parau, terbata-bata, dan kehilangan seluruh sisa intonasi bariton yang biasa memancarkan keangkuhan palsu seorang pewaris tunggal. Ia salah tingkah setengah mati, matanya bergerak liar menatap dinding terpal, menolak keras untuk melakukan kontak mata langsung dengan Citra karena rasa malu yang meremukkan seluruh batin mudanya. Ia bersiap menahan napas, mengira bahwa Citra akan menggunakan momentum emas ini untuk melontarkan kalimat-kalimat pisau yang tajam demi membalas dendam atas seluruh rundungan verbal yang pernah ia layangkan di koridor kampus.

Namun, dugaan Elang meleset sepenuhnya.

Citra tidak mengubah posisi duduknya yang tegak lurus sempurna. Ia tidak menertawakan penampilan Elang, tidak membuang muka dengan pandangan jijik seperti yang dilakukan oleh Natasha, dan tidak menggunakan diksi meremehkan.

"Dua gelas wedang jahe bakar hangat dengan gula batu terpisah," ucap Citra, suaranya terdengar begitu jernih, berat, dan dipenuhi oleh nada sopan yang teramat formal seolah ia sedang berbicara dengan seorang pelayan profesional di dalam parlay istana agung. "Lalu, tolong berikan kami dua bungkus nasi kucing teri, sepasang sate usus, dan dua tusuk sate telur puyuh yang dibakar dengan lumuran kecap manis hingga harum arangnya meresap sempurna. Terima kasih."

Elang terpaku selama beberapa saat, jemarinya bergerak kaku mencoret-coret kertas nota sesuai dengan kalimat yang diucapkan Citra. Sikap sopan dan dingin dari Citra justru membuat harga dirinya terasa aneh; ada rasa bersalah yang mendadak merayap di sudut batinnya, menyadari betapa menjijikkannya perilakunya di masa lalu jika dibandingkan dengan keanggunan pembawaan gadis di hadapannya ini.

"B-baik. Ditunggu sebentar," bisik Elang pelan, hampir tak terdengar di antara riuh rendah tawa mahasiswa di tikaran sebelah.

Ia membalikkan badannya dengan cepat, berniat segera kembali ke keamanan di balik gerobak kayu sebelum sisa kewarasannya runtuh total karena tekanan psikologis yang intens ini. Namun, baru saja kaki kanannya mengambil satu langkah menjauh dari tepi meja lesehan, sebuah suara lirih namun memiliki frekuensi tekanan berwibawa yang mengunci mendadak memotong udara malam di dalam tenda.

"Elang Dirgantara."

Langkah kaki Elang terkunci seketika di tempatnya berdiri, seolah-olah sepasang pergelangan kakinya telah dipaku ke atas tanah semen oleh kekuatan gaib. Tubuhnya membeku, membelakangi meja lesehan.

Di dekat gerobak, Surya yang sedang memegang teko seng raksasa untuk menuangkan teh manis hangat mendadak menghentikan seluruh gerakannya di udara. Matanya melirik tajam ke arah sudut meja tersebut, insting ramahnya menangkap adanya arus bawah ketegangan misterius yang teramat pekat yang mendadak merayap di antara kedua remaja itu, membekukan seluruh atmosfer di bawah naungan terpal angkringan dalam sekejap mata.

Citra mendongakkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah punggung tegap Elang yang kini sedang berbalut celemek hijau tua yang kusam.

"Arang yang hitam dan kotor... adalah satu-satunya benda di muka bumi ini yang memiliki kesetiaan untuk mematangkan daging di atas tungku pembakaran," ucap Citra, setiap penekanan katanya terdengar begitu puitis namun sarat akan bobot filosofis purba yang menembus langsung ke dalam ruang bawah sadar Elang. "Jangan biarkan matamu terikat pada warna jelaga yang mengotori jemarimu malam ini, karena raga yang menolak untuk hancur di dalam abu pertempuran... tidak akan pernah layak untuk memegang hulu pedang kehormatan di masa depan."

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!