Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burung Dara dan Benang Takdir yang Terputus
Udara pagi di kaki bukit perbatasan Tang Yang terasa begitu jernih, mengikis sisa-sisa kabut belerang yang semalaman memeluk paviliun tersembunyi milik Tabib Heo Jun. Naomi berdiri di selasar kayu, menatap hamparan lembah hijau yang membentang di hadapannya. Di atas telapak tangan kanannya yang gemetar, bertengger seekor burung dara bermata manik hitam yang tenang.
Sepucuk surat kecil yang digulung rapi dan diikat dengan benang rami tipis telah terpasang di kaki burung tersebut. Itu adalah surat yang ditulisnya semalam dengan tinta jelaga rahasia yang diberikan oleh Angel, surat yang membawa seluruh sisa jiwanya kembali ke menara barat Sanjaya.
"Bawa ini kepadanya," bisik Naomi lirih, suaranya bergetar saat ia mengusap bulu halus di kepala burung dara itu. "Temukan sang pangeran yang terkurung di balik tembok batu. Katakan padanya bahwa aku masih bernapas."
Angel, yang pagi itu telah kembali menjadi seekor angsa putih cantik, bertengger di pagar selasar tepat di samping Naomi. Ia mengepakkan sayapnya pelan, seolah memberikan dorongan spiritual pada burung utusan tersebut. Dengan satu hentakan lembut dari tangan Naomi, burung dara itu mengepakkan sayapnya, melesat membelah langit abu-abu, membawa terbang harapan terakhir Naomi ke arah barat, menuju kerajaan yang telah membuangnya.
Naomi menatap kepergian burung itu hingga siluetnya hilang di balik gumpalan awan. "Ares... kuharap kau mendengar jeritanku melalui carik kertas itu," gumamnya, memegangi lengan kirinya yang kini dihiasi rajah rune hitam yang terasa hangat dan berdenyut pelan, tanda bahwa tanah ini mulai menerimanya.
Sementara itu, di Kerajaan Sanjaya, atmosfer istana terasa begitu mencekam dan menyesakkan. Di menara barat yang tinggi, Pangeran Ares duduk bersandar di balik pintu ek tebal yang dikunci rapat dari luar oleh tiga lapis rantai besi. Kamar mewahnya kini menjelma menjadi penjara emas yang sunyi. Di luar pintu, derap langkah kaki para pengawal elit berbaju zirah emas terdengar bersahut-sahutan, memastikan sang Putra Mahkota tidak memiliki celah sedikit pun untuk meloloskan diri.
Ares menatap langit dari balik jeruji jendela kamarnya. Matanya merah, dikobarkan oleh amarah dan rasa frustrasi yang tak bertepi. Ia tahu, esok pagi, genderang perang dan terompet penyambutan akan kembali bertalu-talu di pelataran istana. Kereta kencana berlambang pegasus hitam milik Kerajaan Warden akan tiba sekali lagi untuk mengantarkan Princess Ciara.
Raja Sanjaya dan Ratu Ara telah memutuskan sepihak bahwa aliansi politik yang sempat ternoda oleh insiden rune itu harus tetap berjalan di atas altar pernikahan, tidak peduli meskipun jiwa Ares telah mati bersama pengusiran saudarinya.
"Kau mengurung ragaku, Ayah," desis Ares dengan rahang mengeras, menatap tajam ke arah gerbang luar istana yang mulai dihiasi umbul-umbul merah dan perak. "Tapi jika terjadi sesuatu pada Naomi di luar sana, aku bersumpah demi leluhur Sanjaya, aliansi ini akan menjadi awal dari kehancuran takhtamu."
Ares tidak tahu bahwa di luar jendelanya, seekor burung dara putih sedang berputar-putar di sela-sela menara, mencari celah di antara embusan angin musim gugur untuk menyampaikan pesan rahasia yang ditulis dengan tetesan air mata.
Namun, di belahan bumi yang lain, nasib yang jauh lebih kejam sedang menjerat dua jiwa yang paling dicintai Naomi. Di bawah tanah Kerajaan Warden, jauh di lubuk labirin batu yang tidak pernah tersentuh oleh hangatnya sinar matahari, Martha dan Ingdrit mendekam di dalam sel besi yang dingin dan lembap. Bau lumut dan genangan air yang berkarat menusuk hidung mereka yang kian memutih akibat hawa dingin yang ekstrem.
Martha terduduk di sudut sel, memeluk lututnya sendiri yang gemetar hebat, sementara Ingdrit berdiri mencengkeram jeruji besi dengan tangan yang dipenuhi luka goresan akibat rantai penahan.
Di luar sel mereka, langkah kaki yang anggun namun sarat akan keangkuhan terdengar mendekat. Raja Warden dan Ratu Cici berdiri di balik jeruji, menatap kedua pelayan Sanjaya itu seperti sepasang elang yang mengawasi mangsa yang sudah patah sayapnya.
"Kalian tampak sangat menderita, para pelayan Sanjaya," suara Ratu Cici terdengar seperti desis ular, memecah kesunyian ruang bawah tanah.
Ingdrit mendongak, matanya menatap tajam meskipun tubuhnya sudah kepayahan. "Kalian sudah mendengar kebenaran dari kami! Mengapa kami masih dikurung di tempat terkutuk ini? Kami bukan tawanan perang!"
Raja Warden tertawa rendah, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Martha meremang. "Tawanan perang? Bukan, Pak Tua. Kalian jauh lebih berharga dari sekadar tawanan perang biasa. Kalian adalah umpan."
Raja Warden melangkah selangkah lebih dekat, mencengkeram jeruji besi sel dengan sarung tangan kulitnya yang mahal. "Gadis ber-rune itu... putri dari Victoria itu pasti akan mencari kalian jika ia masih hidup. Dan saat ia melangkah masuk ke wilayahku untuk menyelamatkan kedua orang tua angkatnya yang bodoh ini, aku akan memastikan rune purba itu menjadi milik Kerajaan Warden. Sampai saat itu tiba, nikmatilah dinginnya batu-batu ini."
Raja dan Ratu Warden kemudian berbalik pergi, meninggalkan gema tawa yang bersahut-sahutan di dalam kegelapan lorong bawah tanah. Martha kembali terisak dalam pelukan Ingdrit, menyadari bahwa benang takdir mereka kini telah terikat dalam jaring konspirasi yang jauh lebih besar, di mana Naomi kini menjadi target buruan dari tiga kerajaan yang haus akan kekuasaan mutlak.