Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjauh darinya
Arla mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Abimana tentang bagaimana laki-laki itu masih berharap Diana kembali padanya.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh orang tuanya sendiri, Arla merasa bahwa cinta dan kasih sayang itu sangat mahal. Bertahun-tahun ia memberi uang kepada keluarganya dalam jumlah yang sangat besar, hasil dari kerja keras yang tidak pernah ringan. Arla berpikir bahwa dengan uang sebanyak itu, orang tuanya akan menyadari betapa ia mencintai mereka. Namun ia salah. Uang tetaplah uang, dan kasih sayang tetaplah kasih sayang. Keduanya tidak pernah bisa dipertukarkan.
Cinta adalah sesuatu yang Arla dambakan hampir sepanjang hidupnya, namun kini ia mulai menyadari bahwa mungkin ia hanya tidak beruntung.
Arla bekerja keras mati-matian untuk mendapatkan cinta, sedangkan orang lain mendapatkannya dengan begitu mudah.
Wanita bernama Diana itu jelas adalah gadis yang beruntung, namun juga seseorang yang tidak tahu malu. Bagaimana bisa ia mendapatkan cinta dari dua laki-laki sekaligus tanpa merasa bersalah sedikit pun? Bahkan hampir tujuh tahun lamanya. Jika Abimana tidak menemukan kenyataan bahwa ia dipermainkan, apakah gadis itu akan terus membohonginya selamanya?
Meski begitu, Arla tetap tidak habis pikir—bagaimana bisa Abimana masih mencintai gadis itu…
Apakah Diana jauh lebih cantik darinya?
Abimana terus menangis tanpa malu-malu. Ia tidak memperhatikan wajah istrinya yang mulai masam. Ia hanya fokus melampiaskan rasa frustasinya pada kenyataan bahwa dirinya hanyalah sebuah selingan.
Setelah puas tenggelam dalam kesedihan, Abimana akhirnya merasa lelah dan mengantuk. Mungkin karena ia sudah terlalu mabuk, atau karena emosinya sudah terkuras habis, ia akhirnya merasa ingin beristirahat.
“Aku ingin kembali ke kamar.”
“Ya, beristirahatlah. Matamu sudah membengkak dan merah, itu akan membuatmu tidak nyaman jika menahan kantuk lebih lama lagi. Tapi sebelum itu, lepas dulu kemeja dan sabukmu. Itu dipenuhi keringat dan tidak nyaman kalau dipakai tidur.”
“Maafkan aku karena merepotkan mu.”
“Tidak apa-apa, lagipula aku istrimu.”
Mendengar itu, Abimana terdiam dan menatap Arla dengan tatapan tak enak hati.
“Apakah kamu marah karena aku menceritakan soal wanita lain?”
Arla menatap Abimana dan membalasnya dengan senyuman. Di dalam hati, Arla ingin menjawab dengan lantang: ya, aku marah.
Ia marah karena bukan dirinya alasan Abimana menangis.
Ia marah karena bukan dirinya alasan Abimana patah hati.
Ia marah karena bukan dirinya alasan Abimana… jatuh cinta.
Arla marah karena wanita itu adalah alasan Abimana melakukan semuanya.
Arla ingin menjadi wanita itu.
Arla ingin menjadi alasan kenapa Abimana menangis.
Arla ingin menjadi alasan kenapa Abimana patah hati.
Arla ingin menjadi alasan kenapa Abimana jatuh cinta…
Namun pada akhirnya, Arla hanya membelai wajah suaminya dan tersenyum cerah.
“Wanita mana pun itu, tidak akan bisa menggoyahkan kedudukanku sebagai nyonya Abimana. Aku akan selalu menjadi istrimu, dan kedudukanku selamanya akan jauh lebih tinggi darinya.”
Ucapan Arla yang terdengar sombong namun kekanakan membuat Abimana tertawa kecil. Arla selalu tahu cara membuatnya sedikit lebih tenang.
“Terima kasih karena menjadi istri yang pengertian."
Abimana terdiam sejenak, lalu kembali menatap istrinya dan bertanya pelan.
“Arla, menurutmu apakah aku jahat? Aku berharap Reza melepaskan Diana dan kembali padaku.”
Arla terdiam. Ia berusaha mencari jawaban yang bisa membuat Abimana menjauh dari wanita itu, agar pikirannya hanya tertuju padanya.
“Ya, menurutku kamu jahat. Bukan jahat pada orang lain, tapi jahat pada dirimu sendiri. Dia telah mempermainkan perasaanmu, membuatmu bertingkah bodoh selama bertahun-tahun. Dia juga membuatmu patah hati dan menangis, hatimu merasa sakit tapi kamu mengabaikannya dan masih berharap wanita itu kembali. Lagipula dibandingkan wanita itu, kamu harusnya memikirkan sahabatmu sendiri. Bagaimana bisa kamu membiarkan sahabatmu diselingkuhi oleh kekasihnya selama bertahun-tahun?”
“Begitu kah?”
“Ya. Jadi lupakan saja gadis itu. Kamu bayangkan temanmu diselingkuhi hampir tujuh tahun dan dia belum tahu kebenarannya sampai sekarang. Kalau dia tahu bahwa pacar yang selama ini ia jaga ternyata menyelingkuhinya dengan sahabatnya sendiri, bagaimana perasaannya nanti? Daripada memikirkan wanita itu, kenapa kamu tidak memikirkan sahabatmu? Jelas dia jauh lebih tulus padamu.”
Abimana terdiam. Ia teringat kembali bagaimana Diana selalu ikut ke mana pun mereka pergi, seolah ia dan Reza tak terpisahkan. Dulu ia berpikir Diana hanya tidak ingin jauh darinya, tapi sekarang… mungkin ia salah. Diana tampaknya tidak ingin jauh dari Reza.
“Kamu benar. Reza jauh lebih berharga dari Diana. Seharusnya aku lebih memikirkan dia karena yang paling tersakiti dari hubungan ini adalah dia, karena sampai sekarang dia belum tahu kebenarannya.”
“Lalu apakah kamu akan memberitahunya soal hubungan itu?”
Abimana berubah menjadi ragu dan khawatir. Saat mereka minum sebelumnya, ia melihat dengan jelas betapa bahagianya Reza setiap kali menyebut Diana. Reza juga tampak begitu yakin saat mengatakan bahwa ia akan melamar Diana dalam waktu dekat. Jelas sekali Reza sangat mencintai Diana.
“Aku sempat ingin mengatakannya, tapi dia sepertinya sangat mencintai Diana. Reza mengatakan bahwa dia sudah berbicara dengan orang tua Diana dan berencana melamarnya dalam waktu dekat. Dia terlihat sangat bahagia… aku tidak sanggup menghancurkan kebahagiaannya.”
“Kalau begitu kamu harus bersikap tegas pada dirimu sendiri. Kalau kamu tidak tega mengungkapkan kebenaran, setidaknya kamu tidak lagi menjadi selingan pacarnya. Menjauh dari gadis bernama Diana itu, itu akan lebih baik untuk hubungan persahabatan kalian.”
“Ya, aku rasa kamu benar.”
Arla tersenyum sumringah. Ia akhirnya berhasil mengarahkan Abimana untuk menjauh dari wanita itu. Lagipula, wanita itu sudah memiliki Reza, jadi seharusnya ia melepaskan Abimana.
Abimana sendiri masih awam soal cinta. Meski sudah berusia 30 tahun, pengalamannya hanya berpusat pada Diana. Jadi tidak sulit membuatnya merasa bersalah pada sahabatnya sendiri.
Jika ia tidak bisa menyembuhkan patah hati Abimana, maka Arla memilih cara lain—membuat Abimana menjauh dari Diana melalui rasa bersalah pada Reza.
Meski begitu, Arla tetap merasa penasaran pada sosok wanita bernama Diana itu. Kenapa Abimana bisa mencintainya sedemikian rupa, seolah dunia berputar hanya untuknya? Hal itu membuat Arla tidak suka… dan juga cemburu.
Jika suatu hari nanti Arla bertemu Diana, ia ingin memperhatikannya dengan seksama. Ia ingin belajar bagaimana cara membuat laki-laki seperti Abimana bisa begitu takluk dan jatuh cinta.
Jika ia bisa mempelajarinya, apakah Abimana akan mencintainya di masa depan?
Apakah Abimana akan menangis dengan cara yang sama untuknya?