NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Setelah Penantian 3 Hari

Keduanya mulai beradu mulut dengan sengit di tengah lobi. Baskara hanya berdiri mematung di antara kedua pria berkuasa itu. Ia merasa seperti debu yang tak berarti. Di satu sisi, papanya menghujatnya dengan kebenaran yang memilukan, dan di sisi lain, ayah Aruna, pria yang paling berhak membencinya justru mencoba bersikap objektif meski hatinya hancur.

​Hinaan papanya terasa benar, namun pembelaan Deon Prawijaya justru terasa ribuan kali lebih menyakitkan bagi Baskara. Ia merasa tidak layak dibela oleh ayah dari gadis yang telah ia hancurkan.

​"Cukup..." gumam Baskara pelan, namun tidak ada yang mendengar.

​"CUKUP!" Baskara akhirnya berteriak, menghentikan perdebatan kedua orang tua itu. "Papa benar. Om Deon juga benar. Aku yang salah. Aku yang paling bersalah di sini. Jadi tolong... jangan bertengkar karena aku. Aku akan melakukan apa pun, bahkan jika aku harus kehilangan gelarku atau dipenjara sekalipun, asalkan Aruna bangun."

​Setelah mengucapkan itu, Baskara berbalik dan kembali berlari menuju ruang isolasi, meninggalkan kedua orang tua itu dalam keheningan yang menyesakkan. Ia sadar, perdebatan tentang siapa yang salah tidak akan merubah detak jantung Aruna yang kian melemah di dalam sana.

Tiga hari telah berlalu, namun waktu seolah berhenti di lorong rumah sakit itu. Aruna masih terbaring kaku dengan berbagai selang yang menopang hidupnya. Tidak ada tanda-tanda kesadaran, bahkan kelopak matanya tidak bergerak sedikit pun meski hari sudah berganti. Keheningan yang mencekam itu akhirnya pecah saat pintu ruang isolasi terbuka dan dokter keluar dengan raut wajah yang lebih tenang dari sebelumnya.

​"Kondisinya sudah melewati masa kritis yang paling berbahaya, meskipun ia belum sadar," ucap dokter pelan. "Kalian boleh masuk sekarang, tapi tolong, jangan berisik. Hanya beberapa orang saja secara bergantian. Jantungnya masih sangat sensitif terhadap rangsangan suara yang mendadak."

​Mendengar izin itu, Ratna tidak menunggu sedetik pun. Ia langsung menghambur masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna putih itu. Di belakangnya, Deon Prawijaya mengikuti dengan langkah berat, disusul oleh Devan dan Theo yang tampak sangat lesu. Baskara dan orang tuanya berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk terlalu jauh, seolah merasa tak pantas menginjakkan kaki di ruang suci penuh penderitaan itu.

​Begitu sampai di samping tempat tidur, tangis Sang ibu pecah tanpa suara. Ia menggenggam tangan Aruna yang terasa sangat dingin. "Sayang... ini Mama. Bangun, Nak. Katanya mau pulang ke Indonesia? Katanya mau bantu petani di desa? Ayo bangun..."

​Devan dan Theo berdiri di kaki tempat tidur. Mereka menatap sahabat mereka yang kini terlihat sangat mungil di balik jubah rumah sakit yang besar. Devan mengepalkan tangannya, mencoba menahan air mata yang kembali mendesak keluar. Ia melihat monitor jantung yang berbunyi teratur namun lemah, setiap dentumannya seolah mengingatkan mereka betapa tipisnya batas antara hidup dan mati Aruna saat ini.

​"Aruna, kamu sudah lulus," bisik Theo lirih, suaranya bergetar. "Ijazahmu ada di kami. Kamu sudah menang, Aruna. Jangan tidur terlalu lama, ya?"

​Sementara itu, Baskara hanya berdiri mematung di sudut ruangan, di balik bayangan. Matanya tertuju pada wajah Aruna yang pucat pasi, namun kini tanpa masker oksigen yang menutupi seluruh wajahnya, hanya selang kecil di hidungnya. Baskara melihat betapa damainya wajah itu, seolah Aruna akhirnya menemukan ketenangan yang selama empat tahun ini dirampas darinya.

​Namun, kedamaian itu justru membuat Baskara ketakutan. Ia takut jika Aruna merasa terlalu nyaman dalam tidurnya dan memilih untuk tidak bangun lagi. Penyesalan yang selama tiga hari ini ia pendam terasa semakin menyesakkan dadanya. Ia ingin mendekat, ingin memohon maaf, namun melihat bagaimana Deon dan Ratna begitu mencintai putri mereka, Baskara merasa dirinya hanyalah noda hitam di tengah momen penuh kasih tersebut.

​Tiba-tiba, suara bip dari monitor jantung sedikit berubah ritmenya. Jari-jari tangan Aruna yang digenggam Ratna memberikan gerakan halus, sebuah kedutan kecil yang hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat seluruh orang di ruangan itu menahan napas serentak.

​"Dokter! Tangannya bergerak! Aruna bergerak!" seru Amrita dengan suara tertahan, takut mengejutkan putrinya.

​Semua mata tertuju pada Aruna. Baskara secara tidak sadar melangkah maju satu tindak, jantungnya berdegup kencang. Inikah saatnya? Ataukah ini hanya reaksi spontan tubuh yang semakin melemah? Lorong waktu tiga tahun penderitaan Aruna seolah sedang dipertaruhkan dalam satu gerakan jemari itu.

Keheningan di dalam ruang perawatan yang steril itu mendadak pecah oleh suara lenguhan kecil. Kelopak mata Aruna yang selama tiga hari terpejam rapat, perlahan-lahan bergerak, bergetar, sebelum akhirnya terbuka dengan sangat lambat. Cahaya lampu rumah sakit yang putih bersih membuat penglihatannya kabur sejenak, namun saat kesadarannya mulai terkumpul, ia disambut oleh banyak wajah yang memenuhi pandangannya.

​Aruna mengerjapkan mata berkali-kali. Ia merasa tubuhnya sangat ringan, namun di saat yang sama, ada rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menemukan dirinya terbaring dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.

​"Kenapa... kenapa ramai sekali?" suara Aruna keluar sangat lirih, hampir seperti bisikan. "Kenapa aku bisa di sini? Dan kenapa... kenapa dingin sekali?"

​Mendengar suara itu, Ratna langsung menangis tersedu-sedu sambil menciumi kening putrinya. "Sayang, syukurlah kamu bangun. Jangan banyak gerak dulu, ya. Kamu di rumah sakit, Nak."

​Di ujung tempat tidur, Devan dan Theo bergerak dengan cekatan. Devan, yang biasanya banyak bicara, kini hanya diam dengan mata berkaca-kaca sambil memijat lembut kaki Aruna yang terasa sedingin es. Theo berdiri di sisi lain, mengusap punggung tangan Aruna dengan penuh kasih sayang, memastikan bahwa sahabat mereka benar-benar telah kembali dari tidur panjangnya.

​Baskara berdiri di pojok ruangan, di balik bayangan tirai. Ia tidak berani mendekat. Ia hanya bisa melihat dari jauh, menatap wajah Aruna yang masih pucat pasi. Hatinya seperti diremas melihat bagaimana Devan dan Theo begitu tulus memperlakukan Aruna, sementara ia sendiri hanya bisa menjadi penonton dari penderitaan yang ia ciptakan.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!