NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH DI KEDIAMAN GU

Suasana di kediaman Jenderal Gu terasa sangat sunyi.

Langit sore yang mendung membuat halaman luas kediaman itu tampak semakin muram. Angin dingin berembus pelan melewati pepohonan tua di sekitar aula utama. Bahkan para pelayan dan penjaga berjalan dengan langkah hati-hati, seolah takut membuat suara terlalu keras.

Semua orang tahu suasana hati Jenderal Gu Zhengyuan sedang buruk.

Sangat buruk.

Sejak Gu Yanran berangkat menuju Pegunungan Utara bersama seratus prajurit pilihan, pria tua itu hampir tidak berbicara kepada siapa pun.

Di dalam aula utama, Gu Zhengyuan duduk sendirian sambil memandangi cangkir teh yang sudah dingin sejak lama.

Tatapannya kosong.

Namun aura tekanan yang keluar dari tubuhnya masih terasa menakutkan.

Tak ada seorang pelayan pun yang berani mendekat.

Saat itulah langkah kaki perlahan terdengar dari luar aula.

Gu Zhengyuan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.

“Kau mau apa datang ke sini?” tanyanya dingin.

Mo Chen yang baru masuk ke aula hanya tersenyum kecil.

“Bahkan dalam suasana seperti ini, Jenderal Gu masih bisa merasakan kehadiranku.”

Gu Zhengyuan mendengus pelan.

“Tidak usah basa-basi.”

Tatapannya perlahan beralih ke Mo Chen.

“Katakan tujuanmu datang.”

Aura dingin langsung memenuhi ruangan.

Namun Mo Chen tetap terlihat santai seperti biasa.

Ia berjalan mendekat lalu duduk sembarangan di kursi seberang Gu Zhengyuan.

“Aku datang menemani seorang ayah yang sedang terpuruk.”

Ucapan itu terdengar seperti candaan.

Ia sengaja mengatakannya untuk mencairkan suasana.

Namun Gu Zhengyuan sama sekali tidak tertawa.

“Jangan hari ini,” ucapnya pelan.

“Aku tidak ingin meladenimu.”

Mo Chen memperhatikan wajah pria itu beberapa saat.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat sisi lain dari Gu Zhengyuan.

Bukan Jenderal besar yang disegani seluruh kekaisaran.

Bukan pahlawan perang yang ditakuti musuh.

Melainkan...

Seorang ayah yang sedang ketakutan kehilangan anaknya.

Dan entah kenapa, pemandangan itu membuat hati Mo Chen terasa berat.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil pedang kayu latihan yang bersandar di dekat dinding.

SWIING!

Pedang itu langsung dilempar ke arah Gu Zhengyuan.

Pria tua itu menangkapnya dengan mudah.

Tatapannya sedikit berubah.

“Mau melampiaskan amarahmu?” tanya Mo Chen santai.

“Ayo ke tempat latihan.”

Gu Zhengyuan terdiam.

Tatapannya perlahan turun ke pedang di tangannya.

Dan tanpa sadar...

Ia teringat sesuatu.

Dulu, ketika Gu Yanran masih kecil dan dirinya pulang dari medan perang dengan wajah penuh tekanan, anak itu juga sering melakukan hal yang sama.

Yanran kecil akan menarik lengannya menuju tempat latihan sambil berkata—

“Ayah, ayo bertarung denganku.”

Gu Zhengyuan perlahan memejamkan mata sesaat.

Kenangan itu terasa terlalu jelas.

Mo Chen yang melihat reaksinya lalu tersenyum kecil.

“Tenang saja.”

“Aku sekarang calon suami Yanran.”

“Anggap saja aku anakmu sendiri.”

Mata Gu Zhengyuan langsung terbuka.

Tatapan dingin kembali muncul di wajahnya.

“Siapa yang mau menganggapmu anak?”

Mo Chen tertawa kecil.

“Nah, itu baru Jenderal Gu yang kukenal.”

Sudut bibir Gu Zhengyuan akhirnya sedikit bergerak.

Meski sangat tipis.

Namun itu cukup membuat suasana sedikit lebih baik.

Tak lama kemudian, keduanya sudah berada di tempat latihan belakang kediaman Gu.

Langit mulai berubah gelap.

Angin sore berembus pelan melewati arena latihan yang luas itu.

Mo Chen dan Gu Zhengyuan berdiri saling berhadapan sambil memegang pedang kayu.

Tatapan keduanya sama-sama tajam.

Namun suasana di antara mereka tidak benar-benar bermusuhan.

Gu Zhengyuan mengangkat pedangnya perlahan.

“Aku tidak akan menahan diri.”

Mo Chen tersenyum tipis.

“Aku juga tidak berniat kalah terlalu mudah.”

BRAK!

Dalam sekejap, keduanya langsung bergerak bersamaan.

Bunyi benturan pedang langsung menggema di seluruh tempat latihan.

KLANG!

KLANG!

KLANG!

Gerakan Gu Zhengyuan cepat dan penuh tekanan.

Setiap ayunan pedangnya terasa berat seperti gunung.

Namun Mo Chen mampu menghindar dan menahan serangannya dengan cukup baik.

Hal itu membuat mata Gu Zhengyuan sedikit menyipit.

“Kau cukup hebat juga,” ucapnya sambil terus menyerang.

Mo Chen tersenyum kecil.

“Tidak sehebat Gu Yanran.”

Mendengar nama putrinya, Gu Zhengyuan terdiam sesaat.

Namun pedangnya tetap bergerak.

KLANG!

Pedang mereka kembali bertabrakan.

Percikan kecil beterbangan.

Mo Chen sengaja terus berbicara untuk mengalihkan pikiran pria tua itu.

“Tenang saja.”

“Yanran akan kembali dengan selamat.”

Gu Zhengyuan tidak menjawab.

Mo Chen kembali berkata,

“Aku percaya padanya.”

“Dia panglima wanita pertama di kekaisaran.”

“Dan yang lebih penting... dia adalah putrimu.”

Gerakan pedang Gu Zhengyuan perlahan mulai melambat.

Tatapannya sedikit berubah.

KLANG!

KLANG!

Suara benturan pedang terus bergema.

Namun suasana hati Gu Zhengyuan perlahan mulai stabil.

Beberapa saat kemudian...

Sudut bibir pria tua itu akhirnya terangkat tipis.

“Ya.”

“Dia memang anakku.”

Mo Chen ikut tersenyum.

Melihat pria tua itu kembali bicara normal membuatnya sedikit lega.

Namun tepat saat dirinya lengah—

BUUK!

Pedang kayu di tangannya langsung terpental jauh.

KLANG!

Pedang itu jatuh ke tanah.

Gu Zhengyuan mendengus kecil.

“Kau kalah.”

Mo Chen menatap tangannya yang kosong beberapa detik sebelum tertawa pasrah.

“Seperti yang kuduga.”

“Kau masih jauh dari Yanran,” ucap Gu Zhengyuan sambil menyimpan pedangnya.

Mo Chen langsung mengangkat kedua tangannya menyerah.

“Ya, ya, ya.”

“Anakmu memang monster.”

“Tentu saja.”

Jawaban Gu Zhengyuan terdengar penuh kebanggaan.

Dan untuk pertama kalinya sejak Yanran pergi, pria tua itu benar-benar tersenyum.

Malam mulai turun perlahan.

Keduanya akhirnya duduk di tepi tempat latihan sambil meminum arak hangat.

Suasana jauh lebih santai dibanding sebelumnya.

Mereka mulai berbicara banyak hal.

Tentang perang.

Tentang politik istana.

Tentang Gu Yanran kecil yang sering membuat masalah saat berlatih pedang.

Mo Chen mendengarkan semuanya sambil tersenyum kecil.

Namun perlahan, suasana kembali berubah ketika Gu Zhengyuan mendadak terdiam cukup lama.

Tatapannya mengarah ke langit malam.

Lalu ia berkata pelan,

“Ibu Yanran meninggal saat melahirkannya.”

Mo Chen sedikit terkejut.

Ini pertama kalinya Gu Zhengyuan membicarakan masa lalunya.

“lebih tepatnya setelah melahirkan nya”

“Aku tahu kematiannya tidak wajar,” lanjut pria itu pelan.

“Sebulan sebelum Yanran lahir, aku diperintahkan pergi ke perbatasan.”

Tatapan Gu Zhengyuan perlahan berubah dingin.

“Saat itu aku sudah merasa ada yang tidak beres.”

“Tapi aku tidak bisa menolak titah Kaisar.”

Mo Chen langsung terdiam.

Ia mulai memahami arah cerita ini.

“Selama di perbatasan, aku terus merasa gelisah.”

“Lalu suatu hari kabar datang...”

“Putriku lahir.”

Sudut bibir Gu Zhengyuan perlahan terangkat tipis.

“Saat mendengar itu, aku sangat bahagia.”

“Putra ataupun putri, aku tetap bahagia.”

“Karena itu anakku.”

Tatapannya perlahan melembut.

“Setelah semua urusan di perbatasan selesai, aku langsung pulang tanpa berhenti sedikit pun.”

“Aku ingin segera melihat istriku.”

“Ingin melihat anakku.”

Suara Gu Zhengyuan mulai serak.

Namun ia tetap melanjutkan.

“Tapi saat aku tiba di kediaman Gu...”

Tatapannya perlahan berubah kosong.

“Yang kulihat hanyalah darah.”

Mo Chen langsung mengepalkan tangannya pelan.

“Darah ada di mana-mana.”

“Mayat para pelayan bergelimpangan.”

“Aula utama hancur.”

“Aku langsung berlari menuju kamar istriku.”

Napas Gu Zhengyuan mulai berat.

“Dan di sana...”

“Istriku sudah bersimbah darah.”

Mata Mo Chen perlahan membesar.

Adegan itu...

Tidak pernah ada di novel yang ia tulis.

Tidak pernah.

“Sayang... bertahanlah...”

“Itu yang kukatakan padanya.”

“Namun dia bahkan sudah sulit bernapas.”

Tatapan Gu Zhengyuan mulai memerah.

“Tapi saat melihatku datang... dia tersenyum.”

“Ia menunjuk ke arah ruang rahasia di belakang lemari.”

“Lalu berkata...”

‘Namanya Yanran.’

‘Dia ada di sana.’

‘Jagalah anak kita.’

Suara Gu Zhengyuan perlahan bergetar.

“Itu kalimat terakhirnya.”

“Setelah itu... dia meninggal.”

Suasana langsung sunyi.

Hanya suara angin malam yang terdengar pelan.

Mo Chen benar-benar terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini...

Ia benar-benar sadar.

Ini bukan lagi sekadar novel.

Bukan sekadar cerita yang ia tulis sambil duduk santai

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!