Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak-Anakku!
Mendengar pengakuan yang keluar dari bibir Arini, Kayden tidak lantas terkejut. Ia justru meringis, lalu sedetik kemudian tawa sinis yang hambar lolos dari belahan bibirnya.
"Istriku?" kekeh Kayden dingin, menatap Vivian dengan pandangan penuh cemooh. "Lagi-lagi kau membual. Kemarin kau mengaku sebagai istriku, dan sekarang kau mau menipu semua orang di sini? Sandiwara apa lagi ini, hah?!"
"Aku tidak bersandiwara, Kayden!" seru Vivian berapi-api. Ia memukul dadanya sendiri dengan telapak tangan, mencoba meyakinkan pria berhati batu di hadapannya. "Jiwa Vivian Marvis ada di dalam tubuh ini! Aku benar-benar istrimu, Kayden! Mengapa kau begitu buta untuk memercayainya?!"
Namun, Kayden menggeleng kasar. Baginya, ucapan wanita di depannya ini sudah di luar nalar. Bukan hanya Kayden, Nicolas dan Arsen yang berdiri di sana pun menatap Vivian dengan pandangan prihatin sekaligus sangsi. Mereka mengira wanita itu sudah benar-benar gila atau kehilangan akal sehatnya karena tekanan batin.
Malas meladeni apa yang dianggapnya sebagai kegilaan, Kayden semakin mendekatinya. "Cukup omong kosongmu!" geramnya ingin merebut Deana dan Baby Elvano.
Vivian dengan sigap menarik Deana mundur, membentengi anak-anak itu.
"Serahkan kedua anakku sekarang juga!" bentak Kayden, suaranya menggelegar penuh amarah yang meluap. "Berhenti berpura-pura menjadi istriku! Istriku yang agung adalah wanita tercantik dan terhormat di dunia ini! Dia bukan wanita jelek, miskin, dan murahan sepertimu yang lancang mencuri anak orang lain! Sadar dirimu, jalang sialan!"
PLAKK!
Satu hantaman keras memotong makian kejam Kayden. Suara tamparan itu menggema begitu nyaring di teras yang seketika berubah hening mencekam.
Semua orang tersentak hebat. Di belakang Kayden, Davin menelan ludah merasa tak percaya. Seumur hidupnya bekerja di bawah perintah sang Black Valley, tidak ada satu pun manusia di dunia bawah yang berani menyentuh seujung kuku pun tubuh Kayden Gilbert. Dan hari ini... seorang pelayan wanita baru saja menampar wajah bosnya.
“Wanita ini... bener-bener cari mati!” gumam Davin dalam hati, meremang ngeri menanti ledakan murka Kayden.
Vivian menatap telapak tangannya yang memerah, lalu mendongak menatap Kayden dengan air mata kemarahan yang berlinang. "Tidak apa-apa jika kau tidak memercayaiku, Kayden. Tapi yang jelas... Vivian Marvis sangat kecewa pada pria pengkhianat sepertimu! Kau adalah pembohong besar!"
Kayden terdiam. Tamparan itu tidak seberapa, namun kata-kata “sangat kecewa" yang diucapkan dengan nada dan tatapan persis seperti istrinya sempat membuat pandangan Kayden kosong selama beberapa detik. Jiwanya terguncang.
Namun detik berikutnya, puncak amarah menguasai akal sehatnya. Dengan mata yang memerah padam, Kayden mencengkeram dan mendorong bahu Vivian dengan sangat kasar.
"Menjauh dari anak-anakku!"
BRUK!
Dorongan kuat itu membuat tubuh Vivian terdorong ke belakang dan jatuh menghantam lantai tanah halaman dengan keras. Akibat guncangan itu, dekapan Vivian melonggar dan tubuh Baby Elvano sempat terlepas ke udara. Beruntung, dengan gerakan refleks yang cepat, Alex dan Deana kompak maju menangkap tubuh bayi itu bersama-sama sebelum menyentuh tanah.
Vivian terengah-engah di atas tanah, menatap Kayden dengan kilatan syok. Ia tidak menyangka... Kayden, suaminya yang dulu selalu memujanya, kini dengan kesadaran penuh tega menyakitinya secara fisik.
Melihat pengasuh kesayangannya dikasari hingga jatuh, Deana segera menyerahkan Baby Elvano ke dalam dekapan Alex. Dengan tubuh gemetar dan mata yang sudah berkaca-kaca, Deana berdiri tegak tepat di hadapan Ayahnya, memisahkan Kayden dari Vivian.
"Dea benci Papa!" jerit Deana dengan air mata yang akhirnya lolos membasahi pipi. "Dea ndak mau lihat muka Papa lagi! Dea ndak butuh Papa!"
Kayden tersentak, dadanya seolah dihantam batu besar mendengar kalimat itu keluar dari mulut putrinya sendiri.
"Dea ndak punya Papa sekejam itu! Papa jahat! Pelgi dali sini! Pelgi! Pelgi!" usir Deana memukul-mukul kaki kekar Kayden dengan tangan mungilnya yang tak bertenaga.
Nicolas segera mendekat, menarik lembut tubuh cucunya ke dalam dekapan untuk menenangkannya. Namun, emosi Deana sudah pecah. Sembari menangis sesenggukan di pelukan sang Kakek, jari mungilnya tetap menunjuk ke arah Kayden. "Dea ndak mau lihat Papa lagi selamanya... Papanya Dea sudah pelgi belsama lasa sakitnya Dea!"
Melihat air mata putrinya yang mengalir deras tanpa henti, ditambah suara tangisan histeris Baby Elvano yang kini sudah dipindahkan oleh Alex ke dalam gendongan Arsen agar aman, rasa bersalah yang teramat besar pun menumpuk dan menghimpit dada Kayden Gilbert.
Ia bermaksud menjemput anaknya, namun mengapa justru ia yang membuat dunia anak-anaknya hancur?
Arsen yang sedang menimang Baby Elvano menatap Kayden dengan pandangan mengusir yang tajam.
"Kau dengar sendiri keputusan putrimu, Kayden? Pergi dari sini sebelum aku mengerahkan seluruh sisa pasukan Marvis untuk menghabisimu. Kau tidak diinginkan di sini!" kata Arsen menusuk langsung ke harga diri Kayden.
Di sudut lain, Nicolas membantu Vivian untuk bangkit berdiri dari tanah. Vivian memegangi siku dan pinggangnya yang terasa linu, namun matanya tetap tertuju pada Kayden dengan sorot mata dingin tanpa ampun.
"Deana..." panggil Kayden dengan suara parau yang bergetar. Ia mengulurkan tangannya dan mencoba meraih putrinya.
Namun, Deana langsung memalingkan wajahnya ke dada Nicolas, benar-benar menutup akses bagi sang Ayah untuk melihat wajahnya lagi. Penolakan mutlak itu menjadi pukulan paling telak dan paling menghancurkan di sepanjang hidup seorang Kayden Gilbert. Harga dirinya runtuh.
Kayden mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menelan bulat-bulat rasa sesak di dadanya. Pria tegap itu berbalik membelakangi mereka, lalu memberi isyarat kode pendek pada Davin melalui gerakan kepalanya. "Kita pergi, Davin," ucapnya lirih.
Davin mengangguk patuh, segera membukakan pintu mobil hitam mewah untuk tuannya.
Deana yang mendengar suara deru mesin mobil menyala, perlahan memutar kepalanya. Sifat kekanak-kanakannya bergejolak. Ia berdiri dari pelukan sang Kakek, melangkah ragu seolah ingin mengejar mobil ayahnya. Namun, rasa takut yang besar bahwa sang Ayah akan berbalik dan menyakiti Bibi Vivian atau adik bayinya lagi membuat langkah kaki mungil itu terhenti di ujung teras.
Begitu mobil hitam itu melaju memutari air mancur dan melesat pergi melewati gerbang Marvis, tangis Deana akhirnya pecah sejadi-jadinya. Tubuh kecilnya merosot di atas lantai teras. Gadis kecil itu menangis histeris, merasa sangat sedih dan gagal karena tidak bisa membuat ayahnya berubah menjadi pahlawan yang baik seperti di dalam dongeng. Ia merasa telah kehilangan orang tuanya secara utuh malam ini.
Melihat saingan cadelnya menangis sekencang itu, ego angkuh Alex mendadak luntur. Bocah bermuka datar itu melangkah mendekat, berniat memberikan tisu atau kata-kata penenang.
Namun, di luar dugaan Alex, Deana yang sedang bersedih langsung menghamburkan tubuhnya dan memeluk leher Alex. Gadis cilik itu menumpahkan seluruh air mata dan rasa takutnya di pundak bocah laki-laki itu.
Deg.
Alex terdiam di tempat. Sepasang tangan kecilnya yang menggantung di udara mendadak kaku. Detak jantungnya berdegup aneh saat merasakan pelukan hangat yang bergetar dari Deana. Pada akhirnya, Alex perlahan menurunkan tangannya, membiarkan pundak kemejanya basah oleh air mata sang kunti cadel yang terlihat begitu rapuh.
“Dea ndak mau Papa pelgi… Dea mau Papa belubah. Maapin Dea… hiks…”
“Iya… Alex maafin.”
“Bukan kamu, Cendol, tapi Papa Dea.”
“Cendol lagi yang salah… hadeh…”
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁