NovelToon NovelToon
DUDA GILA Vs PERAWAN TUA

DUDA GILA Vs PERAWAN TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Lansia / Duda / Cintamanis / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:26.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.

Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.

​Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.

Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.

​Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

.

Pagi datang. Amanda geragapan begitu membuka mata dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30. Dia kesiangan. Semalam ia terlalu larut mengerjakan tugas-tugas wali kelas. Menyusun laporan, memeriksa berkas, hingga tanpa sadar tertidur begitu saja.

Tanpa membuang waktu, Amanda segera turun dari ranjang dan berlari kecil menuju kamar mandi di paviliun. Air dingin yang mengguyur tubuhnya sedikit membantu mengusir sisa kantuk, meski pikirannya masih terasa berantakan.

“Ini benar-benar kacau,” gumamnya pelan. “Kenapa tidak ada yang membangunkan Ibu?” pekik Amanda sambil berlari ke dapur setelah selesai melaksanakan sholat subuh yang benar-benar terlambat.

Namun, saat ia sampai di dapur, di meja panjang yang ada di sana sudah ada telur dadar, tumis sayur sederhana, dan nasi hangat, lalu ada Rahma dan Yona sedang menata piring dan gelas.

Di sudut lain, tepatnya di wastafel, Sinta dan Bagas sedang bekerja sama mencuci peralatan yang kotor. Dan di sudut lain terlihat si kecil Ardi membantu kakak-kakaknya menjemur pakaian. Di ruang tengah tiga anak asuhnya yang lain sedang membersihkan ruangan.

Bahu Amanda luruh karena merasa lega sekaligus terharu. Dia bersyukur pada saat genting dikejar waktu seperti itu, anak-anak asuhnya sudah bisa diandalkan.

“Manda,” panggil Pak Hendra pelan. Amanda pun menoleh. “Tadi Bapak mau bantu-bantu di depan tapi gak dibolehin sama Bu Kartini,” ucap Pak Hendra setengah berbisik.

Amanda tertegun mendengarnya. Tapi dia mencoba berpikir positif. “Bapak istirahat saja, ya. Sekarang ayo semua sarapan dulu,” anaknya pada yang lain juga.

Semua mendekat dalam diam. Tak ada yang bersuara membuat Amanda mengerutkan kening. “Ada apa dengan kalian semua?” tanya Amanda.

Namun, tak ada yang menjawab. Semua kepala tertunduk. Amanda menoleh ke arah Ardi. Si kecil yang belum tahu cara menyimpan masalah. “Ardi…” panggilnya.

Ardi mengangkat wajahnya dan menatap sendu. “Kata Bu Kartini, kita terlalu berisik, Bu.”

Amanda memejamkan matanya seraya mengambil nafas dalam. Ia tahu Kartini tak suka padanya, tapi kenapa harus anak-anak yang dijadikan sasaran. Jika ada masalah kenapa tidak menegur dia saja, biar dia yang bicara pada anak-anak nya.

“Ya sudah gak papa. Kalian cepat sarapan. Mobil yang mengantar sekolah sudah menunggu,” ucapnya lembut. “Ingat, tidak boleh nakal di sekolah baru. Kalau tidak, Tuan Dirga pasti akan mengembalikan kalian ke sekolah lama.”

*

Setelah anak-anak asuhnya berangkat sekolah, Amanda berjalan cepat menuju rumah utama. Ia tahu sudah sangat terlambat. Setidaknya ia tidak mau terlihat seperti orang yang hanya menumpang.

Namun, begitu kakinya sampai di lorong yang menghubungkan paviliun dan rumah utama, langkahnya melambat.

Suasana tampak aneh hingga membuat Amanda mengerutkan kening. Sangat hening. Terlalu hening untuk ukuran pagi hari di rumah sebesar ini. Padahal biasanya, di jam segini sudah terdengar suara aktivitas para pelayan. Tapi kali ini tidak. Ini benar-benar sepi.

Amanda mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ada sesuatu yang berbeda.

Semua pekerja di rumah itu mengenakan pakaian hitam. Bukan seragam yang biasa mereka pakai. Dan mereka semua bergerak pelan, seperti menahan suara.

“Ada apa ini?” gumam Amanda pelan. Ia berjalan cepat menuju dapur rumah utama. Namun…

“Berhenti!”

Sebuah suara pelan tapi tajam membuat Amanda berhenti dan menoleh. Ada Kartini berdiri dengan berkacak pinggang, menatapnya dengan sorot mata tidak bersahabat.

“Apa lagi ini?” batin Amanda. Namun ada sesuatu yang membuatnya heran, suara Kartini tidak seperti biasanya. Terlalu pelan. Seperti sengaja ditahan.

“Dasar orang baru, tidak tahu aturan!” hardik Kartini dengan suara rendah, nyaris berbisik.

Amanda mengambil nafas mencoba bersabar. “Saya tahu saya terlambat,” jawab Amanda, nada suaranya tetap tenang namun tegas. “Karena itu jangan halangi saya. Itu hanya akan semakin menghambat.”

Biasanya Kartini akan langsung membalas dengan suara keras atau sindiran panjang. Tapi kali ini tidak.Kartini justru tetap merentangkan tangannya, menghalangi jalan. “Jangan masuk,” katanya singkat, masih dengan suara pelan.

Amanda semakin bingung. “Memangnya ada apa?” tanyanya, mulai kehilangan kesabaran. “Kenapa semua orang…”

“Pokoknya jangan berkeliaran di rumah utama!” potong Kartini cepat. Nada suaranya masih ditekan, tapi kali ini terdengar lebih tegas bahkan seperti takut.

Amanda menatapnya lekat-lekat. Ada sesuatu yang disembunyikan. Dan itu membuatnya semakin ingin tahu. Namun sebelum ia sempat bertanya lagi…

“Kartini.”

Suara berwibawa terdengar membuat keduanya menoleh bersamaan. Pak Doni, kepala pelayan berdiri tidak jauh dari mereka. Tatapannya tenang, tapi cukup untuk membuat Kartini langsung terdiam. Hanya dengan satu pandangan mampu membuat Kartini mundur.

Amanda menoleh ke arah Pak Doni.

“Pak, sebenarnya ada apa?” tanyanya pelan.

Pak Doni mendekat dengan wajah tenang, namun ada sesuatu yang sulit dijelaskan di matanya. “Bu Amanda,” ucapnya pelan.“Ibu bisa langsung pergi ke sekolah atau kembali ke paviliun. Pekerjaan di dapur sudah selesai sejak sebelum subuh.”

Amanda menatap pria itu beberapa detik. Ada sesuatu yang aneh dengan suasana rumah hari ini. Jelas tidak normal.

“Sebenarnya ada apa, Pak? Saya benar-benar tidak mengerti.” Amanda bertanya seperti berbisik.

Beberapa detik lamanya Pak Doni terdiam seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu Amanda dengan sorot mata yang lebih dalam dari biasanya. “Hari ini adalah hari peringatan kepergian Nyonya Susi.”

Deg!

Amanda mengerutkan kening. "Nyonya Susi?” ulangnya pelan nyaris tak terdengar.

“Istri Tuan Dirga. Ibu kandung Putri.”

Amanda menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Maaf… saya…” suaranya tercekat. “Saya benar-benar tidak tahu.”

Pak Doni mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, Bu Manda kan memang baru tinggal beberapa hari di sini. Hari ini selalu diperingati setiap tahun.”

Amanda menelan ludah. Pantas saja suasana rumah begitu sunyi. Semua orang berpakaian hitam. Bahkan cara bicara mereka pun berubah.

“Hari ini tidak akan ada aktivitas apa pun di rumah utama,” lanjut Pak Doni dengan suara lembut. “Dan tidak perlu menyiapkan makanan karena Tuan Dirga dan Putri sedang berpuasa.”

Penjelasan Pak Doni membuat dada Amanda terasa sesak. Entah kenapa, ia langsung teringat sosok Putri. “Lalu sekarang Putri di mana, Pak?”

Pak Doni menatapnya, lalu menjawab, “Putri pergi bersama Tuan Dirga dan Bu Rani ke makam keluarga besar Wijaya.”

Amanda mengangguk mencerna semuanya. Beberapa detik suasana semakin hening, hingga Amanda kembali menatap Pak Doni.

“Pak,” ucapnya ragu. “Kalau Putri sudah pulang, apa saya boleh menemuinya?”

Ada ketulusan yang jelas terdengar dalam suaranya. “Saya ingin menemaninya.”

Pak Doni tersenyum tipis. Seperti menemukan sesuatu dalam diri Amanda.

“Nanti Saya sampaikan pada Bu Rani."

Amanda mengangguk pelan. “Terima kasih, Pak,” ucapnya lalu berpamitan dan berbalik kembali menuju paviliun dengan dua tangan saling meremas.

Sesampainya di depan paviliun, Amanda berhenti lalu menatap kosong ke arah halaman. Hatinya berada dalam dilema. Apa harus tetap ke sekolah, atau menunggu di rumah.

Dalam hatinya berpikir, mungkin saja saat ini Putri sedang tidak baik-baik saja. Dan untuk pertama kalinya, Amanda juga memikirkan Dirga. Bukan sebagai pria menyebalkan, tapi sebagai seseorang yang kehilangan. Dan seorang ayah yang sangat penyayang.

1
Dwi Anto
sebenarnya..othor sk gantung2 cerita
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: memang saran dari editor seperti itu kak. haru ada cliffhanger🤭🤭
total 1 replies
dewi rofiqoh
Apa ya jawaban bu manda?
Ummee
sebenarnya... kak author mau istirahat dulu, jadi sabar dulu ya Ayah 😅
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: aseek aseek.. ..
yuk nyakain kipasnya Umi, 🤗🤗
total 1 replies
Soraya
lanjut thor
Aditya hp/ bunda Lia
sebenarnya .... nanti ajah yah pak dikasih tau pas mama up lagi 🤭
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: wk wk wk🤣🤣🤣
total 1 replies
Ummee
dasar stres, kamu memang cinta atau mah memanfaatkan?
tapi kalo cinta kok memaksa
Ummee
baru bisa mampir kak🙏
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: gpp, Umi. semoga betah ya
total 1 replies
Ummee
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
tanpa filter sekali pak
vania larasati
lanjut
Nar Sih
bnr bangett apa kata mu kevin ,pasti nanti kwalat
〈⎳ FT. Zira
lagi kesambet/Facepalm/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
co cwiiiittt
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
harusnya td pasang kamera tersembunyi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
karena*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
memilih*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
mungkin
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
untuk* dibuang aja, nyempil. 😂
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
Dahi Amanda sedikit berkerut, lalu ia segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya,

menurutku lebih pas.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sama lah
total 2 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
mengikat*
vj'z tri
cintaku padamu tak kan berubah walau di telan waktu, biarlah kan ku simpan dalam hati /Shy//Shy//Shy/🎉🎉🎉🎉
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ahayyyy💃💃💃💃
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!