NovelToon NovelToon
Mawar Beracun Sang Menantu

Mawar Beracun Sang Menantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna Nellys

Warning!!

***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.

Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.

Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.

Pernikahannya bukan tentang cinta.

Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.

Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.

Suaminya.

Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.

Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.

***

“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.

Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”

Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.

Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18.

0o0__0o0

Margaret terdiam beberapa saat. Jemari-nya menyentuh permukaan berlian itu, seolah merasakan bukan hanya kilauan-nya, tapi juga maksud yang tersembunyi di baliknya.

Sorot matanya sempat melembut… hanya sesaat.

“Kamu pandai memilih kata,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang namun tetap berwibawa. “Dan juga… pandai membaca situasi.”

Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap Mawar lebih dalam, menilai, menimbang.

“Tidak semua orang berani mengakui posisi-nya sejujur itu.” lanjutnya pelan. “Setidak-nya… kamu tidak berpura-pura menjadi polos.”

Ada jeda. Hening yang terasa berat.

Margaret kemudian tersenyum tipis. Kali ini bukan senyum hangat, melainkan senyum seorang wanita yang sudah terlalu lama hidup dalam permainan kekuasaan.

“Dan itu… saya hargai.”

Namun perlahan, senyum itu memudar. Tatapan-nya kembali tajam.

“Tapi jangan salah paham.” katanya, kini lebih dingin. “Saya bisa menghargai usaha seseorang… tanpa harus mempercayai-nya.”

Ia meletakkan kalung itu kembali ke dalam kotaknya, lalu mendorong-nya sedikit ke arah Mawar—tidak sepenuh-nya menolak, namun juga tidak benar-benar menerima.

“Kalau ini memang hanya ‘langkah kecil’ seperti yang kamu katakan…” bisiknya rendah, “maka kita lihat saja… seberapa jauh kamu sanggup melangkah.”

Tatapan-nya mengunci Mawar.

“Mansion ini bukan tempat untuk bermain cantik saja, Mawar.”

Nada suaranya halus, tapi menusuk.

“Di sini… yang bertahan bukan yang paling manis.” Jeda singkat. “Melainkan yang paling tau caranya bertahan dan yang paling kuat.”

Dan di balik sikapnya yang tetap waspada, ada satu hal yang tak bisa Margaret sangkal. Mawar… bukan wanita biasa.

Mawar tidak langsung menjawab.

Ia justru melangkah maju, mengambil kembali kotak itu dengan gerakan tenang—tanpa tergesa, tanpa ragu.

Jemari-nya membuka penutup-nya sekali lagi, memperlihatkan kilau berlian yang memantul di antara kedua-nya.

“Mama benar,” ucapnya pelan. “Tempat ini bukan untuk mereka yang hanya mengandalkan wajah manis.”

Ia mengangkat kalung itu, lalu mendekat sedikit. Suaranya tetap lembut, tapi kini ada ketegasan yang tak lagi ia sembunyikan.

“Karena itu saya tidak datang sebagai wanita yang ingin di sukai…” lanjutnya, menatap lurus ke mata Margaret, “melainkan sebagai seseorang yang ingin di akui.”

Jeda singkat. Udara terasa menegang.

Mawar kemudian melangkah ke belakang Margaret, tanpa menunggu izin, namun juga tanpa terkesan lancang. Gerakan-nya halus, penuh perhitungan.

“Mama bisa menolak aku,” bisiknya pelan di dekat telinga sang mertua, “tapi tidak bisa menolak kenyataan… bahwa aku sekarang adalah bagian dari keluarga ini.”

Dengan hati-hati, ia mengangkat rambut Margaret, lalu mengaitkan kalung itu di leher'nya.

Klik.

Bunyi kecil itu terdengar jelas.

“Dan sesuatu yang sudah menjadi bagian keluarga…” lanjut Mawar, kembali berdiri di sampingnya, “akan selalu menemukan tempat-nya. Cepat atau lambat.”

Ia merapikan letak kalung itu dengan sentuhan ringan, seolah benar-benar memastikan bahwa benda itu memang pantas berada di sana.

Mawar mundur selangkah. Tatapan-nya menilai, lalu ia tersenyum tipis.

“Lihat,” ucapnya lembut. “Jauh lebih cocok di mama… di bandingkan di simpan di dalam kotak.”

Tidak ada paksaan dalam nadanya. Tidak juga permohonan. Hanya keyakinan.

Margaret terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menyingkirkan sentuhan itu. Jemari-nya naik perlahan, menyentuh kalung yang kini sudah melingkar di leher'nya.

Diam. Menimbang.

Lalu… tanpa sadar, Perempuan paru baya itu tidak melepasnya.

Mawar menang, bukan dengan memaksa. Tapi dengan membuat Margaret… memilih untuk menerima.

Ruangan itu kembali hening.

Margaret masih duduk tenang di sofa. Jemari-nya menyentuh berlian di lehernya, bukan lagi sekadar menilai, tapi… merasakan.

Pantulan dirinya terlihat berbeda.

Bukan karena kalung itu.

Tapi karena perasaan yang perlahan bergeser… tanpa dia sadari.

Di belakang-nya, Mawar tetap berdiri dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menekan. Seolah ia tahu, pertempuran ini tidak di menangkan dengan suara keras, tapi dengan kesabaran.

Margaret menarik napas panjang.

“Kamu tahu… apa yang paling saya benci dari wanita di posisi kamu ?” ucapnya tiba-tiba, tanpa menoleh.

Mawar tidak langsung menjawab. “Yang berusaha terlalu keras untuk terlihat layak,” jawabnya pelan.

Margaret tersenyum tipis.

“Tepat.”

Akhirnya ia berdiri dan berbalik. Tatapan-nya masih tajam… tapi tidak sedingin sebelum-nya.

“Dan anehnya…” lanjutnya, melangkah mendekat, “kamu tidak melakukan itu.”

Ia berhenti tepat di hadapan Mawar. Jarak mereka kini hanya sejengkal.

“Kamu tidak memohon.”

“Kamu tidak juga memaksa.”

Nada suaranya turun, lebih rendah… lebih pribadi.

“Kamu hanya… berdiri di tempat mu. Seolah kamu memang sudah pantas ada di sana.”

Hening sejenak.

Lalu Margaret menghela napas pelan, sebuah gestur kecil, tapi cukup untuk menunjukkan sesuatu telah runtuh di dalam dirinya.

“Dan itu…” bisiknya, “lebih berbahaya dari yang saya kira.”

Mawar menunduk sedikit. “Aku tidak berniat menjadi ancaman untuk keluarga ini, Ma.”

Margaret terkekeh pelan. Bukan tawa meremehkan, melainkan tawa tipis penuh arti.

“Semua orang yang berbahaya… selalu berkata seperti itu, Mawar.”

Namun kali ini, tidak ada nada permusuhan di dalamnya.

Ia mengangkat tangan, ragu sejenak… sebelum akhirnya menyentuh dagu Mawar, mengangkat-nya sedikit agar menatap lurus.

Gerakan itu tidak kasar.

Justru… nyaris seperti penerimaan.

“Saya belum sepenuh-nya percaya padamu,” ucap Margaret jujur. “Dan mungkin… tidak akan mudah untuk sampai ke sana.”

Jempolnya sempat menyapu halus, lalu ia menarik tangan-nya kembali.

“Tapi…” jeda singkat. “Saya juga tidak akan lagi menutup mata… terhadap apa yang kamu tunjukkan hari ini.”

Mawar tidak tersenyum lebar. Ia hanya mengangguk pelan.

Cukup.

Margaret berbalik, melangkah beberapa langkah… lalu berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata, “Terima kasih,” ucapnya. "Mama menyukai-nya."

Kalimat sederhana.

Namun di rumah sebesar itu—itu bukan sekadar ucapan.

Itu undangan.

Itu pengakuan… meski masih setipis benang.

Dan untuk pertama kalinya, Margaret membuka pintu.

Sedikit saja.

Namun Mawar berdiri tenang, tanpa menunjukkan apa pun selain ketulusan yang rapi.

Akhirnya, Margaret melangkah pergi. Meninggalkan ruang itu. Namun kali ini senyum-nya berbeda.

Lebih tipis.

Lebih penuh arti.

Karena di balik rasa senang yang tidak bisa perempuan pungkiri… Ada perasaan lain yang mulai tumbuh.

Hatinya sedikit luluh. Meskipun masih tetap waspada.

Sementara itu, Mawar menunduk sedikit.

Sopan.

Patuh.

Namun saat ia berbalik, senyum-nya berubah. Hampir tak terlihat.

“Langkah pertama…” gumamnya dalam hati. “…selalu yang paling menentukan. Sekecil apa pun cela itu, jika dimanfaatkan dengan tepat, pasti akan membuahkan hasil.”

Perlahan, senyum di bibirnya memudar.

Berganti seringai tipis—dingin, nyaris menyeramkan.

Sorot matanya menajam, dipenuhi bara dendam yang tak lagi ia sembunyikan.

“Margaret… kamu sendiri yang membuka cela itu,” desisnya lirih. “Dan aku akan memastikan hidupmu hancur… seperti kamu menghancurkan hidup mamaku.”

Hening.

Cahaya pagi menembus jendela, menyinari meja di depan-nya.

Sebuah kalung liontin terbuka.

Di dalamnya, foto lama dengan nama yang tercetak jelas:

Jeselyn

Ujung jarinya menyentuh nama itu, mengusapnya perlahan. Seolah menandai awal dari sesuatu yang tak bisa di hentikan.

Ting!

Tiba-tiba ponsel-nya bergetar.

Satu pesan masuk.

Nomor tak dikenal.

Keningnya sedikit berkerut saat membaca isi layar.

“Jangan terlalu yakin kamu satu-satunya yang mengincar-nya.”

Senyum-nya menghilang. Sorot matanya berubah tajam, waspada.

Perlahan Mawar mengangkat kepala, menatap lurus ke depan.

Seakan menyadari… permainan ini bukan hanya miliknya.

0o0__0o0

1
Jojo Marjoko
ngesot gak tuh 🤭🤭🤭🤭 othornya melawak di tengah ketegangan 🤭🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
si presto mintak di sleding otaknya tuh 🤣🤣🤣🤣 jahat bet dah mah Ares
mrahboy Hboy
bagus ares😍😍😍😍 jadi laki jangan lembek...apalagi istrimu banyak yang ngincer👍👍👍
Selindia Morenas
Anjai, Ares mengerikan sekali epribady 🤣🤣🤣🤣 tapi gue suka 😍😍
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
antara tegang dan pengen ngakak bayangin LC ngesot kayak suster🤣Aresmu setia Mawar gak akan tergoda selain dengan mu Dreso lebih jahat dari iblis dan binatang emang
Selindia Morenas
gas.. update nya Thor 💪💪💪
mrahboy Hboy
ayo rose....cepat selamatkan suamimu😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
kasihan Ares tak tau apa-apa malah jadi korban
Selindia Morenas: gue heran, mereka adik kakak tapi kayak musuh bebuyutan 🤭🤭🤭
total 1 replies
Qorey
lanjut thor
Selindia Morenas
siapakah itu ?
Selindia Morenas
mangkanya jaga suaminya yang bener....entar di gondol perempuan lain ... ngamok 🤣🤣🤣
Selindia Morenas
mawar benar-benar pemain 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪 semakipenasaran akoh🙏 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
Mawar memang pintar 😍😍😍😍
mrahboy Hboy
menyala mawar 😍😍😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
salfok sama Mawar apa sudah pakai celana dalam 🤭🤭🤭
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣
Jojo Marjoko
Terkadang perhatian kecil yang di abaikan justru nampak sangat berarti 😄😄😄😄 dan mawar pintar mencari cela itu 😍😍💪💪
Mita Paramita
🔥🔥🔥
sasip
sama seperti kejahatan, perselingkuhan pun bisa terjadi karena ada kesempatan.. 😉🤭😅
Qorey
bermain cantik kau mawar😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!