NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Perjanjian Rahasia dan Bayang-Bayang Masa Lalu

"Dengarlah!" teriak Han Gyeol, suaranya menggelegar membelah keheningan siang itu. 

"Mulai detik ini, aku telah menyegel nasib anak ini. Tidak ada satu pun orang di negeri ini yang boleh membuka pintu energi anak ini. Biarkan ia hidup tanpa sihir, atau ia akan mati di tanganku sendiri!"

Tanpa memedulikan tatapan ngeri dari rekan-rekan penyihirnya, Han Gyeol berbalik. Ia melangkah lebar meninggalkan aula, membawa bayi itu menuju Danau Cheon-gi. Di bawah sinar matahari, permukaan danau itu berkilau mematikan, menanti rahasia gelap yang hendak dibenamkan oleh Han Gyeol.

"Han Gyeol! Berhenti!"

Do Kwang, yang saat itu masih seorang penyihir muda, berlari menembus padang rumput yang gersang di bawah sengatan matahari yang membakar. Ia berhasil menghadang jalan Han Gyeol tepat di bibir tebing danau yang curam. Cahaya siang memantul silau pada bilah pedang yang ia hunus untuk menghalangi langkah sahabatnya.

"Minggir, Do Kwang!" gertak Han Gyeol. Keringat bercampur amarah membasahi wajahnya yang memerah.

"Apa yang kau lakukan siang-siang begini? Dia darah dagingmu sendiri!"

Do Kwang merangsek maju dengan nekat. Pertarungan singkat pecah di tepi tebing yang berdebu. Logam beradu dengan suara dentingan yang memekakkan telinga di bawah langit yang cerah.

Dengan satu gerakan gesit, Do Kwang berhasil merebut bayi itu dari dekapan Han Gyeol yang tampak goyah oleh rasa sakit hatinya sendiri.

"Hentikan semua ini!"

Do Kwang terengah-engah, mendekap bayi itu untuk melindunginya dari panas matahari yang menyengat. "Dia tidak bersalah, Han Gyeol! Dunia ini baru saja menyambutnya!"

"Aku tidak peduli lagi dengan anak itu!" Han Gyeol berteriak ke arah cakrawala yang tak bertepi.

"Bagaimana dengan hidup anak ini? Apa kau tidak punya perasaan sebagai ayahnya?" tanya Do Kwang pedih, menatap bayi yang kini tampak pucat akibat segel biru tadi.

Han Gyeol mengusap wajahnya yang kasar, menarik napas dalam-dalam seolah udara siang itu terasa begitu menyesakkan paru-parunya. Ia menatap Do Kwang dengan mata tajam yang tampak kosong, seolah jiwanya sudah mati.

"Dia bukan anakku, Do Kwang," ucapnya lirih namun setajam sembilu. "Dia adalah benih pengkhianatan."

Do Kwang tertegun. Suasana siang yang tadinya bising oleh deru angin mendadak menjadi sunyi senyap.

"Raja Go Yoon... dia memintaku melakukan ritual pemindah jiwa selama tujuh hari. Tapi dia mengkhianatiku. Saat jiwanya berada di dalam tubuhku, dia meniduri istriku. Bayi yang kau pegang itu... adalah putra mendiang raja. Aku menutup energinya dengan cahaya biru ini agar dia tetap terlihat seperti manusia biasa. Jika kekuatannya bangkit, dia akan diburu sebagai ancaman takhta. Berjanjilah... jangan pernah buka segelnya. Biarkan dia hidup seperti orang yang tak pernah terlihat di bawah sinar matahari ini."

Do Kwang menatap bayi di pelukannya yang kini tertidur dalam "penjara" energi biru tersebut.

"Baiklah... aku berjanji."

****

Kembali Ke Masa Sekarang...

Malam di Taman Utama Cheon-Gi Won

Kegelapan malam kini menyelimuti taman utama Cheon-Gi Won, sangat kontras dengan ingatan siang hari yang baru saja terlintas. Hawa dingin menusuk tulang, dan hanya cahaya obor yang bergoyang tertiup angin, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di atas ubin taman.

Han Seol tersentak kembali ke realitas. Kepalanya berdenyut, dan sisa-sisa energi biru yang tersegel selama dua dekade kini bergejolak hebat di dalam dadanya, terasa panas di tengah dinginnya malam. Ia berusaha berdiri tegak sambil menggendong Seol-Ah, namun napasnya tersengal parah. Wajahnya pucat pasi di bawah sinar rembulan yang redup.

Penyihir Do berdiri di hadapannya, sosoknya tampak seperti raksasa hitam di dalam kegelapan malam. Matanya yang tua menatap Han Seol dengan campuran antara kemarahan dan ketakutan akan janji yang baru saja ia langgar.

"Kau berani melawan perintahku malam-malam begini?" suara Penyihir Do berat dan menggelegar, memecah kesunyian malam.

Han Seol sudah tidak kuat lagi. Kakinya gemetar hebat hingga ia terpaksa menurunkan tubuh Seol-Ah secara perlahan ke atas ubin taman yang dingin. Ia terduduk bersimpuh, mendekap kepala Seol-Ah yang berlumuran darah agar tidak menyentuh lantai yang kasar.

"Paman, jangan salahkan dia," bisik Han Seol dengan suara yang nyaris hilang ditelan angin malam.

"Berkat dia, energi biru yang selama ini mengunci hidupku akhirnya retak. Dia tidak mencoba membunuhku... dia adalah orang yang membebaskanku dari penjara yang Ayah berikan."

Han Seol bersujud, dahinya menyentuh ubin yang membeku. "Maafkan aku karena telah membuat keributan di malam yang tenang ini. Tapi aku memohon... segera obati Seol-Ah di ruang medis. Lihatlah dia, dia tidak akan bertahan sampai fajar jika dibiarkan begini."

Seo-Jun melangkah maju, bayangannya menutupi tubuh Seol-Ah yang mengenaskan. Di bawah cahaya obor yang temaram, luka-luka di punggung Seol-Ah tampak lebih mengerikan.

"Paman, Han Seol benar. Gadis ini sudah membayar kesalahannya dengan darahnya sendiri. Kita tidak bisa membiarkannya mati sebagai tahanan di sini."

Penyihir Do terdiam cukup lama. Ia menatap langit malam yang tak berbintang, teringat kembali pada siang hari di tepi danau dua puluh tahun lalu. Rahasia besar tentang Raja Go Yoon kini terasa semakin berat untuk dipikul.

Seo-Jun hendak mengangkat Seol-Ah. "Biarkan aku yang membawanya ke dalam, Seol."

"Jangan!" cegah Han Seol dengan nada panik yang tiba-tiba.

Ia tersadar bahwa di dalam ruangan medis nanti, cahaya lampu minyak yang terang akan dengan mudah mengungkap tanda biru di mata Seol-Ah—tanda seorang Hwanhon yang sedang sekarat.

"Maksudku... biar Bibi Oh saja yang membawanya. Madam Oh, tolong gendong Seol-Ah segera! Seo-Jun... tolong, bantu aku saja. Tubuhku rasanya lumpuh."

Madam Oh segera mengerti isyarat itu. Dengan cekatan, ia menyelimuti tubuh Seol-Ah dengan jubah luarnya, memastikan wajah gadis itu tersembunyi sepenuhnya dari pandangan orang lain. Ia mengangkat tubuh mungil itu, sementara Seo-Jun merangkul bahu Han Seol untuk membantunya berjalan.

Mereka melangkah perlahan menembus gelapnya malam menuju ruang medis, meninggalkan Penyihir Do yang berdiri mematung sendirian di taman. Di bawah bayang-bayang malam, pria tua itu menyadari bahwa badai besar yang ia takutkan selama dua puluh tahun kini benar-benar telah tiba.

****

Malam semakin larut di ruang medis Cheon-Gi Won. Aroma pahit ramuan herbal dan wangi lilin yang terbakar memenuhi ruangan yang sunyi itu.

Seol-Ah perlahan membuka matanya, merasakan denyut nyeri di punggungnya yang kini sudah dibalut kain kasa bersih. Ia bangun dengan susah payah, mendudukkan dirinya di ranjang kayu yang keras.

Di sudut ruangan, Han Seol berdiri mematung, menatap kegelapan di balik jendela sebelum akhirnya berbalik saat mendengar suara pergerakan Seol-Ah. Di ruangan itu, hanya ada mereka berdua, terikat oleh rahasia yang bisa menghancurkan hidup mereka.

"Terima kasih," ucap Han Seol dengan nada yang begitu tulus hingga menggetarkan kesunyian.

Ia melangkah mendekat, matanya menatap Seol-Ah dengan rasa hormat yang baru. "Kau adalah orang pertama yang berani mempertaruhkan nyawa, mencicipi cambuk penyiksaan, hanya demi diriku yang lemah ini. Aku tidak akan pernah melupakan pengorbananmu."

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!