Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Ayumi Mengerikan.
"Kenapa Nona bisa jatuh?" tanya perawat Ayumi.
Ayumi tak menjawab pertanyaan sang perawat, gadis itu hanya menghela nafas sambil berjalan pincang menuju ranjang.
Sang perawat membaringkan Ayumi di atas ranjang agar dia bisa membersihkan luka di kaki Ayumi.
"Tunggu sebentar ya, Non, saya ambil obat dulu untuk membersihkan lukanya," tutur perawat sambil melenggang pergi.
Ayumi tak juga menggubris ucapan sang perawat, wanita itu hanya berbaring dengan wajah sayu sambil sesekali melihat ponsel miliknya berharap Sagara membalas pesannya. Namun, walaupun tahu Ayumi jatuh dari kamar mandi, bahkan Sagara tidak juga menanyakan kabarnya padahal tadi dia bilang akan datang.
"Kamu ingkar janji, Saga! Apa karena sekarang kamu sudah punya wanita lain?" gumamnya sambil meneteskan air mata.
Lalu beberapa detik kemudian pintu kamarnya terbuka lebar. Dengan wajah berbinar, Ayumi langsung terbangun berharap yang datang adalah Sagara.
"Sagara?"
Namun, wajahnya kembali berubah drastis saat melihat sosok yang menghampirinya ternyata bukan Sagara.
"Apa kamu berharap Sagara yang akan datang? Cih, jangan harap!" sentak Tante Maia.
Tante Maia dengan tenang berjalan masuk ke dalam ruangan Ayumi sambil melipat kedua tangannya. Maia tahu jika selama ini sang anak hanya dimanfaatkan oleh wanita ini karena dia sedang sakit parah. Dahulu saat Sagara serius ingin menikahinya, Ayumi malah berselingkuh dengan sahabat Sagara hingga Sagara mengalami kecelakaan hingga koma.
"Tante, maaf aku kira tadi Sagara, soalnya tadi dia bilang mau datang," ucap Ayumi dengan suara lirih.
Tante Maia mendekat lalu melihat kaki Ayumi yang sedang berdarah. "Trik apa lagi yang mau kamu lakukan kali ini untuk menarik perhatian anak saya?"
Ayumi menundukkan wajahnya. "Maksud Tante apa? Aku nggak ngerti, Tan."
Wajah Ayumi memang cantik dan menawan. Suaranya lembut, tuturnya juga sopan. Namun, sayang wajah cantik tidak menjamin hatinya cantik.
"Jangan berpura-pura polos saat dihadapan saya! Saya tahu kamu sengaja melakukan ini agar Sagara iba melihat kamu kan? Sayang sekali dia terlalu bodoh sehingga tidak sadar jika dia sedang dibodohi oleh wanita seperti kamu!" tunjuk Tante Maia.
Mendengar ucapan kasar yang keluar dari mulut ibu sang kekasih, membuat Ayumi tak bisa lagi menahan diri.
Ayumi menegakkan kepalanya, lalu gadis itu turun dari ranjangnya dengan kaki yang masih berlumur darah.
"Tante benar, Sagara sangat bodoh karena dia tidak bisa melepaskan saya! Karena hanya saya yang bisa membuat dia bahagia, selama ini saya yang ada disampingnya, apa Tante tahu hal apa saja yang sudah dialami anak Tante? Urusan saya dengan Dion, itu adalah masa lalu. Sagara tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Tante selalu menutup mata saat aku ingin menjelaskan. Sekarang, terserah Tante jika ingin membenci saya, yang penting Sagara akan selalu ada disamping saya!" ucap Ayumi sambil tertawa renyah.
Plak!
Tante Maia menampar wajah Ayumi dengan sangat keras.
"Wanita licik! Kurang ajar sekali kamu, Ayumi!"
Ayumi malah tertawa terbahak-bahak bukannya meringis kesakitan saat ditampar dengan keras.
"Kenapa, Tante? Tante takut anaknya hidup bahagia bersama saya?" ucap Ayumi.
Tante Maia melotot tajam. "Jangan mimpi kamu, dia sudah bahagia dengan pilihan saya!" tunjuk Tante Maia.
Ayumi tersenyum sinis lalu berbalik sambil berdecak. "Ck, sayang sekali Tante, langkah saya jauh lebih maju daripada langkah Tante!" ucapnya.
"Maksud kamu apa?"
Ayumi menghela nafas panjang. "Sagara sudah memberitahu saya calon istrinya. Bahkan sebelum akad, Sagara juga memberitahu saya bahwa hari ini dia akan menikah. Menurut Tante, kenapa saya melakukan ini?"
Tante Maia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Wanita licik, kamu benar-benar iblis!"
Ayumi mendekat ke arah Tante Maia dengan cepat sambil memegang suntikan ditangannya, membuat Tante Maia ketakutan.
"Mau apa kamu?"
Ayumi tertawa keras. "Kenapa, Tante takut? Aku nggak akan nyakitin Tante, kok. Seandainya aja tadi Sagara cepat datang ke sini, mungkin acara pernikahannya tadi pasti batal. Tapi sayang, Tante malah menggagalkan dia datang ke sini!" ucap Ayumi dengan nanar menakutkan.
Tante Maia mengerutkan keningnya. "Apa kamu selama ini memperhatikan Sagara? Kamu memata-matai dia?" tanya Tante Maia.
"Aku selalu tahu apa yang dia lakukan, bahkan dengan senang hati dia selalu memberi tahu aku apa yang sedang terjadi!"
Ayumi meraih ponsel miliknya lalu membuka aplikasi pesan berwarna hijau, menekan nama Sagara lalu melihatkan pesan terakhir Sagara kepada mamanya.
Di sana tertulis Sagara memberitahu Ayumi bahwa hari ini dia akan menikah dengan Thea. Sagara juga berkata dia tidak jadi datang karena mamanya datang menghadang.
"Anak bodoh!" gumam Maia sambil mengepalkan tangannya.
"Tante lihat sendiri? Betapa mencintainya Sagara! Tapi karena keegoisan Tante, cinta kami jadi tidak bisa bersatu!" ucap Ayumi sambil mendorong tubuh Maia dengan kencang hingga Maia terpojok ke dinding.
"Ah."
Tante Maia meringis kesakitan karena bahunya terbentur keras ke dinding.
Selama ini Maia terlalu meremehkan Ayumi, ternyata gadis ini tidak sesederhana yang terlihat. Ayumi memiliki wajah yang berbeda, bahkan dia berani menyakiti ibu orang yang dia cintai hanya demi kepentingannya.
"Sakit, Tante? Aku juga! Bahkan aku lebih sakit!" ucapnya.
Tante Maia kembali berdiri tegak. "Jauhi anak saya atau kamu akan menyesal!"
"Tidak akan pernah!"
"Kalau begitu biar Sagara tahu siapa kamu sebenarnya! Kamu sudah menyakiti saya, apa kamu masih yakin Sagara masih ingin mendekati kamu?"
Bukannya takut, Ayumi malah kembali tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Maia yang baginya terdengar hanya guyonan saja.
"Kita lihat nanti, siapa yang akan Sagara percaya. Aku, atau Tante!"
Tante Maia mengusap dadanya sambil menatap wajah Ayumi yang sangat menyeramkan.
"Kenapa bisa Sagara terjebak oleh wanita seperti ini?"
Tak ingin berlama-lama dengan wanita gila ini, akhirnya Tante Maia memutuskan untuk segera keluar dari dalam ruangan Ayumi, meninggalkannya sendirian sambil tertawa mengeringkan.
Setelah Tante Maia pergi keluar, nanar Ayumi kembali berubah. Wanita itu mengambil ponsel miliknya, lalu segera menghubungi nomor Sagara dengan cepat.
Bip ..
Ayumi | ("Saga, kalau kamu nggak mau datang, lebih baik nggak usah! Jangan malah mengirim Mama kamu datang ke sini dan mengancam aku sesuka hatinya!")
Ayumi | ("Lebih baik aku mundur, sekarang kamu sudah menjadi suaminya. Lalu, aku siapa untuk kamu?")
......................
Nenek Samantha berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anak itu masih belum bisa dewasa!"
Sagara melirik kamar Thea dengan wajah dingin. Dia tahu antara dia dan Thea mereka tidak memiliki rasa satu sama lain, namun entah mengapa jantung Sagara berdebar kencang saat membayangkan dia masuk ke dalam kamar seorang gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Sagara, silakan kamu juga harus pergi istirahat," titah Nenek Samantha.
Sagara terdiam sejenak. "Kamar saya yang mana, Nek?" tanyanya.
Bi Mia menundukkan wajahnya karena takut Tuan baru di rumahnya bertanya kepadanya.
"Menurut kamu di mana kamar kamu? Apa kamu mau tidur di kamar Jordan?" gurau sang Nenek.
Sagara menelan liurnya dengan kasar sambil menggaruk pundak belakangnya. "Baik, Nek, kalau begitu saya permisi dulu."
Sagara berjalan perlahan-lahan menuju kamar Thea walaupun dia ragu. Namun, melihat sang Nenek yang masih mengawasinya, terpaksa Sagara harus masuk ke dalam kamar sang istri.
Tok
Tok
Thea mendengus sebal. "Apa lagi sih, Bi?"
Namun, wajahnya kembali terkejut saat melihat sosok Sagara yang memaksa masuk ke dalam kamarnya.
"Lo mau apa?"
"Mandi!"
"Di sini?"