Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 PELARIAN DAN KEPANIKAN
Kesya dan Dila, tiba di apartemen Dila dalam keadaan terengah-engah, napas mereka memburu seolah baru saja mengikuti maraton. Setelah bergegas keluar dari restoran dengan kecepatan kilat, adrenaline yang memompa di dalam darah mereka baru perlahan surut.
Kesya langsung menutup pintu, menguncinya dua kali seolah takut Aksa akan menerobos masuk. lalu bersandar pada pintu, berusaha menormalkan napasnya.
Dila, yang wajahnya masih pucat, berjalan gontai ke sofa, menjatuhkan diri ke sana, tubuhnya lunglai.
"Ya Tuhan,hampir saja" desah Kesya, suaranya tercekat. Ia melangkah mendekati Dila, memegang pundak sahabatnya itu.
"Kita harus bicara, Dila. Sekarang"ujar Kesya
Kesya menceritakan semuanya, mulai dari insiden tabrakan di toilet pria, yang kini terdengar semakin konyol dan menegangkan hingga pertemuan mata dengan Aksa dan momen hampir terungkapnya identitas mereka di dekat pilar besar. Ia
menggambarkan ekspresi Aksa yang dingin dan penuh kecurigaan.
Dila mendengarkan dengan mata membulat, seolah menyaksikan film horor yang menyeramkan. Ketika Kesya selesai bercerita, keheningan mencekam menyelimuti ruangan.
Dila, yang biasanya selalu ceria, periang, dan penuh tawa, tiba-tiba memecahkan keheningan itu dengan suara tangisan yang langsung berubah menjadi histeris kepanikan yang begitu luar biasa.
"Aksa,dia melihat kita, Keysa? Dia dengar namaku? Bagaimana kalau dia benar-benar tahu?" Dila menarik napas pendek-pendek, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. Air mata mengalir deras di pipinya.
"Ya! Dia pasti tahu! Semua hancur, Keysa! Semua! Bukan masalah perjodohan itu lagi, tapi kariermu, Key. Kariermu!"
Ketakutan terbesar Dila bukan lagi masalah perjodohannya yang rumit, melainkan nasib Kesya. Ia hanya takut memikirkan sahabatnya, yang mungkin karirnya akan hancur lebur setelah ini.
Kesya adalah seorang karyawan yang jujur, cerdas, dan profesional di perusahaan Aksa. Aksa, sebagai CEO, pasti akan menganggap Kesya bersekongkol dan berkhianat. Karir cemerlang Kesya akan menjadi korban dari kebodohan Dila.
"Dia pasti akan memecat mu, Keysa. Bahkan mungkin akan menuntut! Dia bisa menghitamkan namamu di seluruh industri!" tangis Dila, suaranya terdengar pecah.
Kesya mencoba menenangkan, tetapi Dila menepis tangannya, tenggelam dalam penyesalan dan ketakutan. Kesya melihat sahabatnya itu terpuruk, wajahnya yang selalu berseri kini diliputi kekhawatiran yang mendalam. Kesya mengajukan pertanyaan, mencari respons, tetapi Dila hanya melamun, menatap kosong dengan muka penuh kekhawatiran yang menyayat hati Kesya.
Mereka berdua benar-benar panik karena Aksa mungkin sudah mengetahui kebenaran yang mengerikan itu.
Melihat Dila yang begitu terpukul, Kesya merasa iba. Ia tidak tega melihat sahabatnya menyalahkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah ketegasan muncul dalam diri Kesya. Ia menarik napas panjang, kemudian berlutut di hadapan Dila.
"Dila, tatap aku" ujar Kesya dengan suara yang lantang dan tegas, memegang kedua pipi Dila.
"Tak apa-apa, Dila. Aku kehilangan pekerjaanku, itu tak apa-apa" ulangnya lagi, menekankan setiap kata. "Pekerjaan banyak di luar sana yang menanti. Kau dengar? Banyak!"
Air mata Kesya sendiri sudah kering, berganti menjadi sebuah determinasi yang tulus.
"Aku tidak akan menyesal karena telah membantumu" lanjutnya, suaranya melembut namun tetap penuh keyakinan.
"Membantu sahabat baikku. Sahabat yang sudah seperti saudari kandungku. Sudah, jangan dipikirkan lagi."
Kesya berdiri, menatap sekeliling
"Mungkin sebaiknya memang aku harus segera beranjak dari tempat kerjaku. Cepat atau lambat, aku harus melepaskan peran ini. Lebih cepat lebih baik
agar aku bisa fokus mencari pekerjaan lain. Anggap saja ini waktu yang tepat untuk mencari tantangan baru."
Mendengar pengorbanan dan ketulusan Kesya, tangisan Dila semakin keras. Air matanya bukan lagi air mata ketakutan, melainkan air mata penyesalan.
Dila bangkit, memeluk Kesya erat-erat.
"Tapi, Keysa. kamu sudah begitu banyak berkorban untuk aku" isaknya, suaranya teredam di bahu Kesya.
"Betapa bodohnya aku yang harus menyeretmu ke dalam masalah soal perjodohan konyol ini"
Kesya membalas pelukan Dila tak kalah erat. Ia menatap tulus ke mata Dila yang basah.
"Sudah, Dila. Jangan berpikir begitu" Kesya menghapus air mata Dila dengan ibu jarinya. "Kita lupakan saja kejadian itu. Memang seharusnya juga, kan? Kebohongan itu pasti akan terbongkar dengan sendirinya. Kita sudah berusaha, dan kita tahu risiko itu ada."
Kesya tersenyum tipis, mencoba
menguatkan dirinya dan Dila. "Lagipula, Pak Aksa itu juga memang pasti sudah tahu dari awal sejak ia selalu memperhatikanku saat presentasi. Benar, 'kan? Mungkin dia hanya menunggu waktu saja"
Dila menggeleng perlahan, masih diselimuti rasa bersalah.
"Aku sangat merasa bersalah, Key" ujar Dila, memeluk Kesya kembali dengan rasa syukur yang mendalam.
"Kamu adalah sahabat terbaikku"
Kesya memejamkan mata, merasakan kehangatan pelukan itu.
"Iya, Dila.kamu juga sahabat terbaikku" jawabnya, menetapkan hati bahwa apapun konsekuensinya, persahabatan mereka jauh lebih berharga daripada pekerjaan.
Terlepas dari persahabatannya dengan Dila, Kesya memantapkan hati bahwa ia tak mengapa jika harus dipecat dari pekerjaannya. Hal itu sudah menjadi konsekuensi atas tindakannya membohongi Pak Aksa. Terlebih, Kesya merasa bersalah karena telah menyebabkan keributan antara Aksa dan orang tuanya di kantor. Baginya, ia harus menanggung resiko atas semua perbuatan itu.