Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Mengumpulkan Berkas
Nina sudah ada di rumah Diandra karena Diandra memintanya untuk datang.
"Kamu sudah benar benar dengan keputusanmu Di?" tanya Nina sambil menatap lekat wajah sahabatnya itu.
Diandra balas menatap kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela kamarnya.
"Menurutmu alasan apa yang tepat aku harus mempertahankan rumah tanggaku?" Diandra balas bertanya.
"Hmmhhh ,,,,,"Nina menarik nafas berat kemudian menghembuskannya. Nina seperti tidak ingin sahabatnya ini mengakhiri rumah tangganya meski dia tau Bagas sudah keterlaluan.
"Sinta hamil Nin,terus aku harus memaafkan? Aku bebaskan mereka Nin, aku gak akan jadi penghalang untuk mereka" jelas Diandra lagi kemudian berdiri melangkah menuju lemari tempat dia menyimpan berkas berkas pentingnya. Diandra tengah mempersiapkan berkas yang diperlukan untuk keperluan cerainya. Tekadnya sudah bulat untuk bercerai dengan Bagas.
"Aku cuman bisa mendoakan Di, semoga apa yang sudah kamu putuskan itu adalah yang terbaik buatmu" ucap Nina kemudian.
Diandra tersenyum sambil menatap sahabatnya itu.
"Aku bener bener salut sama kamu Di, tanpa banyak drama tiba tiba aja kamu langsung mau menggugat cerai Bagas" ujar Nina lagi sambil tersenyum.
"Buat apa pakai drama Nin, laki laki seperti Bagas enggak pantes ditangisi" jawab Diandra sambil tersenyum menatap Nina.
"Aku yakin kamu akan dapat yang lebih dari Bagas"
"Aamiin" ucap Diandra mang-aminkan doa Nina.
"Kamu harus bahagia Di, buktikan ke mereka berdua kamu bakal lebih baik hidupnya daripada mereka" Nina terus memberi semangat pada Diandra.
"Aku gak ingin bersaing soal kehidupanku dengan mereka Nin, biarlah mereka dengan kehidupan mereka, aku gak perduli. Aku hanya ingin menata hidupku lagi setelah semua ini selesai" jelas Diandra bijak.
"Kenapa bisa selembut itu sih hati kamu Di" tanya Nina merasa takjub dengan sikap Diandra yang masih bisa setenang itu.
"Nin,,,aku hanya ingin melepas Bagas,membuang dia jauh jauh dari hidupku, jadi aku gak perlu menangisi ini semua" jelas Diandra tegas.
"Yaaa Di, aku pasti selalu dukung kamu buat ambil keputusan yang terbaik bagimu" Nina terus memberi dukungan untuk sahabat karibnya itu.
"Gimana? Sudah lengkap semua berkas berkas yang diperlukan?" tanya Nina kemudian.
"Hemm,,sudah tinggal besok semua kepengadilan. Semoga segala urusanku di lancarkan sama Allah" ucap Diandra memohon kemudahan untuk segala urusannya.
"Insya Allah semua lancar Di"
"Sampai sekarang aku gak habis fikir kenapa bisa mereka berkhianat" gumam Nina kemudian merasa bingung dengan tingkah Bagas dan Sinta.
"Bagas ingin punya anak Nin" jawab Diandra santai.
"Dengan cara menyakiti hatimu? Harus banget seperti itu caranya? Kenapa tidak sabar banget dia mendampingi kamu, berjuang bersama sama untuk memiliki anak"
"Aku sudah pernah mencoba Nin,aku ajak dia untuk konsultasi ke dokter, tapi dia gak mau. Katanya se dikasihnya aja sama Allah,,,tapiiii ternyata dia memilih jalan instan meski harus dengan dosa"
"Allah tunjukkan siapa Bagas, ternyata Allah belum juga buat kamu hamil ya mungkin ini jawabannya Di, ternyata Bagas bukan suami yang baik, dia pengkhianat Di, sebaik itu Allah sama kamu Di"
Diandra menatap Nina haru mendengar ucapan Nina yang dirasa ada benarnya, dan saat itu juga Diandra menangis,karena dia menyadari inilah cara kerja Allah,menghindarkan umatnya dari segal hal yang tidak baik. Air mata Diandra menetes pelan jatuh dikedua pipinya.
"Yaa Nin,sebaik itu Allah sama aku, Allah bukakan topeng Bagas sebelum aku sempat diberi keturunan" gumam Diandra pelan sambil mengusap air matanya.
"Aku yakin kehidupanmu yang akan datang pasti sangat sangat sangat bahagia, kamu bakal menemukan seseorang yang akan mencintaimu luar biasa"
Diandra tersenyum mendengar ucapan Nina,dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aamiin" ucap Diandra kemudian.
"Aku mau tau bagaimana kehidupan Bagas dan Sinta selanjutnya" ucap Nina lagi.
Diandra mengerutkan keningnya merasa aneh dengan ucapan Nina.
"Apa yang ingin kamu tau?, kenapa kamu mau tau kehidupan mereka?" tanya Diandra kemudian menuntaskan rasa penasarannya.
"Aku yakin mereka gak akan bahagia" jelas Nina singkat, penjelasan yang klasik dan umum.
"Belum tentu Nin, siapa tau selama ini ternyata Bagas gak pernah bahagia denganku, Allah beri kebahagiaannya lewat Sinta apalagi mereka akan memiliki anak, bukan kah itu yang diinginkan Bagas? Jelas Diandra panjang.
"Tapi tetap saja Di, apakah ada orang bahagia setelah menyakiti orang lain?, mau itu yang dicari Bagas selama ini, mau itu karena ternyata Bagas gak bahagia denganmu selama ini, tetap aja cara mereka salah" Nina tak mau kalah menjelaskan dengan pendapatnya.
Diandra tersenyum dan dia juga menyadari itu tidak akan mungkin orang berbahagia kalau itu didapat dengan cara yang salah.
"Sinta gak ingat bagaimana kita bersahabat, semua sudah kita lewati bersama. Suka duka, tapi dia bener bener ya tega, aku sampai sekarang masih gak paham dengan tingkah Sinta Di"
"Kamu tau gak Nin, mungkin karena terlalu sakitnya hati ini, aku benar benar gak mau lagi membicarakan mereka, biarlah itu jadi urusan mereka"
"Sekarang aku hanya ingin menyelesaikan urusanku dengan Bagas, berpisah dengan dia secepatnya, lalu memulai hidupku yang baru" ucap Diandra. Meski terlihat sudah mantap dengan keputusannya tapi Nina tahu kalau sahabatnya itu masih terlihat berat untuk melepas ini semua,karena tidak mungkin Diandra bisa sekejap itu melupakan kenangannya bersama Bagas, meski juga rumah tangga mereka baru 4 tahun mereka jalani. Tapi Nina yakin Diandra masih berat melepas semua ini. Tapi Nina yakin Diandra akan bisa melewati semua ini.