Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bunker jurangjati itu sebenarnya dibangun Belanda jauh sebelum perang, untuk menyimpan logistik dan perlengkapan militer. Setelah Jepang masuk, lalu kemudian Republik berdiri, bangunan itu sempat terlupakan, nyaris tak terurus.
Ketika serangan Belanda mendadak melanda, banyak pasukan militer yang terpukul mundur. Malik teringat cerita seorang veteran tentang bunker lama yang katanya masih berisi perbekalan.
Konon, sebelum Jepang datang, pernah ada sejumlah besar amunisi dan logistik yang belum sempat dipindahkan. Karena malam keburu larut dan pejabat gudang sedang berada di kota, truk penuh muatan itu hanya dititipkan di bunker jurangjati untuk sementara. Tidak ada yang tahu bahwa gudang itu masih menyimpan persediaan… sampai kemudian pasukan Republik yang tersisa mundur ke daerah itu. Sayangnya, pada saat itu jumlah mereka tinggal segelintir.
Namun dengan Surya di sini, ia tak ingin sejarah terulang dengan sia-sia.
“Aku yakin bunker itu sudah kosong, apalagi sekarang dijadikan tempat buang air oleh penduduk sekitar,” keluh Malik, seorang prajurit tua yang ikut bergerilya sejak 1945.
Beberapa pemuda laskar tertawa kecil mendengarnya.
“Aku tetap yakin di sana ada sesuatu,Kamerad Malik !” Surya bersikeras. “Kalaupun kosong, apa salahnya kita cek? Kerugian paling besar hanyalah terlambat sedikit menyelesaikan tugas. Tapi kalau beruntung, ini bisa jadi penentu hidup-mati kita.”
Mendengar itu, Malik terdiam.
“Tunjukkan jalannya, Malik!” perintah Surya. “Kalau nanti komandan peleton marah, biar aku yang tanggung jawab penuh.”
“Baik, Ketua Regu.” Malik akhirnya mengangguk. “Tapi kita harus hati-hati, patroli Belanda bisa saja menyangka kita menyerah atau membelot.”
Gerakan mundur memang berbahaya, karena bisa langsung ditembak tanpa sempat memberi penjelasan. Tapi Surya mantap. Ia tahu risiko itu lebih kecil dibandingkan peluang menemukan perbekalan.
Ketika mereka bergerak menuju bunker Jurangjati, dari kejauhan terdengar rentetan tembakan senapan mesin Belanda. Rupanya, kelompok lain yang mencoba mencari air di sungai terjebak tembakan.
“Apa yang kau lakukan, Ketua?” bisik Okta,. “Kau memilih menjauh dari pertempuran, ini bisa lebih berbahaya.”
“Tenang saja, Okta,” jawab Surya pelan. “Kau akan mengerti sebentar lagi. Ini bukan lari, ini misi.”
Perjalanan menuju bunker cukup jauh. Untungnya, Malik hafal medan kota. Meskipun gelap gulita, langkahnya mantap tanpa ragu. Ia tahu persis di mana ada pos jaga Belanda dan jalur mana yang aman dilewati.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di depan bunker tua jurangjati.
“Ini dia,” kata Malik sambil menatap pintu besi yang sudah berkarat. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika mendapati pintu itu terkunci rapat.
“Aneh, biasanya terbuka,” gumamnya.
“Mungkin Belanda juga tahu nilainya,” ujar Okta dengan nada waspada.
Malik hendak menghantam gembok dengan batu, tapi segera dicegah Surya.
“Jangan! Suara keras bisa menarik perhatian patroli Belanda. Kita bisa habis sebelum sempat masuk.”
Malik terdiam malu. Sebagai veteran, ia tak menyangka luput memikirkan hal sesederhana itu.
“Biar aku coba,” sela seorang pemuda bernama Fauzi.
“Kau bisa bagaimana?” tanya Surya.
Fauzi tidak menjawab. Dari sakunya ia mengeluarkan seutas kawat tipis, lalu mulai mengutak-atik kunci. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi “klik” halus pintu pun terbuka.
Semua menatap Fauzi dengan kagum. Hanya Malik yang menunjukkan ekspresi aneh. Baru kemudian Surya tahu, Fauzi dulunya memang seorang pencuri yang kemudian bergabung menjadi prajurit.
Begitu pintu terbuka, bau apek bercampur busuk langsung menyeruak. Dengan sigap mereka masuk, membentuk dua barisan kecil sambil menempel ke dinding.
Saat senter dinyalakan, semua terperangah.
“Astaga… ini truk penuh logistik!” seru Okta.
Benar saja, terpal-terpal hijau menutupi tumpukan kotak dan karung. Ketika dibuka, isinya macam-macam: ada peti mortir, peti amunisi, roti kering, bahkan drum air dan beberapa botol arak bekas Jepang.
“Ya ampun, benar-benar harta karun!” seru Okta.
Para prajurit tak kuasa menahan diri untuk bersorak. Beberapa langsung menggigit roti kering meski kerasnya seperti batu.
Surya tahu seharusnya ia melarang, karena logistik ini milik batalyon, bukan untuk dihabiskan begitu saja. Tapi melihat anak buahnya yang hampir mati kelaparan kini bisa menggigit sesuatu, ia hanya tersenyum tipis.
“Kalau bukan kita yang menemukannya, mungkin semua ini sudah jatuh ke tangan Belanda,” batinnya.
Kotak-kotak yang mereka temukan ditumpuk begitu tinggi, ditutup terpal hijau militer Belanda. Meski tertutup rapat, sudut-sudut kotak kayu masih terlihat menonjol keluar.
Malik melirik Surya dengan mata penuh tanda tanya. Tanpa menunggu aba-aba, ia segera mencabut pisau tempurnya, lalu merobek tali yang mengikat terpal. Dengan sekali sentakan, kain tebal itu tersingkap.
Semua terperangah. Satu truk penuh perbekalan militer kini tampak jelas.
“Cepat, buka salah satunya!” seru Fauzi tak sabar. Kalau saja tangannya tidak sibuk memegang senter, ia pasti sudah lebih dulu menyerbu peti itu.
Malik maju. Dengan tusukan pisau, ia mencungkil tutup kotak kayu. Seketika isi di dalamnya membuat semua mata berbinar sebuah mortir, lengkap dengan amunisinya.
“Luar biasa!” seru Malik. “Ini yang kita butuhkan! Amunisi habis, sekarang kita punya lagi.”
Dari sisi lain bunker, seorang pemuda berteriak, “Ketua! Di sini ada makanan satu truk penuh roti kering!”
“Air juga ada!” sahut yang lain. “Dan… astaga, ada minuman juga, Ketua!”
Seorang prajurit menghitung cepat jumlah truk. “Ada lebih dari dua puluh truk, ketua! Ini benar-benar harta karun!”
Semua terdiam sesaat, lalu sorak-sorai meledak di ruang bunker. Di masa perang, ketika dikepung musuh dan kekurangan suplai, menemukan perbekalan sebanyak ini sama artinya dengan menemukan emas.