Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17. Respect
Matahari pagi kembali menyapa kota, membawa suasana baru di minimarket tempat Acha bekerja paruh waktu. Shift pagi ini terasa sedikit berbeda bagi Acha.
Sejak dia menginjakkan kaki di toko dan merapikan rak display, pikirannya tidak sepenuhnya fokus kepada pekerjaannya.
Setiap kali pintu kaca geser minimarket berbunyi ding-dong tanda pengunjung masuk, kepala Acha langsung menoleh dengan cepat ke arah pintu.
Matanya diam-diam menyapu setiap pelanggan yang datang, berharap sosok berjaket gelap yang beberapa hari lalu mencarinya akan muncul lagi di balik pintu itu.
Gerak-gerik Acha yang sedari tadi mondar-mandir gelisah sambil terus melirik ke arah pintu tidak lepas dari pengamatan Vika.
Teman kerjanya itu menyipitkan mata, memperhatikan Acha yang mendadak salah tingkah dan buru-buru pura-pura sibuk menyapu lantai saat menyadari ada yang memperhatikannya.
Vika berjalan mendekat dengan sapu di tangannya, lalu menyenggol pelan lengan Acha sambil tersenyum penuh selidik.
"Heh, dari tadi matanya jelalatan mulu ke arah pintu. Nyariin siapa sih, Neng? Dari tadi pagi kelihatan banget gelisah nggak karuan," goda Vika dengan nada usil.
Wajah Acha seketika memerah. Dia langsung salah tingkah, salah memegang sapu hingga hampir tersandung kakinya sendiri.
"Apaan sih, Viki! Siapa juga yang nyari orang," elak Acha cepat dengan nada defensif, meski suaranya sedikit terbata-bata menahan malu.
Vika terkekeh geli melihat reaksi sahabatnya itu. "Ah, masa sih? Orang kelihatan kok dari muka kamu merah gitu dibilang nggak nyari orang. Ngaku aja deh, kamu pasti lagi nungguin cowok itu, kan? Wah, jangan-jangan kamu sudah mulai jatuh cinta ya sama cowok itu?"
"Vika! Ngawur banget sih!" protes Acha salah tingkah, buru-buru mencubit pelan lengan Vika sambil merona hebat.
"Nggak usah sembarangan tebak, ya!"
Meski Acha terus menyangkal mati-matian, debaran aneh di dadanya justru semakin kencang, membuktikan kalau tebakan Vika sama sekali tidak meleset jauh dari kenyataan.
Suasana minimarket sedang cukup senggang karena jam makan siang. Acha, Vika, dan satu rekan kerja mereka yang lain bernama Amina, duduk berkumpul di dekat meja kasir sambil menikmati makan siang bungkus.
Di tengah suapan makanannya, Acha mendadak menghela napas panjang. Bayangan tentang pesan dari Fitri kemarin dan kekecewaan Ranti soal Alfian kembali mengusik pikirannya.
"Kenapa, Cha? Muka kamu kok kusut banget kayak baju belum disetrika," tanya Amina sambil membuka bungkus kerupuknya.
Acha menatap Vika dan Amina bergantian, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita.
"Aku lagi pusing banget mikirin Aa aku teh... Dia kemarin pulang dari Jakarta, tapi sama sekali nggak mampir ke rumah buat nemuin papah sama mamah dulu. Malah langsung balik lagi. Rasanya dia makin jauh dari keluarga kita, dan sekarang hidupnya kayaknya cuma berpusat ke istrinya, si Suci, sama keluarga besar istrinya doang."
Vika dan Amina mendengarkan cerita Acha dengan seksama, ikut merasa simpati dengan masalah keluarga yang sedang dihadapi sahabatnya itu.
"Wah, parah juga ya kalau sampai segitunya mengabaikan orang tua sendiri," komentar Amina prihatin.
Vika yang duduk di sebelah Acha tiba-tiba terdiam sejenak, lalu matanya berbinar seolah mendapat ide cemerlang. Dia menyenggol lengan Acha pelan.
"Eh, Cha... Kamu ingat kan cerita kamu soal cowok itu tempo hari? Cowok anak angkat Umi Nani yang nyariin kamu ke sini?"
Acha mengangguk pelan. "Iya, ingat. Kenapa emangnya?"
"Nah! Kenapa kamu nggak pakai saran yang kemarin aja? Coba dekati cowok itu!" cetus Vika mantap.
Amina langsung mengangguk setuju. "Betul kata Vika, Cha! Cowok itu kan dekat banget sama keluarga Umi Nani, otomatis dia pasti tahu banyak soal Aa nya kamu. Kalau kamu dekat sama cowok itu, kamu bisa cari informasi soal Aa kamu dari jauh tanpa bikin Aa kamu curiga."
Mendengar ucapan Vika dan Amina, Acha langsung tertegun. Rasanya aneh sekali, karena saran ini kini sudah disuarakan oleh banyak orang di sekitarnya—mulai dari Tasya, Ranti, dan sekarang kedua teman kerjanya ini.
Melihat Acha yang masih ragu-ragu, Vika menambahkan dengan senyuman penuh makna, "Lagian ya, Cha, jujur deh... dari gelagatnya waktu itu aja kelihatan banget kalau cowok itu sebenarnya ada rasa dan suka sama kamu tahu. Dan jujur aja, kamu sendiri juga sebenarnya ada feeling kan ke dia? Jangan disembunyikan deh, muka kamu udah ketebak banget!"
Pipi Acha langsung merona merah mendengar ledekan Vika dan Amina yang kompak mendukungnya. Amina ikut menimpali,
"Udah, sikat aja, Cha! Sekalian PDKT. Jarang-jarang kan ada cowok tulus kayak gitu, dapet informasi soal keluarga dapet, dapet pacar ganteng juga dapet. Paket komplit deh pokoknya!"
Acha hanya bisa menggigit bibir bawahnya, salah tingkah luar biasa menghadapi keroyokan dukungan dari sahabat-sahabatnya itu.
Jam istirahat kerja akhirnya tiba. Mengingat persediaan camilan di minimarket sudah habis, Vika langsung menarik tangan Acha untuk keluar toko.
"Udah, yuk, kita makan siang di luar aja, Cha. Otak kamu dari tadi pagi kusut mulu mikirin masalah Aa kamu sama cowok itu. Butuh asupan karbohidrat biar pikiran fresh!" ajak Vika penuh semangat.
Acha yang masih agak malu akibat diledek habis-habisan soal Nathan tadi, hanya bisa pasrah menuruti tarikan tangan sahabatnya.
Keduanya berjalan menyusuri trotoar tidak jauh dari minimarket, menuju tempat makan favorit para pekerja paruh waktu di sekitar sana Warteg Ibu Susi.
Begitu melangkah masuk, aroma harum masakan rumahan langsung menyapa penciuman mereka.
Warteg milik Bu Susi itu tampak bersih dan tertata rapi, lengkap dengan deretan menu menggugah selera di balik etalase kaca—mulai dari ayam goreng, oseng kangkung, telur balado, hingga perkedel kentang yang masih hangat.
"Mau ambil apa, Neng?" sapa Bu Susi ramah dari balik kaca etalase.
"Aku nasi setengah aja, Bu. Pakai oseng tempe sama ayam goreng ya," jawab Acha sambil mengambil piring dan mulai memilih lauk.
"Samain aja kayak Acha, Bu, tapi nasinya porsi kuli ya!" timpal Vika dengan nada jenaka, membuat Bu Susi tertawa kecil.
Setelah memesan es teh manis untuk melepas penat, keduanya membawa piring masing-masing dan mencari meja kosong di sudut ruangan.
Suasana warteg yang cukup ramai oleh para pekerja lain membuat percintaan dan urusan keluarga Acha sejenak terabaikan, digantikan oleh kenikmatan makanan sederhana di hadapan mereka.
Namun, di tengah suapan makanannya, Vika kembali melirik Acha dengan senyuman usil yang belum juga pudar sejak di minimarket tadi.
"Ih, Vika... jangan mulai lagi deh," protes Acha cepat begitu melihat tatapan penuh selidik dari sahabatnya itu, seolah bisa membaca pikiran Vika sebelum sempat bersuara.
Vika terkekeh pelan sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Aku kan belum ngomong apa-apa, Cha. Kenapa kamu udah gerah duluan?" tanyanya dengan nada mengejek yang sengaja dibuat-buat.
"Muka kamu tuh udah kelihatan banget mau bahas si itu lagi," balas Acha sambil memutar bola matanya, meski dia sendiri gagal menahan senyum tipis di bibirnya.
Acha berusaha menetralkan debaran jantungnya yang mendadak menggila. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menunduk menatap piring makannya. Diabaikannya sejenak notifikasi pesan dari Nathan yang masih menyala di atas meja.
"Eh, udah jam berapa nih?" gumam Acha buru-buru, melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
"Waktu istirahat kita tinggal sepuluh menit lagi, Vika. Bisa-bisa dimarahin Bu Ema kalau telat balik."
Tanpa menunggu jawaban Vika, Acha langsung menyuap sisa makanannya dengan cepat, berusaha mengalihkan gugup yang melanda.
Vika yang melihat tingkah salah tingkah sahabatnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.
"Iya deh yang lagi salah tingkah disamperin gebetan," sindir Vika penuh arti sambil ikut mempercepat suapannya.
Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir warteg Bu Susi, keduanya bergegas melangkah kembali ke minimarket. Setibanya di sana, Acha langsung merapikan penampilannya sebentar di depan kaca.
Lalu mengambil posisi di belakang meja kasir untuk melanjutkan sisa jam kerjanya, berusaha memasang wajah sesantai mungkin meskipun pikirannya terus melayang memikirkan pesan Nathan di ponselnya.
Suasana minimarket kepada sore hari itu tampak cukup tenang. Acha yang tengah sibuk merapikan tumpukan permen di rak dekat kasir tiba-tiba dikejutkan oleh bunyi lonceng pintu masuk yang berdenting nyaring.
Ding-dong!
Acha mendongak seketika. Jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat sosok pria berjaket kasual melangkah masuk ke dalam toko. Itu Nathan.
Pria itu tersenyum ramah begitu pandangan mereka bertemu, lalu berjalan perlahan menghampiri meja kasir tempat Acha berdiri.
Vika, yang kebetulan sedang menyusun botol minuman di lorong sebelah, langsung melirik ke arah mereka dengan mata berbinar-binar dan senyuman penuh arti, seolah memberikan dukungan penuh dari kejauhan.
"Hai, Cha," sapa Nathan lembut dengan suara baritonnya yang khas, berdiri di hadapan meja kasir.
Acha merona merah, berusaha mati-matian menjaga sikapnya agar terlihat tenang meskipun jemarinya sudah dingin karena gugup.
"Hai, A... Eh, tumben ke sini lagi. Bukannya kemarin bilangnya lagi sibuk yah?" tanya Acha, mencoba basa-basi untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
Nathan terkekeh pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. "Iya, emang sempat sibuk. Tapi kebetulan urusannya selesai lebih cepat, jadi aku mutusin buat mampir ke sini. Soalnya, aku lagi mengisi daya dulu biar energinya penuh."
Mendengar itu, pipi Acha semakin panas. Dia menggigit bibir bawahnya, gombalin yang di lontarkan oleh Nathan sukses membuat Acha salah tingkah.
"Ah... Gitu... yah, yaudah belanjaannya ada yang kurang gak."
"Ah kebetulan banget nih, ada satu barang yang gak bisa aku temui nih," balas Nathan menggoda, senyuman di wajahnya tidak pernah luntur.
"Apa A biar nanti teman aku yang bantu carikan" Ucap Acha masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan yang dilontarkan oleh Nathan.
"Nomor telpon kamu yang gak pernah bisa aku temukan Cha?"
Udara di sekitar Acha mendadak terasa berhenti berputar. Permintaan itu datang begitu cepat, persis seperti apa yang sudah diprediksi dan didorong oleh Tasya, Ranti, Vika, hingga Amina.
Dan anehnya, kali ini tidak ada secercah pun rasa ragu atau penolakan di dalam hatinya. Benteng pertahanan dan gengsinya runtuh seketika.
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena salah tingkah, Acha merogoh saku rok seragamnya dan mengambil ponsel miliknya.
Dia membuka kunci layar, lalu menyerahkan benda pipih itu kepada Nathan.
"Boleh... ini," ucap Acha pelan, suaranya nyaris berbisik sambil menunduk malu.
Nathan menerima ponsel itu dengan mata berbinar senang. Dia mengetikkan nomor ponselnya sendiri, lalu melakukan panggilan singkat ke nomornya agar ponsel Acha ikut berdering.
"Udah masuk ya nomor aku di Handphone kamu. Nanti kalau jam kerja kamu sudah habis, atau pas ada waktu luang, kabari aku ya, Cha," ujar Nathan sambil mengembalikan ponsel Acha dengan senyuman paling manis yang pernah Acha lihat.
Acha mengangguk pelan sambil menerima ponselnya kembali. Di sudut ruangan, Vika tampak diam-diam mengepalkan tangannya ke udara, merayakan kemenangan kecil sahabatnya.
Shift kerja malam Acha akhirnya resmi berakhir tepat pukul sepuluh malam. Begitu lampu papan nama minimarket dimatikan dan pintu kaca dikunci, Acha segera bergegas menuju ruang karyawan untuk mengambil tas selempangnya.
Namun, baru saja dia melangkah keluar dari ruang ganti, Tasya dan Vika sudah berdiri berjejer di dekat pintu keluar dengan senyuman paling usil yang pernah Acha lihat. Kedua sahabat itu melipat tangan di dada sambil menatap Acha penuh selidik.
"Hih, yang habis bertukar nomor sama si doi, jalannya jadi kelihatan lebih ringan nih!" ledek Tasya langsung tanpa basa-basi, menyenggol bahu Vika.
Vika tertawa cekikikan. "Iya dong, Sya! Lihat tuh mukanya dari tadi senyum-senyum sendiri terus dari pas cowok itu pulang sore tadi. Gengsinya sih kemarin setengah mati nolak, eh sekarang malah kasih nomor Handphonenya secara sukarela!"
Pipi Acha langsung merona merah padam hingga menjalar ke lehernya. Dia mendengus kesal, berusaha memasang tampang garang meski hatinya ketar-ketir menahan malu.
"Apaan sih kalian berdua! Kompak banget kalau urusan ngeledek orang!" protes Acha sambil mencubit pelan lengan Vika, lalu mempercepat langkahnya keluar dari pelataran minimarket.
"Ngaku aja, teh! Besok-besok pasti udah jalan bareng nih!" kejar Tasya dan Vika berbarengan sambil terbahak-bahak mengikuti langkah Acha menuju jalanan di depan minimarket.
Meskipun dia terus menjadi bahan ledekan kedua sahabatnya sepanjang jalan menuju pangkalan ojek online, Acha tidak bisa menolak kenyataan bahwa dadanya terasa hangat.
Di dalam genggamannya, ponsel yang tersimpan di saku jaketnya terasa jauh lebih berharga dari biasanya.
Sesampainya di kamar kosnya yang sederhana, Acha segera membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur.
Baru saja dia meletakkan ponsel di samping bantal, layar benda pipih itu tiba-tiba menyala menampilkan panggilan video masuk dari nomor baru yang baru saja dia simpan sore tadi "Nathan".
Jantung Acha langsung berdegup kencang. Dengan tangan sedikit gugup, dia menggeser tombol hijau dan menerima panggilan tersebut. Wajah Nathan yang tersenyum hangat langsung memenuhi layar ponselnya.
Obrolan ringan pun mengalir di antara mereka. Mulai dari cerita hari yang melelahkan di minimarket hingga candaan-candaan kecil yang membuat Acha senyum-senyum sendiri di balik selimutnya.
Di tengah perbincangan itu, Acha memanfaatkan kesempatan untuk menanyakan hal yang selama ini mengganjal di benaknya—soal Alfian.
"A... kalau boleh tahu, kamu sebenarnya tahu nggak sih kabar A Alfian? Soalnya dia akhir-akhir ini kayak menghindar dari keluarga di rumah," tanya Acha hati-hati.
Nathan terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Sebenarnya, aku nggak terlalu dekat sih sama A Alfian, Cha. Relasi aku di keluarga itu lebih dekat sama teh Suci. Jadi soal urusan pribadi A Alfian, aku kurang begitu tahu banyak."
Acha mendesah pelan, merasa sedikit kecewa karena belum menemukan titik terang. Namun, suasana di layar tiba-tiba berubah menjadi lebih serius ketika Nathan menatapnya lurus-lurus, seolah ada hal berat yang ingin dia sampaikan.
"Cha..." panggil Nathan dengan suara yang lebih pelan.
"Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku mau jujur sama kamu. Aku mau serius sama hubungan kita."
Acha tertegun, debaran di dadanya semakin menjadi.
"Tapi sebelum itu, kamu harus tahu masa lalu aku," lanjut Nathan dengan sorot mata menerawang.
"Aku punya masa lalu yang cukup kelam. Dulu, aku pernah bertunangan dengan seorang perempuan bernama Aura. Tapi pernikahan itu batal karena Aura sebenarnya tidak mencintai aku. Dia berselingkuh dengan cowok lain di belakang aku."
Acha menyimak dengan napas tertahan, ikut merasakan kepedihan dari cerita itu.
"Ternyata, Aura terpaksa menerima pertunangan itu karena disuruh oleh ibunya, Susi—yang juga pemilik warung nasi tempat kamu biasa makan siang sama teman kamu," pungkas Nathan, menutup kisah masa lalunya yang begitu mengejutkan.
Mata Acha melebar seketika. Tubuhnya yang tadinya bersandar santai di bantal langsung menegak kaku. Otaknya berputar keras, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Nathan.
Bu Susi? Pemilik warteg ramah yang setiap hari menyediakan oseng tempe dan ayam goreng kesukaannya bersama Vika?
Wanita paruh baya yang terlihat begitu hangat dan murah senyum itu ternyata menyimpan cerita masa lalu yang begitu pelik dengan Nathan—pria yang kini sedang membentangkan hatinya di hadapan Acha.
"Hah? Bu Susi pemilik warteg?" cicit Acha tak percaya, suaranya terdengar tercekat di ujung tenggorokan.
"Maksud kamu... Bu Susi yang itu, A? Yang punya warung nasi dekat minimarket tempat aku kerja?"
Nathan mengangguk pelan, senyum tipis yang getir tersungging di bibirnya. "Iya, Cha. Ibu Susi itu ibunya Aura. Makanya, masa lalu itu sempat bikin aku benar-benar terpukul dan tertutup sama perempuan."
"Tapi... pas ketemu kamu, entah kenapa semuanya berubah. Aku merasa nyaman, dan aku nggak mau menutup diri lagi."
Mendengar pengakuan tulus sekaligus rapuh itu, dada Acha bergemuruh hebat. Segala rasa terkejut dan rasa canggung seketika melebur menjadi satu, digantikan oleh empati yang mendalam.
Dia tidak menyangka di balik ketenangan sikap Nathan, tersimpan luka masa lalu yang begitu berat—dan tak disangka, jalan hidup mereka ternyata bersinggungan lewat tempat-tempat yang sangat akrab di kesehariannya, termasuk warteg Bu Susi.
Obrolan malam itu terus berlanjut semakin dalam, membahas banyak hal hingga membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.
Tidak mau kalah jujur setelah mendengar kisah masa lalu Nathan yang cukup berat, Acha pun mulai membuka diri.
Di tengah obrolan video call mereka malam itu, Acha menceritakan tentang mantan kekasihnya yang baru saja putus, seorang pria bernama Raka.
"Kalau kamu punya masa lalu yang berat sama Aura, aku juga punya cerita nggak kalah bikin makan hati, A," ucap Acha pelan, ada nada getir di suaranya.
"Mantan aku yang baru aja putus... namanya Raka."
Nathan menyimak dengan penuh perhatian, tatapannya lekat menatap layar ponsel.
"Raka itu aslinya kasar, nggak punya empati, dan yang paling bikin sesak di dada... dia tuh cuma mau manfaatin uang aku aja," lanjut Acha dengan mata menerawang.
Meluapkan unek-unek yang selama ini dia pendam sendiri. "Sama sekali nggak ada niat buat serius sama hubungan aku. Padahal aku udah berusaha sabar."
Acha mendengus kesal mengingat kelakuan mantan kekasihnya itu. "Udah gitu, dia itu pengangguran tapi pemilih banget! Disuruh kerja apa aja nggak mau karena gengsi setengah mati sama gelarnya yang sarjana S1. Katanya nggak level kalau kerja kasar, tapi giliran nganggur maunya ngandalin uang aku terus."
Mendengar cerita itu, raut wajah Nathan yang tadinya lembut berubah menjadi lebih tegas. Ada kilat kemarahan di matanya membayangkan Acha disia-siakan oleh pria seperti Raka.
"Cowok macam apa itu, ninggalin perempuan sebaik kamu cuma buat pelarian gengsi doang," kata Nathan dengan suara berat penuh penegasan.
"Untung kamu udah lepas dari dia, Cha. Jangan pernah biarkan ada cowok yang memperlakukan kamu seperti itu lagi."
Kata-kata tulus dari Nathan itu berhasil membuat hati Acha menghangat seketika. Rasanya begitu melegakan bisa memuntahkan semua beban masa lalunya kepada seseorang yang benar-benar mendengarkan dan menghargainya.
Obrolan malam itu pun ditutup dengan rasa nyaman yang kian mengikat di antara keduanya, hingga perlahan napas teratur mereka menyusul ke dalam lelap.
Meskipun cerita masa lalu yang kelam sempat meninggalkan jejak rasa sakit bagi keduanya, suasana di panggilan video itu perlahan berubah menjadi hangat kembali.
Nathan menatap layar ponselnya lekat-lekat, memandang wajah Acha yang terlihat lelah namun menyiratkan ketulusan.
Dengan nada suara yang serius namun penuh kelembutan, Nathan kembali membuka suara.
"Cha... jujur, aku sudah tidak ada waktu atau niatan buat main-main lagi," ujar Nathan pelan, suaranya terdengar sangat mantap.
"Aku nggak lagi cari pacar. Tujuan aku sekarang jelas aku lagi cari calon istri."
Acha yang mendengar pernyataan blak-blakan itu langsung menegang. Jantungnya berdegup kencang bukan main.
Belum sempat dia merangkai kata untuk membalas, Nathan melanjutkan ucapannya dengan senyuman menenangkan.
"Tapi kamu nggak usah langsung jawab sekarang, Cha. Aku tahu kita baru saling kenal dekat. Ambil waktu kamu sebanyak yang kamu mau buat mikirin ini," kata Nathan bijak.
"Aku bakal buktikan keseriusan cinta aku sama kamu lewat tindakan nyata, bukan cuma sekadar janji-janji manis."
Mendengar ketulusan yang terpancar dari tatapan dan setiap kata Nathan, dinding pertahanan terakhir di hati Acha seolah runtuh.
Rasanya begitu menenangkan dicintai dan dihargai setelah sekian lama terjebak dalam hubungan yang toksik bersama Raka.
Obrolan malam itu terus mengalir pelan, diisi dengan suara tawa kecil dan cerita-cerita ringan hingga membuat rasa lelah Acha mengambil alih.
Suara Acha perlahan melemah, kelopak matanya semakin berat, hingga akhirnya dia jatuh tertidur pulas dalam posisi berbaring menghadap ponselnya.
Di ujung sambungan video, Nathan tidak lantas mematikan panggilannya. Dia justru terdiam, memandangi wajah Acha yang terlelap damai di balik layar ponselnya dengan senyuman penuh kasih.
Tidak lama kemudian, rasa kantuk yang sama juga menyerang Nathan. Sambil terus menatap wajah Acha di layar, perlahan-lahan napas Nathan ikut teratur.
Menyusul sang gadis ke alam mimpi dalam balutan panggilan video yang masih tersambung hingga pagi menjelang.
Be to continued