Ardan Putra Anjaya seorang dosen lulusan khairo di Universitas Trisakti Bangsa. Penerus satu-satunya keluarga Anjaya. Demi bakti pada orang tua Ardan menerima perjodohan dengan wanita pilihan sang Bunda.
Zahwa Andana Srinata salah satu mahasiswa tempat Ardan mengajar. Memiliki paras yang cantik dan budi pekerti yang baik membuat Marwa menjadi idola kampus, tak ada lelaki yang tak tertarik dengannya. Namun prinsip warna tetap teguh tiada kata pacaran sebelum menikah sesuai ajaran orang tuanya.
Akankah pernikahan Ardan dan Zahwa berakhir bahagia? jika disaat benih cinta mulai muncul kedatangan orang masa lalu yang tak lain adalah kakak dari Zahwa datang untuk menagih janji Ardan untuk menikahinya? apakah yang akan dilakukan Ardan mempertahankan pernikahannya atau justru meninggalkan Zahwa demi sang kakak istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nofika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Tertunda
Gemercik suara air dari kamar mandi membangunkan Zahwa dari tidurnya, setelah kesadarannya pulih Zahwa bangkit dari kasur menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Setelahnya berlalu keluar kamar menyiapkan makan untuk Ardan.
Ardan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk dipinggangnya, keningnya berkerut dalam kala tak mendapati istrinya disana.
"Mungkin diluar kali ya?" Batin Ardan
Ardan melangkah menuju kasur, mengambil pakaian yang sudah disiapkan Zahwa dan mengenakannya.
Rasa pusing yang mendera tadi kini sudah beransur hilang, membuat Ardan kembali bisa leluasa dalam bergerak.
Sebelum menyusul istrinya, Ardan memutuskan untuk memeriksa beberapa email masuk dari kantor karena tadi Ia tidak bisa kesana dan meminta sekretaris ayahnya mengirimkan file melali email saja.
****
Ardan melangkahkan kakinya menuruni tangga, suara tawa yang berasal dari dapur menarik perhatiannya.
Dari kejauhan dilihatnya Zahwa tertawa dengan handpone yang masih berada ditelinganya. Siapa yang menelfon Zahwa hingga membuatnya begitu bahagia.
Zahwa menutup sambungan telfonnya saat melihat keberadaan Ardan disampingnya.
"Siapa yang nelfon? kayaknya seru banget" tanya Ardan sembari mendudukkan diri di kursi samping Zahwa.
"Arin mas, biasa diakan emang selalu aja ada tingkah yang bisa bikin ngakak" terang Zahwa masih menyunggingkan senyuman mengingat obrolannya dengan sahabatnya itu.
"Kamu tumbenan masak sebanyak ini?" Ardan penasaran saat melihat banyaknya makanan yang tertata rapi dimeja makan, tak biasanya Zahwa memasak sebanyak ini jika hanya untuk mereka berdua.
"Kak Marwa tadi bilang rencananya mau main kesini mas, sekalian makan malam disini. Soalnya diakan sendirian di Apartemen. Gak papakan mas?"
"Ya gak papalah sayang, itukan kakak kamu dan iparku juga kenapa haris ngomong kayak gitu. Akukan juga ingin ketemu kakak kamu, sekalian biar bisa kenal, kan dia satu-satunya keluarga kamu yang belum mas kenal" jawab Ardan sambil mengusap kepala Zahwa.
..
Di Aparteman Marwa tengah bersiap untuk berangkat ke Rumah adiknya, namun suara deringan handphone menghentikan aktivitasnya.
Setelah melihat nama penelfon Marwa langsung mengangkatnya.
"...."
"Waalaikumsalam, ada apa Mon?"tanya Marwa saat mendengar suara kecemasan dari Mona adik temannya
"..."
"APA!! Baik kakak kesana sekarang kamu kirim alamatnya ya" Marwa langsung menutup telephonnya, dan berlalu keluar Apartemen dengan tergesa-gesa.
Setelah mendapat alamat yang akan dituju, Marwa mengendarai mobilnya dengan kegelisahan dan rasa cemas.
Tak sampai 20 menit, mobil yang dikendrai Marwa sampai dipelantaran rumah sakit.
Saat masuk kedalam rumah sakit dilihatnya seseorang yang sangat ia kenal sedang mondar mandir di depan pintu UGD.
"Mona bagaimana keadaan Adam?" tanya Marwa saat telah sampai ditempat Mona.
"Aku juga belum tau kak, aku baru saja sampai saat tadi polisi mengabari kecelakaan mas adam ke Rumah" Marwa merengkuh tubuh gadis itu, seseorang yang telah dianggap sebagai adiknya sendiri.
Mona semakin menangis dalam pelukan temana kakaknya itu, saat ini dia memang membutuhkan sandaran. Seseorang yang sangat berarti baginya, kini sedang berbaring lemah didalam sana.
Suara pintu terbuka membuat Mona melepaskan diri dari pelukan Marwa.
dilihatnya dokter yang menangani kakanya itu keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan kakak saya dok?"
"Pasien baik-baik saja, tidak ada yang terlalu menghawatirkan. Tapi saat ini pasien masih bituh istirahat, kami akan memindahkannya keruang rawat setelah ini" mendengar penjelasan dari dokter Marwa dan Mona mulai merasa lega.
"Kalau begitu saya permisi dulu, pasien bisa dukunjungi nanti setelah diruang inap" tambah dokter.
Saat ini Adam telah dipindahkan keruangan inap, namun masih belum sadarkan diri karena efek obat bius. Marwa masih setia menemani Mona disana sampai Ia lupa dengan janjinya kepada Zahwa.
Selesai melaksakan sholat magrib, Marwa mengambil hpnya untuk mengabari Zahwa akan ketidakhadirannya.
Sedangkan di Rumahnya Zahwa sedang mondar mandir didepan pintu Rumah menunggu kedatangan kakaknya. Perasaan cemas tak kunjung hilang dari hatinya, ditambah lagi nomor Marwa tak bisa dihubungi.
"Sayang kamu duduk dulu, mungkin saja kakak kamu masih ada urusan makanya belum sampai" Ardan mencoba menenangkan Zahwa yang terlihat sangat gelisah.
"Tapi mas, ini bukan kak Marwa banget. Dia tidak pernah begini sebelumnya, dia pasti menghubungi jika dia akan terlambat. Aku takut mas kalau sampai dia kenapa-napa"
Disaat Ardan ingin berbicara kembali, suara hp Zahwa lebih dulu menghentikannya.
"Siapa?"tanya Ardan karena Zahwa tak kunjung menjawab panggilan itu.
"Gak tau mas, nomor gak dikenal" jawab Zahwaa memperlihatkan layar hpnya kepada Ardan.
"Angkat aja dulu siapa tahu itu penting"
Zahwa mengiyakan saran suaminya, setelah menggeser tombol hijau dilayah hpnya Zahwa dapat mendengar suara seseoranh dari sebrang, seseorang yang dari tadi dinantinya.
"**Waalaikumsalam kakak dimana?"
"Kakak lagi dirumah sakit, tadi saat kakak mau berangkat kerumah kamu Mona adiknya Adam nelfon kakak dan ngabarin kalau Adam dirumah sakit"
"Mas Adam sakit apa kak"
"Tadi dia kecelakaan, tapi Alhamdulillah tidak ada yang serius. Maaf ya sepertinya kakak tidak jadi makan malam dirumah kamu, Mona minta ditemani disini. Kamu kan tau sendiri dia hanya sendiri"
" Yasudahah kak, tidak masalah aku bisa ngerti. Titip salam buat mas Adam dan Mona ya kak, semoga lekas sembuh"
"Iya, kakak tutup dulu ya telfonnya, Assalamuallaikum**"
"Waalaikumsalam"
Zahwa membuang nafasnya lega setelah mendengar kalau kakaknya baik-baik saja.
"Gimana?" tanya Ardan saat Zahwa yelah mengakhiri panggilannya.
"Kak Marwa gak papa kok mas, dia lagi di Rumah Sakit nemenin mas Adam dan Mona"
"Mereka siapa" tanya Ardan kembali karena ini pertama kali Ia mendengar nama 2 orang itu. Apakah mereka juga bagian keluarga Zahwa.
"Mas adam itu, teman kak Marwa dari SMA, dia juga sama-sama nuntut ilmu di khoiro bareng kak Marwa. Kalau Mona itu adiknya mas Adam" terang Zahwa.
"Yasudahlah, kalau kakak kamu gak bisa datang kita makan sekarang ya. Mas lapar soalnya"
"Maaf mas, gara-gara aku kamu jadi telat makannya" Zahwa begitu merasa bersalah kepada Ardan.
"Jangan nyalahin diri kamu, ini bukan salah kamu. Sudah ya kita makan sekarang"
Ardan merangkul bahu Zahwa berjalan beriring menuju dapur menikmati makan malam yang tadi sempat tertunda.
.
.
.
.
..
langsung saja aku kasih vote
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas