"Ini bukan sebuah hubungan"
"Saya tahu"
"Kau tidak akan mendapat apapun dari hal ini"
"Saya mengerti"
"Apa kau masih ingin melanjutkan hal ini?"
Tanpa ragu lagi, Eva menjawab
"Iya"
Laki-laki yang mulai mencium dan membuka pakaiannya ini tidak tahu kalau Eva mendapatkan sesuatu dari hal ini.
Kenikmatan
Dan hanya itulah yang dibutuhkan Eva saat ini. Tanpa semua kerumitan hubungan yang pernah dijalaninya. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Eva ingin menikmati semua sentuhan dan kehangatan pria yang mulai membuat mereka menyatu itu.
Diharap pembaca dibawah umur tidak membaca ini🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Wakil Presdir memang tampan. Alis tebal, mata tajam, garis rahang yang keras dan kekuatan tubuhnya, tidak perlu dipertanyakan lagi. Berapa kalipun laki-laki itu memuaskan Eva, energinya selalu cukup bahkan berlebih untuk melanjutkan. Tapi kali ini, saat Eva melihatnya tersenyum, seperti ada sinar muncul di wajah wakil Presdir. Yang membuatnya terpesona. Dan saat laki-laki itu merengkuh tubuh dan mencium Eva secara membabi buta, dia menikmatinya. Sangat menikmati sampai lupa kalau apa yang mereka lakukan hanyalah kesepakatan tanpa perasaan.
Terbangun dari tidurnya, Eva masih bisa melihat wajah wakil Presdir di hadapannya. Laki-laki ini ... kenapa membuatnya seperti ini? Bagaimana kalau nanti dia lupa akan tujuan semua ini dan .... . Eva tidak berani membayangkan kata yang akan muncul dalam pikirannya. Dia takut tersakiti lagi, apalagi mengetahui kalau laki-laki yang sedang tidur bersamanya ini tidak akan pernah menjadi miliknya. Sampai kapanpun juga.
Eva bangun dari ranjang dan keluar dari kamar. Semalaman sudah dia melakukan hal itu, dan sekarang merasa lapar. Biasanya tiap pagi ada sarapan yang sudah tersedia untuknya. Tapi hari ini lain. Mungkin karena laki-laki itu tidak meninggalkannya saat malam dan tetap menemaninya. Kalau begitu, lebih baik Eva menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dia mulai bergerak dengan lincah di dapur tapi sebuah ketukan di pintu mengganggunya. Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini? Ke rumahnya? Biasanya tidak ada siapapun yang mencarinya.
"Apa Tuan muda disini?" tanya Mr Fint saat Eva membuka pintu.
Ternyata bukan mencarinya. Tapi mencari laki-laki itu. Eva mengangguk pelan dan Mr Fint segera meringsek masuk ke dalam rumah.
"Wakil Presdir ada di kamar" kata Eva lalu menunjuk ke arah kamarnya yang masih berantakan. Mr Fint tidak membuang waktu dan segera membangunkan laki-laki itu. Ternyata, wakil Presdir memiliki janji dengan keluarga de Hart. Pasti membicarakan pernikahan yang tidak lama lagi berlangsung. Tiba-tiba hati Eva terasa seperti dipelintir, pedih.
Tak lama, wakil Presdir keluar dalam keadaan rapi dan segera meninggalkan rumah, tanpa melihatnya sama sekali. Apa sebenarnya yang Eva harapkan. Inilah yang memang seharusnya terjadi. Setelah menghabiskan beberapa waktu dalam pikirannya yang kosong, Eva memutuskan untuk mandi. Membersihkan diri dan juga rumahnya. Merasa lelah setelah melakukan semua itu, Eva lalu mengambil tas dan pergi keluar rumah. Dia menonton film, berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, minum kopi di kafe dan membeli beberapa bahan makanan untuk isi kulasnya yang kosong. Malam hari Eva pulang dalam keadaan lelah. Dia bisa tertidur dengan mudah malam ini.
Besok paginya, Eva datang ke perusahaan dengan semangat. Tuuhnya terasa segar dan perutnya sudah terisi roti isi selai strawberry pagi ini. Lift terisi sesak dengan pegawai yang akan pergi ke bagiannya masing-masing. Semakin ke atas, lift itu menjadi kosong, menyisakan Eva dan Tuan Fint. Eva tidak melihat orang ini tadi saat masuk lift.
"Selamat pagi Tuan Fint" sapanya dengan sopan.
Orang itu menoleh dan melihat ke arahnya dengan pandangan yang seperti biasanya.
"Pagi Miss Grey"
Tidak ada pembicaraan lain setelah itu sampai lift berhenti di lantai tempat ruangan wakil Presiden berada. Sebelum keluar lift, tiba-tiba Tuan Fint berbalik dan mengatakan sesuatu pada Eva.
Sesuatu yang berhasil membuatnya tidak fokus selama seharian. Bahkan Bu Presdir menyadari keadaannya yang berbeda.
"Apa yang terjadi denganmu Eva?"
Eva tidak tahu. Dia tidak pernah berpikir akan begitu terpengaruh dengan sebuah berita yang diterimanya tadi pagi. Tapi kali ini dia bingung. Dia tahu kalau hal ini akan terjadi tapi dadanya terasa sangat sesak. Sungguh sesak sampai tidak bisa berpikir apapun.
"Maaf Bu Presdir"
Eva mencoba untuk memusatkan perhatiannya pada pekerjaan lagi, karena tidak ingin kinerjanya selama ini tercoreng karena hari ini. Dan dia cukup berhasil sampai jam pulang kantor tiba.
"Eva, besok kau harus menemani ibuku" kata Bu Presdir mengejutkan Eva.
"Nyonya Besar?"
"Iya. Ibu ingin menghadiahkan sebuah vila untuk pernikahan Henry. Tapi dia membutuhkan penilaian seseorang yang tidak hanya berkata iya terus menerus. Dan aku merekomendasikanmu. Jadi besok datanglah ke rumah utama untuk bertemu dengan ibuku. Mungkin sebelum jam makan siang kau sudah kembali ke kantor dan kita akan mengadakan pertemuan dengan Tuan Moore" jelas Bu Presdir lalu meninggalkan Eva.
Dia tidak bisa lari dari pekerjaan. Jadi Eva menekan perasaannya sendiri dan datang ke kediaman keluarga Ford keesokan harinya.
"Selamat pagi Miss Grey"
Terdengar suara lembut yang berasal dari seorang wanita anggun di depan Eva.
"Selamat pagi Nyonya Ford"
Eva tidak menyangka akan disambut oleh Nyonya Besar Ford yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari jarak yang pantas. Meski menjadi asisten Presdir selama lima tahun, Eva tidak diijinkan memiliki kedekatan lebih dengan anggota keluarga utama.
"Aku senang sekali akhirnya akan menghabiskan waktu bersama seseorang yang selalu membantu Margareth lima tahun terakhir ini"
"Saya juga demikian Nyonya"
"Duduklah dulu. Aku akan bersiap dan kita akan pergi tidak lama lagi"
"Baik Nyonya"
Eva duduk di sebuah ruangan sebesar rumahnya. Dia mengedarkan pandangan dan menemukan seorang laki-laki yang cukup berumur namun tetap gagah datang kepadanya.
"Tuan Ford" sapanya dengan berdiri.
"Kau, Evalia Grey, asisten Margareth?"
Eva merasa sedih karena ternyata Tuan Ford tidak terlalu mengenalnya. Meski sudah bekerja dengan Presdir selama lima tahun.
"Benar Tuan"
"Aku ingin bicara denganmu di ruang kerja.
"Apa? Baik"
Eva merasa bingung, tapi tetap mengikuti langkah sang penguasa rumah ke ruang kerja. Ruang penuh buku yang indah. Tuan Ford mempersilahkan untuk duduk dan Eva menurut.
"Aku harus mengucapkan terima kasih padamu" kata Tuan Ford semakin membuat Eva bingung. Sepertinya dia tidak melakukan apapun untuk menerima ucapan terima kasih dari Tuan Besar pemilik semua kekayaan yang luar biasa itu. Tapi Eva hanya bisa diam karena tidak berani menyela.
"Putraku ..."
Eva mulai mengerti kemana arah pembicaraan Tuan besar.
"... akhirnya bisa melakukan fungsinya sebagai laki-laki normal kepada tunangannya"
Sebuah berita yang sudah pernah didengar Eva dari Tuan Fint dan berhasil membuatnya tidak fokus kemarin.
"Sejak Henry mengatakan tentang kesepakatan ini, aku sebenarnya tidak setuju. Karena semua wanita yang dekat dengan putraku selalu menginginkan sesuatu. Tapi kau lain. Kau tidak menginginkan apapun dan aku baru tahu karena itu adalah karena keadaan badanmu yang berbeda"
Laki-laki itu, ternyata telah menceritakan semuanya ke ayahnya. Padahal Eva sama sekali tidak mengatakan apapun pada siapapun. Tapi ... pasti ini karena masalah ini merupakan masalah yang besar bagi keluarga ini.
"Iya" jawab Eva singkat.
"Sekarang putraku bisa melakukan hal itu pada tunangannya. Jadi aku langsung saja. Apa yang kau minta untuk tutup mulut?" tanya Tuan Besar Ford dengan segala keangkuhannya.
"Tidak ada" jawab Eva membuat pria paruh baya itu mengernyitkan alis.
"Maksudmu kau tidak menginginkan apapun dan akan tetap tutup mulut?"
"Iya"
Pria itu menatap Eva, seakan curiga dengan jawabannya.
"Seharusnya Anda juga tahu kalau saya juga mendapatkan sesuatu dari semua ini" ucap Eva memberanikan diri. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi dalam masalah ini.
"Aku tahu. Tapi apa benar kau tidak bisa ... memiliki anak?"
Eva tersenyum tipis.
"Dokter yang sudah memastikan itu. Jadi ... Anda tidak perlu khawatir. Dan saya tekankan lagi. Seandainya memang kesepakatan tak tertulis ini telah berakhir, maka itu berakhir begitu saja. Saya tidak akan mengatakan apapun pada media maupun calon menantu Anda. Anda tidak perlu khawatir"
Kelihatannya jawaban Eva tetap tidak bisa menenangkan pria pemilik perusahaan besar di negeri ini. Pria itu mengambil kertas dan menuliskan sesuatu. lalu menyodorkannya ke Eva.
"Ambil ini!" perintahnya.
Eva mengambil kertas itu dan membacanya.
Saya,
Frederick Jones Ford berjanji akan mengabulkan satu permintaan Miss Evalia Grey. Apapun itu.
Surat ini berlaku hanya sekali dan tidak ada jangka waktu.
Tertanda
Frederick Jones Ford
Sebuah kertas biasa dengan tulisan dan janji seorang Tuan Besar Ford. Kali ini, Eva memegang kertas yang sangat berharga di tangannya.
"Bawa itu dan gunakan kalau kau membutuhkan sesuatu. Kami keluarga Ford tidak pernah berhutang pada siapapun. Dan ... kalau kau mengatakan sesuatu pada media tentang keadaan Henry, maka aku akan menggunakan segala cara untuk membungkammu"
Dan sebuah ancaman yang menakutkan. Eva merasa gemetar karena ancaman yang dilakukan pria ini. Tapi dia mengambil kertas itu, menyimpannya di tas dan keluar dari ruang kerja. Begitu keluar dari ruang kerja, Eva merasa sedikit lega. Dan juga kecewa karena semua kesepakatan itu telah resmi berakhir sekarang.