Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab18
"Udah mendingan?" tanya Edwin.
Keyla mengangguk.
"Sebaiknya kamu pulang aku mau nginep disini," kata Keyla. Ia tidak ingin pulang karena ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Nggak, kita pulang bareng. Aku tau kamu masih marah" ucap Edwin.
Keyla menghela nafasnya.
"Aku udah nggak marah," bohong Keyla sebenarnya ia masih sedikit marah.
"Buktiin," ucap Edwin meminta bukti. Keyla mengernyitkan dahinya tapi tidak lama kemudian dia tersenyum lantas dengan cepat dan singkat ia mencium bibir Edwin.
"Tuh kan aku bilang apa aku udah nggak marah," ucap Keyla terkekeh melihat wajah Edwin yang tidak bereaksi, "Besok aku pulang janji cuman malem ini aja,"
Edwin mengalah dan pada akhirnya dia menyetujui permintaan Keyla.
"Oke," jawab Edwin lantas segera pergi dari kamar Keyla.
Sepeninggal suaminya, Keyla kembali bergelung dengan selimutnya.
Tok tokk
Keyla yang mendengar ketukan pintu hanya diam saja tidak berniat beranjak dan membuka pintu kamarnya.
"Mama masuk," ucap Sofia segera membuka pintu dan menghampiri Keyla yang tengah bergelung dengan selimutnya.
"Kata Edwin kamu nggak enak badan," ucap Sofia seraya duduk di samping ranjang Keyla.
"Mau di panggilin dokter?" tanyanya.
"Aku gak papah mah cuman muntah-muntah biasa," jawab Keyla tanpa membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Bentar-bentar, kamu nggak enak badan terus muntah-muntah sekarang pusing nggak?" tanya Sofia sedikit curiga.
"Iya mah sekarang aku mau istirahat kepala aku pusing," ujar Keyla.
"APAAA JANGAN-JANGAN KAMU HAMIL," teriak Sofia antusias.
Keyla langsung membuka selimutnya dengan mata melotot. Bagaimana mungkin dia hamil sementara Keyla dan Edwin belum melakukan hubungan suami istri.
"Apa sih ma jangan ngaco deh," kata Keyla membantah omongan ibunya.
"Ya tapi kan tanda-tanda nya udah jelas banget, kamu telat berapa minggu?" tanya Sofia masih antusias.
"Mah aku nggak hamil aku cuman kebanyakan minum cappucino di cafe Hana, lagian aku juga nggak telat," jelas Keyla.
"Kamu nggak salah?" tanya Sofia memastikan siapa tahu anaknya salah perhitungan.
"Ya enggak lah mah mana mungkin aku salah,"
"Ck gagal dong mama punya cucu," Sofia berdecak kesal lantaran kecewa pada anaknya. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Mah aku pusing mau tidur," ucap Keyla berusaha menghindari topik sensitif seperti itu.
"Kamu ngapain disini nggak ikut Edwin pulang?" tanya Sofia.
"Mama ngusir aku," ketus Keyla.
"Astagaaa Keyla mana mungkin mama ngusir anak sendiri," ucap Sofia geleng-geleng karena Keyla salah mengartikan perkataannya.
"Kan Aku tadi udah bilang kalau kangen ya udah aku nginep mah," tutur Keyla beralasan.
"Yakin kamu kangen mama atau lagi berantem sama Edwin?" tanya Sofia dengan tatapan menyelidik.
"Mah kepala aku pusing mama dari tadi tanya terus," ucap Keyla menatap mamanya dengan tatapan memelas agar ibunya berhenti bertanya.
Sofia menghela nafasnya. "Yaudah kamu istirahat kalau butuh apa-apa panggil mama,"
"Iya mamah sayang," kata Keyla lembut sambil memperlihatkan senyum manisnya.
Setelah itu Sofia keluar dari kamar Keyla.
Keyla lagi-lagi mengehela nafasnya.
"Hamil, yang bener aja." gumamnya seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Aish aku mau tidur," ucap Keyla segera memejamkan matanya dan tertidur begitu saja.
°°°
Dua jam sudah berlalu dan Keyla masih tetap bergelung dengan selimut, bantal dan guling, tapi tepukan di pipinya membuat Keyla seidikit terusik dan pada akhirnya terpaksa membuka matanya.
"Kenapa ma," gumam Keyla mengganti posisinya menjadi duduk dan mengucek matanya.
"Di bawah ada mertua kamu," ucap Sofia memberi tahu.
"Astaga aku belum mandi ma," ucap Keyla segera pergi ke kamar mandi. Sofia yang nelihat itu hanya geleng-geleng.
"Yaudah mama tunggu di bawah,"
"Iyaa mah," jawab Keyla sedikit keras.
Keyla menghabiskan lima belas menit untuk mandi, dan sepuluh menit untuk bersiap-siap.
Dirasa penampilannya sudah pas Keyla segera keluar kamar.
"Lama banget anak perempuan papa," ucap Dana saat sampai di depan kamar Keyla niatnya dia ingin menyusul Keyla.
"Papa Keyla kangen," ucap Keyla memeluk papanya.
"Manja," kata Dana terkekeh.
"Jarang loh pa Keyla manja kayak gini," ucap Keyla seraya nyengir kuda.
"Iya orang dulunya kamu nggak ada manja-manja nya, yang ada malah anak papa yang bar-bar," ucap Dana menyentil kening Keyla.
"Ishhh papa dulu itu khilaf," elak Keyla.
"Khilaf yang keblabasan iya," ucap Dana terkekeh disusul Keyla yang tertawa. Omongan papanya tidak pernah salah.
"Udah di tungguin mertua kamu di bawah ayo cepetan ada suami kamu juga," ucap Dana membuat Keyla langsung menoleh secepat kilat.
"Maksut papa, Edwin?" tanya Keyla memastikan.
"Suami kamu siapa lagi kalau bukan Edwin,"
"Papa duluan kebawah deh Keyla nyusul," ucap Keyla yang di angguki oleh Dana.
Bukannya segera turun Keyla malah mondar mandir di depan kamarnya.
"Kenapa ada Edwin si," gerutu Keyla seraya menggigit jari tangannya.
"Keylaa!!"
"Iyaaa mah Keyla turun!" Teriak Keyla menjawab panggilan ibunya dari bawah.
"Isshh dasar mama," gerutu Keyla seraya berjalan menuruni anak tangga rumahnya dengan tergesa-gesa.
"Astaga Keyla pelan-pelan jatuh baru tau rasa kamu," kata Sofia memperingati. Keyla hanya tersenyum tipis dan tiba saat nya di tangga terkhir Keyla memkik kaget karena dia hampir terpeleset.
"Astaga sayang hati-hati," ucap Lena juga memeringati sedangkan Edwin hendak berdiri karena melihat Keyla yang akan terpeleset.
"Heheheh," cengir Keyla menggaruk kepalanya yang tidak gatal, beruntung dia tidak jadi terpeleset karena memegangi pembatas pada tangga.
"Kamu bikin ayah kaget saja Key" ucap Farid geleng-geleng.
Keyla hanya tersenyum canggung menanggapi kecemasan para orang tuanya.
"Mama bilang juga apa hampir nyungsep kan kamu,"
"Udahlah ma tu kasian Keyla-nya cemberut," ucap Dana membuat semua yang ada diruangan itu terkekeh tentunya kecuali Edwin dan Keyla.
Keyla melirik ke sofa ruangannya niatnya ingin duduk menjauh dari Edwin tapi ternyata yang kosong hanyalah sofa disamping Edwin.
Tanpa mengatakan sepatah kata Keyla langsung duduk begitu saja di samping Edwin.
"Kata mama kamu tadi, kamu kurang sehat bener sayang?" tanya Lena.
"Ah iya Bun tadi badan aku agak nggak enak tapi sekarang udah segeran" jawab Keyla.
"Syukurlah kalau gitu," ucap Lena bersyukur karena Keyla sudah tidak kenapa-napa.
"Aku kira kita bakalan punya cucu jeng eh ternyata enggak," ucap Sofia dengan wajah kecewa.
Keyla sedikit berdehem mendadak tenggorokannya menjadi kering dan tercekat.
"Punya kamu kan?" tanya Keyla mengambil teh yang ada di depan Edwin, tanpa menunggu jawaban darinya Keyla langsung meminum tehnya.
"Kenapa emang jeng Keylanya?" tanya Lena penasaran.
"Muntah-muntah dia eh ternyata malah kebanyakan minum cappucino," terang Sofia.
Keyla mencoba untuk tidak mendengarkan perkataan mamanya dan tetap meminum teh Edwin sedikit demi sedikit.
"Gimana kalian udah ada kemajuan?" tanya Lena membuat Keyla menghentikan meminum tehnya dia merasa ada hawa-hawa yang tidak enak disekitarnya setelah Lena berucap seperti itu.
Karena Keyla terlalu gugup dia langsung meminum kembali teh Edwin sampai tandas.
"Bunda jadi ragu kalau Keyla udah nggak perawan,"
Uhuuukkkk uhuuuukkk
Keyla langsung tersedak tehnya, Edwin yang ada disampingnya reflek menepuk punggung Keyla.
"Hati-hati Key" ucap Edwin memperingati.
"Apa jadi kalian berdua belum melakukan itu?" kaget Sofia. Ia kira selama ini mereka sudah melakukannya tapi mendengar pernyataan Lena Sofia jadi tahu.
"kamu beneran masih perawan" ucap Dana.
Keyla rasanya ingin mengumpat kenapa mereka membahas hal yang sensitif.
"E..enggak kok Keyla udah nggak virgin tanya aja sama Edwin" bohong Keyla mencoba menyembunyikan ke gugupannya sedangkan Edwin hanya berdehem.
"Bener" tanya Lena.
"Iya kan sayang?" ucap Keyla memeluk tangan Edwin dan tersenyum amat lebar dan memanggilnya sayang, sengaja agar Edwin mengiakan perkataannya.
"Ehm iya bun," ucap Edwin membuat semua orang yang ada disana bernafas lega berbeda dengan Keyla yang merutuki perkataannya beberapa detik yang lalu. Ia menyadari pasti setelah ini mereka mempertanyakan masalah cucu.
"Jadi kapan nih kasih ayah cucu," ucap Dana. Tuh kan apa yang Keyla hawatirkan terjadi.
"Hhhhhh secepatnya kok yah," ceplos Keyla sangat cepat.
Keyla mengutuk mulutnya yang berbicara seenaknya tidak sesuai dengan hatinya.
"Beneran loh, papa tunggu," ucap Dana.
"Mama juga nggak sabar pengen gendong cucu ya nggak jeng," ucap Sofia antusias.
"Nah bener itu,"
"Iya mah," jawab Keyla lesu.
"Dipikir buat anak nggak susah apa, iya kalau sekali jadi kalau enggak gimana. Emangnya cowok di samping aku mau apa di ajak buat anak. Dia kan homo" cerocos Keyla pelan tidak ada yang mendengar kecuali Edwin yang berada dekat di sampingnya.
"Ehm," Edwin berdehem.
Keyla menatap Edwin dan tersenyum paksa. Mulutnya memang tidak bisa di kondisikan bisa-bisanya menyindir suaminya di samping orangnya langsung.