Bagaimana jika sihir itu benar-benar ada?
Apa yang akan kalian lakukan jika terdampar di sebuah tempat, yang memiliki segala jenis keanehan, bahaya, dan juga monster-monster yang memenuhi seluruh tempat tersebut.
Pasti kalian akan menggigil ketakutan, Kan? Namun hal itu tidak berlaku untuk pria yang yang satu ini.
Dia terlahir kembali dan menjadi salah satu penduduk dunia aneh tersebut, dengan segenap ingatan dari kehidupan sebelumnya.
Sebuah kehidupan kelam yang selalu dia miliki, kini akan berubah menjadi sebuah petualangan yang sangat berarti setelah dirinya terlahir kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hendra dwi maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LATIHAN DASAR
"Apa maksudmu? Kamu mau bilang jika tubuhku tidak mungkin menerima 'mana'?" Bara bertanya dengan wajah kecewa.
"Benar," jawab Kazan kemudian duduk bersandar pada pohon di belakang Bara.
"Apa aku tidak akan pernah bisa menggunakan sihir?" Bara duduk di depan Kazan dan kembali memasang wajah lesu.
"Kenapa kamu murung? Mungkin semua sukumu menganggap tubuhmu cacat karena tidak menggunakan sihir. Tapi apa mereka tidak pernah membayangkan jika kamu bisa membelah sihir apapun?" Kazan menjelaskan.
"Tapi apa bagusnya untuk tubuh seperti ini? Sepertinya benar kata mereka, jika aku adalah seorang elf yang sudah menerima kutukan," Bara semakin murung.
"Pemikiran dangkal... Jika tebakanku benar, dan jika tubuhmu benar-benar menolak mana, kamu bisa menjadi satu perisai terkuat di dalam pertarungan sihir. Sebuah perisai yang tidak tertembus, yang bisa membelah semua serangan dari sihir lawanmu," Kazan mencoba meyakinkan.
"Tapi..." Bara masih tidak bisa menerima.
"Anti sihir, tubuhmu benar-benar mengerikan, Bara," Kazan mendongak, dia membayangkan jika dirinya dan Garhan sedang bersama Bara, mungkin serangan sebelumnya tidak akan merenggut sebelah kaki milik ayahnya.
"Kalau memang begitu, apa yang akan kamu lakukan untuk menjadikan diriku kuat?" tanya Bara.
"Kamu hanya perlu melatih setiap gerakan tubuhmu. Singkatnya, kamu hanya perlu memiliki gerakan bela diri," jawab Kazan, "Jika kamu mau, aku bisa mengajarkanmu banyak gerakan yang sudah sangat aku kuasai," sambungnya sembari berdiri.
Melihat Kazan sudah berdiri, Bara yang masih belum bisa mencerna semua penjelasan Kazan hanya bisa menunduk. Namun setelah mendengar semua penjabaran Kazan, Bara benar-benar memiliki satu perasaan baru.
Setelah lahir tidak ada satupun elf yang memujinya, tidak terkecuali orang tuanya. Ucapan Kazan benar-benar membuat hatinya senang, meski sebenarnya dia tengah dirundung rasa kecewa setelah mengetahui dirinya tidak akan pernah bisa menggunakan sihir kedepannya.
"Kazan... Buktikan ucapanmu, lawan aku tanpa sihirmu. Jika kamu bisa menjatuhkan diriku, aku mau belajar dan mengikuti kamu," ucap Bara sembari mengangkat wajahnya. Kemudian dia berdiri dan memasang kuda-kuda sembari menggenggam erat pedang kayunya.
"Jangan menyesal... Aku hanya butuh sedikit gerakan untuk membuat wajahmu mencium tanah," Kaza tersenyum dia menghadap ke arah Bara kemudian menunggu aba-aba dari satu teman barunya.
Mendengar itu, Bara yang belum pernah melihat kelincahan Kazan hanya bisa bungkam. Dia tidak membuyarkan konsentrasinya, dan malah mengangguk untuk memberikan isyarat agar Kazan menyerang dirinya.
Melihat anggukan kepala Bara, Kazan terkekeh pelan, kemudian berlari mendekat ke arah Bara.
Kazan mengepalkan tangan miliknya kemudian melompat sebelum sampai di depan Bara.
Bara mengangkat pedang kayunya, dia mencoba menebas Kazan ketika melompat, karena lawan yang tengah berada di udara merupakan satu sasaran empuk yang tidak bisa menghindar dari serangannya.
Pedang milik Bara mengayun dengan begitu tegasnya. Tidak ada keraguan di dalam ayunannya, sehingga pedang miliknya berhasil meraih sasarannya.
Namun ketika pedang kayu milik Bara berhasil mengenai tubuh Kazan yang tengah melambung. Pedangnya bagai membelah sebuah angin.
Pedang miliknya menembus tubuh Kazan begitu saja, seperti selayaknya memotong udara.
Tanpa Bara sadari, pergerakan Kazan sangatlah cepat. Dia tidak bisa melihat gerakan Kazan sama sekali, ketika Kazan berpindah dari udara menuju belakang tubuhnya.
Tepat ketika Bara membelah bayangan tubuh Kazan. Saat itu juga Kazan melancarkan serangannya.
Kazan menendang tengkuk lutut Bara menggunakan lutut miliknya, kemudian meraih kepala Bara menggunakan tangannya.
Tubuh Bara langsung limbung karena serangan pada kakinya, dan hanya dengan sedikit tarikan lengan Kazan, Bara langsung terbanting ke atas tanah.
Bara benar-benar terkejut, dia bahkan tidak menyadari serangan Kazan sebelum tubuhnya limbung, dan dia tidak menyangka, jika serangan hebat itu, dilakukan oleh pemuda yang masih seumuran dengan dirinya.
"He... Hebat! Kamu sangat hebat, Kazan! Aku bahkan tidak pernah melihat gerakan seperti itu dari para pejuang suku milikku!" wajah Bara mulai merona, matanya berbinar karena kekaguman yang tumbuh di dalam hatinya, "Kamu harus mengajariku gerakan itu, supaya aku bisa melindungi dirimu di perjalanan kita nantinya," sambungnya dengan senyum menganga di wajahnya.
"Ha ha ha ha! Itu hanya satu gerakan saja, Bara. Ada banyak gerakan yang mungkin akan kamu kuasai kedepannya," Kazan tertawa lepas, dia juga merasa sangat bahagia, karena Bara mau menuruti permintaan egoisnya.
Malam itu Kazan meminta Bara untuk berlatih kekuatan kaki, dia meminta Bara untuk berlari berkeliling hutan, sembari memikul sebongkah batu di atas pundaknya.
Bara yang tidak tahu maksud dari latihannya tidak bisa menolak, yang dia tahu jika apa yang Kazan minta pasti memiliki maksud yang jauh dari bayangannya.
Sejak hari itu, Kazan dan Bara bertemu setiap harinya. Untuk seminggu pertama mereka hanya melakukan latihan pada malam hari saja, namun setelahnya Bara bahkan mendapat latihan sejak matahari belum menampakkan dirinya.
Para elf mulai mengamati kegiatan Kazan dan Bara, mereka terus melihat Bara yabg berlari bagai orang gila, dengan bongkahan batu di atas punggungnya.
Semua elf yang bisa memanipulasi mana menganggap latihan itu tidak cukup berguna, karena mereka bisa menguatkan kaki mereka menggunakan ledakan mana.
Namun tanpa mereka sadari, Bara mulai memiliki pondasi kaki yang kokoh. Ketika setumpuk batu dihilangkan dari pundaknya, Bara bisa berlari dengan kecepatan yang hampir seimbang dengan para prajurit elf yang menggunakan mana.
Setelah satu bulan berlalu, para elf mulai memuji metode yang Kazan berikan. Mereka melihat bukti nyata ketika Bara sudah bisa berlari melebihi kecepatan mereka, sehingga membuat mereka merasa membutuhkan pelatihan itu juga.
Sejak hari itu, bukan hanya Bara saja yang berlari berkeliling hutang sembari menggendong batu di atas pundaknya.
Para prajurit elf mulai mengikuti apa yang Bara lakukan, bertahap dari sebongkah batu fan menambah jumlahnya setiap minggunya.
Sedangkan Kazan melakukan pelatihan terpisah dari ayahnya. Garhan mengajarkan semua yang dirinya pernah lakukan, tanpa memberi contoh karena kakinya tidak utuh seperti semula.
Untungnya, Kazan merupakan anak yang sudah pernah melewati satu kehidupan sebelumnya. Dia bahkan langsung paham dengan maksud arahan yang Garhan berikan, meski hanya mendengarnya dalam satu kali penuturan saja.
Tanpa terasa sudah sebelas bulan lebih waktu berlalu semenjak pertemuan Kazan dan Bara kala itu. Mereka berdua kini sama-sama tampak kuat, dan ketangkasan mereka kini sudah begitu terkenal di dalam pemukiman suku elf yang begitu besar.
Tidak ada yang menghina Bara lagi seperti sebelumnya, mereka kini bahkan menganggap Bara sebagai satu mukjizat, yang diturunkan kepada suku mereka dalam bentuk yang berbeda.
Sedangkan untuk Garhan dan Kazan, mereka sudah dianggap sebagai anggota suku elf, meski mereka tidak memiliki bentuk telinga yang sama.
Bersambung ....
aku mampir mas Thor..
aku tunggu ya kak di persimpangan sini,, kalo sudah sampai beri tanda ,,, wkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkwkw
cerita mu menarik, selalu buat penasaran. semoga secepat nya dikontrak novelnya ya thor 👍👍
kazan up lgii
mksh udah up
semangat