Aku istrinya, tapi aku disembunyikan layaknya simpanan. Dinikahi secara siri, kemudian suamiku menikah lagi. Aku pikir itu adalah puncak neraka duniaku, aku salah. Berpisah dengan putriku yang baru lahir ke dunia, itu lebih sakit dari pada luka hatiku.
Akulah Padma, wanita yang kalian hina hanya karena starta sosial yang berbeda. Ini aku, ini kisahku, tentang istri siri yang bangkit dari lubang hina yang kalian gali untukku. Satu persatu, akan kubalas kalian! Ini janjiku, dari jiwa yang kalian benci selama ini.
Follow IG author Sept : Sept_September2020
Selamat datang di karyaku ke 22. Selamat membaca, semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Hati
Istri Rasa Simpanan Bab 18
Oleh Sept
"Langsung saja, Pak! Istri sama anak saya di mana?" tanya Guntur yang kurang sabar mendengar kata-kata dari warga yang berbelit menurutnya.
"Jadi benar, Bapak suaminya Padma?" tanya warga tersebut dengan tatapan heran. Masih belum percaya pada Guntur, kalau pria itu adalah suaminya Padma.
Dahi Guntur langsung mengerut, "Ya, kenapa?" Guntur yang tidak sabaran, mulai galak.
"Tapi waktu para perwalian warga minta bukti surat nikah, dan lain-lain kok saudari Padma tidak bisa menunjukkan apapun? Bapak ini benar suaminya atau ngaku-ngaku saja? Atau saudari Padma ini cuma jadi simpenan Bapak?" tuduh warga yang tadi kalem, kini mulai sedikit keras. Karena ekspresi Guntur juga terlihat marah. Jadi dia pun ikut terpancing.
Seketika Guntur mengusap wajahnya. "Jadi kalian usir istri saya?" tebak Guntur dengan nada marah.
"Saya suaminya! Benar-benar suaminya!" bentak Guntur yang sudah sangat emosional.
Dua warga datang, karena terdengar keributan.
"Ada apa ini?" tanya warga yang memakai kaos oblong tersebut.
"Ini ... pria yang ngaku-ngaku suaminya Padma. Tapi kan tidak ada surat atau bukti-buktinya."
Mendengar pernyataan warga, Guntur semakin kebakaran jenggot.
"Hati-hati kalau Bapak bicara! Saya tuntut ke pengadilan!" ujar Guntur marah.
"Tenang dulu, sabar ... Pak. Sekarang begini, kalau memang kalian sudah menikah, dan bukan pasangan kumpul keboo, bisahkah Bapak tunjukkan surat nikah kalian?"
Guntur menahan napas kesal, seperti buah simalakama, ia terjebak dengan situasi. Masalahnya, selama ini ia hanya nikah resmi dengan Bela. Kalau dengan Padma, hanya nikah siri. Ini gara-gara ia tidak mau kehilangan warisan dari nyonya Gumilang.
Niatnya menunggu sang mama luluh, siapa tahu lama-lama menerima Padma. Eh tidak tahunya ia malah disuruh menikah dengan wanita pilihan mamanya itu.
Sebagai orang yang terlahir kaya sejak kecil, mulanya Guntur enggan melepas harta dari sang mama. Lain cerita sekarang ini, ketika dia melepaskan semuanya, kini Padma juga sudah hilang entah ke mana.
Yakin kalah jika terus berdebat dengan para warga, Guntur akhirnya meninggalkan tempat tersebut. Ia meninggalkan rumah Padma dengan langkah gusar.
"Tuh ... bapaknya tidak punya bukti. Jadi benar aduan dari warga. Mereka selama ini kumpul keboo ... Astaghfirullahaladzim, dunia sudah tua. Manusia pada tidak takut dosa!" komentar warga yang melihat Guntur pergi meninggalkan rumah Padma.
"Sudah-sudah, buyar ... yang penting tempat tinggal Kita sudah bersih dari penyakit masyarakat. Takutnya membawa dampak buruk bagi warga lain."
"Benar, biar jadi contoh yang lain!"
Para warga pun pergi.
***
Di sebuah terminal. Ramai dengan para calon penumpang yang akan menuju kota masing-masing.
"Pad ... Kita mau pergi ke mana?" tanya ibunya.
Padma duduk di salah satu bis yang belum jalan. Mereka bertiga sudah naik bis antar provinsi.
"Kamu gak telpon nak Guntur, Pad?" Ibunya terus saja bertanya.
Padma menggeleng. Entah mengapa, ia kok ingin menghindar untuk beberapa waktu. Sikap Guntur sudah berubah. Apalagi istri sah suaminya itu sempat mengancam, akan merebut Keny jika Padma tidak meninggalkan Guntur.
Bella sampai memprovokasi warga agar dia diusir. Sebenarnya diusir pun Padma tidak takut, yang membuatnya pergi adalah Keny. Ya, dia takut Bela akan mengambil Keny darinya. Lebih baik ia mengalah, meninggalkan Guntur. Tapi sang ibu tidak tahu apa-apa, yang ibunya tahu, Padma dikira kumpul keboo. Makanya diusir, padahal tak hanya itu. Ada dalang dari kejadian yang membuat Padma kini pergi.
"Pad ... nanti kalau suamimu marah bagaimana?" Ibu Padma terlihat sangat khawatir.
Padma menghela napas panjang. Sepertinya keputusan Padma sudah final.
"Bu ... mulai sekarang, Kita hidup bertiga saja ya, Bu. Padma punya Keny dan Ibu itu sudah cukup," ucap Padma lirih.
Bohong jika bilang itu semua cukup, sebab hati kecilnya juga menjerit. Orang yang ia cintai sudah berubah banyak. Guntur pria hangat yang membuatnya merasa dicintai kini hanya membuatnya sering menangis.
Melihat sorot mata putrinya, ibu Padma pun mengusap lengan Padma.
"Sabar ya, Pad ... maafkan Ibu. Kamu lahir jadi anak Ibu ... membuat semua orang memandang rendah kamu, Nak. Maafkan Ibu ya, Pad."
Padma memalingkan wajah, tidak sanggup membiarkan ibunya melihat air matanya yang menerabas jatuh ke pipi.
BERSAMBUNG
Kita tidak bisa memilih, akan dilahirkan di Rahim siapa, menjadi miskin atau kaya, itu sebuah takdir. Sebenarnya, orang kaya pun diuji, tidak melulu orang miskin dengan sejuta kesusahan yang mendera. Orang Kaya pun punya masalah. Untuk kalian, apapun ujian kalian, tetap semangat.
Akhir lebih baik daripada permulaan...
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Jangan lupa jejak ya. Komen kalian sangat membuat Sept semangat. Heehheheh
maaf ya,klo slh..jngn di bully/Pray/