5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kekuatan kasih dan sayang
Ritual Darurat: Resonansi Orang Tua dan Anak
Melalui ikatan batin yang suci, energi para orang tua di Bumi tersalurkan sebagai "jembatan" bagi putri-putri mereka. Tiba-tiba, di puncak menara jam, muncul bayangan transparan (proyeksi astral) dari sepuluh orang tua mereka yang berdiri di belakang masing-masing anak.
Daniel dan Caryn meletakkan tangan astral mereka di bahu Azzura, memberikan stabilitas pada elemen Api dan Cahaya.
Variz dan Jesi membimbing tangan Rachel, menenangkan badai Udara dan Air.
Fadhy dan Zahira menyelimuti Luna dengan kehangatan agar elemen Es-nya tidak membeku secara buta.
Mark dan Joy memperkuat tekad Olivia untuk mengendalikan Akar dan Tumbuhan.
Jonathan dan Elia memberikan kekuatan pada Vera untuk menopang seluruh menara dengan elemen Tanah.
"Sekarang, Putriku... ambil kunci itu bersama-sama!" suara Daniel bergema di benak Azzura.
Kelimanya mengulurkan tangan secara serempak. Saat jemari mereka menyentuh gagang bintang itu, cahaya putih yang sangat menyilaukan meledak, menetralkan seluruh aura hitam yang mencoba mendekati menara.
Kunci itu akhirnya terangkat. Bentuknya bukan lagi sekadar kunci kecil, melainkan berubah menjadi sebuah tongkat pusaka pendek yang memancarkan lima warna elemen secara bergantian. Begitu kunci itu berada di tangan Azzura, seluruh menara jam berhenti bergetar.Begitu kunci itu berada di tangan Azzura, seluruh menara jam berhenti bergetar.
Tepat saat itu, pintu menara hancur berkeping-keping. Archmagus Valerius masuk dengan wajah murka, diikuti oleh pasukan elitnya. Namun, ia terhenti saat melihat cahaya suci yang melindungi kelima gadis itu.
"Kalian... bagaimana mungkin kalian bisa memanggil kekuatan para pendahulu dari Bumi?!" teriak Valerius tidak percaya.
Azzura berdiri paling depan, matanya kini bersinar dengan cahaya keemasan yang murni. "Persahabatan dan cinta orang tua kami jauh lebih kuat daripada haus kekuasaanmu, Valerius."
Bayangan astral orang tua mereka perlahan memudar, memberikan satu senyuman terakhir sebelum menghilang sepenuhnya. Namun, kekuatan mereka kini telah menyatu di dalam diri kelima sahabat itu.
"Kita tidak bisa bertarung di sini selamanya! Menara ini akan runtuh!" teriak Xander sambil menangkis serangan proyektil energi dari pasukan dewan yang merayap di dinding luar.
Archmagus Valerius tertawa sinis, wajahnya yang keriput terlihat mengerikan di bawah cahaya Gerhana Merah yang kian pekat. "Kalian pikir Kunci itu akan menyelamatkan kalian? Tanpa Inti Euthopia, tongkat itu hanyalah perhiasan mahal!" Valerius menghentakkan tongkat hitamnya, menciptakan gelombang gravitasi yang amat berat hingga lantai batu di bawah kaki mereka retak.
Azzura menggenggam Kunci Aether yang bergetar hebat. "Dia benar, kita harus membawa Kunci ini ke Inti Bumi Utopia sekarang juga! Olivia, Vera, buat jalan!"
Vera menggeram, ia menghantamkan tinjunya ke lantai. "Batu, patuhi perintahku!" Seketika, lantai menara meluncur turun seperti lift darurat, membawa mereka melewati kepungan pasukan elit. Saat mereka mendarat di pelataran bawah, selusin anggota Dewan Senior sudah menunggu dengan jubah hitam mereka
"Jangan biarkan mereka lolos!" teriak salah satu anggota dewan sambil melepaskan rantai api hitam.
Rachel maju ke depan, ia memutar tubuhnya dengan anggun. "Udara dan Air, bersatulah!" Ia menciptakan pusaran air raksasa yang bercampur dengan angin puyuh, memadamkan api hitam tersebut dan melemparkan para penyihir dewan hingga menghantam pilar-pilar batu.
Sementara itu, Luna meluncur di atas jalur es yang ia ciptakan sendiri. "Tetap di belakangku!" Ia membekukan senjata-senjata para pengawal sebelum mereka sempat mengayunkannya.
Valerius mengejar mereka dari udara, melayang dengan sayap kegelapan. "Kembali kalian!" Ia melepaskan ledakan energi gravitasi yang menghancurkan jalan di depan Azzura.
Tepat di bawah patung pendiri akademi di tengah alun-alun, terdapat sebuah segel raksasa yang tersembunyi. "Itu pintunya!" seru Olivia. Ia segera merapal mantra, dan akar-akar raksasa muncul dari bawah tanah, mencoba menahan kaki Valerius agar tidak bisa mendekat.
Azzura berdiri di tengah segel tersebut. "Teman-teman, lindungi aku! Aku butuh waktu untuk membuka portalnya!"
Pertempuran sengit pun pecah di alun-alun. Xander bertarung satu lawan satu dengan Valerius di udara, sementara Rachel, Luna, Vera, dan Olivia membentuk barikade melingkar untuk melindungi Azzura. Mereka harus menahan gempuran sihir dari segala arah.
Azzura mengangkat Kunci Mageia tinggi-tinggi. "Dengan restu ayah dan ibuku, dan dengan kekuatan lima elemen... BUKA!"
Tongkat itu memancarkan sinar laser berwarna pelangi yang menghantam segel di lantai. Tanah bergetar hebat, suara gemuruh terdengar seperti raungan naga purba. Cahaya dari tongkat itu mulai menyerap warna merah dari gerhana di langit, mengubahnya menjadi energi murni.
KRAAAAANG!