Warning : 21+
Ini karya pertama saya.
Berkisah tentang perjalanan cinta seorang gadis yatim piatu yang sederhana. Hidupnya berubah setelah takdir membawanya menikah dengan seorang Duda beranak satu yang tak lain adalah mantan suami pemilik butik tempatnya bekerja.
Tak disangka takdir menghempaskannya ke jurang kesedihan terdalam ketika dia mengetahui suaminya masih menaruh perhatian pada sang mantan istri, ditambah dengan sebuah insiden tak terduga yang membuatnya harus mengandung anak dari pria yang tak dikenalnya. Dan pria itu tak lain adalah kakak kandung mantan istri suaminya.
Akankah dia berhasil menghadapi takdirnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dessy15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur (Part 1)
Author POV
Setelah menempuh perjalanan kereta api dari kota J ke kota Y selama 8 jam. Akhirnya Lea telah sampai di stasiun kota Y pada pukul 4 pagi.
Lea yang berdiri di pintu keluar celingukan sendiri mengamati suasana stasiun pada subuh itu. Udara dingin merambati kulitnya meskipun dia sudah mengenakan jaket hoodie tebal. Langit pun masih tampak gelap belum terlihat semburat fajar yang mulai menyingsing. Lea menimbang nimbang apakah akan langsung menuju rumah kakaknya atau akan rehat dulu di penginapan terdekat.
" Wah... pas ternyata di seberang jalan ada penginapan. Lumayanlah istirahat dulu sebentar di sana. Nanti siangan aja jalan ke rumah mbak Aina. " Gumamnya dalam hati.
Lea segera berjalan menyebrangi jalan dari depan stasiun menuju sebuah penginapan sederhana.
Sampai di dalam kamar yang di sewanya Lea segera menuju kamar mandi karena sudah menahan buang air kecil sejak di perjalanan. Lea membersihkan badan dan mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih nyaman untuk tidur. Kemudian bergegas naik ke atas bed dan merebahkan diri. Saat akan menutup mata mencoba untuk tidur, kembali bayangan Adit berkelebatan di kepalanya.
" Apa yang dilakukan Adit tadi malam saat tau aku gak ada di kos ya ? Hmmmm..... Pasti dia telpon telpon ke ponselku. " Sekilas Lea menoleh ke arah tas slempang kecilnya yang di letakkan di atas meja. Lea cukup penasaran untuk mengaktifkan ponselnya dan melihat panggilan atau pesan yang mungkin Adit kirim semalam. Namun dia mengurungkannya.
" Husshh... hussshh...!! pergi jauh jauh !! Aku udah kabur sejauh ini kamu masih aja nempel di mataku.... hufffttt !!! " Lea menghembuskan nafas kasar.
" Kali ini kamu harus kuat Lea, jangan tergoda dengan ponselmu. Luruskan kembali niatmu untuk keluar dari hidup Adit. Semua ini untuk kebaikanmu sendiri. Benar kata Vita, banyak perjaka tingting yang udah ngantri di depan mata. Semangat !!! " Lea mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mengingatkan dirinya agar tidak lagi menghianati niatnya.
Lea meraih guling di sampingnya, menaikkan selimut hingga menutupi kepala dan berangsur tidur.
Pagi ini Adit bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada acara penting, tapi karena semalaman dia gelisah sehingga tidak bisa tidur. Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi dan dia sudah duduk di balik meja kerja di ruangannya. Dia duduk menghadap laptopnya yang sudah menyala, tapi pikirannya melayang jauh entah kemana.
Tok..tok...tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
" Masuk. "
Ceklek....
" Permisi pak. Saya ijin membersihkan ruangannya sebentar. " Kata seorang pria muda yang merupakan OB di kantor Adit.
" Bersihkan nanti saja setelah jam kantor selesai. Aku sedang tidak ingin di ganggu. "
" Baik pak. Permisi. " OB itu pun bergegas berbalik badan untuk keluar, namun Adit kembali memanggilnya.
" Tunggu..! Tolong buatkan aku kopi hitam tanpa gula. "
" Baik pak. Segera saya buatkan. "
Ketika OB itu membuka pintu untuk keluar, bertepatan dengan Andra yang baru saja datang dan akan masuk ke dalam ruangan Adit.
" Pak Adit sudah datang ? " Tanya Andra heran melihat lampu ruangan Adit sudah menyala.
" Sudah pak. Ini minta saya bikinkan kopi. Bapak kopi sekalian ? " Tanya sang OB dengan sopan.
" Tidak perlu. Aku baru saja minum kopi di rumah. Terimakasih. " Jawab Andra sambil berlalu masuk ke dalam ruangan Adit.
" Selamat pagi pak Adit. Apakah ada sesuatu hal yang penting sehingga bapak datang sepagi ini ? " Tanya Andra sang asisten yang heran karena atasannya datang ke kantor pagi buta tanpa memberinya instruksi apapun.
Adit masih diam tak merespon pertanyaan Andra. Andra yang berdiri di depan meja Adit mengamati wajah atasannya yang tampak sayu seperti kurang tidur dan sepertinya sedang tidak fokus dengan laptop yang menyala di depannya. Ya...terlihat jelas kalau raganya di sini tapi pikirannya melayang entah kemana.
" Pak... Pak Adit, Anda baik baik saja ??!! " Andra mencoba menyadarkan Adit dari lamunannya.
" Hmmm....eh...Andra ! kapan kamu datang ? " Adit cukup kaget melihat Andra yang sudah berdiri di hadapannya. Andra pun hanya bisa memutar bola matanya mendengar pertanyaan Adit.
" Baru saja pak. Apa ada hal urgent yang membuat bapak datang lebih awal ? " Tanya Andra masih penasaran.
" Tidak...tidak ada. Aku hanya sulit tidur semalam jadi aku putuskan datang lebih awal ke kantor untuk mempersiapkan bahan meeting dengan investor siang ini. " Jawab Adit.
" Baiklah, saya permisi ke luar. Kalau Bapak butuh sesuatu bisa memanggil saya, saya ada di ruangan. " Pamit Andra yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Adit.
Setelah Andra keluar dari ruangannya, Adit kembali memikirkan keberadaan Lea. Sampai pagi ini ponsel gadis itu masih belum aktif, terlihat dari pesan pesan yang dikirim Adit semalam masih belum membiru ? Semalam Vita mengatakan kalau Lea mendapat telpon dari kakaknya di kota Y dan harus segera ke sana karena ada acara penting.
Falshback ON
" Kemana Lea pergi ? Aku sudah menunggu di sini selama 3 jam tapi dia belum juga pulang. Aku pikir dia sedang keluar bersamamu. " Tanya Adit melihat Vita yang turun sendirian dari Taxi.
" Ish...matilah aku kalau sampai ketahuan...." Desah Vita dalam hati. Vita tidak langsung menjawab pertanyaan Adit saking gugupnya. Dia melihat kekhawatiran yang besar dari sorot mata Adit. " Ya Tuhan...kali ini aku ga boleh salah bicara...." Gumamnya dalam hati.
" Tadi Lea dapat panggilan dari kakaknya di kota Y. Dia harus segera kesana karena ada acara keluarga yang sangat penting. " Jawab Vita dengan suara tercekat.
" Apakah ada hal buruk terjadi di sana ? " Tanya Adit dengan tatapan menyelidik.
" Sepertinya tidak, Lea hanya mengatakan kalau dia harus segera ke tempat kakaknya karena ada acara penting. Itu sajak Pak. " Vita berusaha berbicara senormal mungkin meskipun telapak tangannya yang dingin tak henti hentinya meremas tepian dressnya.
" Dia berangkat sendiri ? Naik apa dia kesana ? " Tanya Adit lagi masih penasaran.
" Iya, dia berangkat sendiri dengan Taxi, saya kurang tahu dia naik Travel atau kereta atau malah mungkin pesawat. Karena tadi dia buru buru jadi saya tidak sempat bertanya banyak. " Jawab Vita.
" Malam malam begini dia nekat berangkat ? Apa menunggu sebentar pagi tidak bisa ?!! Cks....!!! " Adit mendengus kesal sambil mengusap wajahnya. Vita hanya diam terpaku menatap Adit yang tampak frustasi.
" Kamu tahu alamat kakaknya di kota Y ? " Tanya Adit sambil menyalakan ponselnya.
" Saya tidak tahu pak, saya belum pernah main ke sana. " Jawab Vita singkat.
" Ponsel Lea tidak aktif. Tolong jika dia menghubungimu minta dia segera menghubungiku. Aku mengkhawatirkannya. "
" Baik, akan saya sampaikan. " Jawab Vita sambil mengangguk.
" Baiklah, aku pulang dulu. Jangan lupa pesanku tadi, minta Lea segera menghubungiku. " Kata Adit lalu berjalan ke arah mobilnya.
Vita hanya terpaku menatap Adit yang berjalan masuk ke dalam mobil. Menunggunya hingga mobil yang dikendarai Adit menghilang dari pandangannya.
" Lea... gimana bisa kamu bilang kalau dia gak cinta sama kamu. Lihat aja pria itu, tampangnya udah kayak hidup segan mati tak mau. Bisa bisanya nungguin di sini sampe 3 jam. huufftt..!!! Gak mungkinlah kalau gak ada rasa ! " Ujar Vita pada dirinya sendiri lalu berjalan memasuki rumah kosnya.
Falshback OFF
Tok...Tok...Tok...
" Iya, sebentar. "
Cekelek..
" Aleaaa.....???!!! Aina berteriak histeris melihat ternyata adiknya yang berada di balik pintu.
" Mbak....!!! " Alea pun langsung menghambur memeluk kakaknya. Keduanya berpelukan dan larut dalam tangis kerinduan.
Setelah lama mereka melepas rindu dengan pelukan dan tangis haru di depan pintu, akhirnya Aina mengurai pelukan mereka dan mengajak Lea masuk ke dalam rumah.
" Ayo masuk dek... sini mbak bawain barang bawaannya. "
" Ini oleh oleh dari kota B mbak, kemarin Lea habis jalan jalan ke sana. " kata Lea sembari mengulurkan tas besar berisi oleh oleh kepada kakaknya.
" Kenapa musti repot repot sih dek, berat kan kamu nenteng banyak barang sendirian ke sini. " Kata Aina penuh kekhawatiran.
" Ga seberapa beratnya mbak. "Jawab Lea sambil menyunggingkan senyum manis.
Merekapun berjalan masuk menuju ruang keluarga.
" Kamu nginep kan dek ? " Tanya Aina yang berjalan ke arah dapur untuk menyimpan oleh oleh dari Lea.
" Iya mbak. Aku cuti seminggu. Mau aku puas puasin main sama mbak di sini hehhee. " Jawab Lea dari ruang keluarga.
" Lila kemana mbak ? Sekolah ? " Tanya Lea kepada Aina yang terlihat berjalan dari arah dapur membawa seteko minuman dan gelas kosong.
" Iya sekolah. Udah ribut minta sekolah dia. Makanya aku masukin ke PAUD deket rumah. Bentar lagi juga aku jemput. " Aina meletakkan minuman dan gelas kosong di atas meja.
" Umur berapa sih Lila ? 4 tahun ya ? " Tanya Lea sembari menuangkan minuman ke gelasnya.
" Iya, udah 4 tahun, hampir 5 beberapa bulan lagi. Bentar dek, mbak ambilin pisang goreng. Barusan mbak selesai goreng pisang. " Aina pun berjalan kembali ke dapur.
Lea tertegun memandangi foto foto yang ada di ruangan itu. Beberapa foto keluarga kakaknya dan foto foto Lila putri pertama Aina menghiasi dinding ruangan itu. Lea merasa kakaknya sangat beruntung bisa menikah dengan laki laki yang dicintainya dan bisa membangun keluarga yang sempurna. Suami Aina merupakan dosen tetap di sebuah perguruan tinggi negeri di kota itu. Namanya mas Heru. Mas Heru dulu adalah kakak tingkat Aina saat di universitas. Mereka berpacaran sejak Aina berada di semester 4 dan Heru di semester akhir. Hubungan kakaknya dengan mas Heru berjalan mulus tanpa kendala yang berarti, bahkan kedua orang tua mas Heru begitu menyayangi mbak Aina seperti putri mereka sendiri. Mbak Aina yang cantik, pintar dan lembut sangat mudah mengambil hati kedua mertuanya. Ditambah lagi dengan kehadiran putri kecilnya yang sangat cantik, Lila, menjadi pelengkap kesempurnaan rumah tangga kakaknya.
" Bapak...Ibuk...,, apa mungkin Lea bisa memiliki keluarga yang sempurna seperti mbak Ina ? " Lea bergumam pelan memanggil ayah ibunya yang telah tiada, dia mulai mengkhawatirkan masa depannya sendiri.
*
*
*
*
*
Jangan lupa like dan komennya readera. Terimakasih telah mengikuti novel ini. 😘
q menunggu kelanjutannya
semangat author💪👏👏