Menceritakan tentang hasil tes DNA yang dipalsukan sehingga wanita bernama Aisyah serta anak bayinya diusir oleh suaminya. Suaminya adalah seorang bos muda kaya raya yang merupakan majikan Aisyah. Awal ke kota Aisyah bekerja merawat Ziyan yang mengalami cacat karena kecelakaan mobil.
pada hari H pernikahan Ziyan dengan seorang selebgram terkenal, ternyata sang calon menghilang. Untuk menutupi malu keluarga Ziyan mengintimidasi Aisyah agar mau menjadi pengganti calon Istri Ziyan.
Saat cinta di antara mereka mulai tumbuh, sang kekasih kembali dan berusaha merebut kembali Ziyan dengan cara apa pun. Akhirnya Aisyah terusir dari kehidupan Ziyan dan si kekasih merasa menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati suryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Rumah
Bab 18
Nyonya Siska menentang keras keinginan Ziyan yang hendak tinggal di rumahnya sendiri. Namun, Ziyan sudah tidak peduli lagi tentang itu. Usia tiga puluh empat tahun, sudah tidak wajar lagi jika masih diatur dan dikendalikan oleh orang tua sampai hal yang teramat sepele.
"Aku pulang ke rumah ingin istirahat setelah pusing di kantor. Kalau di rumah aku juga tidak bisa istirahat, ya, untuk apa aku bertahan di sini." Ziyan mengutarakan alasannya dengan nada kesal.
Tanpa menunggu persetujuan Nyonya Siska,
Ziyan menyuruh Aisyah mengemasi pakaiannya. Biarlah Bu Yati yang mengemasi perlengkapannya. Nyonya Siska menjatuhkan tubuhnya di sofa, dia mencoba meredam amarah dan rasa kesal yang sedang bergemuruh di dadanya.
Setelah Aisyah keluar dari kamar, dia hanya membawa sebuah tas kecil.
"Hanya segitu?" tanya Ziyan heran.
"Iya, Tuan. Pakaian saya hanya segini."
Nyonya Siska memanggil Aisyah, lalu menyerahkan amplop persegi panjang bewarna cokelat.
"Ini gaji selama kerja dengan saya. Karena kamu ikut Ziyan, Dia yang akan menggaji kamu," tutur Nyonya Siska.
Nyonya Siska menyerahkan gaji Aisyah selama satu setengah bulan. Aisyah sendiri yang mengatakan kepada Nyonya Siska bahwa gajinya tidak usah diberikan langsung saat Nyonya Siska menyerahkan gajinya di tanggal gajian kemarin.
***
Dani mengantar mereka pindah ke rumah pribadi Ziyan yang berada jauh di pinggir kota. Sebuah perumahan dengan model cluster menjadi tujuan mereka. Sesampai di pos satpam, Ziyan menunjukkan identitasnya dan mengatakan bahwa dia kembali tinggal di komplek ini bersama Aisyah.
"Dia pembantuku," ucap Ziyan tanpa memikirkan perasaan Aisyah.
Setiap rumah di sini memiliki bentuk yang sama dan tidak memiliki pagar.
"Rumah kita nomor 5. Ingat nomor 5 jangan salah masuk rumah," ujar Ziyan saat mereka turun dari mobil.
Aisyah tertawa. "seceroboh itu, kah, saya, Tuan?" Dia mencoba melupakan ucapan Ziyan saat di pos satpam tadi.
"Bisa jadi," jawab Ziyan acuh.
Dani menurunkan barang-barang milik Ziyan. Dia menanyakan bagaimana mengenai mobil, di tinggal apa harus dia bawa pulang. Ziyan memerintahkan bawa pulang saja dahulu sampai nanti Aisyah bisa menyetir mobil. Namun, Dani harus datang tepat waktu untuk menjemput Ziyan berangkat ke kantor.
Setelah Dani pamit pulang, Ziyan menunjukkan kamar mana yang akan dia pakai dan kamar mana yang akan Aisyah tempati. Rumah ini memiliki tiga kamar. Aisyah mebawa barang-barang Ziyan ke kamar yang dia tunjuk. Mulailah Aisyah merapikan pakaian di dalam lemari tetapi, saat membuka lemari dia mendapati pakaian-pakaian wanita.
"Tuan, di dalam lemari ada pakaian wanita. Bagaimana?" tanya Aisyah kepada Ziyang yang sedang rebahan di tempat tidur.
"Geserkan saja! Pakaian saya juga tidak banyak."
"Apa tidak dimasukkan ke dalam travel bag ini?"
"Tidak usah. Mana tau dia akan kembali."
Aisyah mendengar itu seperti suara godam yang menghantam ke dadanya. Aisyah memilih diam dan mempercepat pekerjaannya.
"Mau ke mana?" Melihat Aisyah sudah berdiri di depan pintu hendak keluar.
"Ke kamar. Merapikan kamar saya."
"Kamar saya sudah beres?"
"sudah, Tuan."
"Ya, sudah. Pergi sana!"
Sesampai di kamar, Aisyah mengunci pintu kamar, dia duduk di balik pintu. Kata-kata merapikan kamar itu hanya alasan. Sebenarnya dia ingin menangis. Dia belum pernah merasakan jatuh cinta tetapi, saat ini dia malah jatuh cinta pada orang yang salah.
Sebuah nada pemperitahuan pesan masuk berbunyi. Bisa dipastikan itu dari Ziyan.
[Aku lapar] isi pesan tersebut.
[Saya juga] balas Aisyah dibubuhi emoticon menyengir.
[Cepat masak, bodoh!] balasan dari Ziyan.
"Iya Tuan, iya," gerutu Aisyah dari kamar dengan ekspresi wajah kesal.
Aisyah pun menuju dapur tanpa merapikan pakaian ke dalam lemariterlebih dahulu. Alasan saja dia mengatakan ingin merapikan kamar, sedangkan pakaian dia saja hanya beberapa helai.
Aisyah mengetuk pintu kamar Ziyan. "Tuan, apa yang harus saya masak? Apa ikan di aquarium itu?" teriak Aisyah.
"Jangaaaaaan!" Terdengar sahutan panik dari dalam kamar.
Ziyan tersadar tidak ada yang bisa dimasak di rumah, selain ikan arwana.
"Lagian aneh, rumah sudah lama kosong disuruh masak. Emang ada bahan makanan di kulkas?"
"Aisyah diam!" bentak Ziyan.
Ziyan keluar dari kamar menggunakan kursi roda dengan wajah panik. Dia menuju tempat diletakkannya aquarium. Lama ia tercenung di depan aquarium. Di dalam aquarium masih ada sisa makanan. Jika dilihat dari bentuknya, makanan ikan itu seperti belum lama diberikan.
"Berarti ada orang yang datang ke sini sebelum kita," ucap Ziyan dengan suara pelan.
"Siapa yang punya kunci rumah ini selain Tuan?" Aisyah langsung saja menyambar ucapan Ziyan.
"Amanda," jawab Ziyan singkat.
"Mungkin saja dia," sahut Aisyah. Lalu ia melangkah ke arah lemari pendingin.
"Mana mungkin. Dia saja keluar negeri."
"Apa Tuan melihat sendiri?"
Aisyah berjalan ke arah lemari es, setelah dibuka ternyata ada beberapa sisa makanan di dalamnya. Aisyah berteriak memanggil Ziyan.
"Apa, sih, pipi pao?" sahut Ziyan kesal. Ia mendekati Aisyah.
"Lihat ini, Tuan! Ada sisa makanan." Aisyah menunjuk ke arah lemari pendingin.
"Mungkin sisa makanan beberapa bulan lalu sebelum aku kecelakaan." Ziyan keliahat tidak peduli.
"Tapi, Tuan."
"Nggak ada tapi-tapi. Ambilkan ponselku! Lama-lama aku bisa mati kelaparan." Ziyan memberi perintah kepada Aisyah
Aisyah memberikan ponsel yang diminta oleh Ziyan. Segera Ziyan membuka aplikasi pesan makanan online. Ia memesan pizza dan dua porsi spagetti.
"Aku ke kamar, nanti ada yang mengantar makanan terima!"
"Uang untuk bayarnya?" Aisyah menjulurkan tangannya.
"Ha-ha-ha. Kamu kira aku bapak kamu?" Ziyan tertawa melihat tingkah Aisyah seperti anak yang sedang minta uang jajan kepada orang tuanya. "Sudah saya bayar." Sambung Ziyan.
"Kapan? Dari tadi duduk saja di rumah."
"Dasar pipi pao kampungan. Sudah saya bayar transfer pakai virtual account."
"Apa lagi ini?" Aisyah mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
***
Sepaket pizza komplit telah terhidang di meja makan. Ziyan pun keluar kamar setelah mendengar ketukkan pintu dari Aisyah.
"Ayuk makan!" suruh Ziyan karena ia melihat Aisyah bengong di depan makanan.
"Jadi ini makanan orang kota itu, Tuan?" Aisyah menggigit bagian ujung dari sepotong pizza. "Lidah saya belum terbiasa," ucap Aisyah di sela dia mengunyah.
"Kalau tidak suka, tidak usah dimakan!" ujar Ziyan melihat ekspresi aneh di wajah Aisyah.
"Sayang. Makan saja. Tindak baik buang-buang makanan."
"Terserah." Ziyan mengangkat kedua bahunya.
Aisyah mengatakan bahwa lebih enak mie instan daripada spageti. Ziyan besok menyuruh Aisyah belanja keperluan dapur dan peralatan mandinya di mall. Dia tidak bisa menemani Aisyah karena ada pertemuan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Kebetulan pertemuan itu berada di luar kantor dan Ziyan memerlukan Dani untuk menemaninya.
"Tapi ... Saya takut, Tuan," rengek Aisyah.
"Ke mall yang biasa kita datangi. Jangan takut, sudah besar!" sergah Ziyan.
Mereka pun berpisah kamar. Telah tiga puluh lima hari pernikahan mereka, Aisyah mencoret tanggal pada sebuah kalender meja.
"Enam puluh lima hari lagi," guman Aisyah.
Tiba-tiba Aisyah teringat akan telepon dari Nia. Ia ingin sekali menghubungi Nia tetapi, ia tidak tahu nomor teleponnya.
Baru saja Aisyah hendak memejamkan mata, terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Ternyata Ziyan sudah menunggu di depan pintu. Ziyan tidak memberikan waktu kepada Aisyah sekedar untuk merapikan rambut. Dia terus saja berteriak dan menggedor pintu.
"Iya, Tuan, iya." Aisyah membuka pintu kamar dengan rambut acak-acakkan.
Ziyan sengaja mengaktifkan rekaman video di ponselnya. Jika hasilnya jelak, ia akan mem-bully Aisyah habis-habisan. Ternyata Ziyan salah. Aisyah tetap cantik dengan penampilan acak-acakkan. Ziyan juga terpesona melihat kealamian wajah Aisyah. Hingga ia lupa, apa tujuannya membangunkan Aisyah di larut malam seperti ini.
Coba klo mulutnya belum MONCONG pasti tidak inget dengan KARMA