Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergok Sania
“Apa? Kakak bilang aku bodoh?”
“Kalau bukan bodoh, lalu apa?”
Jawaban Agam bernada sedikit kesal. Namun, ia tidak benar-benar marah. Ia kembali mengulurkan tanganya, mengusap lembut kepala Alea.
“Dengarkan aku baik-baik. Mana ada pria yang sudah bertunangan masih menjalin komunikasi dengan wanita lain. Secara intens lagi.”
“Ada kok. Banyak malah.”
“Iya, tapi itu pria lain. Bukan aku.”
“Siapa tahu sama saja. Secara, Kakak kan seorang pengusaha muda yang sukses, pria normal juga. Gak menutup kemungkinan itu.”
“Hey… jangan begitu. Jangan samakan aku dengan pria-pria seperti itu. Aku, sangat menghargai sebuah hubungan. Dan lagi, kamu dapat kabar dari siapa kalau aku sudah bertunangan?”
Alea terdiam cukup lama. Tatapannya perlahan turun, menghindari tatapan Agam yang sejak tadi terus menatap matanya.
“Dari Ayah,” jawab Alea lirih. Membuat kening Agam langsung berkerut.
“Om Hartono?” tanya Agam yang di jawab anggukan kepala oleh Alea.
“Waktu itu aku tidak sengaja dengar, Ayah bilang kalau Kak Agam sudah bertunangan.”
“Beliau bilang begitu?”
Nada suara Agam berubah. Bukan marah, tetapi lebih terdengar kebingungan. Dan lagi, dijawab anggukan kepala oleh Alea.
“Dan kamu percaya begitu saja?”
“Tentu saja. Mana mungkin Ayah berbohong. Dan… untuk apa juga Ayah berbohong.”
Jawaban itu membuat Agam tidak mampu membantah. Tentu saja Alea akan mempercayainya karena yang mengatakan hal itu adalah Ayahnya.
Agam menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan.
“Tapi masalahnya, informasi itu tidak benar, sayang.”
Deg.
“Hah?”
Set.
Refleks, Alea langsung menunduk. Menyembunyikan rona merah wajahnya, saat Agam tiba-tiba menyematkan kata ‘sayang’. Jantungnya pun kembali berdetak sangat cepat.
“Al...”
Agam kembali memanggil Alea.
Kali ini dengan suara yang jauh lebih lembut.
“Mm.” jawab Alea tanpa berani mengangkat wajah.
“Kamu… tidak keberatan, kan?”
“Keberatan? Tentang apa?”
“Panggilan sayang itu.”
Deg.
Alea terdiam. Jantungnya semakin berdetak cepat. Jujur, ia sangat senang mendengar panggilan itu. Namun, ia terlalu malu mengakuinya.
Alea menggigit bibir bawahnya tanpa sepengetahuan Agam. Sementara pria itu, kembali mengusap kepala Alea dengan lembut.
“Kamu. Tidak keberatan kan, kalau aku panggil sayang?”
“Tidak.” jawab Alea lirih. Sangat lirih sampai-sampai, tidak bisa Agam dengar.
Untungnya, mereka masih saling berpelukan. Sehingga, Agam masih bisa mendengar jawaban itu.
Perlahan, Alea pun mulai mengangkat wajahnya kembali. Menatap cukup serius ke arah Agam.
“Lalu, bagaimana dengan Ayah?”
“Besok aku akan bicara dengan beliau.”
“Kakak yakin, akan bicara dengan Ayah?”
“Tentu saja. Aku harus melakukannya. Aku gak mau kalau Om Hartono salah paham. Dan lagi, bukankah kita juga harus meminta restu dari beliau.”
“Tapi…”
“Apa lagi?”
“Kakak… tidak bohong, kan? Kak Agam benar-benar tidak punya tunangan, kan?”
“Demi Tuhan, Al. Aku nggak bohong. Buat apa juga aku bohong.”
Akhirnya, Alea menghela nafas lega. Namun, baru beberapa detik kemudian ia tersadar kalau saat ini keduanya masih berada di dalam kamar hotel.
Perlahan, Alea membulatkan matanya. Astaga. Alea baru tersadar, kalau saat ini, ia masih berada di kamar hotel bersama dengan Agam.
Bahkan mereka masih berpelukan. Refleks, Alea langsung melepaskan diri dari pelukan Agam.
“Astaghfirullah.” ucapnya.
Sontak, Alea pun langsung mendorong tubuh Agam agar menjauh darinya dan hal itu cukup buat Agam kaget.
“Kenapa?” tanya Agam kaget sekaligus bingung.
“Ki-kita… tidak boleh terus disini. Kita harus segera keluar dari kamar ini.” jawabnya dengan nada panik.
“Tenanglah. Tidak akan ada yang melihat kita.”
Alea menatap tajam kearah Agam. Jawaban pria itu terlalu santai, membuat Alea semakin dilanda rasa takut.
“Tetap saja. Kita harus segera pergi dari sini.” jawab Alea sambil berjalan menuju pintu.
“Lantai ini khusus tamu VVIP. Jadi, tidak semua orang bisa bebas masuk ke lantai ini.” jawab Agam yang kembali terlihat santai. Berbeda dengan Alea yang teramat sangat panik.
“Kak Agam...” protes Alea.
Kini, nada suaranya sudah mulai meninggi karena merasa kesal dengan respon Agam yang terlihat sangat santai.
“Ok, ok. Kita keluar sekarang.”
Setibanya di depan pintu, Alea langsung meraih gagang pintu. Lalu memutar knop dan pintu itu pun terbuka dari dalam.
Dan.
Deg.
Seketika, tubuh Alea langsung membeku saat pintu terbuka, ada seorang wanita berdiri di depan pintu.
Sania.
Wanita yang beberapa waktu lalu datang bersama Agam ke acara yang diadakan di hotel tersebut.
Bukan hanya Alea, Sania pun tidak kalah terkejutnya saat melihat Alea muncul dari balik pintu. Dan di belakang Alea, ada sosok Agam yang berdiri tepat di belakang wanita itu.
Tatapan Sania pun langsung berpindah dari Alea, lalu kepada Agam. Untuk beberapa detik, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.
Namun, ekspresi Sania perlahan berubah. Terkejut. Tidak percaya.
Lalu, perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan.
“Mas Agam…” ucap Sania yang terlebih dulu buka suara.
Suaranya terdengar dingin. Tatapan Sania kembali ke Alea. Ia menatap tajam wanita itu, lalu kembali mengarahkan pandangan kepada Agam.
“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian keluar dari kamar yang sama?” tanyanya dengan nada yang ketus.
Agam tidak langsung menjawab.
Ia justru melangkah mendekat. Lalu melingkarkan tangannya di pinggang Alea.
Hal itu semakin membuat Sania tersulut emosi. Namun, Sania berusaha menahan diri.
“Sania, kamu ngapain di sini?” tanya balik Agam. Pria itu terlihat sangat santai, bahkan terlihat sangat cuek meski kepergok keluar dari kamar hotel bersama seorang wanita.
“Harusnya aku yang tanya. Kenapa kalian keluar dari kamar yang sama?” ulang Sania dengan nada suara yang mulai meninggi.
Alea yang berada di tengah-tengah merasa tidak enak hati. Alea terlihat mulai gelisah.
Ia tahu situasinya memang terlihat sangat buruk. Keluar dari kamar hotel bersama pria yang belum sah, memang sangatlah buruk.
“Mbak Sania. Aku bisa…”
Alea akhirnya memberanikan diri berbicara. Namun, Sania langsung memotongnya.
“Apa? Kamu mau menjelaskan kalau tidak terjadi apa-apa diantara kalian, begitu? Dan kamu berharap aku akan percaya?” sela Sania membuat Alea terdiam.
“Aku pikir… kamu itu wanita baik-baik, Azalea. Tidak disangka, kalau kamu wanita seperti ini.”
“Cukup, Sania.”
Deg.
Baik Sania maupun Alea sama-sama tersentak saat suara bariton Agam menggema di ruangan itu.
Suara pria itu terdengar sangat tegas, penuh dengan penekanan. Seolah tidak terima dengan pernyataan Sania tentang Alea.
“Mas Agam...” lirih Sania.
“Apapun yang kami lakukan. Itu bukan urusanmu.” tegas Agam.
Sania menatap Agam dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika pria yang biasanya bersikap lembut itu, kini, ia berani meninggikan suaranya hanya demi seorang wanita.
“Tapi Mas…”
“Cukup Sania. Kamu sudah terlalu melewati batas.”
“Tapi Mas…”
“Cukup Sa…”
“Kak. Sudah. Jangan diteruskan.”
Alea langsung menyela ucapan Agam saat pria itu akan beradu argumen dengan rekannya, Sania.
“Lebih baik, kita pergi dari sini. Kita lanjutkan ngobrolnya di tempat lain.” ajak Alea, tidak ingin menimbulkan keributan yang akan menarik perhatian para tamu hotel.
Alea langsung menarik tangan Agam agar segera pergi dari sana. Namun, baru satu langkah mereka berjalan.
Sania kembali bersua, menghentikan langkah Alea dan juga Agam.
“Tunggu.”
Alea dan juga Agam sama menghentikan langkahnya. Agam menatap Sania dengan tatapan yang dingin dan juga datar.
“Jangan bilang, kalau dia adalah wanita itu, Mas?” tanyanya.
Agam tidak langsung menjawab. Ia menatap Alea sesaat sebelum kembali mengarahkan pandangannya kepada Sania.
“Kamu benar. Dia lah orangnya, Sania. Dia lah alasan ku menolakmu selama ini.”