Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil?
Satu minggu pertama, semua berjalan aman-aman saja.
Ibu juga bersikap baik padaku.
Walaupun Ibu jarang sekali mengajakku ngobrol bersamanya ketika kami tengah berkumpul bersama.
Malah aku lebih sering mengobrol dengan Bapak mertua.
Minggu kedua juga masih baik-baik saja.
Aku juga sibuk dengan pekerjaanku, begitu juga mas Dayat.
Kami lebih banyak waktu bersama hanya saat sore hari tiba. Karna jadwal kerja kami yang sama-sama berangkat pagi pulang sore, bahkan tak jarang suamiku harus pulang malam karna diharuskan lembur.
Aku sendiri maklum, mau bagaimana lagi.
Sudah tuntutan pekerjaan yang mesti dilakoni suamiku.
Satu bulan lebih berlalu semua masih baik-baik saja.
Sampai suatu hari, mbak Kar, asisten rumah tangga kami ijin tak masuk selama beberapa hari karna sakit.
Maka Ibu memintaku agar tak berangkat kerja dulu, membantunya membereskan pekerjaan rumah.
Sebenarnya Ibu berkata seperti itu pada suamiku.
Dan mas Dayat menyampaikannya padaku.
Aku mengangguk mengiyakan, dan berpura akan meminta ijin dulu pada bosku Eri, agar aku bisa cuti beberapa hari dirumah.
Tentu hanya untuk formalitas saja, karna sebenarnya, aku tak perlu ijin dari siapapun.
Aku sudah mengirim pesan pada Eri.
Lalu aku bilang pada suamiku bahwa aku hanya diberi cuti seminggu saja.
Syukur mbak Kar sudah sembuh dari sakitnya.
Jadi begitu mbak Kar telah sembuh, aku bisa berangkat kerja lagi.
Mas dayat hanya berkata : "baguslah, jadi sayang bisa bantu Ibu mas dirumah, juga bisa istirahat"
Aku hanya mengangguk saja.
Lagipula entah kenapa akhir-akhir ini perutku terasa tak nyaman.
Perut sebelah kanan seringkali terasa kram.
Badan juga rasanya lemas sekali.
Sering merasa lapar bila sudah malam.
Nafsu makanku kian bertambah pada makanan sejenis singkong atau ketupat.
Bila makan nasi justru perutku malah mual dan rasanya ingin memuntahkan kembali apa yang aku makan.
Padahal tak biasanya aku seperti ini, lalu yang aneh penciumanku juga sedikit bermasalah, jadi lebih sensitif.
Ketika mencium aroma masakan yang terlalu menyengat pasti akan langsung merasa mual.
Dan lebih sering merasa mengantuk.
Tapi kubuat bandel saja dan tetap berangkat kerja.
Aku hanya berpikir mungkin sudah hampir waktunya tamu bulananku datang berkunjung.
Aku juga terlihat pucat.
Bapak mertuaku yang memang terlihat lebih peduli padaku juga sempat bertanya :
"Kamu kenapa ndo?"
"Kok wajahmu agak lebih pucat dari biasanya?"
"Kamu sakit Ndo?"
"Ngga Pak, saya ndapapa, cuma ngga enak badan aja akhir-akhir ini ngga tau kenapa!"
"Ya sudah mending kamu istirahat saja sekarang dari pada kamu nanti makin sakit"
"Biarlah kalo besok kamu belum mendingan juga, nanti tak suruh Dayat buat ngantar kepuskesmas! Priksan!",
ucap bapak tepat didepan Ibu.
"Iya Ndo, tapi sebelum priksan, kamu mesti beres-beres rumah dulu Ndo, baru boleh pergi"
"Kan Ibu nyuruh kamu libur bukan buat leha-leha (bersantai) Ndo! Tapi buat bantuin Ibu, mbak Kar kan sakit, ngga ada yang beresin rumah!"
"Inget loh, besok sebelum pergi, mesti beres-beres dulu, Ibu ngga mau tau!",
kata ibu menyauti, tak mau sekalipun mengerti kondisiku yang sedang tak karuan.
"Kamu Bu, mbok ya jangan kebangeten, menantu sendiri lagi sakit kok malah disuruh-suruh, mbok ya suruh istirahat yang banyak biar cepet sehat, itu baru betul!"
"Wis Ndo, ikutin saran Bapak aja, besok langsung priksan saja dulu, mbok kebanjur (terlanjur atau makin parah)"
"Biar urusan rumah jadi urusan Ibumu saja, lah wong Ibu ya ngga ada kerjaan apa-apa kok, ya toh Bu!"
"Udah, sekarang lekas masuk kamar, rehat aja, nanti begitu Dayat pulang, langsung Bapak bilangin"
Kulihat Ibu jadi manyun saja, sembari mencebikkan bibirnya.
Pastilah Ibu merasa sebal karna Bapak lebih membelaku.
"Ndapapa Pak, besok Kiran beres-beres rumah saja dulu, baru pergi, kasian Ibu ngga ada yang bantu"
"Ngga Ndo, ngga usah, manut saja omongan Bapak, biar Ibumu saja yang ambil alih semuanya, kamu disini kan sebagai menantu Bapak, bukan dijadikan pesuruh"
Sekali lagi Ibu mencebikkan bibirnya, namun tak berani membantah perintah Bapak.
"Nggih Pak", akhirnya aku manut saja.
"Kiran permisi masuk kamar dulu ya Bu'.
"Hmm", Ibu menjawab singkat.
Dari raut Ibu jelas bahwa dia tengah menahan amarah.
Aku mengikuti kata Bapak masuk ke dalam kamar.
Sembari menunggu suamiku pulang, karna hari ini jatahnya untuk lembur katanya. Kulihat kalender yang terpasang didinding kamar, seperti biasa aku selalu rutin menandai jadwal haidku.
Rupanya aku telah terlambat empat hari.
Jantungku berpacu cepat, apa jangan-jangan apa yang aku rasakan saat ini karna aku tengah hamil?
Akhirnya kuputuskan besok pergi sendiri saja kerumah sakit sekalian usg, benar atau tidaknya bahwa aku sekarang tengah mengandung calon buah hati kami.
Sengaja aku ingin pergi sendiri agar nantinya bisa menjadi surprise untuk suamiku.
Aku ingin melihat mimik wajahnya bakal seperti apa.
Pukul setengah sepuluh pintu kamar diketuk dari luar.
Aku yang tadinya telah terlelap akhirnya bangun dan membukakan pintu.
Rupanya suamiku pulang. Aku langsung mengambil alih tas kerjanya, ku letakkan ditempat biasa, rak berukuran besar.
Aku langsung menyiapkan baju ganti, karna setiap pulang kerja pasti mas Dayat akan langsung bergegas mandi.
Raut wajahnya terlihat letih sekali.
"Mas sudah makan?"
"Mau Kiran hangatkan lauk pauknya?"
"Ngga yank, makasih. Mas cape, pengen mandi, gerah yank, mas juga ngga lapar! Tadi mas udah makan sebelum pulang!"
"Oke, kalo gitu mas mandi aja dulu, ntar Kiran pijitin biar rasa cape mas agak berkurang"
"Mas mau minun yang hangat-hangat?"
"Kopi atau teh misalnya?"
"Mas minta teh aja yank, jangan kemanisan yah, kan istri mas udah manis, nanti kebanyakan yang manis-manis mas diabetes lagi",
mas Dayat merayuku.
Membuatku tersipu.
"Gombal", jawabku seraya melangkahkan kaki hendak membuat teh didapur.
Mas Dayat hanya terkikik, lalu melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai, aku menuju kekamar sembari membawa cangkir besar berisi teh hangat.
Juga kubawa crecker untuk cemilan. Rasanya mulutku ingin sekali makan sesuatu.
Tak lama mas Dayat selesai mandi, langsung memdudukkan dirinya ke pinggir ranjang, sembari menikmati teh yang kubuat.
Aku memijat punggungnya.
"Akhir-akhir ini mas lihat sayang lagi doyan banget makan, ngga takut gendut?",
mas dayat memegang pipiku.
"Lihat ini, pipi istriku ini makin tembem aja, bikin gemeess",
katanya melanjutkan.
"Hehe, kalo kiran gendut mas Dayat tetep suka ngga?"
"Hmm, gimanaa yaa, suka ngga yaa",
mas Dayat mulai tersenyum jahil.
"Diihh, ditanya gitu aja jawabannya lama, kalo ngga suka ya udah gapapa!",
aku jadi baper sendiri.
Aku berhenti memijat dan memutar tubuhku membelakangi suamiku. Mulai menangis.
"Uluuh-uluuhh, istriku ini, kalo ngambek jadi makin cantik dehh",
mas dayat melingkarkan tangannya dipinggangku, memelukku.
"Tau ah gelap, Kiran bete sama mas!"
"Iddiihhh, sayaang, gitu aja ngambek, ngga seru ah!", katanya.
Aku jadi terisak. Mas Dayat jadi terheran.
"Sayang lagi kenapa sih, baperan banget, masa mas becanda gitu aja nangis"
"Ciwek ah"
"Lagi dapet yah?"
"Becanda yaaankk, mas cuma becanda, jangan baper donk"
Aku masih saja terisak. Aku sendiri heran kenapa aku jadi baperan begini.
"Ya udah mas minta maaf, udah berenti yah nangisnya sekarang, udah malem, nanti kalo Bapak Ibu denger sayang nangis, kan ngga enak!"
"Tar dikira mas ngapa-ngapain sayang!"
"Udah yuk, bubu aja yank, udah malem",
sembari mengusap punggung belakangku, mencoba menenangkanku.
"Jawab dulu yang tadi! Mas tetep suka ngga kalo Kiran jadi gendut?!"
"Iya-iya my sweet heart, mas tetep suka kok ma sayang, tetep sayang ma sayang, udah yah ngambeknya"
"Ayuk istirahat, mas juga rasanya cape banget"
Aku akhirnya berenti menangis, lalu kembali memijat punggung suamiku.
Setelah tanganku sudah cukup pegal, akhirnya aku berhenti.
"Udah yah mas pijatnya, tangan Kiran pegal!"
"Oke, ya udah yuk kita bobo udah malam"
Akhirnya kami pun tidur.
***
Esok paginya perutku terasa mual sekali.
Sebentar-sebentar masuk kekamar mandi ingin memuntahkan semua isi perutku, tapi berulangkali tak ada yang keluar.
"Hooeekk-hooeekk, aku mual-mual kembali"
Suamiku yang masih tertidur pulas akhirnya langsung terbangun menuju kamar mandi tempatku tengah berada.
"Hoeekk", lagi-lagi aku merasa mual.
Dalam keadaan rambut berantakan dan penampilan acak-acakkan suamiku memijit tengkuk leherku, agar aku merasa mendingan, dan lebih mudah mengeluarkan isi perutku.
Tapi tetap saja tak ada yang keluar.
Sembari mengucek mata kanannya, mas Dayat bertanya padaku apa yang terjadi.
"Sayang masuk angin lagi?"
"Pasti karna nangis semalam jadi kaya gini kan!"
"Sayang sih pake acara baper segala!"
"Pasti sayang pusing kan sekarang?"
"Yuk mas bawa sayang berobat ke rumah sakit, atau mau kepuskes aja?"
"Tapi jauh yank, ntar mas telat lagi kerjanya!"
Kepalaku memang sedikit pening, beberapa kali perutku juga terasa kram.
Apalagi badan yang rasanya seolah tak memiliki tenaga.
"Badanku ngga karuan mas"
"Mas bisa ngga antar Kiran sebentar ke rumah sakit?"
"Kiran ngga kuat kesana sendiri, rasanya Kiran lemass sekali"
"Ya udah yuk, mas juga khawatir sama keadaan sayang, kita berangkat sekarang biar ngga terlalu lama nunggu giliran"
"Rumah sakit rame, pasti antrinya lama".
"Baik mas",
mas Dayat menuntunku dengan perlahan.
Ketika akan keluar kamar kudengar Ibu mertua sedang berbicara, entah dengan siapa.
"Iya mbayu, menantuku itu malaaasss sekali, udah jam seginii aja belum bangun mbayu!"
"Benar-benar pemalas!"
"Kalo bukan Dayat anakku yang memaksa menikah dengannya, mana mau aku punya menantu miskin begitu, bukan level kami mbak!"
"Bener mbak, pasti menantuku yang satu ini cuma pengen numpang hidup enak aja sama aku mbak!"
"Buktinya dia ngebet banget minta dinikah sama anakku!"
"Padahal jelas-jelas aku tau mbak! anakku masih cinta sama anak mbak!"
"Iya sepertinya memang begitu mbak, dia mau ngincar harta anakku saja!"
"Makanya itu aku mesti jaga anakku biar aman mbak, biar istrinya ngga bisa seenaknya sendiri!"
"Tau Nurma udah jadi janda, apalagi ngga ada anak, aku juga ngga masalah sebenarnya mbak!"
"Tapi sayang mbayu ngabarinnya telat, keburu anakku Dayat nikah duluan sama menantu ku yang pemalas itu"
"Aku aja heran kok, apa bagusnya si Kiran, sampai Dayat bela-belain dia dulu begitu, sampai ngancem aku simboknya loh mbak, kalo aku nda setuju dia bakal pergi, nekat kawin lari"
"He'eh mbak, padahal si Kiran itu masih kalah cantik loh sama nak Nurma"
"Iya mbak, aku sebenarnya tak setuju anakku Dayat menikah sama gadis miskin kaya dia, tapi ya gimana ya mbak"
"Mana tak suruh libur biar aku ada yang bantuin, eh malah pura-pura sakit segala"
"He-eh mbak, emang bikin kesel, mbak aja yang denger enek kan, apalagi aku mbak"
"Punya menantu kok ngga ada guna kan mbak, mana miskin lagi!"
"Oh, oke-oke, yo wes dulu mbak, nanti tak kabarin lagi, takut anakku Dayat udah bangun. Kalo denger aku ngomong begini ntar pasti ngambek lagi"
"Ya begitu mbak, macam dipelet saja anakku Dayat"
"Iya-iya mbak, nanti tak cari ustad yang hebat, supaya dirukyah saja. Aku yakin menantuku itu udah ambil jalan hitam buat bikin anakku manut sama dia"
Astaghfirulloh, aku tak menyangka hanya karna aku tak melakukan pekerjaan rumah, bakal jadi berbuntut panjang begini.
Akhirnya aku hanya mematung tepat dipintu dengan mas Dayat yang juga pastinya mendengar percakapan Ibu tadi.
Mas Dayat hendak menghampiri Ibu nya, disuruhnya aku menunggu sebentar, tapi sebelum mas Dayat melangkah lebih jauh.
Penglihatanku mulai memudar, lalu semua berubah hitam.
"Bruuukkk", aku jatuh pingsan.
***
Aku terbangun dalam ruangan bernuansa serba putih, tercium aroma obat yang begitu menyengat.
Pandanganku berbendar melihat sekeliling.
Mas Dayat tengah memegang tanganku dengan begitu erat.
Begitu melihatku siuman mas Dayat langsung memelukku, kemudian mencium keningku.
"Kita dimana mas?", tanyaku.
"Rumah sakit yank, tadi sayang pingsan, mas begitu khawatir, takut sayang kenapa-napa!"
"Sayang masih pusing?", tanya suamiku.
"Udah ngga kok mas, gimana sama hasilnya mas?"
"dokter bilang apa?"
"Apa aku baik-baik aja, atau ada penyakit serius?",
aku memberondong suamiku dengan banyak pertanyaan.
"Ngga, sayang gapapa kok, cumaaa......", ada gurat sedih diwajah suamiku.
"Cuma kenapa mas?",
aku mulai was-was jangan-jangan pemikiranku meleset.
"Sayang HAMIL!", seketika mimik wajah mas Dayat berubah menjadi penuh kebahagiaan.
"Sayang tengah hamil anak pertama kita yank!"
"Mas bahagiaa sekali denger kabar ini dari dokter, makasih ya yank, kita bakal jadi orang tua!",
mas dayat memelukku erat, dan berungkali mengecup keningku.
Aku jadi ikut merasa begitu terharu, begitu cepat yang kuasa memberikan kami seorang keturunan.
Aku mengucap hamdalah berulangkali.
"Jaga baik-baik dede bayi mulai sekarang yah yank, kata dokter baru masuk lima minggu jadi sangat rentan, kalo bisa sayang jangan terlalu banyak fikiran atau melakukan aktifitas yang berat, biar dede bayi sehat terus didalam sini."
"Dede baik-baik yah diperut ibu, tumbuhlah dengan sehat nak",
sembari mengusap lembut perutku yang masih rata.
Aku jadi merasa malu.
"Sayang udah baikkan?"
"Kalo udah yuk kita pulang, kita beri kabar bahagia ini secepatnya sama Bapak dan Ibu, juga Abah dan Umi dirumah".
Aku mengangguk, lalu mulai beranjak turun.
Kami pun kembali pulang menuju kerumah.
Sesampainya dirumah, begitu melihat Ibu aku kembali teringat apa yang membuatku jatuh pingsan.
Kata-kata Ibu sungguh sangat menyakiti hatiku.
Tapi aku diam saja, bersikap biasa, seolah tak mendengar apa-apa.
Ibu pura-pura khawatir dan menanyakan bagaimana keadaanku.
Aku hanya berkata bahwa aku baik-baik saja.
Dan mas Dayat langsung mengabarkan bahwa aku tengah mengandung calon buah hatinya.
Bapak mertuaku begitu terlihat amat bahagia karna akan memiliki seorang cucu lagi.
Dan mengucapkan selamat pada kami berdua.
Sedang Ibu terlihat biasa saja mendengar hal ini, mungkin beliau sudah menduga-duga.
Mas Dayat langsung menuntunku untuk langsung beristirahat saja.
Aku hanya manut. Lalu setelah berada dikamar mas Dayat langsung memberi kabar mengenai kehamilanku saat ini pada Abah serta Umi melalui video call, tampak Abah Umi begitu senang mendengarnya.
Maklumlah, ini merupakan calon cucu pertama bagi kedua orang tuaku.
Mereka menyuruhku agar banyak beristirahat dan jangan kecapean.
Juga mendoakan kesehatan bagi calon buah hatiku.
Aku mengaminkan semua do'a-do'a baik yang orang tuaku panjatkan untukku, juga calon cucu mereka.
Sungguh kebahagiaan yang tak terkira bagiku.
Tapi rupanya kebahagiaan ini tak berlangsung lama.
#ngayalngarep
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg