JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Awal.
Tak ada angin dan tak ada hujan, Rian tiba-tiba dipanggil ke kantor pusat, tepatnya kantor tempat ayahnya memimpin saat ini. Dia tetap datang meski tak tahu apa-apa, Rian juga tak repot menebak-nebak maksud sang ayah memanggil dirinya. Rian yakin ini semua terjadi karena campur tangan Desita, wanita itu selalu bisa memenuhi segala keinginannya selama dia menjadi nyonya Ferdinan.
Rian mendekati meja resepsionis begitu sampai, karyawati yang bertugas pun bertanya pada Rian. "Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanyanya sopan, tak lupa senyum kesopanan diperlihatkan oleh karyawati tersebut.
"Saya ingin bertemu Tuan Ferdinan!" balas Rian cepat. Dia sengaja tak langsung naik lift meski dia bisa, dia tak ingin membuat orang-orang yang bekerja di sini bertanya siapa dirinya, mengapa berani asal naik lift dan menemui bos mereka.
"Apa sudah ada janji, tuan?" tanya pegawai tadi lagi, kali ini dia menatap Rian secara terang-terangan, mencoba menebak maksud kedatangan pemuda di depannya ini.
"Tentu!" ucap Rian menatap balik sang pegawai.
"Sebentar saya hubungkan ke ruang kerja beliau dulu," kata sang resepsionis mengangkat gagang telepon.
Rian mengangguk setuju. "Jika ditanya, katakan nama saya Rian!" ucap Rian memberi informasi mengenai identitas dirinya, meski hanya nama panggilan saja.
Rian menunggu dengan tenang pegawai wanita di depannya selesai menelepon ayahnya sendiri, dia balas tersenyum kecil ketika dirinya menerima senyum dari karyawati tersebut.
"Tuan Ferdinan menunggu anda di ruangannya, mari saya antar, tuan!" ucap karyawan itu setelah menutup telepon yang terhubung dengan bosnya.
"Tidak usah, tapi bisa beritahu saya di mana ruangan Tuan Ferdinan?" balas Rian menolak untuk diantar.
"Di lantai dua puluh, akan ada sekretaris Tuan Ferdinan yang menunggu anda, tuan," balas karyawan di depannya dengan lebih sopan.
"Terimakasih!" Rian mengangguk kecil kemudian berjalan menuju lift, Rian berdiri diam menunggu lift membawanya ke lantai yang dituju, lantai dua puluh. Tentu saja dia tahu di mana ruang kerja sang ayah, Herman kan selalu mengatakan apapun soal seluk-beluk perusahaannya. Rian hanya bertanya saja, tindakan yang dilakukan agar pegawai tadi percaya dia tamu yang baru pertama kali kemari dan tak tahu apa-apa.
Begitu sampai di lantai dua puluh, ada seorang pria yang menunggu Rian di balik mejanya. Rian menebak itu adalah sekretaris ayahnya, seperti yang dikatakan karyawan di bawah tadi.
"Mari saya antar ke ruangan Bos besar, tuan," katanya sopan.
"Hmm," gumam Rian mengangguk, dia mengikuti langkah si sekretaris.
"Silakan masuk tuan, bos sudah menunggu anda!" katanya sambil membukakan pintu untuk Rian.
"Terimakasih!" balas Rian.
"Halo tuan," sapa Rian begitu masuk ke ruangan ayahnya.
Herman mendongak, kemudian tersenyum lebih cerah melihat anaknya sudah datang. "Anakku, ayo duduk!" katanya berpindah duduk dari kursi yang ada di belakang meja kerjanya ke sofa.
Rian mengangguk dan duduk di depan sang ayah. "Jadi, apa yang harus kulakukan?" tanyanya langsung tanpa basa-basi, dia ingin mengetahui tujuan sang ayah memanggilnya.
"Seperti biasa, selalu ke inti permasalahannya, ya?!" kata Herman dengan senyum kecil.
Rian mengangkat bahu. "Agar tak membuang waktu untuk hal tak berguna! Saya juga tak suka dan pandai dalam hal basa-basi, tuan!" balas Rian enteng.
"Rian, Rian, kenapa memanggil daddy dengan tuan? Panggil saja daddy seperti biasanya, sayang," kata sang ayah mengoreksi panggilan anaknya kepadanya.
"Ini kantor bukan rumah," balas Rian singkat.
"Baiklah, terserah mau kamu saja, sayang. Mommy kamu ingin kembali ke Indonesia!" ucap Herman menatap anaknya dengan serius.
Rian menoleh cepat, menatap ayahnya dengan tampang terkejut yang jelas tergambar di wajahnya. Beberapa detik kemudian, Rian pun mengajukan pertanyaan setelah dia mengatur ekspresi wajahnya kembali. "Dan kenapa harus dikatakan di sini?"
"Karena masalahnya ada di sini!" jawab Herman menghela napas panjang.
"Masalah?" ucap Rian.
Herman mengangguk. "Ya, masalah! Mommy mu ingin kembali secepatnya, tapi masih ada masalah yang harus diselesaikan di sini, di perusahaan ini tepatnya!" jelas Herman singkat.
"Kalau begitu selesaikan saja! Semangat!" kata Rian enteng. Rian berpikir jika ada masalah, ya harus diselesaikan. Kenapa harus diutarakan kepada dia yang tak tahu apa-apa. Masalah apa yang menimpa perusahaan saja dia tak pahami.
"Andai segampang itu! Dan kamu sendiri kan tahu bagaimana mommy mu jika menginginkan sesuatu!" balas Herman.
Rian mengangguk paham. Desita dan segala keinginannya, harus cepat terpenuhi. Kalau bisa dalam hitungan detik setelah diutarakan, permintaan wanita itu harus tersedia. Apapun itu, sesusah apapun atau semustahil apapun tak akan pernah dipikirkan wanita itu.
"Lalu?" kata Rian yang sepertinya suka mengetahui Herman merasa sedikit kesusahan, ralat bukan sedikit, tetapi banyak.
"Bantu daddy menyelesaikan masalahnya agar kita bisa kembali lebih cepat!" pinta Herman dengan wajah memelas. Wajah yang berbanding terbalik dengan wajah yang menatap Rian tujuh tahun lalu.
Ingin rasanya Rian menjawab dengan mengatakan kenapa harus, tapi dia menahan keinginannya. "Saya kurang tahu apa yang menjadi masalah di sini? Jadi saya tak bisa membantu!" pernyataan Rian tak salah, dia tak tahu apa-apa, mengapa dirinya yang harus maju dan menangani.
"Jadi begini ...," Herman menjabarkan permasalahan yang terjadi di perusahaan yang dia kelola. Rian mendengarkan dengan seksama, meski enggan sepertinya dia harus turun tangan untuk membantu.
Rian juga berharap bisa pulang, dia ingin mengunjungi makan kakaknya. Ah, bukan makam kakaknya, itu makam atas nama dirinya sendiri. Dia yang kehilangan identitas dan hidup menggantikan saudara kembarnya.
"Kurasa mommy tak hanya ingin Rian membantu, tapi mommy juga ingin Rian segera terekspos sebagai penerus keluarga Ferdinan, bukan begitu, dad?" kata Rian setelah mendengar penjelasan ayahnya.
"Bukan hanya mommy mu yang berharap, Daddy juga menginginkan hal itu sebenarnya. Daddy tak suka kamu diperintah melakukan ini dan itu, disuruh-suruh sebagai pegawai rendah, bahkan banyak yang menggoda dan juga mencibir semua yang kamu lakukan, Rian!" balas Herman jujur. Dia marah, saat yang lain istirahat, anaknya malah disuruh memindahkan barang ke gudang. Dia mengetahui hal tersebut secara tak sengaja, saat dia mendatangi anak perusahaan tempat Rian bekerja. Keesokan harinya, karyawan yang memberi perintah pada Rian, langsung dipecat tanpa pesangon sedikitpun. Protes jelas dilakukan, tapi Herman bahkan tak mendengar keluhan orang itu. Dia terlanjur kesal, jadi yang dia pikirkan hanya membuat orang yang menindas anaknya tak memiliki pekerjaan lagi.
Rian mengangkat sebelah bibirnya, menarik segaris senyum tipis. "Mari kita coba bermain, dad?!" ucap anak itu dengan tatapan mata menyipit serius. Herman menganggukkan kepalanya, dia tentu saja senang anaknya akan dikenal oleh para pekerjanya, ditambah masalah yang dia hadapi pasti akan diselesaikan dengan lebih cepat.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝