Cerita 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Haidar Wiratama, pemuda berumur 22 tahun. Ia yang lahir di keluarga biasa mungkin tidak bisa menikmati hidup layaknya anak lain. Namun, Haidar tidak pernah menyerah untuk membahagiakan sang ibu yang sudah merawatnya, kenakalannya saat kecil membawanya pada Audrey, ibu dua anak di mana salah satu anaknya yang satu kelas dengan Haidar sering bertengkar dengan pemuda itu.
Lavina Aurora Mahavir, putri Audrey sering bertengkar dengan Haidar saat kecil. Namun, siapa sangka di balik kenakalan gadis kecil itu, ia hanya ingin diperhatikan Haidar karena bocah itu dulu sering di puja-puja para gadis seumurannya.
Lalu, akankah Haidar mencintai Nana dan juga sebaliknya? Cari jawabannya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihanku
"Kakak! Namanya siapa?" tanya salah satu anak penghuni rumah itu.
"Ha-." Haidar menghentikan ucapannya tatkala melihat Nana keluar dari dapur. "Ha, Wira maksudnya," jawab Haidar kemudian.
Nana yang berjalan membawa panci sayur hanya melirik pada Haidar yang dikerumuni anak-anak, ia lantas menaruh panci itu di atas meja makan kemudian kembali ke dapur.
"Oh, kak Wira." Anak-anak itu tampak manggut-manggut.
"Kak Wira temannya mami?" tanya anak lain menyelidik.
Haidar bingung menjawabnya, ia mengacungkan jari ingin mengatakan sesuatu tapi ia urungkan dan mencoba mengalihkan perhatian anak-anak tadi agar tidak terus bertanya tentang dirinya.
"Aku sudah memperkenalkan diri, kenapa kalian tidak?" tanya Haidar kemudian.
"Oh, aku Iqbal umur aku sepuluh tahun, ini Amir umurnya sama denganku, yang ini Aldi tujuh tahun, Indah dan Mesya, juga Lintang." Iqbal memperkenalkan anak-anak lain.
"Oh, kalian sekolah?" tanya Haidar lagi, intinya jangan sampai dia yang diberi pertanyaan.
Mereka mengangguk bersamaan, Nana memang menyekolahkan mereka karena bagi gadis itu sekolah adalah yang utama. Karena itu Nana sekarang butuh biaya lebih banyak untuk kelanjutan pendidikan keenam anak asuhnya..
"Kamu ngapain?" tanya Nana tiba-tiba ketika melihat Haidar di dekat mobil.
Setelah makan malam sederhana dengan anak-anak, Haidar tampak keluar rumah dan berada di dekat mobil.
"Oh, tidak ada. Hanya menghubungi ibu 'ku dan mengatakan kalau aku pulang terlambat," jawab Haidar.
Nana hanya mengangguk-anggukan kepala, ia lantas berjalan ke ayunan yang terdapat di depan halaman kecil itu, ia lantas duduk di sana.
Nana mengayunkan perlahan permainan itu ke depan dan belakang, membuat rambutnya yang tergerai mengikuti irama pergerakan tubuhnya.
"Kamu melakukan perbuatan baik, kenapa tidak memberitahu tuan dan nyonya?" tanya Haidar yang hanya bersidekap di samping ayunan.
"Entah, hanya merasa jika mereka tidak perlu tahu. Aku suka melakukan apa yang ingin aku lakukan tanpa ada rasa paksaan atau membebani orang lain. Jadi biar semua ini aku tanggung sendiri, karena menjadi orangtua mereka adalah pilihanku," ucap Nana.
Haidar tiba-tiba menghentikan ayunan itu, membuat Nana sedikit terkejut dengan yang dilakukan pemuda itu.
"Meski ini pilihanmu, tapi sebagai gadis yang masih berada di bawah tanggung jawab orangtua, mereka berhak tahu agar tidak ada kesalahpahaman pada akhirnya, apa kamu mengerti?" Haidar menatap mata Nana begitu dalam, membuat gadis itu tertegun sejenak.
Nana langsung berdiri, membuat keduanya kini berhadapan satu sama lain.
"Aku sudah bilang, aku melakukan ini atas keinginanku dan aku tidak suka ada paksaan! Jadi, jika aku bilang tidak maka tidak! Ja-ngan men-ce-ra-mahi 'ku!" Nana langsung berjalan pergi meninggalkan Haidar, gadis itu langsung masuk ke dalam lagi.
Haidar menatap punggung Nana, ia hanya bisa mendesah kasar.
"Benar-benar masih sama seperti dulu," batin Haidar.
Haidar jadi ingat kejadian saat mereka kelas empat sekolah dasar. Saat itu ada seorang murid perempuan yang terus mengejek murid lain, Nana yang duduk di belakang murid itu pun merasa sebal.
"Dia ini kenapa? Berisik!" gerutunya.
"Kamu juga berisik dengan menggerutu!" ujar Haidar yang memang duduk di sampingnya.
Nana melirik Haidar, ia lantas bergumam.
"Aku akan memberi dia pelajaran!"
Saat jam istirahat, Nana mencari cacing di belakang sekolah lalu memasukkan beberapa cacing ke dalam tas untuk mengerjai murid perempuan yang sombong itu, ia paling benci jika ada yang bersikap sombong pada teman sekelas lain.
Alhasil saat jam pelajaran akan dimulai, murid perempuan itu menjerit histeris ketakutan sampai menangis, Nana tertawa terbahak-bahak membuatnya langsung jadi tersangka.
"Na, bilang aja aku yang suruh," bisik Haidar saat Nana disuruh menghadap ke wali kelas.
"Apa? Aku yang melakukannya, kenapa harus bilang kamu yang suruh?" tanya Nana memicingkan mata.
"Kamu nanti dapat masalah dari orangtuamu," ucap Haidar lagi.
"Aku tidak takut! Masalah yang aku buat, maka aku yang akan menyelesaikannya! Kamu diam saja dan jangan mengkhawatirkan'ku!" ujar Nana seraya menepuk dada beberapa kali seakan sedang menyombongkan diri.
Haidar tersenyum tipis mengingat kejadian yang sudah bertahun-tahun lamanya itu. Ternyata gadis itu memang masih suka mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
_
_
_
_
Haidar dan Nana pulang saat waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Nana langsung masuk rumah sedangkan Haidar mengambil motor dan pulang.
Nana terkejut ketika melihat Audrey duduk di sofa menikmati secangkir teh bersama Ravin, ia lantas mendekat dan mengecup sisi wajah wanita yang melahirkannya itu.
"Baru pulang?" tanya Audrey menatap putrinya.
Nana terlihat memutar otak, ia harus mencari jawaban yang pas agar Audrey tidak curiga.
Belum juga Nana menjawab, gadis itu terkesiap dengan kata yang diucapkan sang mami.
"Kalau mobilnya mogok, besok pakai mobil lain saja. Dari pada nanti bermasalah lagi di jalan," kata Audrey.
"Hah, apa?" Nana bertanya-tanya bingung, mulutnya sampai menganga.
Audrey menyipitkan mata, ia lantas melihat putrinya yang terbengong.
"Iya, ganti mobil! Kata Wira mesin mobilnya tadi bermasalah! Makanya kalian pulang telat.
Nana mengingat apa yang ia lihat tadi, gadis itu melihat Haidar membuka kap mobil, jadi pemuda itu mengambil gambar mesin lalu pura-pura mengatakan jika mesinnya bermasalah.
"Iya, besok aku suruh Wira pakai mobil lain," timpal Nana yang sudah mengerti arah pembicaraan itu.
"Wi-." Ravin ingin memprotes nama yang disebut oleh Nana tapi mulutnya langsung disumpal kue oleh Audrey.
"Iya, Wira." Audrey sedikit melotot pada suaminya, memberi isyarat agar tidak bicara.
Nana terlihat bingung, ia menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Sudah, sana mandi dan istirahat. Kalau belum makan malam nanti biar Mami siapin," ucap Audrey lagi.
Nana hanya mengangguk, ia lantas berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ravin yang sudah mengunyah kue yang disumpal ke mulutnya pun menatap sang istri, ia belum mengerti kenapa putrinya memanggil Haidar dengan Wira.
"Nanti aku jelaskan, intinya iya'in aja apa yang dikatakan putrimu."
Audrey kembali menikmati teh dan kuenya, sedangkan Ravin masih kebingungan dengan sikap istrinya.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
lanjut..
tp sbnrnya aq juga masih Penasaran ma kisah cintanya mama SL sama arlan chika.
apa judul nya?
aq lupa.
udh klik profil author juga ga nemu.