NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Brengsek..."

Umpatan itu meluncur pelan dari bibir Kael Lucien Raventhorne. Tangannya bergetar saat menggenggam selembar surat hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Tatapannya terpaku pada beberapa baris tulisan yang terasa seperti menghancurkan seluruh harapannya.

Surat itu menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi reproduksi Kael mengalami gangguan serius sehingga peluangnya untuk memiliki anak secara alami sangat kecil.

"Ini pasti ada yang keliru..."

Kael mengangkat wajahnya dengan sorot mata penuh penolakan. Ia tidak sanggup menerima kenyataan itu begitu saja. Tanpa berpikir panjang, ia meminta dokter melakukan pemeriksaan ulang terhadap sampel benihnya. Dalam benaknya, pasti telah terjadi kesalahan pada pemeriksaan pertama.

Namun, harapan itu hanya bertahan sesaat.

Beberapa waktu kemudian, dokter kembali datang membawa hasil pemeriksaan kedua. Dengan nada tenang dan penuh empati, dokter menyampaikan bahwa hasilnya tetap sama.

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Kael hanya mampu menatap kosong lembar hasil pemeriksaan di tangannya.

Dokter kemudian menjelaskan bahwa kondisi tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan kecelakaan hebat yang dialami Kael beberapa minggu lalu. Benturan dan cedera yang dideritanya diduga memengaruhi fungsi reproduksinya. Meski begitu, dokter menegaskan bahwa masih diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui tingkat kerusakan serta peluang penanganan yang mungkin dapat dilakukan.

Penjelasan itu bagaikan petir di siang bolong.

Beberapa minggu yang lalu, Kael nyaris kehilangan nyawanya dalam sebuah kecelakaan. Saat ia mulai yakin bahwa dirinya telah melewati masa terburuk, takdir kembali memberinya pukulan yang jauh lebih menyakitkan.

Perlahan, jemarinya menggenggam kuat surat itu hingga kusut.

Rasa marah, kecewa, dan putus asa bercampur menjadi satu. Luka di tubuhnya mungkin mulai sembuh, tetapi luka di hatinya baru saja terbuka.

Mimpi sederhana yang selama ini ia simpan—membangun keluarga dan suatu hari mendengar tawa anaknya sendiri—seakan runtuh dalam hitungan detik.

Kael memejamkan mata, menarik napas panjang yang terasa begitu berat. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia benar-benar merasa hidupnya telah berubah. Bukan karena bekas luka yang masih menghiasi tubuhnya, melainkan karena kenyataan pahit bahwa masa depan yang selama ini ia impikan kini terasa semakin sulit untuk diraih.

Srak... Srak...

Tiba-tiba suara robekan kertas memecah keheningan ruang konsultasi.

Dengan rahang mengeras dan tatapan dipenuhi amarah, Kael merobek dua lembar hasil pemeriksaan itu menjadi beberapa bagian. Potongan-potongan kertas kemudian ia lepaskan begitu saja hingga berhamburan di lantai, tepat di depan meja dokter yang sedari tadi hanya bisa menghela napas panjang.

Dokter paruh baya itu tetap berdiri tenang. Rambutnya yang hampir seluruhnya memutih membuat raut wajahnya tampak semakin bijaksana. Ia memahami bahwa pria di hadapannya sedang berusaha menerima kenyataan yang begitu berat.

"Maafkan saya, Tuan. Saya mengerti ini bukan kabar yang mudah diterima." ucap dokter itu dengan suara pelan dan penuh simpati.

Kael terkekeh hambar. Tatapannya tajam, seolah menantang takdir.

"Jadi menurutmu aku tak akan pernah punya anak?" katanya lirih, lalu menggeleng sambil tersenyum sinis. "Kalau begitu, aku akan membuktikan sendiri. Aku akan terus menjalani hidup sesukaku dan mendekati siapa pun yang kuinginkan. Sampai akhirnya aku tahu... apakah ucapanmu benar, atau justru salah."

Tanpa menunggu jawaban, Kael berbalik menuju pintu.

Setiap langkahnya terdengar berat, namun emosinya jauh lebih berat daripada langkah kakinya. Di balik punggungnya yang tampak tegar, amarah, kecewa, dan rasa hancur bercampur menjadi satu.

Sesaat, jemarinya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Bukan karena ia ingin melukai dokter yang hanya menyampaikan hasil pemeriksaan, melainkan karena ia tahu kemarahannya tak akan mampu mengubah kenyataan.

Dengan napas yang masih memburu, Kael akhirnya membuka pintu ruang pemeriksaan dan pergi meninggalkan rumah sakit, membawa luka yang tak terlihat, tetapi jauh lebih dalam daripada luka mana pun yang pernah ia rasakan.

...----------------...

Hari demi hari berlalu.

Pagi itu, suasana mansion megah milik Kael masih diselimuti keheningan.

Di ruang kerja, cahaya matahari yang menembus jendela kaca tak mampu menghangatkan ruangan luas bernuansa abu-abu itu. Kael berdiri membelakangi pintu, menatap hamparan bunga di halaman mansion tersebut. Wajahnya tetap dingin, tetapi sorot matanya menyimpan gejolak yang tak mampu ia sembunyikan.

Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pelan.

"Masuk."

Cassian Vale, asisten kepercayaannya, melangkah masuk dan berdiri dengan sikap hormat.

Tanpa menoleh sedikit pun, Kael membuka suara.

"Cassian... carikan aku seorang gadis untuk malam ini." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada datar. "Aku ingin merasakan bagaimana rasanya bersama perempuan yang belum pernah disentuh pria lain."

Perintah itu membuat Cassian terdiam sesaat.

Seumur hidup mengenal Kael, baru kali ini atasannya meminta hal seperti itu. Selama ini Kael tak pernah sekalipun berhubungan dengan gadis yang belum pernah menikah.

"Baik, Tuan. Saya akan mengusahakannya." jawab Cassian akhirnya, meski keraguan jelas tersirat di wajahnya.

Begitu keluar dari apartemen, Cassian langsung mengembuskan napas panjang.

Mencari seorang gadis yang memenuhi seluruh kriteria Kael bukanlah perkara mudah. Rasanya seperti mencari sebutir pasir yang berbeda di tengah hamparan pantai. Namun, sebagai orang kepercayaan Kael, ia tak memiliki pilihan selain menjalankan perintah itu sebaik mungkin.

Sepanjang pagi, Cassian menghubungi beberapa agensi yang memiliki jaringan luas. Ia menawarkan kerja sama dengan imbalan yang sangat besar, asalkan mereka mampu menemukan seorang gadis yang sesuai dengan permintaan Kael malam itu.

Bukan sekadar muda, gadis itu juga harus berpenampilan menarik, memiliki kepribadian yang baik, dan memenuhi seluruh syarat yang diminta sang tuan.

Cassian juga meminta setiap kandidat melalui pemeriksaan kesehatan sesuai prosedur yang berlaku demi memastikan semuanya dalam kondisi baik.

Berjam-jam berlalu tanpa hasil yang memuaskan.

Hingga akhirnya, salah satu agensi kembali menghubunginya.

Mereka mengaku memiliki seorang gadis yang baru bergabung beberapa bulan terakhir. Usianya baru menginjak dua puluh tahun, berparas cantik, dan memiliki latar belakang yang sesuai dengan kriteria yang diminta.

Cassian menatap profil digital yang baru saja dikirimkan ke ponselnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.

"Baik," ucapnya kepada direktur agensi. "Siapkan dia. Antar ke Grand Imperial Hotel, Presidential Suite 2701, malam ini."

Setelah panggilan berakhir, Cassian memandang layar ponselnya sekali lagi.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia berharap perintah itu tidak akan berakhir dengan penyesalan bagi siapa pun yang terlibat.

...****************...

📚 BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN ✨

Hai, teman-teman! 😊

Kalau kalian lagi cari novel yang penuh drama, bikin penasaran, ada romansa, konflik, dan plot yang seru, coba deh baca BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN.

Siapa sangka, seorang bos mafia yang dikenal dingin justru harus menghadapi situasi yang bisa mengubah hidupnya. Akankah kehadiran seorang bayi meluluhkan hati yang selama ini tertutup?

Yuk, ikuti kisahnya dari awal sampai akhir! Semoga ceritanya bisa menemani waktu santai kalian dan bikin susah berhenti baca. 😄

Jangan lupa tinggalkan komentar ya. Aku senang banget membaca pendapat, tebakan, atau teori kalian tentang jalan ceritanya.

Terima kasih banyak sudah mampir dan mendukung karya ini. Selamat membaca! ❤️

✍️ Yudi Chandra

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!