Tinggal di kota besar yang padat penduduk, membuat kelima orang anak manusia ini menjalin persahabatan sejak kecil, walau keadaan status sosial dan suku berbeda, tapi mereka tetap bersama.
Kelucuan, kepolosan, dan kebahagiaan persahabatan mereka mulai memudar seiring usia yang beranjak remaja. Benih benih cinta muncul di antara persahabatn mereka.
Perbedaan di mulai, ketika mereka duduk di bangku SMA.
Bagaimana akhir persahabatan kelima anak manusia ini? Bagaimana kisah cinta mereka? akankah cita-cita kecil mereka menjadi kenyataan?
baca sampai end ya guys
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angga menyebalkan
Angga sampai di rumah sakit tempat Nisa di rawat. Ia melangkah menuju kamar yang di katakan sang ibu.
Ceklek
Angga membuka pintu kamar ruang perawatan itu perlahan. Ia melewati pasien yang terlihat di sana bukanlah wanita yang sedang ia cari.
Di tempat tidur paling ujung dekat jendela, Angga melihat Dhira dan Ummi duduk di samping Nisa.
“Assalamualaikum.” Sapa Angga, membuat ketiga wanita yang ada di sana menolehnya.
“Waalaikumsalam.” Jawab Dhira dan Ummi bersamaan, terkecuali Nisa, ia hanya menunduk.
“Ciye... pangerannya dateng.” Ledek Dhira.
“Apaan sih.” Jawab Nisa memonyongkan bibirnya.
“Sini duduk, Ga.” Ucap Ummi yang lngsung bangkit dari duduknya dan mepersilahkan Angga untuk duduk di kursi yang tadi ia duduki.
“Tidak apa Ummi, Angga berdiri saja.”
“Tidak apa, sini temani Nisa. Kebetulan Ummi dan Dhira ingin keluar beli makan siang.”
“Oh iya, Ummi.” Jawab Angga membungkukkan separuh tubuhnya.
Mata Nisa masih melihat televisi yang berada di atas kepalanya.
“Nis, gue tinggal dulu, di layani pangeran ya.” Ledek Dhira lagi.
“Au ah.” Jawab Nisa ketus.
“Maaf, Nis. Aku tidak tahu kalau kamu sakit.”
Nisa masih memalingkan wajahnya.
“Nis, maaf. Please jangan marah!” Ucap Angga lirih.
“Siapa yang marah?”
Angga meraih tangan Nisa, tapi Nisa dengan cepat meelpas genggaman tangan itu.
“Nanti ketahuan Ummi.”
“Tapi sepertinya Ummi dan Kak Dhira tahu kalau kita pacaran?”
Nisa menggeleng. “Hanya kak Dhira yang tahu, kalau Ummi tidak. Ummi masih berpikir kita sahabat dekat seperti sebelumnya.”
“Oh.”Angga membulatkan bibirnya.
“Maaf juga aku ngga sempet beli apa-apa. Aku panik pas mama bilang kamu sakit, jadi langsung ke sini.”
Nisa masih diam.
“Apa masih sakit?” Tanya Angga sambil memegang perut Nisa.
“Boleh aku lihat lukanya?” Tanya Angga lagi, yang langsung membuka kaos oblong yang Nisa kenakan.
“Aww.. masih sakit.” Ucap Nisa saat Angga menyentuh kain perban itu.
Angga langsung meraih kepala Nisa dan memeluknya.
“Maaf, Sayang. Sungguh aku tidak tahu. Waktu itu ada tugas kuliah, jadi aku menginap di rumah teman.”
Nisa menerima pelukan Angga. Ia mengangguk.
“Iya ngga apa-apa. Terima kasih juga karena papamu meminjamkan mobilnya untuk mengantarku kerumah sakit.”
“Papa sama mama suka kamu.” Angga melonggarkan pelukannya dan tersenyum.
“Masa?” Tanya Nisa malu.
“Beneran, mereka bilang kamu calon menantu idaman.”
“Gombal.” Wajah Nisa bersemu merah.
Beberapa waktu lalu, Angga sempat mendengar percakapan sang ayah dan sang ibu yang membicarakan Nisa, membicarakan kesopanan dan keanggunannya. Mereka pun melebelkan Nisa sebagai menantu idaman.
“Itu mah bisa-bisa kamu aja.” Ucap Nisa lagi.
“Sumpah.” Angga menaikkan kedua jarinya ke atas.
“Sudah makan? Mau makan apa? Supaya cepat sembuh.” Kata Angga sambil mengelus wajah Nisa.
“Aku mau buah itu aja, tolong kupasin.” Nisa menunjuk buah pir yang ada di meja samping.
“Siap, tuan puteri.” Angga tersenyum manis ke arah Nisa dan Nisa pun langsung membalasnya.
Setelah mengupasi buah itu, Angga pun menyuapi Nisa.
“Kok Ummi beli makan aja lama sih.” Gumam Nisa, saat sang ibu dan sang kakak tak kunjung muncul ke kamar perawatan ini.
“Mereka tahu, kalau di sini ada aku. Ummi juga yakin aku bisa menjagamu dengan baik, jadi mereka tidak khawatir.”
“Harusnya mereka khawatir.” Jawab Nisa.
Angga mengerutkan dahinya. “Kok gitu?”
“Khawatir karena aku di temani pria bandel tukang tawuran dan cium anak gadis orang sembarangan.” Ledek Nisa.
Angga yang duduk persis dekat di samping Nisa, memajukan wajahnya agar semakin dekat. Ia tersenyum.
“Mau aku cium supaya cepet sembuh?” Tanya Angga tersenyum dan tanpa aba-aba ia membuka kembali kaos oblong Nisa dari bawah perutnya, menampilkan luma yang berbalut perban.
Cup.
Angga mencium lembut luka itu. Dan mengelusnya.
“Cepat sembuh ya.” Senyum Angga.
Nisa hanya menggigit bibir bawahnya, karena Angga kembali mencium perut Nisa di bagian sebelahnya yang tidak ada luka.
“Kok yang itu juga di cium?”
“Bonus, karena tadi kamu ngeledekin aku.”
Nisa memukul lengan Angga. “Itu bukan bonus, tapi modus.”
Angga pun tergelak.
Cup
Angg akembali menempelkan bibirnya pada bibir Nisa.
“Kalau ini, bonus apa modus?”
Nisa memukul kembali lengan Angga. Kini pukulan Nisa bertubi-tubi.
“Aww.. sakit, Sayang.” Angga meringis karena Nisa bukan hanya memukul lengannya tapi juga mencubitnya.
“Lagi sakit aja, tenaganya kuat banget sih.” Ucap Angga, sambil mengelus lengannya.
“Syukurin. Dasar menyebalkan.” Jawab Nisa kesal dan ketus.
Namun, Angga tetap mengulas senyum kemenangan. Ia mencuri ciuman lagi di saat Nisa tak berdaya di atas tempat tidur.